BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 12. TEGANG


__ADS_3

Di dalam kamar baru, Malya nyata lebih khusyu melakukan ibadahnya. Setiap pagi, meski mual mendera dia tetap melakukan aktivitas normal. Meladeni Bian sarapan hingga mengantarnya pergi ke kantor.


Sejak malam itu, lelaki yang berstatus suami Malya tak pernah lagi menyentuhnya. Beatrice kerap menghalangi sebab kondisi ibu hamil demikian ringkih.


"Maria semakin kurus, dia sampai harus di infus sebab makanan tidak ada yang masuk ke lambungnya," suara Beatrice tengah berbincang di balik pintu kamar Malya.


"Aku hanya ingin melihatnya saja," kilah Bian.


Nenek tua pendiri Cakrawala itu bersikukuh agar cucu menantunya tidak di usik. Beatrice sekuat tenaga menjaga calon cicit emas, membuat Malya sedikit lega.


"Nenek hanya menginginkanmu. Tidak dengan ibunya. Bahkan ayah jelas-jelas acuh padamu. Kamu jangan rewel ya, Nak, ibu tak akan pilih makanan. Mau kan bertahan bersama?" bisik Malya saat tenaganya mulai kembali muncul setelah dua labu infus masuk ke tubuh ringkih ini.


"Kita berjuang berdua saja. Semoga ibu kuat hingga kamu lahir nanti," imbuh Malya lagi.


Satu-satunya penghibur diri adalah mengunjungi greenhouse. Namun, berjalan jauh sangat membuat dia kelelahan bahkan pusing kerap menyergap. Masa kehamilan ini kian sulit Malya lewati manakala sikap Bian semakin dingin terhadapnya.


Suatu hari.


Keributan terdengar riuh di ruang keluarga. Malya sekuat tenaga turun ke lantai dasar. Bian juga Beatrice tengah menginterogasi kedua asistennya.


"Ada apa ini?" tanya Malya lemah, masih berdiri di anak tangga.


"Salah satu dari mereka adalah pencuri. Gelangku ditemukan di kamar Rara, tapi dia tidak mengakui," kata Beatrice menjelaskan perkara.


"Kau tak becus mendidik orangmu, Maria!" tuduh sang Nenek, murka.


Lilis melanjutkan hukuman bagi kedua asistennya itu. Niat hati ingin mencegah apa daya Bian menoleh ke arah Malya dan menghampiri wanita ayu, menarik paksa menuju lantai dua.


Brak. Bian membuka kamar Malya. Mendorong tubuhnya hingga terhuyung.


"Jangan ikut campur masalah ini. Aku akan memotong tanganmu sehingga rencana kalian akan terhambat. Katakan, dimana Maria!" sentak cucu Cakrawala.


Putri Haji Syakur perlahan menekuk lututnya. Dia duduk bersimpuh di depan kaki sang suami. Kepalanya menunduk, enggan melihat wajah yang dia benci.


"Jangan, hanya Rara yang bisa terhubung dengan ayah dan ibu. Kasihani aku," mohon Malya dengan suara lemah.


"Buka ponselmu. Aku kirimkan video beliau, katakan padaku Malya, dimana Maria. Aku hanya ingin mendengar penjelasan mengapa semua ini terjadi," ucap Bian lembut, duduk di sisi ranjang kamar itu.


"Sudah aku bilang, gak tahu. Ayah dan ibu pun berada di bawah ancam. Ini bukan inginku," cicit Malya lagi.


"Terserah. Oh, ya, aku tidak akan mengakui dia. Kau urus kehamilanmu sendiri karena aku tak menginginkannya. Kita impas bukan?" imbuh tuan muda Cakra, intonasi lembut justru membuat kata-katanya terdengar kian runcing.


Malya diam, dia tahu hal ini, tapi rasa hati demikian perih, sembilu itu tertancap dalam kalbu. Tak lagi menyayat, justru bercokol kokoh di sana, menelurkan banyak sayatan luka dalam.

__ADS_1


Kalimat yang keluar dari sosok penabur nutfah hingga tertiup ruh, sukses membuat harapan Malya memudar, bagaimana nasib anaknya kelak sebab lelaki ini tak jua luluh.


Biantara Cakra melangkah perlahan keluar dari sana setelah menegaskan maksud yang dia mau.


Menjelang tengah malam. Sari tergopoh datang ke kamar sang nona mudanya, mengatakan bahwa Rara di pecat.


Malya gelisah, bagaimana nasib kedua orangtuanya kelak. Dia pun menggedor pintu kamar tuan muda hingga membuat gaduh.


"Apa!" gubris Bian kasar, di ambang pintu.


"Ayah dan ibuku bagaimana?" kata Malya sudah berkaca-kaca.


"Cengeng! nangis terus! Chris menaruh orang di sana. Mereka aman, sudah sana tidur!" usir Bian seraya mendorong Malya.


"Benarkah?" tegas sang ibu hamil.


"He em! kau mau bayar? gak pergi juga?" sindir Bian tersenyum remeh, melipat tangan di depan dada.


Malya terkejut, dia buru-buru menghindar tapi jemarinya di cekal lalu di tarik paksa masuk ke kamar itu lagi.


"Lepas. Lepasin."


"Cobalah melunak padaku, anggap saja kau sedang berterimakasih," bisik Bian lembut, terdengar mesra di telinga ibu hamil yang tak dipungkiri bahwa raganya mendamba.


Seperti saat ini. Bian mengirimnya pesan bahwa akan pergi dalam waktu lama untuk meninjau semua proyek baru milik perusahaan retail keluarga.


Malya membalas dengan memberikan banyak wejangan juga pengingat agar menjaga ibadahnya.


Hubungan baik yang Brandon juga Malya sangka, nyatanya hanya kamuflase sementara. Bian kembali dingin saat jelang kelahiran anak mereka.


"Ibu simpan kenangan kamu di sini. Mungkin suatu saat ayah akan sadar dan ingin mengenalmu. Bagai napak tilas, berharap dapat mengulang waktu."


"Kapan kita bertemu, Nak? ibu sudah tidak sabar," ujar Malya seraya menata hasil foto usg dalam sebuah album. Dilengkapi ucapan juga tak ketinggalan penggalan doa di setiap bulan perkembangan janin.


"Kita seakan hidup dalam sangkar emas. Sesak." Malya masih duduk di lantai, tangannya mengusap permukaan buku yang baru saja dia tutup.


Cucu menantu Beatrice akhir-akhir ini gemar memandang bulan dari balik tirai jendela. Sinarnya seakan kian muram bagai mengatakan bahwa mereka memiliki persamaan nasib. Hanya muncul di sepenggal malam tiada harap di anggap ada oleh sebagian mahluk.


Saat akan bangkit berdiri, dia merasakan perutnya kram hebat. Gelombang cinta tiba-tiba datang bergulung membuat Malya kesulitan menata nafas.


"Uughh ... saa-kkiiittt. A-apa ini waktumu, Nak?" ucap Malya terbata.


Dia merangkak, menarik panggul susah payah mendekat ke ranjang. Tangan pun menggapai meraih ponsel saat kontraksi itu kembali datang.

__ADS_1


"Allaahhh...."


"Sabar ya, Sayang. Ibu ca-riiiiiiiiii ... eemmpp, bantuan."


Hosh. Hosh. Nafasnya tersenggal saat ponsel berhasil dia raih.


Malya menekan tuts tombol panggilan cepat pada Sari.


Suasana panik memenuhi atmosfer Mansion Cakrawala. Hanya Bian yang bergeming di tempatnya kini. Dia menepati janji untuk mengabaikan kehadiran buah hati mereka.


Brandon sigap mengawal cucu menantunya menuju rumah sakit. Beatrice bahkan histeris kala Malya di dorong terburu oleh tenaga medis sebab pembukaan jalan lahir menjelang lengkap.


"Kuat ya Al, kamu bisa, Al." Brandon duduk di koridor ruang tindakan seraya merapal doa bagi cucu kesayangannya. Tak dia pedulikan sekitar, pria renta itu khusyu memohon pada Tuhan.


Di dalam ruangan. Malya hanya mengandalkan insting saja, belajar dari video yang dia lihat di laman media sosial juga berbekal konsultasi dengan dokter membuat dia tegar.


"I-ibuuuu. Doakan Malya. Saa-kkiiittt." Tangis pun pecah, dia bahkan menggunakan kebenciannya pada Bian sebagai dorongan semangat.


"Benci kamu! aku bisaaaaa!" geram Malya, tenaganya nyaris habis.


"Ayo, Nyonya. Sedikit lagi," kata dokter memberi aba-aba. "Tarik nafas dan aaahhh!" seru sang dokter.


"Aaahh, BIAN!"


Lengkingan tangis bayi memecah ruangan bersalin. Suara kelegaan tenaga medis yang menolongnya pun menjadi tanda bahwa sang pewaris telah lahir.


"Cantik sekali putrinya," kata suster yang meletakkan jabang bayi di dada Malya.


Wanita yang masih lemah ini mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah mahluk kecil ini.


"Kenapa mirip dia," batin sang ibu. Namun, sejurus kemudian Malya trenyuh.


"Pu-tri-ku." Bibirnya bergetar, bahagia membuncah dalam dada.


"Anakkuu ... Allahu Akbar Allahu Akbar...." Malya tersedu, melantunkan adzan Iqamah juga Al qadr di telinga bayi merah di atas dadanya.


"Ini ibu, Sayang. Ibu. Ingat ya, ini suara ibu." Lelehan air mata tak lagi dapat dibendung. Meluncur deras kian menganak sungai.


.


.


...__________________...

__ADS_1


...Laa Haula 😭...


__ADS_2