
Biantara terusik ingin mencari tahu siapa wanita dalam greenhousenya. Roby takkan memberi akses jika gadis itu hanyalah orang biasa.
Pewaris Cakra tak memiliki nomer Mifyaz Ajmi, tapi dia mengenal baik Mahen sebab pernah berebut lokasi kebun bunga yang kini jadi miliknya itu. Bian, menghubungi Mahendra bermaksud basa basi berterima kasih atas bantuan Mifyaz dan akan menanyakan tentang gadis itu.
Jawaban mengejutkan di dapat Biantara. Mahendra mengatakan bahwa gadis dalam foto itu adalah Fathia, keponakannya dari jalur istri. Putri dan cucu kiyai pemilik pesantren di Semarang. Generasi ketiga klan Kusuma paling briliant dalam hal kedalaman ilmu terutama bahasa asing.
Yang sanggup mengimbangi Fathia bukan hanya pria yang memiliki wawasan luas tapi harus paham unggah ungguh dunia pendidikan di pesantren.
"Keponakanku, Mas Bian ada maksud? nanti akan aku sampaikan pada kakak ipar," kata Mahendra menangkap isyarat Biantara.
"Hanya ingin tahu, sebab Roby tidak akan memberi akses sembarang. Tapi sesuai dugaan sih Om, bukan gadis biasa," jawab Biantara.
"Gak lah, Kusuma juga manusia, sama makan nasi. Oh, untuk Roby. Anak baik dan sopan dia itu" sahut Mahendra.
Pembicaraan di antara dua pria dewasa berakhir setelah Bian mengetahui latar belakang Fathia. Dia lalu meminta Chris menyelidiki lebih lanjut tentang gadis istimewa itu. Roby telah menjaga kakek, aset, bahkan Malya dan Meeza dengan jiwa raganya, maka Bian akan berdiri paling depan bilamana pria itu menaruh hati pada seorang gadis akan tetapi terhadang mental.
...***...
Malya akan datang ke acara penting sang pengacara. Seperti biasa, Bian menyiapkan nyonya muda Cakra agar penampilannya sempurna. Meski dia berada jauh di benua Eropa dan tak banyak bicara, akan tetapi semua yang Malya lakukan tak luput dari perhatian Bian.
"Al, Camai udah nungguin," seru Mardiah mengetuk pintu kamar Malya.
"Oke, sudah selesai." Malya membuka pintu, menutupi wajahnya agar tak lagi kecolongan oleh sang ayah yang diam-diam mengambil foto.
"Kok di tutupi, kamu udah bisa dandan rapi macam ke salon tapi gak medok. Coba ibu lihat," ucap Mardiah menarik clutch Malya agar wajahnya terlihat.
Gamis moka, serta warna turunannya melekat pas di tubuh Malya. Bian sudah mewanti sang mertua agar dia mendapat foto istrinya hari ini.
Malya menenteng sepatu, berlari keluar unit menghindari kedua orang tuanya yang kian hari makin condong dan membela Bian. Bunda Meeza lupa, Camai pun sudah dalam kendali Bian. Gadis itu meng-capture sang nyonya dari jauh lalu mengirimkan pada majikan prianya.
Beberapa menit di habiskan dalam perjalanan, hingga dia tiba di kediaman pribadi sang pengacara.
Nyonya muda Cakra, tak mengira jika Alfred adalah sahabat Sheraz. Bahkan menyaksikan perdebatan konyol antara Jani dan Alfred di dalam sana ketika dia di minta memegang baki bunga.
"Di buka atuh tangannya, gini nih, grogi ya dimandiin wanita cantik. Kalau bukan Mas aku yang minta, ogah nian," sungut Jani meminta tangan Alfred menengadah di atas pangkuan sebelum mulai mengguyur Alfred.
"Sambil doa, Nyonya Jani," ucap panitia siraman.
__ADS_1
"Alhamdulillah si lapuk laku juga, gak jadi di kilo, aamiin," kata Jani saat meraih air pertama kalinya.
Sheraz terbahak, diikuti tamu special yang hanya beberapa orang di sana. Bahkan Malya terkekeh melihat kekonyolan Jani.
"Dasar Jono!" cibir Alfred.
"Aamiin ngapa. Alhamdulillah, dapat orang alim. Moga jin ilfrid nya bubar," gumam Jani. Malya yang berada di belakang sang nyonya Raz, tertawa tak berhenti sebab nama Alfred berganti ilfrid.
"Jono! yang betul," tegur Alfred merasa konyol.
Sajani gemas, dia lupa akan membaca doa apa, sehingga mengguyur sang pengacara itu berkali dalam tempo cepat, membuat Alfred yang tak siap, gelagapan menghirup oksigen.
"Jo-noo!" seru Alfred. Tujuh orang pun kembali tertawa atas sikap keduanya. Bahkan Tini yang menggendong si kembar ikut gemas bila dua orang ini saling serang.
"Barakallahu laka wa baraka alaika wajama'a baynakuma fi khayr, aamiin," kata Jani meletakkan gayung dan mundur agar tamu pilihan lainnya dapat bergilir.
Malya sekilas melihat Fathia hadir bersama wanita hamil saat memasuki tenda. Dia berniat akan mencari mereka setelah acara usai.
Suasana intim dan private kental terasa. Undangan dengan jumlah seratus orang pun terlayani apik oleh tuan rumah. Malya sangat nyaman berada di lingkungan barunya itu. Dia lalu melihat Fathia, tanpa sengaja.
"Halo, Mbak Fathia, ketemu lagi," sapa Malya. Dia awalnya tak mengenali sosok membelakangi objek dalam foto. Tetapi gambar terakhir membuatnya jelas.
"Hai, Nyonya Sya. Kenal pak Alfred juga?" tanya Fathia.
"Beliau yang mengurus dokumen aku," jawab Malya lugas sambil duduk di meja yang berlabel namanya.
"Tia, aku balik ya. Bang Rico mau ke kantornya, lihat komoditi baru, peluang buat nambah varian produk bang Kaffa. Udah izin sama Pak Alfred," tegur Kamila.
"Kenalin dulu. Nyonya Sya, tar syukuran kamu, pakai dekor special pokoknya dari nyonya Jani," kata Fathia, hampir kelepasan menyebut kebun bunga.
Keduanya lantas berkenalan dan tak lama, Malya pamit.
Saat akan memasuki mobilnya, Malya melihat kendaraan Roby menepi beberapa meter di depannya. Dia lantas menunggu pria itu turun.
"By!" panggil Malya, dua kali hingga Roby pun menoleh.
"Loh, Al. Kamu belum balik?" tanya Roby heran. Dia kira Malya tidak datang jadi di wakilkan olehnya.
__ADS_1
"Baru mau balik. Ngapain? hayo mau kencan ya, ada Fathia tuh di dalam. Sepupunya tinggal sebelahan dengan Pak Sheraz ternyata. Aku duluan ya, semoga lancar pedekatenya. Ingat, ta'aruf dengan cara yang betul," kata Malya, melambai pada Roby seraya membuka pintu mobil.
"Eh, Al, jangan gosip!" seru Roby tapi tak didengar Malya.
"Ngapain ya kesini. Balik lagi aja lah," gumam Roby, hendak melangkah menuju mobilnya.
"Bang Roby!" sebuah suara memanggil. Asisten Brandon menoleh.
"Ku kira siapa. Gimana kabar, Co. Mau kemana nih? ... hai Mila," jawab Roby menyapa asisten Sheraz.
Bian menawarkan bio ethanol pada Sheraz untuk bahan dasar obat-obatan medis yang dia produksi sehingga para asisten pun saling mengenal baik.
"Ke bang Kaffa, kakak Mila. Mau ngomongin bisnis juga sih. Masuk aja, Alfred udah selesai kok," ujar Rico meminta salah satu maid pria untuk mengantar Roby ke dalam.
"Milaa, ikut sampai depan, dong. Mifyaz jemput aku di Indoapril," keluh Fathia menghampiri Kamila dan Rico.
Roby menundukkan kepala saat Fathia datang, sikap ini pun di tangkap oleh Kamila sehingga gadis itu mengulas senyum.
Sementara dalam hati Roby, dia tak enak hati dan khawatir Malya tadi bergosip tentang foto Fathia di greenhouse.
"Eh, Pak Roby. Tadi ketemu nyonya Sya, beliau tanya tentang fotoku greenhouse. Kok bisa tahu? kata Mifyaz, yang ada akunya gak di berikan ke pak Bian?" tegur Fathia untuk Roby.
"Eh, i-ituuu anu, ehm--" Roby kesulitan menjelaskan. Dia tak berani menatap Fathia.
Panggilan Sheraz menyelamatkan Roby dari situasi canggung. Dia pun memilih pamit izin masuk ke dalam untuk menyapa Alfred.
"Maaf, nanti aku jelaskan lagi," ujar Roby bergegas masuk.
"Lah, grogi apa gimana itu si Roby? main kabur aja. Tia, jangan galak-galak, dia sopan loh," sahut Kamila menegur sepupunya.
"Ayo jalan, ghibah mulu."
.
.
...____________________...
__ADS_1
...Kejap, mau pindah plot lagi......