
"Jelas aku gak suka. Meeza tidak tahu apapun," sengit Bian, memeluk dan menenangkan putrinya.
"Meeza, uncle baik kok, ngajak bunda tinggal di sini meski bukan dengan Daddy. Meeza jadi bisa pulang ke bunda kalau bosan di asrama," imbuh Anne.
Beatrice meremat seprei dengan tangan kirinya, dadanya bergemuruh menahan amarah. Dia kira Anne sudah berubah, nyatanya masih tetap membela Andreas. Dahulu, putri bungsunya ini lebih memilih Anthony dibandingkan keluarga. Apakah kali ini akan sama, menghancurkan Cakrawala demi Valencia, pikir Beatrice.
Meeza menggelengkan kepala, dia tak ingin pergi kemanapun selain bertemu Malya. Gadis cilik itu kian mendekap erat ayahnya
"Daddy, Zaza cuma mau bunda," bisik Meeza di sela tangis.
Bian tak lagi menanggapi ocehan Meeza, dia fokus menantang Andreas yang juga sama melayangkan tatapan permusuhan.
"Oke, aku pamit. Doanya ya, Nek. Sejak awal, Maria memang kepunyaanku, aku hanya mengambil apa yang sudah di gariskan untuk aku miliki," bisik Andreas pada Bian sebelum bangkit lalu menghampiri Beatrice.
"Semoga berbahagia. Jika ditengah jalan kau kehilangan tongkat, maka carilah pengganti agar langkahmu lebih baik. Lepaskan beban di punggung bilamana jejak yang kau ciptakan terlalu jelas, agar ringan ketika menemui harapan," pesan Beatrice menyiratkan maksud agar Andreas dapat berubah.
"Aku tidak akan melepaskan beban, Nek. Tetapi mencari teman seperjalanan yang bersedia membawakan bebanku," jawab Andreas, dia seakan mengungkapkan akan menggunakan berbagai cara.
Valencia pun pamit undur diri dari sana, Anne lebih banyak diam setelah putranya memantik signal pembalasan untuk Biantara.
Anne ada di posisi sulit. Ingin membela Andreas tapi cara dan keinginan anak itu salah besar. Hendak berada di kubu Beatrice, dia pun tahu persis bahwa ini adalah dampak dari sikap ibunya.
Setelah kepergian Valencia.
Biantara perlahan menjelaskan apa arti menikah. Siapa Maria, Andreas juga Anne. Dia menyeka air mata putrinya dari wajah mungil. Menggunakan bahasa sederhana seperti Malya jika bicara pada Meeza.
"Meeza tahu gak siapa nama Bunda yang sebenarnya?" pancing Bian, sebab dia merasa putrinya tahu sesuatu.
Gadis berusia hampir empat tahun itu mengangguk. "Malya yang artinya rangkaian bunga," jawab Meeza pelan, seraya melihat ke brangkar Beatrice. Dia masih kerap takut pada buyutnya itu.
Beatrice melihat Meeza kian mirip dengan ibunya, mulai dari warna mata, hingga kebiasaan. Terlebih bocah itu kini pendiam dan berubah ceriwis hanya dengan Malya.
Biantara menyadari ketakutan Meeza, dia pun mengatakan bahwa Beatrice mengetahui hal ini dan sayang dengan Malya. Dugaan Bian terbukti, Malya cerdik, membuka identitas dirinya pada Meeza sebab tahu, banyak ancaman mengelilingi dan tak ingin putrinya bingung.
"Bunda kamu memang cerdas. Diam tapi membangun kekuatan tersembunyi."
__ADS_1
"Oma tahu kok, gak apa. Meeza boleh cerita tentang bunda," kata Bian membelai rambut putrinya yang masih memakai mukena.
"Kata bunda, nama Malya istimewa, tidak boleh sering disebutkan karena rahasia. Maria hanya panggilan sayang Oma untuk bunda Zaza," cicit Meeza lagi.
"Daddy, Zaza baru saja membuka rahasia bunda dong," kata Meeza, isaknya kembali muncul sebab rasa bersalah.
"Enggak, Za. Daddy dan Oma kan sudah tahu rahasia bunda," balas Bian menenangkan. Dia masih belum puas mengorek kisah dari putrinya.
Biantara menyunggingkan senyuman puas, prasangkanya benar. Malya sudah menyiapkan Meeza sebelum dia pergi. Pantas saja, gadis kecilnya ini kerap terlihat diam tetapi mengamati.
"Jadi, Meeza tahu gak tadi uncle akan menikah dengan siapa?" pancing Bian, berharap Meeza mengerti.
Gadis itu menggeleng, akan tetapi sejenak dia berpikir. Mata bulatnya memicing hingga alis pun nyaris bertaut.
"Daddy, ehm ... bukan dengan bunda Zaza? tapi nama panggilannya sama?" tebak Meeza, dengan suara lirih takut salah duga dan dia akan kecewa.
Beatrice dan Biantara tersenyum mendengar ucapan gadis ciliknya. Bocah kecil itu mulai bisa menganalisa.
"Di ajarin siapa sih? pinter banget, bunda cerita apa saja ke Meeza?" puji Bian seraya mencium pipi putrinya gemas.
"Bunda suka bunga Krisan dan sayuran hijau ... Zaza awalnya tidak suka, tapi bunda bilang kelinci dan kambing saja suka sayuran, mata binatang itu juga bagus, badannya sehat," tawa Meeza muncul. "Jadi kalau Zaza suka makan sayur hijau, nanti badan Zaza kuat, kulit Zaza sehat, dan bikin Zaza cantik macam bunda," kekeh bocah imut ini, menirukan ucapan Malya.
Meeza mengidolakan ibunya, wajar jika Malya menyebutkan bahwa putrinya harus cantik seperti dia.
"Ada-ada saja, kambing di samakan dengan manusia. Bunda kamu itu kadang-kadang," kata Beatrice tak habis pikir.
Cicit Cakrawala mengoceh panjang menceritakan segala hal tentang kebiasaan Malya yang tak Bian ketahui. Dari meeza lah, akhirnya Bian kian mengagumi mantan istrinya itu.
"Makasih banyak, Sayang. Daddy kian mengenali bunda lewat kamu. Sekarang, Meeza boleh call bunda," ujar Bian, menyerahkan ponsel pada gadis yang duduk di pangkuannya.
Biantara tak pernah mengajari Meeza untuk membuka kunci benda pipih itu. Dia pun terkejut kala pertama kali melihat Meeza memainkan gawainya. Bahkan anak kecil ini, dengan cepat menguasai berbagai aplikasi yang ada di sana termasuk berkirim pesan.
"Diajarin siapa kalau tentang ini?" tanya Bian saat Meeza berusaha membuka kunci layar yang baru saja dia rubah.
"Byby. Kata Byby, perhatikan gerakan tangan dari jauh, Zaza harus bayangin tempat angka yang ada di layar ... horeee, Daddy, aku bisa kan?" seru Meeza saat dia berhasil membuka kunci layar ponsel milik Bian.
__ADS_1
Biantara tersenyum, untung yang mengelilingi Meeza adalah orang baik. Roby ternyata banyak membawa dampak teknologi untuk putrinya.
Tuut. Tuut.
"Assalamualaikum, bundaaaaaaaaaaa," seru Meeza riang kala melihat wajah bundanya.
"Wa 'alaikumsalam. Habis ngaji ya? sekalian setoran ya sama bunda, Zaza sudah sampai surat mana?" jawab Malya di seberang.
"Al qoriah. Bunda, yang menikah dengan uncle Andre bukan bunda kan?" tanya Meeza sebelum dia menuruti keinginan bundanya.
"Siapa yang menikah? bunda? enggak kok. Meeza kenapa tanya begitu, coba bilang ke daddy," kata Malya lembut.
"Iya, daddy hanya menikah dengan bunda, Za," kata Bian, menjawab Malya.
"Tadi uncle bilang, mau menikah dengan Maria," ucap Meeza kembali murung.
"Sayang, jangan mudah percaya pada orang lain, oke? kita sudah pernah berbagi rahasia. Maria adalah?" pancing Malya, untuk ingatan buah hatinya.
"Nama panggilan untuk bunda," jawab Meeza cepat.
"Jadi?"
"Bukan bunda," sambun Zaza lagi.
"Nah, itu Zaza tahu. Pinter. Bunda pernah bilang, Zaza amati sekitar dan jangan biarkan orang tahu jika Zaza takut atau bingung. Zaza harus tenang agar dapat berpikir dan minta tolong, oke? ingat pesan bunda?" tutur Malya panjang, dia khawatir keselamatan putrinya terancam seseorang.
"Oke, bunda. Zaza ngerti," cicit Meeza mengangguki ucapan Malya.
"Sekarang, bunda izin bicara pada Daddy, boleh? ganti dengan panggilan biasa ya, Sayang, jangan video call," pinta Malya pada putrinya.
"Daddy, bunda sedang kangen Daddy lagi," kekeh Meeza menggoda ibunya.
"Zaaa!" seru Malya.
.
__ADS_1
.
...___________________...