BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 69. KIAN DEKAT


__ADS_3

Dua hari setelah itu.


Pernikahan Alfred di gelar di Surabaya, kota kelahiran Ashley Fawzia. Malya meminta bantuan pada Roby agar dapat mewakilinya ke sana akan tetapi permohonan tersebut di tolak asisten Brandon.


"Kamu punya salah sama Fathia, By? kok menghindar begitu?" selidik Malya. Tumben Roby menolak permintaan darinya.


Asisten Brandon hanya diam. Dia tak ingin menanggapi harapan palsu nan tinggi. Kuatir jatuh, toh kecewa sebab lamarannya di tolak Malya masih belum sembuh benar.


"Enggak. Jangan gibah, Al," ujar Roby lagi.


"Aku ada audit kunjungan, gak bisa hadir. Tiga bulan lagi kan Mas Bian pulang. Aku sedang mengumpulkan uang sebab ingin menemui Meeza nanti," ujar Malya lagi.


"Di sini saja, ngasih bingkisannya. Aku juga sibuk," kata Roby sambil lalu ketika mereka bertemu di lobby apartemen.


Semenjak pertemuan akhir di kediaman Alfred, Roby kerap kali menghindari dirinya. Pekerjaan Malya yang sangat menumpuk akhir-akhir ini sedikit banyak mempengaruhi mood ibu satu anak ini.


...***...


Tiga bulan berlalu begitu cepat.


Bian menepati janji, membuat video kala Meeza mengutarakan rindu seraya menunjukkan banyak gambar love untuk Malya. Gadis kecil mereka tumbuh begitu cepat. Bulan pujaan hati itu kian mirip dirinya.


"Bunda, miss you so much," ucap Zaza di seberang benua Eropa.


"Bunda pun. Sehat selalu di sana ya, Za. Bunda kangen Meeza," sahut Malya, dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan sedih, Bunda. Nanti Zaza ikut sedih," balas bocah berusia empat setengah tahun itu.


Lambaian tangan mungil, senyum manis Meeza, Malya abadikan dengan meng-capture tampilan layar ponsel. Setitik air mata, selalu saja jatuh, hatinya kembali melow apabila berada di momen ini.


Sambungan pun terputus. Malya melipat kedua tangan di atas meja, lalu meletakkan kepalanya di sana.


Bahu ibu satu anak ini bergetar, dia sangat rindu mendekap Meeza. Setiap kali melihat goresan halus luka di lengan yang perlahan samar, dia teringat putri semata wayang.


"Al, nenek bilang kuat kuat," kata Astrid, menirukan lirik penggalan lagu band Wali.


Putri Haji Syakur, mengangkat kepalanya kembali, mengangguk seraya menyeka jejak kesedihan di sana. Dia lalu melanjutkan pekerjaan sebagai upaya pengalihan dari Meeza.


Dua hari kemudian.

__ADS_1


Malya ingin menyambut Beatrice di Bandara akan tetapi apa daya, Michael seakan memaksa otak dan fisiknya bekerja bagai kuda. Tiada henti meminta Malya lewat Herawati untuk mengerjakan ini dan itu.


"Maaf aku gak bisa sambut tetua di Bandara," ucap Malya kala Bian menghubunginya.


"Iya, Sayang, tak apa. Nenek sudah lebih baik jadi gak butuh penanganan khusus. Ehm, Al, aku sudah bilang belum, kalau kami pindah tempat tinggal," jujur Bian setelah sekian lama.


Malya tertegun. Roby tak mengatakan apapun padanya. "Belum. Kenapa pindah?" tanya Malya.


"Mansion kini sudah di huni tante Anne dan Andriana. Sedangkan Maria, kembali ke Inggris dengan Andreas," beber Bian lagi.


"Alhamdulillah jika sudah pulih. Aku ingin menjenguk tapi di halangi bodyguard jadi ya sudahlah. Ibu bagaimana?" tanya Malya ragu, teringat ibu Sulaiman.


"Ibu mantan kamu itu, sudah di bebaskan. Hanya menjalani kurungan selama dua bulan. Kamu gak dapat kabar apapun darinya? aku saja sudah lupa," ujar Bian menjelaskan banyak hal yang belum di sampaikan ke Malya.


Bunda Meeza terdiam. Ini adalah jam istirahat baginya tetapi malah di gunakan ngerumpi dengan mantan. Banyak hal yang tak dia ketahui jika Bian tidak membagi apapun dengannya.


"Biarlah. Aku ingin ke sana tapi menunggu amarahnya surut. Toh, aku sudah meminta agar beliau di bebaskan. Namun, majelis menolak, jadi bukan salahku," sahut Malya, menerawang jauh, mengingat upaya membantu mantan mertuanya.


Setelah berkirim salam dan sapa dengan Beatrice, panggilan itu berakhir. Malya bersiap akan pergi dengan Sesil ke salah satu cabang. Dia bertugas mengaudit pembukuan di sana.


Menjelang Maghrib, Malya masih ada di salah satu cabang resto fast food. Kerja lembur lagi sebab ditemukan banyak hal di luar s.o.p pusat. Malya menegur pelan sang manager. Briefing akhir pun dilakukan di salah satu room yang biasa di gunakan untuk perayaan ulang tahun anak-anak.


"Maju pesat," ujar Chris, melihat sang nyonya di ruangan yang di kelilingi kaca.


"Kian matang," imbuh Biantara, kini dia menopang dagu melihat tampilan Malya, bagai sedang menonton adegan film, Bian menikmati ini dari tempat duduknya.


Tepat azan Maghrib, Malya mengakhiri sesi. Dia dan Sesil pun pamit keluar ruangan meeting.


"Al," panggil sebuah suara.


Malya menoleh, ternyata Bian dan Chris yang tengah menunggunya.


"Loh, kok di sini. Bukannya Mas masih harus menemani tetua ya?" tanya Malya. Sesil berkali menarik pangkal sikunya, meminta di kenalkan dengan dua orang pria perlente.


"Aku gak sengaja lihat kamu masuk ke sini. Ya sudah, mampir, sekalian ada yang ingin aku bahas. Kalau nenek, beliau sedang di temani Roby dan suster ... bisa kita bicara?" sahut Bian, masih berdiri di depan Malya.


Malya mengangguk, dia lalu menoleh ke arah Sesil, paham arti kodean sang sahabat.


"Sesil Sayang, kenalkan ini Mas Bian, Daddy Meeza juga Pak Chris," ujar Malya menatap tanpa ekspresi pada Sesil.

__ADS_1


"E-eh, Pak Bian ya? halo, aku Sesil," balas Sesil mengulurkan jemari hendak berjabat. Namun, Bian menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.


"Bian, suami Malya," jelas Bian, enggan menyebut kata mantan.


"Eh! kayak Malya," imbuh Sesil kala melihat respon Biantara.


"Gimana, Al? bisa sekarang?" tanya Bian lagi sebab Malya hanya mengangguk.


Malya meminta Sesil untuk pulang lebih dulu sebab dia akan bicara sejenak dengan Biantara. Sejurus setelah rekannya pulang, Malya duduk di salah satu meja.


"Tapi gak bisa lama. Aku belum salat Maghrib dan tersisa waktu lima belas menit lagi. Weekend saja, silakan tentukan tempat," kata Malya tak ingin berlama. Tubuhnya lelah dan terasa lengket seharian bekerja di luar ruangan.


"Oke. Di rumah saja, bagaimana? kamu boleh ajak Ayah dan ibu," sambut Bian terhadap keinginan Malya.


"Ehm, oke. Sekalian jenguk nenek ... aku boleh pulang duluan? Camai nungguin daritadi," ucap Malya kikuk, seraya menunjuk ke arah parkiran gedung resto.


Biantara mengangguk serta tak melepas pandang pada wajah ayu di hadapan. Sikapnya membuat Malya rikuh, sehingga dia tak nyaman bicara.


"Assalamualaikum," ucap Malya bangkit, undur diri.


"Wa 'alaikumsalam. Al, thanks ya, gak membuang semua ini," pungkas Biantara.


Blush.


Wajah Malya merona, jantungnya berdegup kencang. Dia tahu maksud Bian. Semua yang di kenakan hari ini adalah pemberian darinya. Secara gestur mungkin Bian telah mendapatkan jawaban atas ajakannya dulu.


"He em, sama-sama," balas Malya seraya menjauh dari meja dan keluar dari resto.


Degh.


Degh.


"Ish, tenang tenang wahai jantungku." Malya bergumam saat membuka pintu mobil bagian kiri, membuat camai terheran.


"Jantungnya kenapa, Bu?" tanya sang driver wanita, membuat Malya kian tersipu.


.


.

__ADS_1


...__________________...


__ADS_2