BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 23. BANGKIT


__ADS_3

"Al. Alya," suara seorang wanita nan dia rindu, kembali mengulang panggilan sayang untuknya.


Malya pun melangkah tertatih menuju sosok di depan sana yang telah membuka kedua lengannya lebar.


"Ibuuuuuuuuu!" sebut Malya memanggil ibunya. Dia menghambur ke pelukan wanita yang amat di rindukan.


"Alhamdulillah. Kamu sehat, Nak, ibu kangen," ucap Mardiah membelai kepala Malya.


Pasangan ibu dan anak masih saling memeluk, bahkan Mardiah menciumi wajah putri satu-satunya setelah sang bungsu berpulang tahun lalu.


"Mana ayah, Bu?" tanya Malya di sela isak.


Mardiah lantas menuntun putrinya masuk ke dalam salah satu kamar, menarik jemari Malya mendekat ke ranjang dimana sosok renta itu terbaring.


"Ayah kelelahan. Kami di bawa oleh Nak Roby ke sini itu tengah malam. Mengendap bagai pencuri, hanya membawa pakaian dan benda berharga seperti surat rumah. Gak ngabarin kemana pergi," tutur sang ibu.


"Beliau juga mengatakan bahwa rumah kita akan ada yang mengontrak jadi akan tetap terawat. Ada apa sebenarnya? awalnya ibu gak percaya, takut di ancam seperti saat itu tapi Nak Roby menunjukkan bahwa dia adalah asisten Bian selain Chris. Selama ini Chris pun sembunyi-sembunyi memberikan kabar tentang kalian. Nak Bian kemana? mana cucuku?" tutur Mardiah beruntun.


Malya mengabaikan sesaat pertanyaan ibunya. Dia melihat kondisi sang ayah yang kian kurus, kulit kuning langsatnya terlihat jelas guratan senja. Tiga tahun tak menjenguk mereka meski dia mampu menjadi penyesalan terbesar putri Haji Syakur.


"Maafin Alya, Yah. Harusnya aku membujuk mereka agar diizinkan pulang atau keluar dari Mansion sekedar menjenguk kalian. Tapi aku tak berani," cicit Malya, duduk bersimpuh di sisi ranjang.


"Ayah sehat, Al. Sudah bisa jalan dan bicara meski belum jelas seperti semula. Bian selalu mengirim dokter rutin untuk ayah, juga menghubungi kami, menunjukkan kalau kamu dan Meeza sehat," ucap bunda.


Malya terheran. Mengirimkan dengan rutin keseharian dia dan Meeza padahal mereka pun jarang berjumpa dan Malya hanya menggunakan ponsel jika Beatrice menyerahkan benda pipih miliknya yang beliau sita.


"Aku kan gak boleh pake ponsel di sana oleh tetua, Bu. Bian juga pulang menjelang kami tidur ... nanti aku ceritakan awal semua ini bermula," ungkap Malya menoleh pada sang ibu.


Dia masih ingin di sisi ayahnya. Lelaki yang berjuang sekuat tenaga untuk melihat si anak sulung wisuda dan bahagia menjalani pernikahannya.

__ADS_1


Mardiah menepuk bahu putrinya, membiarkan mereka menghabiskan masa meski salah satunya masih dalam buaian bunga tidur. Malya akan mengingat kisah hidup tiga tahun ini sebagai pemicu semangat untuk bangkit dan berdiri di depan Meeza dengan pantas.


Menjelang Dzuhur, Haji Syakur merasa bahwa tubuh bagian kanan lebih berat. Ingin menarik pun tak kuasa memiliki tenaga. Dia sudah takut bilamana penyakitnya kambuh kembali. Namun, saat menoleh, lelaki sepuh itu menemukan sosok yang dirindu tengah memegang tangannya erat.


"Al, Alya?" gumam sang ayah, sekuat tenaga menegaskan intonasi yang belum kentara.


Butir bening pun jatuh dari netra bulat nan mengeriput. Dorongan semangat tiba-tiba muncul untuk membelai kepala putrinya lembut, tapi tetap saja dia tak mampu. Tubuhnya belum pulih benar.


"Al, Alya," sebutnya lagi, sekuat tenaga sambil mengerjapkan mata yang mengembun agar kian jelas melihat wajah ayu yang memejam.


Merasa ada yang memanggil namanya, Malya pun menggeliat. Kelopak dengan bulu mata halus itu mengerjap beberapa kali sebelum membuka sempurna.


"Ayah!" serunya seketika mengagetkan Mardiah yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Ayah!" sebut Malya lagi, mendekap erat tubuh setengah kaku di atas pembaringan.


"Aku kangen Ayah. Kangen semua kehidupanku yang dulu," isak Malya di atas dada Haji Syakur.


"Innallaha ma 'ana. Kenapa Allah memilihmu, sebab bahumu kuat meski kau selalu mengatakan bahwa tidak mampu. Tapi Allah percaya, begitu yakin padamu karena cuma Alya yang bisa. Jangan lari, dari apapun nan menyakitimu agar tiada sakit bertambah. Hadapi hingga lukamu sembuh dengan sendirinya," ujar Haji Syakur lirih, mengusap kepala putri semata wayang.


Malya mengangguk, dia mendapat mood booster siang ini dari sosok idola. Mereka pun saling memeluk, meleburkan kesedihan saat raga tak saling dapat menjamah.


Mardiah memasak untuk makan siang, dibantu sang putri seraya menceritakan segala kerumitan selama tiga tahun ini. Wanita sepuh itu memandang tubuh ringkih kagum, putrinya telah dewasa. Binar muram segera dia tepis agar Malya dapat bangkit menata hidupnya. Dia pun akan berjuang membantu anak sulung ini untuk terlihat pantas bagi Meeza.


"Semangat ya Al, meski ibu gampang lelah tapi akan berusaha bantu kamu sebisanya," kata Mardiah, sambil menyiapkan hidangan untuk Roby.


"Doakan aku saja ya, Bu. Sebab doa adalah senjata kaum muslim," balas Malya.


Siang penuh kehangatan tercipta di hunian baru Malya Syakia. Dalam angannya menari sosok mungil nan dia rindu. Mantan istri Bian berharap, semoga Meeza hidup dengan baik di sana sehingga dia tenang untuk mengerjakan apa yang ingin di capai.

__ADS_1


"Istirahat dulu, Al," kata Mardiah saat melihat putrinya bersih-bersih.


"Sebentar lagi, Bu. Ayah sudah selesai salat dan makan, dapur sedikit berantakan. Apartemen ini bukan milikku, kelak akan ku kembalikan karena ini titipan," kata Malya.


"Nak Roby itu baik banget ya. Juga lembut, dia hormat dengan ibu padahal wanita tua ini bukan siapa-siapa," sambung Mardiah, ikut membantu Malya.


Tiada tanggapan dari bibir wanita yang tak melepas hijab sejak tiba. Malya lalu pamit menuju kamar, dia akan melihat dan menyusun rencana untuk esok hari.


Koper besar pun dibongkar. Dia menemukan kotak ponsel baru masih bersegel lengkap dengan sebuah tulisan.


"Untukmu. Alat komunikasi kita tanpa sepengetahuan nenek. Jangan mengganti nomer ya, Malya. Demi Meeza." Tulisnya di sana.


"Lah, kapan dia masukkan ini? aku gak tahu. Pakai yang mana ya? satu casing merah, dan ini biru dari Roby," gumam Malya menimbang dua benda pipih di tangan.


Roby pun memberikan sebuah ponsel yang tidak terlalu mencolok bagai pemberian Bian. Malya memutuskan akan menggunakan ponsel dari asisten Brandon itu untuk keseharian, sementara satunya hanya sebagai alat komunikasi seperlunya dengan sang mantan.


Wanita ayu pun menyapu kondisi kamar, ranjang king size, lemari custom yang tersambung dengan sebuah meja. Dia mendekat dan melihat pajangan di sana.


"Skincare juga laptop. Hmm, kakek, apakah ini juga Anda yang menyiapkan untukku?" lirih Malya melihat semua kebutuhannya lengkap di kamar ini.


Ibunda Meeza lalu membuka tirai pintu yang mengarah ke balkon. Dia menghirup nafas panjang.


"Oke. Ayo bangkit, Al!" tekadnya kuat, netra bulat pun berbinar menatap angkasa luas.


.


.


...___________________...

__ADS_1


__ADS_2