BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 78. AT THE MOMENT


__ADS_3

Malya pamit setelah Roby datang saat makan siang sembari membawa beberapa menu masakan Mardiah ke unit mereka. Fathia menahan Meeza tetap tinggal di kediamannya agar Malya tenang saat melakukan perawatan.


Awalnya dia keberatan khawatir putrinya mengganggu, akan tetapi Roby mengatakan bahwa dia segera pergi lagi sehingga Meeza bisa menemani Fathia.


"Zaza dengan Fafa ya?" kata Fathia, gemas menciumi tangan gendut kala gadis cilik itu membelai perutnya.


Meeza mengangguk antusias. Senyumnya cerah meski tak memalingkan wajah ke arah sang bunda.


"Bye Bunda," balas Meeza dengan mulut menggembung penuh makanan, sebab Roby sedang menyuapi makan bergantian dengan Fathia.


"Ck, Za. Ikut yuk, Byby dan Fafa mau ehm," sahut Malya, memikirkan alasan tepat sambil mematung di depan pintu.


"Apa! otak kamu itu kudu di laundry, Al," sergah Roby curiga Malya akan melayangkan tuduhan mesum padanya.


Bunda Meeza cengengesan, dia melihat Fathia yang juga sama senyam senyum gak jelas. "Fa!"


"Apa sih, Mbak," balas Fathia mulai tertawa kecil, masih setengah berbaring di sofa saat menanggapi panggilan Malya.


"Kalian kenapa sih? ... Al, kamu cekokin apa ke dia?" selidik Roby, menaruh curiga seraya menatap Malya.


"Yeee, justru bini kamu tuh, meracuni otak aku! ... dah lah, bye Zaza. Kalau Byby dan Fafa masuk kamar, Zaza bisa kan pulang sendiri?" tanya Malya memastikan putrinya ingat sandi unit mereka.


Meeza mengangguk. "Iya ingat. Byby mau masuk ke kamar ya dengan Fafa? Zaza pulang deh," ujar Meeza lagi, bersiap berdiri akan tetapi lengan bocah itu di tahan Roby.


"Aaaallll!" sebut Roby, menatap tajam ke arah Malya.


Malya tertawa kecil, seraya menekan handle pintu agar terbuka. "Kan Fafa cerita ehm itu tadi, ya kali mau...," imbuh Malya keluar dan menutup pintunya.


Blam.


"Mbaaaaakkkk!" Fathia tergelak hingga air matanya keluar, mengingat obrolan absurd barusan di antara keduanya.


Roby menatap heran Fathia, dia baru tahu sisi ceria dan cuek dari sosok yang sekilas terlihat judes dan pendiam itu. Roby pikir, Fathia bagai anak kyai pada umumnya. Sangat menjaga pencitraan dan menjaga sikap tetap lemah gemulai, tapi Byby justru lebih suka Fathia yang seperti ini, menyenangkan.


"Abyby, kok liatin Fa gitu, sih?" ujar Fathia, masih tertawa sembari menyeka air mata yang keluar.


"Kalian ngapain aja tadi, curiga ini sih, habis buka aib suami," tuduh Roby, menyeringai tipis ke istrinya.


Fathia tak dapat menahan tawa, kilasan obrolan para gadis saat kumpul keluarga atau kala di chat mendengarkan wejangan Aiswa dan Naya perihal cara menyenangkan suami, melintas begitu saja.


"Fafa happy sama Bunda, Byby," sahut Meeza mewakili Fathia yang masih tertawa.


"Iya, Sayang. Fafa belum ada teman dekat di sekitar sini jadi happy dengan bunda," sambung Roby, masih menyuapi gadis cilik yang kian ayu seperti ibunya.


"Enggak kok. Abyby curigaan dih. Obrolan wanita lah tapi aku tahu batasan, tenang saja," jawab Fathia, perlahan bangkit duduk dan bersandar di sofa.


"Paling kelepasan dikit," kekeh Fathia lagi, mendapat gelengan kepala dari suaminya.


Malya itu pendiam, judes dan kadang terlihat arogan. Mirip Naya, hanya saja Malya lebih menutup diri dengan sekitar. Sikap masa bodohnya jauh lebih dominan dibanding Naya sang bibi.


Setelah keluar dari unit Roby, Malya turun ke lantai dasar, menyebrang lorong panel yang menghubungkan gedung apartemen dengan Mall dan fasilitas lain di sana.


Pilihannya jatuh ke Blooming Sakura's Spa, wanita ayu pun masuk dan melihat daftar paket perawatan.


"Lima jam untuk body treatment, paket pengantin?" tanya nyonya muda Sya. Malya melihat price list di bagian bawah, sedikit membola akan tetapi dia yakin akan hasil yang di capai nanti.

__ADS_1


"Betul, Kak. Ujung rambut hingga kaki. Kami syar'i, terapisnya wanita. Ruangan tertutup dan nyaman. Tidak membuka seluruh tubuh meski Kakak harus na-ked saat treatment lower body," sahutnya menerangkan secara detail pada Malya setiap tahapan treatment yang akan dia ambil.


Malya menimbang, jika auratnya terjaga maka dia akan melanjutkan. Paket terkumplit pun di pilih bunda Meeza. Seketika pipinya bersemu merona.


"Eh, ngapain ya treatment ginian. Lah sih, kan aku--," gumam Malya saat telah memasuki ruangan spa dan melanjutkan semua apa yang telah dia pilih.


Menjelang Maghrib, nyonya Sya baru kembali ka unitnya. Dia sangat merasa puas menghabiskan banyak uang dan waktu di sana.


Saat dia masuk. Meeza sedang mencoba gamis warna coklat susu, dia terlihat bagai princess.


"Maa sya Allah, cantiknya," pekik Malya melihat putrinya dengan rambut tergerai, bagai tokoh Belle dalam fairy tale beauty and the beast. Terlihat anggun, smart dengan wajah judes khas Malya dan independen.


"Kamu habis ngapain, Al, bersinar gitu," ujar sang mama melihat perubahan Malya petang itu.


Malya kikuk, takut di goda Mardiah. "Ehm, anu, itu tadi dari bawah," jawab Malya asal menggaruk kepala seraya menoleh mengarah ke pintu, grogi di tatap ayah dan ibunya.


"Anu lagi aja ... aaaaaanuuuu aaa aaanuuu," ucap Haji Syakur menirukan sebuah bait lagu, sambil tertawa renyah.


"Ani! yeee!" tegur Mardiah menepuk paha haji Syakur, sembari membantu Meeza merapikan bajunya.


"Punya Bunda di dalam. Cantik juga bajunya," sahut Meeza, menunjuk ke arah kamar.


Malya bergegas ke sana, membuka pintu dan melihat tampilan baju miliknya. "Mas Bian, bercanda. Di bilang jangan macam-macam tetap saja, seperti ini," gumam Malya.


Dia meraih lengan baju yang menjuntai, wudhu friendly, meski banyak payet di sekitar pergelangan tangan. Cutting sederhana, satin silk polos tapi justru itulah daya tariknya.


"Kamu, mulai mengerti aku ya, Mas. Makasih banyak, sudah menjadi lelaki hebat yang terus bertumbuh demi kami," lirih Malya mencium kain wangi.


Bahunya bergetar halus, hatinya tersentuh oleh banyak perubahan Biantara Cakra. Dia bahagia, Tuhan memberi lebih dari apa yang ia minta.


"Ini pilihan aku, Bu. Kali ini doakan kami agar saling sabar dan menerima," ujar Malya, beralih memeluk Mardiah.


Wanita paruh baya ini ikut terharu, netranya mengembun seraya mengusap punggung putrinya.


"In sya Allah. Ibu, doakan kalian selalu. Harus bahagia ya, Al. Bian lelaki baik, mungkin dia terlambat menyadari akan tetapi sikapnya jelas. Menjaga kamu dan Meeza semampu yang dia bisa ... ah, ibu jadi pengen mengulang nikah lagi melihat Bian demikian telaten," kekeh Mardiah, menyeka bulir bening yang muncul.


Meeza terlelap tepat setelah menunaikan salat isya. Dia tidur di kamar Mardiah dan berpesan tak ingin di pindah. Sementara Malya tidak memiliki hal apapun untuk di kerjakan membuatnya galau.


Wanita ayu berguling ke sana sini, mengharap kantuk datang. Sudah satu jam dia melakukan itu, justru hatinya kian gelisah. Dering ponsel pun berbunyi, dia meraih gawai dan menggeser tombol hijau ke atas.


Malya tak membuka salam, dia hanya ingin mendengar suara dari seberang yang sudah beberapa hari tak dia tangkap.


"Capek banget gara-gara kamu, Al. Semoga sempurna meski sederhana ya, Sayang. Temani aku tidur sebentar," pinta Bian di seberang sana. Beberapa menit kemudian hembusan nafas itu melembut.


Malya membiarkan sleep call dari Biantara, dia ternyata rindu tapi enggan mengakui dan lebih memilih diam menunggu. Rupanya, Bian sadar, sehingga inilah cara mereka. Membiarkan ponsel mengudara tanpa suara, hanya membagi deru nafas perlahan.


Merasa tak ada suara di sana, Malya mulai lirih mengoceh. "Aku tadi spa lama sampai lima jam, Mas. Ku kira akan langsung tidur gak tahunya malah gak bisa merem, denger suara kamu kok ikut ngantuk. Ehm, Mas, bajunya indah, Syukron."


Tak lama pun, Malya ikut terbuai oleh damainya suasana yang Bian bagi. Malya tak tahu, jika lelaki itu selalu punya cara untuk mengetahui isi hatinya. Bian, kemudian membalas.


"Aku tahu kamu akan berikan yang terbaik untukku selalu, Al. Mari menua bersama, ya Sayang. Sampai jumpa esok siang," lirih sang duda di ujung sana, menutup panggilan.


...***...


Mardiah sibuk menata ruang dengan Roby juga staf EO yang akan di gunakan untuk akad lesehan.

__ADS_1


Karpet terbentang luas, pembatas antara tamu pria dan wanita telah siap. Hidangan mewah, dessert dan minuman sudah terjaja rapi di meja pantry. Sederhana tapi terlihat mewah sebagai ciri khas Cakrawala.


Tamu yang datang berkisar dua puluh orang di tambah penghulu dan petugas catatan sipil. Tepat pukul sebelas siang, semua persiapan telah selesai.


Malya masih menunggu azan Zuhur sebelum make-up menempeli wajah ayunya. Meeza justru sudah siap dan duduk tenang didampingi Fathia.


Satu jam berlalu. Malya kini telah rapi, flawless menjadi pilihan ibu satu anak agar tak membias dengan baju yang di kenakan. Dia sangat ayu dengan polesan serba natural.


Suara riuh di ruang tengah menjadi tanda rombongan Bian telah tiba. Jantung Malya pun ikut berdegup kencang kala Bian mengajak putrinya bicara.


"Meeza Sandya, daddy janji ke Zaza akan buat bunda happy kali ini. Menghargai, menghormati Bunda lebih baik lagi. Menjaga kalian bukan hanya di dunia tapi hingga ke tempat Allah yang paling tinggi ... daddy izin ke Zaza, untuk membawa Bunda kembali ke sisi daddy, boleh, ya," pinta Bian, menatap dan menggenggam jemari putrinya.


Mata bulat itu tak berkedip, Meeza tengah mencari ketulusan dan kejujuran sang ayah lewat sorot mata tajam bagai elang. Retina coklat tua mirip milik Malya akhirnya mengembun, dia menginginkan ini sejak lama.


"Su-re Daddy. Za-zaa izin-kan," ucap Meeza, meneteskan air mata lalu memeluk sang ayah.


Suasana seketika haru, Beatrice menyesali perbuatannya di masa silam jika melihat sorot mata Meeza menatapnya kala bicara. Dia teringat Malya yang teraniaya oleh segala aturan dirinya.


Setelah mendapat izin Meeza, acara dilanjutkan dengan pembacaan ritual keagamaan sebelum akad. Roby dan Yai Hariri Salim, mewakili keluarga Bian.


Beberapa menit berikutnya.


"Sah!"


Ucapan Alhamdulillah, doa setekah ijab pun terdengar. Malya hanya di temani Fathia, ibu hamil itu tak henti menyalurkan rasa bahagia juga banyak doa khusus tersemat untuk sahabat barunya.


"Alhamdulillah, mabruk ya, Mbak." Peluk Fathia, lalu menyeka air mata yang terus menetes di pipi pengantin wanita.


"Jangan sedih ah, bentar lagi Pak Bian ke sini," ujar istri Roby menenangkan Malya.


Ketukan di pintu, menandakan Fathia harus undur diri keluar kamar. Ditemani Mardiah, Bian menghampiri istrinya yang duduk menunduk di sisi ranjang.


"Al, sambut," lirih Mardiah menghampiri putrinya, dia mengusap bahu Malya lembut.


Meeza menyembulkan kepala dari balik badan sang ayah, lalu naik ke atas ranjang dan duduk berdekatan dengan Malya.


"Izin bicara berdua dengan Malya sebentar ya, Bu," pinta Bian.


Madiah pun mengangguk lalu keluar kamar meninggalkan mereka. Setelah sang mertua pergi, dia menekuk lutut, menyandarkan tubuh menempeli kaki sang istri lalu meraih jemari Malya dan melantunkan doa kebaikan bagi mereka.


Zaza hanya tersenyum sambil mengamini sang ayah sembari sesekali melihat ke arah ibunya yang masih menunduk.


"Za, bunda malu-malu ... Al, kita mulai lagi dari awal ya, aku akan belajar banyak hal baru denganmu untuk membersamai Meeza dan adik-adiknya nanti hingga mereka dewasa. Bantu aku, ingatkan aku jika sudah mulai abai terhadap kalian, ya."


"Za, tutup mata," pinta Bian, tersenyum usil ke arah Meeza. Gadis kecil itu tertawa seakan tahu apa yang akan Daddynya perbuat.


Malya masih setia dalam diam. Hatinya terlampau sesak di jejali banyak hal indah dari lelaki pujaan di hadapan.


"Bismillah."


.


.


...____________________...

__ADS_1


...Bang Bian, hoyy, ngapain 😅...


__ADS_2