
Malya membawa Meeza ke salah satu Mall terdekat di sana. Dia akan menghabiskan banyak waktu untuk bermain, makan, belanja juga perawatan tubuh dengan buah hatinya.
"Kenalin, ini onty Camai, teman bunda. Beliau juga akan nemenin kita seharian," kata Malya mengenalkan keduanya.
"Halo cantik, Meeza ya? kata bunda, kamu suka kentang goreng," sapa Camai untuk gadis cilik yang duduk di bangku belakang.
"Hai Onty, aku suka semua masakan Bunda. Juga itu tadi ehm, French fries," jawab Meeza pada Camai.
Selanjutnya, pembicaraan di dalam mobil di dominasi oleh suara Meeza. Dan yang paling mengejutkan adalah, rencana Beatrice terhadap putrinya.
"Oma bilang apa?" desak Malya sedikit panik.
"Mau masukin ke asrama di England, sekalian berobat di sana," kata Meeza terlihat murung.
"Why England? Oma sakit apa, Sayang?" ujar Malya lagi.
"Gak tahu. Tapi Oma suka kesakitan jika malam, Bunda," cicit Meeza lagi, mendekap ibunya.
Malya tak habis pikir, mengapa Bian tidak menyampaikan hal ini. Apakah dirinya juga belum mengetahui tentang rencana Beatrice. Malya justru teringat pada Maria. Jika benar mantan suaminya akan mengenalkan keduanya, bagaimana nanti dengan Beatrice.
"Mungkin Bian sudah siap dengan kejujurannya membongkar identitas ku," batin Malya.
Ini adalah waktunya dengan Meeza, dia sadar, bukan saat tepat untuk memikirkan itu. Fokus pada kualitas bonding hari ini.
"Meeza ingin main apa?" imbuh sang bunda kala mobil telah memasuki pelataran parkir.
"Tembak-tembak, dance, jepit boneka, basket and balap mobil, Bunda," sebutnya untuk jenis permainan yang dia inginkan.
"Dance? bunda harus dance?" tanya Malya dengan mata membola.
Meeza mengangguk cepat, tertawa renyah atas ekspresi ibunya yang menurut dia lucu.
Pasangan ibu dan anak lalu menyusuri deretan toko, sesekali singgah untuk memilah baju atau sekedar aksesoris. Namun, Meeza kerap menolak dengan alasan lemari di rumahnya sudah penuh.
"Main saja Bunda, ayo main," rengeknya menarik lengan Malya.
Hampir empat jam mereka di Mall, makan, nonton, belanja, berkeliling dengan menaiki schooter atau kereta wisata dalam Mall hingga akhirnya menuju permainan yang sekuat tenaga Malya hindari.
"Dance Bunda, ayo dance," ucap Meeza menarik paksa lengan ibunya menuju salah satu stand di wahana permainan.
Rupanya Meeza sangat menguasai gerakan dengan irama beat ini membuat Malya kelimpungan. Aksi ibu satu anak ini menjadi tontonan para bocah yang mentertawakannya.
"Bunda payah, tak seperti daddy," kata Meeza kala permainan selesai.
Nafas Malya terengah, belum sempat menjawab Meeza tiba-tiba dia di kagetkan oleh sebuah suara.
"Battle dengan uncle, mau?" kata Roby menghampiri mereka.
__ADS_1
Meeza mendongak, dia tersenyum lebar, rasa dahaga akan bermain bebas akan terbayar. Putri sulung Malya, mengangguk cepat.
"Mau, mau, uncle," seru Meeza antusias, menarik jemari Roby langsung menaiki stand.
"Eh, Pak Roby. Kok di sini?" tanya Malya heran.
"Sudah ku bilang bukan, Anda prioritas saya," jawab Roby tersenyum manis.
"Termasuk pengawalan?" cecar Malya.
"Ehm. Khusus," balas pria tampan itu, cepat.
"Ya ampun, ganteng banget ya, Nyonya," bisik Camai seraya duduk di sebelah Malya
"Hush, sudah punya pacar," sahut nyonya muda Cakra.
"Yaah, emang sih, cowok keren itu selalu cepat sold out," kekeh Camai diiringi Malya.
Benar-benar sangat menguasai semua bidang. Bahkan bermain dengan Meeza pun rupanya menjadi ajang pamer lelaki dengan outfit casual itu.
"Uncel, tembak-tembak. Tadi Bunda kalah, gak seru," tunjuk Meeza ke arah pojok wahana.
"Ayo!" sambut Roby, antusias.
Waktu bergulir cepat, setelah asar, Meeza terlihat mengantuk. Dia mulai terlelap dalam pelukan Roby.
"Uncle," lirih sang bocah memeluk erat leher Roby.
"Tuh, Meeza maunya sama saya. Kita makan dulu yuk, Camai kelaparan kayaknya lemes amat keliatan gontai gitu," ujar sang asisten, menggendong Meeza keluar dari mushala menuju salah satu resto.
Bagai pasangan harmonis, keduanya saling bahu membahu berusaha membuat Meeza nyaman. Putri semata wayang nampak lekat dalam dekapan sang asisten hingga membuat Malya sibuk menyiapkan meja kala hidangan mereka tiba.
Ibu satu anak spontan menata peralatan makan, posisi gelas, menuangkan air mineral, hingga membuka napkin.
"Mbak Camai, ayo makan," kata Malya untuk driver pribadinya di meja sebelah.
Gadis muda itu mengangguk, sedikit menaruh curiga bahwa mungkin yang dimaksud pacar Roby adalah dirinya.
"Jangan-jangan, nyonya Malya itu pacar pak Roby. Mereka sweet banget sih," gumam Camai sekilas memperhatikan dari ekor matanya.
"Silakan duluan, Nyonya. Aku pegang Meeza dulu," pinta Roby, melihat Malya tak menyentuh makanannya.
"Meeza di tidurkan saja, sini denganku," pinta sang nyonya muda lagi.
"Biar denganku." Roby perlahan menidurkan Meeza. Untung mereka memilih meja dengan bangku panjang. Kaki bocah ayu itu tetap menggantung di atas pangkuan Roby.
"Syukron," kata Roby melihat semua telah tertata rapi.
__ADS_1
"Eh, bisa juga?" lirih Malya.
"Saya bertemu banyak orang dengan latar belakang beragam. Bukan hal khusus, itu adalah kata lumrah untuk di gunakan," jelas Roby menjawab keingintahuan Malya.
Hari yang panjang di lewati pasangan ibu dan anak dengan banyak kenangan manis. Malya mulai menuju resto semula untuk mengembalikan putrinya.
Menjelang Maghrib, Bian terlihat sudah di dalam resto. Roby masih mengikuti mereka.
Nyonya muda turun dengan menggendong Meeza masuk ke dalam resto sementara Roby dan Camai menunggu di mobil masing-masing.
"Daddy, why Bunda gak ikut pulang dengan kita lagi? Daddy bilang akan jemput Bunda untuk Meeza," protes sang bocah yang terlihat lelah.
"Someday. Meeza yang bujukin dong, biar Bunda mau," balas Bian, tak mendapat respon putrinya sebab Meeza kembali terlelap.
Malya lalu duduk di hadapan Bian. "Kenapa gak bilang kalau Meeza mau dimasukkan ke asrama di Inggris. Apa tidak terlalu kecil? bagaimana nanti jika aku ingin bertemu dengannya? ini bukan upaya tetua untuk menjauhkan aku dari Meeza, kan?" cecar Malya pada sang mantan.
Deg!
"Aku juga baru tahu sepulang dari sini tadi. Nenek ingin fisioterapi memperbaiki struktur tulang belakangnya. Sekalian Meeza belajar etiket dasar di sekolah bisnis untuk anak seusianya. Kamu tetap bisa mengunjungi dia kok, Al," ucap Bian.
Malya mengangguk getir, tak ingin menatap wajah Biantara. "Benar, aku dapat mengunjungi Meeza mungkin beberapa tahun dari sekarang. Ke Inggris bukan macam ke pasar mester. Gajiku belum memadai meski untuk membeli sebuah tiket, aku tahu jalan pikiran kalian. Belum puas sepertinya menyakiti aku. Kali ini menjauhkan Meeza memakai cara begini," kesal Malya, menekan kata di kalimat terakhir.
"Jangan salah paham. Kami akan fasilitasi kamu jika ingin bertemu, Al," sanggah Biantara, memandang lekat mantan istrinya.
"Dan akan mengatakan pada Meeza bahwa ibunya benalu setelah memutuskan pergi? aku tahu tabiat tetua Cakra," balas Malya sengit.
Bian menghela nafas. "Ini belum final. Aku akan memikirkan cara agar kamu tetap dapat bertemu Meeza, oke? pulanglah, kamu lelah. Kita bicarakan ini lain kali," sambung Bian lagi.
Tuut. Tuut.
Ingin membalas ucapan mantan, tapi ponsel Malya berbunyi.
"Oke Bu, aku sekalian beli, sebentar lagi pulang," jawab putri Mardiah pada panggilan yang berlangsung.
Bian melihat ponsel yang digunakan Malya berbeda dengan gawai pemberiannya. Pewaris Cakra akhirnya mendapat jawaban mengapa semua pesan dan panggilan kerap diabaikan.
"Jadi ini ternyata, kamu bahkan tak menerima pemberianku?" tuduh Bian.
"Jangan salah paham. Pulanglah, Anda terlihat lelah, kita bicarakan lain kali," balas Malya dengan kalimat yang sama.
Wanita ayu lalu bangkit, menghampiri lelaki di hadapan sekedar untuk membubuhkan kecupan di kepala putrinya.
"Assalamualaikum."
.
.
__ADS_1
..._______________...