BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 16. KEPUTUSAN


__ADS_3

"Meeza, kamu lucu sekali," gumam Bian memandang foto putrinya kala bayi merah itu baru menyapa jagat fana.


Pewaris Cakrawala malam ini mengalah pada nasib yang mengombang ambingkan diri. Alih-alih bersyukur, putra sulung Briandana Cakra justru menyindir sang pencipta dengan mengatakan bahwa semua ini hasil permainan sebab dia bukanlah seorang hamba salih.


Kekesalan nan menguasai raga nyata membuat ayah biologis Meeza menghembus nafas teratur dan lembut di atas peraduan. Di temani foto bayi mungil masih dalam genggaman, seakan menyapa sang ayah menggunakan pancaran kasih jiwa nan bersih, hai Daddy.


Tepat saat purnama berganti mentari, Bian meninggalkan negeri kolonial Inggris, terbang kembali mengendarai burung besi menuju tanah air.


...***...


Hari berganti bulan dan tahun begitu cepat. Bian kian putus asa dengan segala usaha pencarian sang tunangan yang kabur entah bersembunyi di liang dunia mana.


Suatu malam, bada isya. Setelah penyelidikan yang kesekian kali. Bian pulang dalam keadaan kacau.


Brak!


"Maria!" panggil Bian membuka kamar Malya yang tengah menemani Meeza tidur.


"Sssttt, Meeza sedang tidur," ucap Malya lirih seraya mengangkat jari telunjuk di bibirnya.


Lelaki dengan penampilan kusut itu tak mengindahkan kondisi sang wanita yang tengah berbaring dengan putrinya.


"Ikut," kata Bian, menarik lengan Malya paksa.


Jika sudah seperti ini, dapat dipastikan bahwa pria yang menarik dirinya akan meminta sesuatu.


"Dimana kamu, Maria!" racau Bian.


"Aku bukan Maria, kau sangat tahu itu," balas Malya.


"Jangan kasar. Mintalah yang benar. Kau tak pernah menghargaiku!" seru Malya lagi saat lelakinya mulai memaksa.


Bian tak menghiraukan permintaan wanita yang hanya dia anggap sebagai pelampiasan kesal, marah, kecewa juga penyaluran bumbungan nafsu nan kerap hadir.


Aroma tubuh Malya tak dapat dia tepis, meski hati menginginkan Maria tapi tidak dengan biologisnya. "Kamu wangi," bisik Bian lembut seperti biasa saat akan memulai hajat.


Aktivitas halal yang tidak mempunyai rasa bagi Malya kerap di tunaikan dan berakhir tanpa kesan. Begitu saja, hingga tiga tahun ini.


Namun, malam ini Malya merasa Bian sudah keterlaluan. Dia berkali berlaku kasar hingga dirinya memekik kesakitan.


"Bian!" seru Malya mendorong tubuh yang tengah dipuncak gairah.


Tak terima diremehkan terlebih urusan ranjang, Biantara menunjukkan taringnya lagi. Malya tak dapat berkutik, dia terjebak oleh banyak rasa malam ini.

__ADS_1


"Nangis terus, muak aku ngeliatnya!! Apa cuma itu yang bisa kau tunjukkan padaku? air mata? bukankah kau juga menikmati!" cibir Bian kala menyingkap selimut.


"Ingat! jangan hamil lagi. Cukup Meeza yang aku tolerir," tegas Bian seraya berlalu ke kamar mandi setelah aksi panas berakhir.


Malya hanya diam seperti biasa, dia dengan cepat memungut semua baju yang berserak lalu memakai busananya dan bergegas meninggalkan kamar itu.


Bluk. Suara pintu kamar yang dia huni.


Di balik pintu. Tubuh Malya melorot. Tangannya menutup mulut erat agar isakan tak terdengar oleh Meeza.


"Maafin Bunda ya, Meeza. Bunda terlalu cengeng. Jangan benci Daddy," isak Malya tertahan sedu sedan.


Menjelang tengah malam, putri Haji Syakur menggelar mihrab. Dia masih meminta doa yang sama. Keselamatan orang tua, diri, keluarga bahkan suaminya.


"Lindungi keluargaku, Mas Bian juga Meeza. Berikan kesembuhan bagi kakek Brandon. Jaga orang baik itu ya Robb," lirih Malya bersimpuh menghadap pemilik jagat di sisi ranjang Meeza.


"Bunda, kenapa sedih?" suara mungil milik putrinya.


Malya terburu menyeka butir bening yang luruh melewati wajah ayu. Dia perlahan menengok ke arah Meeza. "Allah sedang menyentuh hati Bunda. Gak apa, itu tanda bahwa Tuhan sayang, Meeza lanjut bobok lagi ya," ujarnya.


Anggukan dan senyuman manis putri Cakrawala menjadi satu-satunya pelipur lara Malya di rumah ini.


Menantu Beatrice lalu membuka mukena, duduk di sisi tempat tidurnya dengan Meeza. Memandang wajah mungil nan ayu, mirip papanya.


"Ka-kalau kita pergi dari rumah ini, apakah Meeza bisa hidup seadanya dengan Bunda, Nak?" lirih Malya, meraih tangan putrinya untuk di kecup.


"Meeza, mau gak tinggal di suatu tempat, hanya dengan Bunda," ucap Malya lagi. Wajahnya kini menunduk, memberi kesempatan bagi laju bulir agar meluncur cepat sebelum dia seka.


Beatrice sangat menyayangi cicit emasnya ini. Dia bahkan dilarang untuk ambil bagian dalam semua pengajaran Meeza. Keseharian putrinya diasuh oleh nanny serta dikelilingi guru privat kenamaan.


Tak heran, di usianya yang baru genap tiga tahun, Meeza sudah menguasai banyak hal, termasuk bahasa asing. Malya hanyalah menyelipkan ajaran keagamaan dasar untuk sang buah hati.


Meeza kerap menyetor hafalan surat, belajar tajwid dan fiqih untuk wanita usia belia, tanpa sepengetahuan Beatrice.


"Aku menyerah!" lirihnya sesak. Memukul dada agar brongkusnya lancar memasok oksigen.


Tubuh ringkih itu lalu meringkuk memeluk putri kecilnya nan lucu. Anugerah memiliki oase di sangkar emas.


Keesokan pagi.


Seperti biasa, Malya turun membantu para maid menyiapkan sarapan. Saat akan membangunkan Meeza dia berpapasan dengan Bian di ambang pintu kamarnya.


"A-aku ingin bicara." Malya memberanikan diri.

__ADS_1


"Nanti saja. Lagipula topikmu tidak ada yang berguna," kata Bian sambil menutup pintu.


Malya menarik nafas panjang. "Aku ingin cerai," cicit sang nyonya yang tak dianggap ada.


Bian menghentikan langkah, dia berbalik badan menghadap wanita yang telah tiga tahun menemaninya.


"Kau berani? bagaimana dengan orang tuamu itu?" tanya Bian lagi.


Malya hanya diam. Dia masih mempertimbangkan hal ini. "Itu urusanku," balas putri Haji Syakur tegar.


"Jika sudah yakin. Oke, akan aku kabulkan. Tapi jangan bawa Meeza!" ujar Bian sambil lalu.


Dhuarr. Yang dia takutkan terjadi. Nafasnya mendadak sangat sulit. Malya memegang handle pintu kamarnya erat sebagai tumpuan agar tak roboh.


"Pagi Bunda. Shobahul kheir," sapa Meeza kala melihat ibunya di ambang pintu.


Gadis cilik telah rapi dibantu nanny, rambut panjang di kepang dua juga tubuhnya wangi semerbak.


"Shobahannur wa surur wal afiah wa barokah, Sayang," jawab Malya hendak berjongkok menyambut sang putri.


"Maria! sudah ku bilang berkali, jika ingin menyentuh Meeza, kamu harus ganti baju dulu atau mandi lagi kek," tegur Beatrice dari belakang tubuhnya.


Meeza pun urung memeluk sang bunda, khawatir Beatrice akan memarahi beliau seperti biasa.


"Sorry, Bunda. Afwan," cicit Meeza tampak murung, bundanya kerap mendapat omelan sang nenek.


"Its oke, Baby. Gak apa," sahut Malya tersenyum manis untuk sang buah hati.


"Meeza, berkali oma katakan bahwa tidak semua orang boleh bersentuhan denganmu. Banyak kuman, virus dan lainnya. Termasuk Bunda, harus cuci tangan atau ganti baju dulu," tegas Beatrice lagi, seraya menggandeng jemari Meeza keluar kamar, meninggalkan Malya di sana.


"Bundaaaaa...." sebut Meeza memohon agar ibunya turun bersama.


"Duluan ya, Nak. Bunda nyusul," balas Malya memberi lambaian tangan pada Meeza.


Meeza mengangguk, otak polosnya mengakui bahwa banyak kuman beterbangan jika tak menjaga kebersihan.


"Nyonya, maafkan saya ya. Anda sudah sarapan? jangan sampai terlambat. Kami selalu menyiapkan menu khusus untuk Anda di dapur. Makanlah yang banyak, Nyonya. Jaga kesehatan Anda demi nona cilik," ujar nanny Denok, dia membungkukkan badan lalu beranjak dari sana.


"Syukron ... Meeza, Bunda gak yakin kalau kamu dapat bertahan denganku nanti," gumam Malya lagi, masuk ke dalam kamar dengan hati pedih.


.


.

__ADS_1


...__________________________...


__ADS_2