
"Daddy!" Meeza terus menggeliat dalam dekapan Bian hingga lelaki itu tak tega, khawatir tubuh putrinya kesakitan.
Biantara menurunkan sang gadis cilik dari gendongan. Sontak Meeza berlari menuju gerbang yang belum sepenuhnya menutup.
"Bundaaaaaaaaaaa...." Tangis pilu cicit emas Cakrawala memecah sunyinya malam.
Bruk!. Meeza jatuh, menjulurkan tangan ke arah taksi yang membawa Malya pergi.
"Bulan!" teriak Bian, cemas putrinya terjatuh.
Tatapan pilu Meeza masih menerawang jauh. Dia bahkan tak berniat bangkit dari posisinya membuat hati Bian tersayat sembilu.
"Meeza, masuk yuk. Sudah malam, besok lagi kita cari bunda, oke?" bujuk Bian, mengusap punggung sang bocah.
"Bunda pergi karena aku? bunda ikut opa ya, Dad," isak putri tunggal sang pewaris.
Bian pun mulai sesak. Dia mengangkat tubuh kecil itu lalu mendekap erat.
"Bunda pergi karena daddy. Banyak yang harus bunda kerjakan. Semua itu untuk Meeza. Jadi doakan saja bunda dari sini, oke?" tutur Bian, membelai kepala putrinya sayang.
Keduanya pun kembali masuk ke hunian. Sepanjang jalan menuju Mansion, Bian diam, berjalan tanpa suara. Hanya mengusap, menghujani pucuk kepala Meeza penuh kelembutan.
Setelah mencapai kamar yang biasa anak istrinya gunakan, Bian merebahkan Meeza dan menemani hingga gadis cilik itu kembali memejam.
Netra dengan iris hitam itu memendar pandangan ke sekeliling. Dia bangkit, melihat keadaan kamar yang tak terlalu luas untuk di huni berdua.
Jemari kekar pun membuka lemari, meneliti satu per satu tumpukan busana di dalamnya lalu menutup kembali. Dia melanjutkan langkah menuju bathroom, hanya ada perlengkapan mandi milik Meeza di sana. Bian tak melihat satu pun barang milik Malya yang tertinggal.
"Bersih sekali. Kau tak berniat meninggalkan sesuatu untuk Meeza kenang kah, Malya?" gumam sang pria tampan meski tergurat sedih di wajahnya.
Baru kali ini, Bian menggeledah isi kamar. Dia mencari sisa jejak kehadiran istri di atas kertasnya itu. Seakan hendak mengabadikan bahwa si wanita pendiam pernah ada dan singgah di sini.
"Rapi. Gak ada apapun di sini," ujarnya sambil melangkah lagi menuju ranjang sang anak.
"Jangan kangen bunda ya. Sebab bunda gak ingin di kenang, semua miliknya di bawa," bisik Bian, dia menaiki tempat tidur dan berbaring di sisi putrinya.
Ingatan posisi Malya kala menemani tidur sang buah hati, Bian tiru. Dia meringkuk sembari memandang wajah teduh Meeza meski tercetak sisa jejak kesedihan.
Keesokan hari.
__ADS_1
Pengasuh Meeza kesulitan membujuk sang nona cilik agar lekas turun ke bawah dan sarapan pagi. Meeza bersikukuh tak melepas mukenanya dan melanjutkan dengan dzikir pagi.
Sari yang melihat kebiasaan nona cilik persis ibunya pun berinisiatif memanggil Bian, sekaligus meminta tuan mudanya itu agar membujuk sang nona.
"Tuan muda, maaf. Segeralah ke kamar Nona," kata Sari, mengetuk pintu kamar Biantara.
Sang pewaris pun muncul di depan pintu. "Meeza kenapa?" tanya Bian.
"Nona tidak mau melepas mukena dan masih mengaji, sementara Nyonya besar sudah memanggil," jawab Sari, menunduk.
Bian mengernyit, tak biasanya Meeza bertingkah demikian. Dia pun memutuskan melihat keadaan sang putri.
"Bulan, ayo sarapan dulu," ajak Bian di ambang pintu.
Meeza tak memedulikan ajakan sang ayah. Dia melanjutkan mengaji hingga huruf terakhir.
"Kata bunda, kalau pagi harus di awali dengan membaca doa, mengaji, dan sedekah," tegas Meeza saat melepas mukena dan menanggalkan begitu saja demi mengajak ayahnya masuk.
"Sejak kapan begini, biasanya kan enggak," tanya Bian. Duduk di atas karpet yang sama dengan Meeza.
"Sejak di glinhos," jawab Meeza lugas.
"Greenhouse. Not glin," ralat Bian.
Obrolan ringan antara anak dan ayah membawa keduanya larut hingga teriakan Beatrice menjeda keseruan mereka.
Sesi sarapan di lalui Meeza sangat lama, sang nenek bahkan jenuh menunggu cicit emasnya itu selesai. Meeza berkali melihat ke arah dimana biasanya Malya berdiri, tempat itu kini kosong.
"Meeza. Ayo lekas, kamu sudah banyak ketinggalan pelajaran setelah libur satu pekan," tukas sang nenek, melihat cicitnya sangat lamban.
Meeza menoleh ke arah sepuhnya. Tersenyum manis lalu melanjutkan sarapan yang kini tak lagi enak di rasa. Gadis kecil seakan banyak menahan perasaan, sama seperti Malya.
Bian melepas Meeza dengan berat hati pagi ini. Gadis kecil yang biasa ada dalam gendongan Malya, kini hanya berdiri seorang diri di sana di temani Sari.
"Bye daddy," ucapnya tak semangat lagi. Keceriaan Meeza hilang dalam sekejap.
"Bye bulan, daddy miss you," bisik Bian, memeluk putrinya.
Lambaian tangan Meeza tak lagi kuat, wajahnya pun kehilangan sinar berseri di pagi hari. Bian melihat perubahan signifikan dalam diri Meeza.
__ADS_1
Sepanjang hari dilalui keturunan keempat cakrawala dalam diam. Tak ada perubahan mengenai daya tangkap sang cicit emas. Meeza masih cerdas seperti sediakala. Hanya kini mimik wajahnya tak lagi ekspresif.
Menjelang sore, dia meminta Sari mengantarnya menuju greenhouse. Gadis asisten, bahkan tercengang akan kecanggihan dan suasana teduh di dalamnya. Bangunan ini terlihat menyeramkan jika di tilik dari luar.
Tanpa banyak kata, Meeza mengambil tempat penyiram bunga, mengisinya dengan air lalu tergopoh membawa menuju deretan bunga di sudut barat.
"Halo bunda. Maaf Meeza lupa. Makan yang banyak ya bunda," kata Meeza sembari mengucurkan air di bantu Sari.
"Bunda, Meeza...." Putri Malya tercenung.
Sari tak mengira bahwa gadis cilik di sampingnya amat peka dan perasa. Dia melihat tangan mungil itu membelai satu persatu helai petal bunga. Membersihkan daun dari debu bahkan menarik kursi untuk menatap banyak kembang hasil tanam dia dan Malya.
"Non," ujar Sari khawatir.
"Kata bunda, kalau kangen lihat saja bunga," sahut Meeza, menoleh ke arah Sari.
Pengasuh yang di amanahi itu pun mengangguk, menyingkir sedikit menjauh dari posisi sang nona muda. Hatinya trenyuh, anak sekecil itu tahu bagaimana cara melepas rindu.
"Padahal baru satu hari," gumam Sari.
Keduanya lama berada di dalam greenhouse hingga menjelang Maghrib. Sari menarik paksa tubuh nona kecil untuk kembali ke hunian utama.
"Bye bunda. Besok Meeza ke sini lagi," ucapnya, mengecup bunga Krisan sebelum pergi.
Biantara pulang lebih cepat, dia khawatir dengan si gadis kecil. Lelaki mapan itu kemudian menuju greenhouse dan bertemu putrinya di sana.
"Daddy!" seru Meeza menyongsong sang ayah, merentang lengan meminta gendong.
"Bagaimana harimu, nona kecil?" tanya Bian, mengecup pipi gembil Meeza kala mengangkatnya ke udara sebelum mendekap.
"Aku ingin cepat dewasa. Bagaimana caranya?" tanya sang anak, mengabaikan pertanyaan Bian.
"Mengapa ingin lekas dewasa. Bukankah kau menikmati masa kecilmu ini?" ujar putra Brian.
"Biar bisa punya uang untuk cari bunda. Kapan aku bisa bertemu beliau?" desak Meeza sambil mencium pipi ayahnya.
"Baru satu hari. Tunjukkan sikap baikmu pada tetua dan bujuk Oma," balas Bian, mendapat anggukan Meeza.
.
__ADS_1
.
...________________...