BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 55. PENGORBANAN MALYA


__ADS_3

Sebelumnya.


Maria sengaja menyambangi rumah sakit untuk memberikan kejutan pada Beatrice. Dia kira sesepuh Cakra belum mengetahui perihal sebenarnya.


Beatrice pada mulanya terkejut saat kedatangan Maria, sekilas penampilan mereka sama. Namun, setelah melihat lebih dekat, pendiri Cakrawala itu mengenali siapa sosok penipu di hadapan kini.


"Nek, bagaimana penampilan aku? ini yang kau inginkan bukan? wanita baik-baik," ujar Maria.


"Siapa kamu?" Beatrice berpura terkejut dan merasa sesak, maid di dalam ruangan sempat panik akan tetapi Maria melarangnya untuk bergerak.


"Cucu menantumu, kau tak mengenaliku? ck, Bian memang berhasil mengelabui semua orang. Anda dibodohi olehnya, wanita yang Bian nikahi adalah orang lain, bukan aku!" seru Maria.


Andreas menginginkan Beatrice terguncang manakala mengetahui Bian menipunya. Bilamana tetua Cakra itu kritis maka konsentrasi Bian akan terpecah.


Namun anggapannya salah, strategi Bian mendului rencana jahat Andreas. Beatrice sudah siap sehingga kedatangan Maria berkamuflase menyerupai Malya tak berpengaruh pada kondisi sepuh Cakrawala itu.


"Oh ya. Aku sungguh terkejut! ah, sesak!" kata Beatrice berpura kesakitan, satu detik berikutnya wanita sepuh ini malah terkekeh.


Reaksi sepuh Cakra ini di luar dugaan Maria, rencana awalnya gagal. Ketika dia hendak mengancam dengan cara yang lain, seseorang membuka pintu kamar. Rencana cadangan wanita itu dia alihkan untuk menekan Malya.


Dia kira, mantan istri Biantara adalah wanita kampung nan lemah sebab laporan Rara yang mengatakan bahwa Malya kerap menangis tak mampu melawan Bian.


Saat perjumpaan pertama kali, sungguh Maria dibuat terkejut, fisik mereka nyaris sama.


"Kau tak takut padaku?" tantang Maria. Namun, hanya di tanggapi decakan remeh dari Malya.


Maria terus menekan emosi Malya dengan mengungkit masalah kecelakaan yang di sebabkan Bian hingga dia dipaksa menikahi pembunuh suaminya itu. Lagi-lagi, Maria menelan kecewa, Malya tak gentar.


"Lihat saja nanti, apa kau sanggup menyaksikan semua yang akan terjadi," ancam Maria melenggang pergi.


Istri Andreas terpaksa keluar ruangan sebab dia merasa sangat mual. Kepalanya mendadak pening hingga nampak bulir keringat di dahinya.


"Hijab sialan, aku gerah!" umpat Maria, melangkah menuju toilet.


Lensa kontak pun dia lepas, matanya tak terbiasa menggunakan benda itu. Setelah dia kembali ke mode awal, mengganti busana, Maria meninggalkan gedung rumah sakit.


...*...


Setelah kepergian Maria, Malya menata bajunya ke dalam lemari. Membersihkan sisa makanan di atas meja juga meminta maid membuang sampah.


Beatrice tak mencegah, dia memperhatikan bagaimana mantan cucu menantunya membereskan segala kekacauan yang Bian tinggalkan.


"Bian butuh kamu, Al," ucap Beatrice di saat Malya mengganti seprei ekstra bed di ruangan itu.


"Mas Bian kan mandiri, Nyonya. Dia bisa tanpa aku," ujar Malya tersenyum sekilas pada Beatrice.

__ADS_1


"Nenek, panggil aku nenek. Bian banyak berubah. Maria memang cinta pertamanya tapi dia tak pernah melakukan sesuatu yang di larang norma ajaran kami," sambungnya lagi.


Malya diam, mendengarkan penuturan sang tetua.


"Dia ingin kembali padamu, tapi aku tak akan memaksa kali ini. Terserah kalian saja," ungkap sang tetua.


Malya mendekat, menggenggam tangan Beatrice lama. "Aku tidak kuasa apa-apa atas hatiku. Bilamana Allah memberi kesempatan bagi kami, rintangan apapun takkan mampu menghadang. Jadi dalam fase ini, aku pasrah," jawab Malya.


Hati putri Mardiah memang masih belum tergugah oleh pria manapun. Fokusnya satu, menjadi pantas di mata Meeza.


Bian mengirimkan pesan padanya agar istirahat sebab esok pagi Malya harus tiba lebih dulu di sekolah Meeza untuk menjemput putrinya.


...***...


Keesokan pagi.


Malya sudah siap sejak sebelum subuh. Dia membawa semua yang di butuhkan sebagai adu bukti jika Maria nekat membawa Meeza. Bahkan Bian telah mewanti-wanti mantan istrinya itu agar hati-hati menghadapi Maria.


"Sayang, waspada ya, jangan terkecoh, ceroboh atau apapun itu hingga kamu terluka. Al, dengerin aku," ucap Bian saat pesawatnya transit.


"Iya, Mas, iya, bawel. Aku pergi ya, assalamualaikum," sahut Malya menutup panggilan.


Wanita ayu dalam balutan gamis moka, couple dengan milik Meeza tampak anggun pagi ini, membuat Beatrice tersenyum melihatnya.


"Dulu mataku ketutupan apa ya? kamu telah aku siakan, Nak," sesal Beatrice, dia meloloskan satu butir bening.


Beatrice mengangguk, dia membelai wajah Malya lalu melepasnya pergi.


Satu jam kemudian.


Malya masih berjuang mempertegas dirinya sebagai ibu kandung Meeza dengan mengeluarkan banyak bukti ke hadapan kepala sekolah. Tak di nyana, Maria pun memiliki surat yang sama juga sejumlah benda mirip dengan kepunyaan Meeza.


"Saya tidak tahu mana ibu kandung asli. Hanya Meeza yang dapat mengenali siapa kalian sebenarnya," ujar sang kepala sekolah.


Bocah kecil itu pun di panggil ke ruangan penjemputan. Malya trenyuh, hatinya haru melihat Meeza telah tumbuh lebih tinggi dan kian ayu mirip dirinya.


Ketika Meeza di hadapkan pada dua sosok wanita, dia terkejut. Bahkan Sari mengerjap tak percaya. Dia kesulitan membedakan mana ibu kandung yang asli dan palsu.


"Meeza, kamu pasti mengenali mana ibu kandungmu bukan?" tanya kepala sekolah, petugas keamanan pun sigap mendampingi mereka.


Meeza mengangguk meski hatinya bingung. Gadis cilik itu melihat ke arah Sari, pengasuh kepercayaan Bian tak memberikan jawaban apapun membuat Meeza kian resah. Perlahan, langkah kaki pendek itu mendekat.


Putri Biantara mengamati apa yang di kenakan kedua wanita. Semuanya sama kecuali satu, gelang pemberian Byby. Meeza telah mengenali siapa ibunya.


Busana sama, gelang, jam, kalung couple yang mereka beli dulu, sepatu bahkan hijab pun serupa di kenakan dua wanita. Langkah Meeza mendekat, membuat sosok wanita disamping mulai tersenyum seiring ulasan manis di bibir Meeza.

__ADS_1


Malya mengepal, bersiap akan merebut Meeza dengan mengeluarkan satu benda yang hanya dimiliki olehnya nanti. Lukisan dari Meeza.


Namun, semua orang di ruangan itu terkejut manakala Meeza mengalihkan arah dan berlari ke arah Malya.


"Bundaaaaaaa!" seru bocah ayu, membuat Maria mencelos.


"Sayang!" ucap Malya bersiap menyambut putrinya.


Tersisa satu jengkal sebelum tangan Malya meraih Meeza, sebuah pisau lipat di arahkan Maria ke lengan istri Biantara.


"Argh!" pekik Malya, lengan kanannya terluka. Meeza pun di raih Maria.


"Bunda! enggak, Bundaaaa!" teriak Meeza.


Petugas keamanan hendak mencekal Maria, akan tetapi Meeza di jadikan tameng agar dirinya lolos. Malya tak dapat berdiam diri, darah mulai menetes tiada di hiraukan.


Malya melempar sepatunya, menyasar kepala Maria. Duk!


"Awh!" pekik Maria, terkena lemparan sneaker.


Ibu kandung Meeza lalu menyerang balik kala Maria terhuyung. Malya, menarik hijab Maria hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


"Arrgghh!" racau Maria, menghalau amukan Malya yang menyasar kepalanya.


Petugas pun membantu, Meeza berhasil di amankan.


"Enyah atau babak belur? aku tahu siapa orang-orang kalian sejak di Bandara!" bisik Malya saat dia menekan dada Maria dengan lututnya.


Banyaknya darah yang menetes membuat pandangan Malya berkunang-kunang, Maria pun mendorong tubuh Malya hingga dia tersungkur.


Wanita ular itu kabur akan tetapi berhasil di halau petugas. Bila bantuan tak datang menolongnya, mungkin Maria sudah digelandang ke bui oleh pihak keamanan sekolah.


Meeza histeris melihat bundanya terkapar. Tindakan pertolongan pun segera pihak sekolah lakukan. Bodyguard Malya sama terluka kala menghalau para antek Maria saat akan kabur hingga penjagaan terhadap nyonya muda Cakra pun luput.


"Bunda, Bunda!" tangisan Meeza satu-satunya suara yang membuat Malya tetap terjaga.


"Jangan nangis, bunda gak apa. Hanya luka kecil," bisik Malya saat telah di dalam ambulance. Namun, kian lama, pandangan itu semakin pudar berganti gelap mendominasi.


"Bundaaaaaaaa!"


.


.


...________________...

__ADS_1


Meeza sandya



__ADS_2