
"Kalau aku akan memilih pria yang mencintaiku bagai kedua orang tua atau setidaknya mendekati mereka," jawab Sesil mengundang perhatian Malya lebih jauh.
Saat akan melayangkan pertanyaan pada sang sahabat, ponsel pemberian Bian, bergetar.
"Assalamualaikum, Al. Aku balik ke nenek ya. Kembali ke sini setelah melihat Meeza tiga bulan lagi sekaligus membawa tetua kembali pulang ke Indonesia. Hampir sepuluh bulan di sana, tersisa pemulihan saja. Kau, ehm," tanya Bian ragu di ujung sana.
"Wa 'alaikumsalam. Ehm, nanti kirim foto Zaza terbaru ya. Kalau bisa, saat kunjungan, tolong videokan dia untukku. Pasti Meeza sudah besar," ujar Malya. Matanya kembali berkaca-kaca setiap mengingat gadis kecilnya di sana.
"Dua pekan sekali aku akan mengunjungi asrama Meeza. Nanti ku kirimkan. A-ku pergi, ya," ucap Bian lagi seakan menunggu Malya mengutarakan sesuatu atau bahkan meminta ikut dengannya meski hal itu mustahil.
"Fii amanillah." Malya tak mengatakan apapun lagi. Nasihat ayahnya agar tak memberi harapan pada kedua pria membuat Malya berhati-hati.
Hubungan komunikasi antara dia dan Bian terjalin sebab Meeza. Perkara kiriman makanan atau apapun itu, dia tak menolak karena perihal rezeki juga bisa dia bagikan sesekali pada rekan kerjanya.
Makanan tidak salah, yang keliru adalah anggapan mereka bahwa dia menerima keramahan pria. Sejatinya kedua pria tahu, bahwa nasib pemberian tersebut takkan membekas atau mempengaruhi hati Malya.
"Dia, ckck, pesona om-om sulit di tepis. Kian hari sang mantan semakin terlihat kalem, macam dia lah pemenangnya nanti. Kamu sadar gak, sih, Al?" ujar Sesil kala ponsel Malya redup tanda panggilan berakhir.
Putri Haji Syakur meraih gelas minum, meneguk pelan beberapa cc cairan pembasah dahaga. Malya memandang Sesil sejenak seraya meletakkan tumbler, lalu melanjutkan niatan bertanya tentang opini sahabatnya tadi.
"Tadi maksud kamu apa, Sil? memilih cinta pria layaknya orang tua?" tanya bunda Meeza. Malya merapikan meja, lalu menegakkan punggung tangan kiri untuk menopang dagu.
"Ini sih opini gabut gue aja. Umur kamu kan sekarang dua enam ya, jika rata-rata harapan hidup wanita di Indonesia ini berkisar di usia 55 tahun maka kau menghabiskan masa 29 tahun untuk hidup dengannya," tutur Sesil lagi, dia kini menarik kursi mendekat ke kubikel Malya.
"Ehm, lalu?" Malya masih meraba maksud sang sahabat.
"Ah, kamu, pura-pura," seloroh Sesil, menepuk lengan Malya, merasa wanita ini hanya mengetes logikanya.
"Bener, aku masih gak ngerti," elak Malya, kian penasaran dengan yang disebut opini gabut Sesil.
"Logikanya, kamu hidup dengan ayah selama dua enam tahun dan menghabiskan waktu dua sembilan tahun dengan suamimu nanti. Jadi, kamu wajib mempertimbangkan alasan logis tadi. Pilihlah seorang pria yang cintanya seperti ayah atau ibumu," pungkas Sesil, dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Malya mengerti, opini gabut Sesil dia nilai masuk akal terlebih untuk wanita sepertinya yang pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Jangan sampai, pilihan kedua justru akan mencipta lubang trauma baru hingga menyalahkan Tuhan bahwa jodoh kurang tepat, sebab merasa tidak terkabulnya doa.
Jam kerja pun berakhir cepat, Camai sudah menunggunya di bawah kala Malya baru saja tiba di lobby.
"Malya!" panggil sebuah suara.
Wanita ayu dalam balutan blazer serba hitam, menoleh. Atasannya menyapa, Malya berhenti sejenak.
"Besok internal meeting. Kamu dan Angga mewakili Herawati. Martha tak sempat memberitahu mu tadi," kata Michael menghampiri Malya dengan Angga, sang wakil manager keuangan.
"Bu Hera kemana, Pak?" tanya Malya heran. Malam ini dia ada janji dengan Roby dan pasti menyita waktu.
"Survei lokasi dengan staf lain. Bulan depan, giliranmu dan Sesil, touring audit cabang," pungkas Michael, melenggang pergi begitu saja.
Dhuar.
Pekerjaan kian berat menghadang. Tapi ini adalah jalan agar kian dekat menuju Meeza. Agenda kunjungan akan berdampak pada salary dan tunjangan tambahan yang bisa dia gunakan untuk membeli tiket pergi pulang London.
Tiga puluh menit berikutnya, Malya telah berada di cafe titik temu mereka. Roby memesan kopi dingin sementara Malya hanya order jus mangga kesukaannya.
"Aku langsung saja ya, Al. Bagaimana pengajuan CV ku?" ujar Roby tak ingin berlama-lama di sana.
Malya menunduk, tak berani melihat ke arah pria di seberang.
"Apa alasanmu memilihku, By?" tanya Malya lirih, sambil memainkan ujung blazernya.
"Kata Imam Ghazali, Allah tak pernah salah mempertemukan antar seorang hamba. Sebab hadirnya membawa dua perkara, kebahagiaan atau pengalaman. Kamu memiliki keduanya," jawab Roby, dia memilih mengaduk minuman agar tak terjadi kontak mata.
"Benar. Tapi bisa jadi Allah ingin kamu menelaah dengan lebih baik lagi, contohnya mungkin bukan untuk menjadi takdir melainkan hanya sebagai pembelajaran atau ujian keimanan. Kau sudah mengenali salah satunya?" balas Malya, membalikkan ucapan Roby.
"Sudah. Dan ku kira rasaku tepat. Aku tidak ingin ujian keimanan ini akan menghantar pada kemudharatan, Al," kata Roby.
__ADS_1
"Setelah menikah kau akan hidup dengan akhlaknya, tanggungjawab, bukan hanya perkara harta atau gaya hidup, tapi ilmu. Aku tahu kamu punya semua itu. Tapi jatuh cintalah pada wanita yang cintanya lebih besar maka kau akan menemukan sabar tanpa batas dan ruang maaf nan luas," tutur Malya, mengisyaratkan sesuatu.
"Aku memilihmu sebab yakin engkau dapat memahami aku, dengan fitrah sisi wanitamu, Al," balas Roby, paham jika Malya condong menolak lamarannya.
Malya menggeleng samar. Dia merasa Roby hanya terbiasa dengan kehadirannya.
"Datangmu terlalu ramah, By. Namun sayang, aku tak memiliki tempat nan layak untuk menjamumu. Mungkin engkau hanya sedang singgah tanpa berniat menetap. Bukan salahmu atau bahkan Allah yang menganugerahkan rasa ... Ini hanya tentang ketulusanmu yang salah alamat," sahut Malya, pelan dan lembut menolak halus lamaran Roby.
Asisten Brandon, menyandarkan punggung ke sofa. Roby mengulas senyum samar, sesaat netranya memberanikan diri melihat wanita di hadapan. Dia tetaplah Malya si pendiam, pemilik retina coklat tua.
Malya tegas memberikan jawaban. Roby memang sudah kalah sejak awal, sosok itu tak pernah hilang dari relung hati Malya meski secara kasat mata, wanita ini tak merasa.
"Tak ada harapan ya, Al?" ujar Roby, sekedar ingin memastikan. Entah mengapa, telinga dan otaknya mendadak tumpul mencerna.
Malya hanya menunduk. Kiranya isyarat itu telah jelas. Dia tak perlu menegaskan kalimat berat yang dia hindari.
"Seperti katamu tadi, bahwa Allah tak pernah membiarkan sesuatu terjadi tanpa alasan. Sekalipun kamu jatuh terantuk batu. Mungkin di depan nanti akan ada fitnah menerpa jika kau terus melangkah. Jawabanku telah jelas," sambung Malya, bersiap meraih tas dan bangkit dari sana.
"Syukron, Al. Aku mengerti," sahut Roby mengangguk seraya menunduk kembali.
"Oleh sebab itu, bisakah kamu menjaga ikhtiar tersebut dan tetap bersyukur?" kata Malya saat bangkit dari duduknya. Berdiri seraya melihat Roby sekilas pandang.
Pria tampan itu tersenyum manis. "Cintaku bukan macam abege, Al. Tentu aku bersyukur dengan semua ini, jalan dari Allah in sya Allah terbaik," jawab Roby lagi.
"Hamdan wa syukron. Aku yakin engkau akan mendapatkan wanita yang sempurna sebab kamu telah percaya dan menyerahkan urusan hidup pada dzat yang takkan pernah mendzolimi mahluk-Nya. Maaf ya Byby, assalamualaikum," pungkas Malya, melangkah pergi naik ke huniannya meninggalkan Roby di sana.
"Wa 'alaikumsalam, Ya Allah. Dimana lagi aku dapat menemukan wanita setenang itu. Beri aku ganti dengan yang lebih baik, aamiin... sabar ya By, status jomblo baru saja di perpanjang," kekehnya melawan hampa.
.
.
__ADS_1
..._______________...