BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 77. PERMINTAAN


__ADS_3

Sebelum subuh, Meeza ternyata sudah bangun mendului sang Bunda. Jari kecil nan gendut itu menyusuri lekuk wajah ibunya.


"Bundaku cantik," lirih Meeza mengagumi Malya, masih dengan posisi berbaring menghadap malaikat tanpa sayapnya.


Malya merasakan sentuhan lembut dan samar pada wajahnya. Dia berpura tetap terpejam sebab ingin mengetahui isi hati buah hati yang lama tak terjamah.


"Bunda, sayang daddy juga enggak? mama temen Zaza ada yang deketin daddy setiap kali kunjungan. Malah ngajak pulang sama-sama tapi daddy suka bilang kalau bunda juga ikut."


"Zaza ingin bobok dengan daddy dan Bunda, seperti teman Zaza di sana, ayah ibunya suka datang menjenguk bersama," lirih Meeza. Suara dan nafasnya terdengar mulai tak teratur tanda Meeza mulai baper.


Malya membuka mata, melihat wajah dan hidung sang anak yang mulai kemerahan. Dia pun trenyuh, menarik Meeza tanpa banyak kata.


"Tapi Zaza gak mau maksa ke Bunda, kalau seperti dulu. Bunda banyak sedih," isak Meeza. Malya masih diam, membelai kepala putrinya sayang.


Mereka hanya berdiam seperti itu hingga waktunya azan subuh terdengar. Keduanya bersiap membersihkan diri untuk salat.


Saat Malya masuk ke kamar mandi, dia melihat air dalam ember yang di siapkan untuk Meeza mandi, terlihat ada kotoran cicak yang mengapung namun sudah di tuang sabun cair oleh bocah itu. Wanita ayu pun memanggil putrinya.


"Za, ini kenapa airnya keruh, mainan sabun ya? Zaza mau mandi pake air ini juga?" tanya Malya.


Meeza mengangguk, seraya membawa handuk kecil bergambar ikan nemo. "Gak boleh ya, Bun?" tanya sang bocah.


Malya tersenyum. Pendidikan dasar seperti ini takkan dia peroleh di bangku akademik sekolah bisnis. Dia seketika cemas, Meeza tidak paham status air untuk kebutuhan bersuci.


Dia akan meminta Bian agar mempertimbangkan hal ini apabila akan memilih sekolah baru bagi putrinya.


"Lihat ini gak, Za? kotoran cicak. Air dalam ember ini kurang dari dua kullah, Sayang. Dua kullah itu sekitar 200 liter lebih, banyak banget. Itu adalah ukuran air yang suci untuk mensucikan tubuh dan menghilangkan najis. Kalau seperti ini kira-kira sifat airnya bagaimana?" tanya Malya pada Meeza.


Putrinya menggeleng, tanda tidak paham.


"Oke, bunda jelaskan ya. Airnya menjadi mutanajis, terkena kotoran cicak sebab kurang dua kullah tadi. Apa bedanya najis dan mutanajis? najis itu untuk benda yang mutlak bersifat haram, macam piggy, kotoran, bangkai dan lainnya. Jika mutanajis, hanya terkena dan masih dapat di hilangkan," jelas Malya.


"Ehm lebih dari dua kullah berarti aman ya, Bun? terus kalau ini bagaimana?" tanya Meeza melongok ke dalam shower cabin.


"Jika airnya banyak, lebih dari dua kullah cukup di ambil saja najisnya. Di alirkan air lagi pun boleh. Kalau seperti ini ya boleh dibuang atau di alirkan sampai luber dan harus yakin bahwa sifat airnya sudah kembali suci. Ini juga kena sabun, gimana dong?" tanya Malya lagi.

__ADS_1


"Bisa buat mandi?" jawab Meeza masih mengerjakan bola matanya.


"Air sabun itu tidak mensucikan, Za. Gak boleh buat wudhu, mandi besar atau menghilangkan najis. Jadi mulai sekarang hati-hati ya," pesan Malya sembari membuang sebagian air lalu mengalirkan hingga luber.


Meeza mulai mengingat, lalu dia bertanya lagi. "Bunda, bukan mutaghayyar ya?"


"Eh, ingat pelajaran itu? mutaghayyar jika air tadi berubah semua sifatnya sampai orang menyebutkan dengan nama lain. Contoh, air sungai tercampur kopi, lalu orang menyebutnya sebagai air kopi, nah seperti itu," terang Malya menyiapkan semua peralatan mandi putrinya lalu membiarkan sang gadis membersihkan diri.


Saat akan salat, Malya membenarkan letak mukena pada dagu Meeza. "Bagian bawah dagu itu termasuk aurat, maka wajib tertutup. Ingat cara batas takbiratul ihram bagi wanita sebab mukena Zaza two piece kan ya. Jangan sampai terlalu tinggi hingga lenganmu terlihat," pesan Malya.


Rutinitas pagi yang harus perlahan di perbaiki sebab Meeza masuk masa mumayyiz. Putrinya harus hafal semua yang berhubungan dengan bab thaharoh.


Saat sarapan.


Haji Syakur menanyakan pada Malya kelanjutan niatan mereka. Bian sudah mendesak dirinya agar dapat segera mengkhitbah Malya kembali.


"Besok malam langsung akad saja, Yah. Semalam aku sudah minta ke pengacaraku untuk mengurus dokumennya. Mas Bian belum tahu sih, ini dadakan melintas di otak setelah duha tadi," jawab Malya tak melihat ke arah sang ayah.


Mardiah sumringah, dia akan sibuk hari ini membayangkan kedatangan tamu.


"Za, ayo lekas habiskan. Kita ke onty Fa lalu shopping, treatment. Pokoknya jalan-jalan hari ini sebab Bunda mulai cuti hingga Selasa baru masuk kerja," sambung Malya, berbinar.


Hatinya berdebar, dia memutuskan ini lebih cepat sebab keinginan Meeza. Lantunan lagu rock a by baby di kamar mandi, kian membuat dirinya merasa bersalah jika terus menunda niatan Bian.


Malya, menghubungi sang mantan suami sementara menunggu Meeza selesai sarapan.


["Mas, hanya akad tanpa perayaan kan? besok bada Maghrib saja ya. Hari ini aku dan Meeza mau me time. Jangan ganggu sebab aku akan offkan ponsel seharian."] Tulis Malya.


Pesan terkirim, centang dua dan langsung di balas.


["What!! kamu sukanya dadakan, sih. Sengaja kayaknya ya, mau bikin suaminya gak total nih. Oke, Sayang, have fun ... Aku tahu, kamu mau siapin malam kita dengan sempurna kan? gamis kalian meluncur sore nanti ya, Al."] Bian membalas pesan Malya.


Bunda Meeza hanya mengulas senyum, teringat malam mereka di masa silam yang sangat menguras emosi.


["Jangan mikir aneh-aneh. Setelah itu, kita bicara tentang sekolah Zaza. Harus mulai mencari yang terbaik terutama untuk masalah agamanya. Fathia merekomendasikan Arza Tahfiz Internasional school milik sepupu dan pamannya di Bekasi. Bilingual Inggris dan Arab."]

__ADS_1


["Oke, kita bicarakan semuanya nanti. Sah dulu, Sayang."] Bian menunggu balasan Malya tapi tak jua dia dapat hingga akhirnya sang duda memilih menghubungi semua yang harus dia siapkan termasuk mengundang Mahendra.


...***...


Malya mengajak Meeza mengunjungi Roby di sebelah unitnya. Gadis itu riang bukan kepalang kala melihat Fathia yang sedang duduk di ruang televisi.


"Onty Fafa cantik macam Bunda," pekik Meeza seraya membelai dan menciumi berkali wajah sang tante.


Fathia terkekeh melihat tingkah Meeza pertama kali dalam perjumpaan mereka. Keduanya langsung terlihat akrab.


"Fa, istirahat, jangan kemana-mana dulu. Tesis bisa di kejar santai kan? suamimu gak bakalan kekurangan dana jika hanya untuk membayar mandiri beasiswa yang terputus," ucap Malya pelan saat menyeduhkan teh hangat untuk Fathia.


"Iya, Mbak. Abyby bilang gitu sih, akunya emang bandel tapi sekarang udah lepas semua kerjaan, kok. Besok sore, aku bantu apa?" ujar Fathia.


"Doa aja. Aku kok grogi ya, malu gitu ngadepin Mas Bian. Melebihi yang baru nikah, secara dia beuh banget kan akhir-akhir ini," ucap Malya, wajahnya bersemu merona saat duduk di samping Fathia.


Fathia tertawa kecil, dia saja masih rikuh dan malu jika Roby mendekat dan menempel padanya untuk memulai ibadah. Apalagi Malya punya ingatan buruk dengan orang yang sama.


"Dih, kamu ngetawain aku," cebik Malya semakin keki.


"Pak Bian itu hot duda sih, level tiga puluh Ben cabe ... Aku siapin kamar aja ya. Pakai bukhur, menata bathroom, dan itu," bisik Fathia. Keduanya lalu cekikikan.


"Pantes Byby gak keluar rumah tiga hari," gelak Malya tak dapat menahan tawa.


"Mbak, hati-hati bisa parah. Seminggu nanti, loh. Pokoknya resep umma Aiswa dan bunda Naya, really manjur. Maira juga begitu tapi dia dari emaknya lebih cocok sebab Shan itu yah gitu lah, bule Arab Turki," tawa Fathia, teringat cerita Maira hampir masuk IGD saat mereka mulai dekat setelah lama menunda malam pertama sebab kondisi Maira kala itu.


"Serah deh. Pokoknya aku gak mau aneh-aneh ... ujubuneng, rasanya kian deg-degan," balas Malya menarik tangan Fathia dan diletakkan pada dadanya.


Kedua wanita terbahak mengeluarkan segala candaan absurd sementara Meeza asik dengan game the Sims seraya memakai headphone.


.


.


...___________________...

__ADS_1


^^^Kok jadi ikutan senyum-senyum gak jelas 😂^^^


__ADS_2