BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 38. BUKAN BUNDA


__ADS_3

"Wa 'alaikumsalam, Meeza, bunda kamu masih saja enggan melihat daddy, tapi kata-katanya kini terasa pedas," bisik Bian mencium wajah polos putrinya yang tertidur.


Pria matang dan mapan itu lalu meninggalkan resto menuju mobilnya untuk kembali pulang. Sepanjang perjalanan, cucu Beatrice memikirkan segala ucapan Malya. Tuduhan tajam sekaligus merasakan kegelisahan wanita itu.


"Kalau iya Meeza pindah ke England. Aku juga otomatis sering pergi pulang ke sana. Jika berkunjung dengan Malya, pasti dia menolak. Chris, bagaimana pendapatmu?" tanya Bian pada asistennya.


"Harus siapkan waktu khusus untuk beliau, tuan muda, sebab nyonya masih sulit di dekati. Tentunya bunda Meeza tak ingin di fasilitasi oleh Anda, bukan?" ujar Chris menebak jalan pikiran Malya.


"Benar, dia bilang gitu tadi. Aku akan bujuk nenek, semoga bisa di tangguhkan. Besok Maria meminta bertemu Meeza, tolong kamu siapkan tempat pertemuan jangan sampai terendus orang-orang nenek," pinta Biantara. Dia akan mencoba mengenalkan Meeza dengan wanita pujaan beberapa tahun lalu.


"Baik, tuan," balas sang asisten.


Antara Bian dan Malya. Keduanya sama memikirkan bagaimana cara agar mereka tetap terkoneksi.


Keesokan pagi.


Duda beranak satu ini telah rapi sejak jam delapan pagi. Dia sengaja tak membangunkan Meeza dan meliburkan segala kegiatan putrinya sebab ingin menikmati wajah polos bocah ayu lebih lama.


Tak terasa sudah enam bulan sejak perpisahannya dengan Malya. Dia mencoba mengingat sosok terabaikan itu setiap kali Bian melihatnya di ruangan ini.


Netranya memejam, menghirup wangi yang dia inginkan akan tetapi tak didapat. Bian lalu menyusuri jejak yang mungkin masih terisa di sana. Dia kini duduk di kursi meja belajar Meeza. Memeriksa semua isi laci juga buku bacaan putrinya.


"Fiqih, tajwid, iqro, mushaf, siroh Nabawiyah, sahabiyah, kisah hewan yang disebut dalam Al-Qur'an, kumpulan cerita rakyat, bacaanmu sangat mencerminkan bunda ya Meeza."


Cucu pewaris Cakrawala melanjutkan rasa ingin tahunya. Dia lalu menarik satu laci di bawah meja. Hanya ada satu buku di sana, Bian membaca judulnya.


"Buku kesehatan ibu dan anak."


Lelaki tampan pun meraih benda itu ke atas meja lalu membuka pelan satu per satu halaman di sana.


"Kamu adalah rezeki, amanah di saat bunda enggan mengembannya. Namun, Allah tidak pernah salah menaruh nutfah hingga meniupkan ruh. Jika Allah saja percaya, mengapa bunda tidak, selamat datang dalam kehidupanku ya Nak. Bunda harap kita saling menguatkan," ucap Bian membaca catatan kecil yang dia selipkan di bawah foto USG.


Ayah Meeza melanjutkan ke lembar berikutnya. Dia menemukan catatan serupa.


"Kamu tumbuh begitu cepat, meski hanya dipupuk separuh kasih sayang, sehat selalu ya hidupku," lirih Bian kembali.


Hatinya tercubit membaca banyak kalimat pilu yang Malya tulis di sana. Setiap perkembangan Meeza, tak lupa menyekat doa dan harapan.

__ADS_1


"Bunda gak sabar ketemu kamu. Kata dokter, kamu cantik. Andai, ayah ada di sini melihatmu, mungkin dia akan senang eh tapi bunda yakin ayah akan sayang kamu juga nanti. Sebab kecantikan bulan, sanggup membuat setiap kesedihan berpaling dan menguap," gumam Bian.


Tak terasa dadanya bergemuruh, nafasnya mulai tercekat dan berat. Helaan dari diafragma tertahan, terhembus perlahan seakan pembuluh darah akan pecah bila dia menghentak oksigen kasar.


"Al, maaf," ucap Bian menunduk.


"Meeza, daddy ternyata banyak melewatkan masa kamu bertumbuh. Maafkan daddy ya, saat itu terlalu buta mengakui betapa kalian berharga. Bulan, jika ayah memperbaiki semuanya, apakah sanggup membawa bunda kembali?" lirih Bian.


Bahu tegap itu berguncang halus, tak mengira bahwa dia telah banyak meloloskan butir bening. Kedua telapak tangannya menutup wajah, menyangga kepala di atas meja.


Biantara Cakra, menyesali semua perlakuan semena untuk Malya. Rasa welas asih yang di tunjukkan istri pendiam itu terlambat dia sadari.


"Al, maaf," isaknya kini kentara.


Kilasan memori bak menghunus kalbu nan mulai rapuh sebab tabir nafsu semu mulai terkikis. Lama dia dalam posisi demikian hingga kesadarannya kembali saat tangan mungil mengusap lengannya.


"Daddy, apa rindu bunda juga? aku mimpi bunda," ucap Meeza, menempelkan kepalanya di lengan kekar sang ayah.


Bian buru-buru menyeka jejak kesedihan. Dia lalu mengangkat Meeza dan menunjukkan foto USG dirinya.


"Ini aku dan bunda, Daddy dimana?" tanya si bocah polos.


"Daddy melihat kamu sekarang, setelah beberapa hari kamu lahir, daddy baru mengagumi betapa bulan sangat indah," balas Bian, pilu.


"Oh iya, Daddy kan kerja ya. Jadi di sini cuma ada aku dan bunda," sambung Meeza.


Kalimat yang Meeza tujukan sontak kian menambah sayatan di hati Bian. Pria itu kembali tertegun mendapati kenyataan bahwa dirinya memang tak ada bersama mereka saat itu.


"Ayo, siap-siap bertemu seseorang. Daddy harap apapun yang Meeza temukan dan kenali nanti, tetap bersikap baik ya. Tidak berteriak," pinta Bian. Mengalihkan suasana.


"Oke," sahut Meeza. Bian lalu meminta Sari membantu putrinya bersiap.


Satu jam kemudian, keturunan Cakrawala telah berada di sebuah cafe ramah anak. Meeza sedang menikmati beberapa wahana Playground di halaman samping bangunan itu kala seorang wanita menghampiri.


"Meeza!" sebutnya agar sang bocah menoleh.


"Bundaaaaaaa!" seru Meeza menyambut seorang wanita.

__ADS_1


Maria mencondongkan badannya menyambut putri tunggal Bian. Dia lalu mencium pipi Meeza.


"Masuk yuk, kita jajan," kata Maria seraya menurunkan Meeza.


Sang bocah sekilas menatap sosok yang menggandeng tangannya. Dia merasa heran tapi belum dapat memastikan apa yang di lihat.


Maria lalu memesankan banyak makanan dan minuman untuk Meeza, juga beberapa menu kesukaannya.


Gadis kecil menatap semua hidangan di atas meja. Dia mulai melihat ke arah sang ayah yang sedari tadi hanya diam.


"Makan, Meeza," ujar Maria. Dia sudah mulai menyantap hidangannya.


"Bunda tidak akan memesan ini untukku. Suara bunda lain, apa dia sedang sakit? tapi makannya. Daddy kenapa hanya diam?"


"Allahumma bariklana ... bunda gak baca doa dulu?" ujar Meeza menegur Maria.


"Sudah tadi dalam hati," jawabnya cepat.


Biantara hanya tersenyum samar, Maria tak mencermati kebiasaan Malya dengan benar. Dia menduga Meeza telah mengenali sang wanita.


Putri cantik Malya, seakan tengah melakukan banyak test meski dia terlihat riang dan menyambut baik Maria. Sesuai permintaan Bian sebelum berangkat tadi.


Saat tiba waktunya berpisah, Maria hanya mengecup pipinya sekilas tanpa membacakan alqadr di telinganya.


"Bunda lupa sesuatu tidak?" tanya sang anak. Bian bahkan terlihat heran dengan pertanyaan Meeza.


"Oh, lupa, kurang ya kecupannya," kata Maria mengulangi membubuhkan ciu-man.


Meeza hanya diam, tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah wanita itu. Setelah Chris melajukan mobil mewah milik Cakrawala, cicit Beatrice membuka suara.


"Dia bukan bunda. Bunda Meeza tidak begitu, Daddy, siapa dia?" tanya Meeza menatap sang ayah yang duduk disampingnya.


Bian balas menatap putrinya. "Dia...."


.


.

__ADS_1


...__________________...


...Bab 12 narasi tengah, clue tentang buku foto USG 🤭...


__ADS_2