BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 15. KECEWA


__ADS_3

Tiada pendamping pasien dalam ruangan yang hanya di dominasi oleh suara mesin penyangga nyawa, gerakan halus nan tercipta pun luput dari perhatian.


Luka parah, trauma berat di kepala nyata membuat pemilik raga nyaman dalam tidur di alam bawah sadar. Sakit mendera hebat kiranya menjadi alasan bahwa dia merasa seakan tak di inginkan, hingga enggan kembali menapak bumi.


Mungkin benar pernyataan Duke Andreas bahwa dirinya tergila-gila oleh Maria. Namun, bukan salah sang wanita bila kehadiran si pria menjadi samar mata sebab dia terlalu fokus memupuk harta.


"Salahku, mengabaikanmu dulu. Maaf," ujar sang pangeran Valencia, menarik selimut dan tak lama memejam.


Kedua insan di belahan benua selain Asia, saling melepaskan penat. Merangkum lagi asa dan rasa yang terlanjur berserak, berharap suatu saat dapat menjadi satu untaian bahagia nan mereka puja, cinta.


...***...


England.


Biantara Cakra menjejakkan kaki di bumi Ratu Elizabeth. Tempat dia menimba ilmu kala lulus dengan predikat istimewa dari bangku es-em-a. Seakan bernostalgia, Bian merentang tangan, menghirup banyak udara kota dengan ikon Big Ben itu.


Bell boy telah menunggunya, dia meminta mobil hotel yang di sewa menuju tempat pertemuan dengan sang mata-mata.


Sepuluh menit perjalanan, Bian kini sudah berjumpa dengan orang suruhannya. Mereka pun menganalisa ulang target.


"Di kastil Edoardo. Sulit di jangkau sebab kawasan private. Tapi aku pastikan wanita Anda ada di sana," ujar sang agen.


"Pindai wajah?" tanya Bian ingin memastikan sekali lagi. Sang agen pun, menyodorkan sesuatu.


Keturunan Cakra menelisik, hati meragu sebab postur Maria tak seperti ini. "Badannya bagus, persis Malya. Tapi aku ragu," kata Bian demikian lirih, dia masih meneliti pemutaran video yang terpampang di atas meja.


"Kapan eksekusinya?" desak pewaris Cakra lagi.


"Malam ini. Jalur sedang di siapkan oleh anak buahku. Wanita Anda telah dinikahi oleh saudagar ini, Tuan," kata sang suruhan.


Bian hanya mengangguk. Apabila memang Maria sangat sulit di jangkau, dia akan melepaskan setelah mendapat jawaban mengapa dia melakukan hal ini.


Beberapa jam setelahnya.


Aksi yang telah matang direncanakan oleh sang agen rahasia pun akan di gelar. Biantara sudah bersiap dalam mobil, tak lama Audi hitam metalik meluncur menuju koordinat tujuan.


Pintu kastil terbuka menyambut kedatangan sang tamu tak diundang dari negeri nun jauh di belahan dunia lain. Pemilik hunian yang mencirikan bangunan khas jaman kuno pun muncul kala Bian telah berada di ambang voyer.


"Selamat malam, Tuan Biantara. Aku Edoardo Chou," sambut tuan rumah menyilakan tamunya.


"Malam Mr. Chou," sahut Bian menyambut uluran tangan pria muda nan ramah.

__ADS_1


"Aku langsung saja agar tidak terlalu lama menyita waktu Anda, Tuan Chou," ucap suami Malya membuka percakapan.


Edoardo tak menjawab, dia hanya menyiratkan isyarat dengan tangannya sebagai tanda Bian di izinkan bicara.


Cucu emas Beatrice lalu mengeluarkan sejumlah foto yang dia miliki. Semua penggambaran wajah Maria dalam berbagai versi.


Kening Edoardo mengernyit, dia seakan mengenali gambar sosok yang berserakan di atas meja.


"Dia bukan istriku, Megan tidak seperti ini," ujar pemilik kastil lagi.


Bian tak sabar, dia ingin bertemu dengan sang nyonya Chou akan tetapi Edoardo tak mengizinkan.


"Dia adalah privasi. Dan ku pastikan istriku bukan wanita milik Anda. Mereka hanya mirip," tutur Edoardo menegaskan maksud Bian.


Kiranya penjelasan sang saudagar kaya nan misterius ini tak menapak di otak lelaki keturunan Cakrawala. Biantara bersikukuh meyakinkan bahwa dia hanya akan melihat sekilas saja.


Sikap memaksa Bian akhirnya membuat Edoardo jengah. Dia mengusir sang tamu tanpa basa basi bahkan di bawah todongan senjata.


"GO AWAY!" sentak si tuan rumah hingga suara bass miliknya menggema.


"Please, one minute, izinkan aku," mohon Biantara lagi.


"Ed!" panggil sang nyonya.


"Megan, masuk!" titahnya lagi. Anak buah Edoardo sigap mengahalau sang nyonya.


Merasa mendapatkan kesempatan emas, Biantara tak menyia-nyiakan peluang. Dia berlari menerobos pertahanan bodyguard Edoardo meski harus meladeni pukulan kuat mereka.


"Maria!" seru Bian membuat Megan menoleh.


Wanita cantik, tengah berdiri di titian tangga itu berhenti melangkah, memandang lekat ke arah pria yang merangsek menuju padanya.


Dalam jarak dekat, hanya beberapa detik sebelum tubuh Bian di seret mundur, wanita itu menghampiri.


"Aku Megan. Bukan Maria. Apa dia wanitamu? semoga bertemu dan kalian bahagia. Oh, ya, wanita di dalam rumah megah apakah dia istrimu? wajahnya juga mirip denganku," bisik sang nyonya.


Wanita anggun akan tetapi misterius melempar sebuah kartu tarot bertuliskan the lover.


Ingin menegaskan apa makna di balik ucapan tadi tetapi tubuhnya telah di tarik sang bodyguard agar menjauh.


"Kau sudah dapat apa yang kau mau. Pergilah!" sentak Edoardo. Dia menatap geram pada gerombolan bar-bar ini. Biantara pun meminta maaf lalu undur diri dari sana. Dugaannya benar dan dia kecewa.

__ADS_1


Sesaat setelah tiba di Hotel, suami Malya meluapkan kekesalannya. Dia mengumpat ke anak buah sewaan dan mencabut mandat mereka langsung saat itu juga.


"Bayaran kalian sudah aku transfer. Terima kasih, meski aku kecewa berat. Seharusnya tak ke sini bila ternyata hasilnya nihil. Firssatku tak pernah keliru," kesal sang CEO.


Brak! pintu kamar hotel, dia banting keras.


Putra sulung Brian menyugar rambut kasar, dia membuang mantel juga melempar kedua sepatunya ke sembarang arah. Udara seketika pengap hingga Bian membuka pintu kaca menuju balkon.


"Sesak!" keluhnya.


Lama dia menekuri kebodohannya hingga teringat sesuatu. Bian meraih kartu yang dia simpan tadi lalu mencari informasi akurat lewat frontline Hotel.


Sambungan via udara dengan ahli tarot pun kini telah terhubung. Wanita nujum mengatakan bahwa kisah percintaan mereka akan rumit.


"Tolong jelaskan memakai bahasa sederhana," pinta sang tamu hotel.


"Baik, Tuan Cakra ... dalam kartu tersebut melambangkan dualitas. Terdapat gambar Adam dan hawa akan tetapi keduanya melihat berlainan arah," kata ahli tarot.


"Adam melihat ke depan, ini memiliki makna bahwa sang pria ingin menunjukkan bahwa ia tertarik pada fisik, sedangkan Hawa melihat ke atas, melambangkan dia lebih percaya pada intuisi."


"Bilamana kedua energi ini digabungkan, mereka akan menjadi satu padu, sama persis bagai ikon si kembar yang melambangkan zodiak Gemini."


"Adam dan Hawa juga digambarkan berada di depan Pohon Pengetahuan dan Kehidupan, di dalam istilah kami seolah menggambarkan bahwa selalu ada dua sisi yang berbeda dalam setiap situasi," jelas sang wanita di ujung sana.


"Jadi apa maknanya?" tanya Bian masih tak dapat mencerna kalimat sang peramal.


"Kesimpulan makna dalam kartu ini ingin mengingatkan Anda untuk tetap menikmati masa kini serta menemukan keseimbangan dalam hidup," pungkas sang ahli.


"Jadi?" lanjut Bian.


"Hargai apa yang telah Anda genggam, Tuan. Selami hingga makna cinta sejati ditemukan," tegas si wanita ahli ilmu falak tersebut.


Biantara seketika merenung setelah panggilan dia selesaikan.


"Malya, apakah ini signal semesta?" gumam pewaris Cakrawala. Dia bahkan menatap wajah Meeza kini.


.


.


...______________________...

__ADS_1


__ADS_2