
Tangisan histeris Meeza membuat Sari kelimpungan. Suster segera memasang masker oksigen di wajah Malya, luka sayatan lebar pun di tahan semampu mereka.
Tak lama Ambulance tiba di rumah sakit, Malya di dorong ke bangsal untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Meeza masih menangis dalam pelukan Sari. Sang bodyguard tak dapat mengabarkan info untuk Biantara sebab Malya menahan instruksi tersebut sejak mereka keluar rumah sakit.
"Jika aku terluka, jangan kabarkan pada tuan muda. Tahan hingga kondisi di Indonesia sudah kondusif, agar dia tenang. Apabila beliau menanyakan tentang aku, sampaikan bahwa aku baik saja," titah Malya pada seorang pengawal wanita yang mendampinginya.
Dia menyampaikan hal ini pada Sari untuk meminta saran. Pengasuh itu memilih mengikuti permintaan nyonya muda mereka sebab Sari tahu, alasan keduanya bertukar posisi saat ini.
Satu jam tindakan yang Malya perlukan agar lukanya menutup sempurna. Setelah itu, pasien di pindahkan ke ruang perawatan. Sari mewakili keluarga majikannya sebagai jaminan sementara nyonya muda belum siuman.
"Bunda gak apa, sekarang masih bobo," ucap Sari menenangkan Meeza.
"Tangan bunda macam Hellboy, besar. Kasian bunda, pasti sangat sakit," cicit Meeza seraya menyeka air matanya.
Gadis ayu itu lalu naik ke brangkar, meringkuk memeluk kaki Malya lalu memejamkan mata. Dia rindu tidur dengan wanita yang melahirkannya ke dunia.
Sari membereskan semua barang bawaan mereka lalu menghubungi Chris, menanyakan kabar di Indonesia.
Asisten Bian itu mengatakan bahwa rapat direksi akan di gelar esok hari. Sari lalu meminta agar Chris dapat mengalihkan perhatian Bian sementara untuk tidak video call ke ponsel Malya.
"Ada apa? kau dapat katakan padaku," ujar Chrisnandi.
"Nyonya terluka sebab merebut nona kecil saat penjemputan. Kini beliau telah mendapatkan perawatan di rumah sakit," lapor Sari pada sang asisten.
Chris terkejut, dia akhirnya mengerti keinginan Sari tadi dan akan berusaha mengalihkan perhatian Bian hingga rapat selesai besok siang.
Sari mengirimkan foto kondisi terkini Malya dan Meeza ke ponsel Chris.
"Jika nyonya siuman, tawarkan untuk pindah rumah sakit ke tempat nyonya besar agar tuan muda tak pecah konsentrasi. Kau mengerti? ... jika ada tagihan, kirimkan slip biayanya padaku," titah Chris untuk Sari.
"Baik," jawab sang pengasuh, menutup panggilan.
Sari lalu meminta pengawal untuk mengobati lukanya dan membeli makanan bagi mereka agar tenang menunggu sampai majikannya siuman.
...***...
Maria pulang ke kastil dengan langkah gontai, badannya sangat tidak mendukung untuk beraktivitas.
Sakit kepala hebat mendera menantu Anne. Maria juga merasakan ngilu di sekitar perut bagian bawah.
Tak lama kemudian, saat akan menaiki tangga. Maria terjatuh.
"Nyonya Valencia," seru maid melihat menantu Anne tergolek di lantai.
__ADS_1
Beberapa maid mengangkat tubuh majikannya ke kamar terdekat. Mereka lalu menelpon Anne yang tengah berada di perkebunan. Tak lupa dokter pribadi keluarga Valencia pun di panggil.
Menjelang sore, Anne terlihat sumringah. Menantunya di nyatakan hamil. Dia akan memiliki cucu dari Andreas.
Maria perlahan sadar kala Anne memijat kaki juga membubuhkan wewangian di sekitar hidung yang membuatnya rileks.
"Selamat ya Maria, kamu hamil," ujar Anne kala menantunya membuka mata.
Maria telah mengetahui perihal ini justru menangis, dia takut Andreas kecewa lalu membuangnya sehingga meminta Anne untuk merahasiakan dari pria itu.
"Jangan katakan pada Andre dulu ya, Mi. Biar aku saja yang menyampaikan kabar ini," pinta Maria, dengan isakan samar.
Anne mengangguk, mengira Maria merasa terharu dan berpesan padanya agar menjaga kesehatan. Kemudian wanita paruh baya itu bangkit meninggalkan Maria di kamar.
Saat dering ponsel Maria berbunyi, dia ketakutan. Andre pasti memarahinya lagi. Tapi, mengabaikan panggilan pria itu bukanlah hal menguntungkan untuk Maria lakukan.
"Ya," jawab Maria saat dering ketiga.
"Bagaimana, berhasil?" tanya Andreas.
"Maaf, aku luput. Anak itu mengenali Malya, tapi aku melukai ibunya, aku takut polisi akan datang. Bagaimana ini," cicit Maria.
"Bodoh! sudah ku bilang jangan gegabah. Apa Malya terluka parah?" ujar Andreas lagi.
"Ehm, bagus! ... diam di rumah. Biar aku kerjakan sisanya, jangan keluyuran dulu. Polisi tak akan mendatangi kastil meskipun Bian melaporkan kamu, kau dengar?" ucap Andreas di negara lainnya.
Maria mengangguk meski Andreas tak melihat. "Iya," jawab Maria lugas.
"Kamu tadi kenapa, kata maid jatuh di dekat tangga? kau sakit, Sayang?" tanya Andreas melembut.
"Eng-enggak. Hanya kelelahan dan cemas akan ada polisi ke sini saja," elak Maria.
Andreas lalu meminta Maria untuk menunggu dua hari lagi sebab dirinya akan kembali ke Inggris untuk menjalankan rencana cadangan jika hasil rapat direksi meleset dari harapan.
Maria bagai hidup dengan pria yang memiliki dua kepribadian. Andreas terkadang sangat manis dan mesra, tak jarang romantis akan tetapi dapat berubah dalam waktu hitungan detik menjadi pria kasar nan arogan.
...***...
Bian merasakan gelisah sejak dia tiba di tanah air. Ponsel Malya sulit di hubungi hingga dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandang layar pipih di tangannya.
Menjelang tengah malam waktu Indonesia.
"Daddy!" sapa Meeza kala Bian menghubungi Malya lagi.
"Bulan, bunda mana?" tanya Bian.
__ADS_1
"Hayo, Daddy kangen bunda ya? kata bunda gak boleh video call kalau mau bicara, harus pakai telepon biasa," kata Meeza mengikuti arahan Malya yang baru saja siuman.
"Daddy kangen kalian. Bunda mana, Bulan? daddy mau bicara," pinta Bian tak sabar.
Meeza lalu mengubah panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga Malya.
"Assalamualaikum," sapa Malya dengan suara serak.
"Wa 'alaikumsalam. Kamu kenapa, Al?" Bian mencurigai sesuatu. Bodyguard Malya tak mengangkat panggilan darinya sejak siang. Pun dengan Sari.
"Gak apa, baru bangun tidur dengan Meeza. Cuaca di sini redup dan fisikku baru terasa lelah sehingga jet lag ngantuk melulu," elak Malya agar Bian tak curiga.
"Istirahat dulu ... besok pagi rapat direksi dimulai. Doakan aku ya, Al. Jika suamimu ini akhirnya lengser kau tidak malu kan?" cemas Bian, khawatir Malya akan mundur jika dia melamarnya lagi.
"Maksudnya malu? Mas gak mampu biayain Meeza sekolah gitu? tenang, ada aku," kekeh Malya percaya diri, di ikuti Bian.
"Percaya, ibu supervisor divisi pasti punya banyak uang," seloroh Bian, menyebut jabatan baru Malya.
"Semoga lancar rapat direksi besok pagi. Konsentrasi di sana, jangan terpengaruh apapun. Yakinlah, aku menjaga tetua dan Meeza di sini," balas Malya menenangkan Bian.
"Lakukan yang terbaik. Jika memang harus melepas ya lepaskan saja. Toh rezeki bukan hanya harta dan dari satu tempat. Bila Allah mengambil sesuatu, tentulah Dia akan mengembalikan pada kita dengan hal lebih baik lagi," tutur Malya panjang.
"Ma ashoba min musibatin ila biidznillah, tidak ada sebuah musibah, yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah," lanjut bunda Meeza.
"Semua sudah terukur, la yukallifullaha nafsan ila wus'aha. Allah ga akan kasih ujian di luar kesanggupan kita kok. Tapi, sebenernya Allah tuh bukan nguji kemampuan kita sih," sambung Malya lagi.
"Melainkan menguji apa, Sayang?" tanya Bian.
"Nguji kemauan kita. Mau ga, ngaku. Mau ga, mengadu bahwa kita ini lemah di hadapanNya. Laa haula wala quwwata illa billah," pungkas Malya.
Biantara tersenyum di ujung telepon, hatinya kembali tenang sebab kalimat panjang Malya. Benar, semua sudah tergaris dan tertulis bahkan sebelum dia lahir.
"Makasih, Sayang. Booster banget, aku tidur duluan ya, take care, Al. Kangen kamu di sini," kata Bian, sebelum menutup panggilan.
"Malam Daddy, we're gonna miss you too, especially bunda," kekeh Meeza.
"Zaaa! kebiasaan deh!"
Suara debat canda antara ibu dan anak menjadi hiburan penutup hari bagi Bian sebelum panggilan itu berakhir. "Alhamdulillah. Aku siap, ya Allah."
.
.
...________________...
__ADS_1