BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 14. MY OWN MARIA


__ADS_3

Biantara mengabaikan asistennya yang membicarakan tentang Meeza. Dia justru meminta agar disiapkan sesuatu dalam waktu dekat.


"Chris, tolong siapkan segala keperluan aku untuk ke England. Di duga, Maria ada di sana. Aku sungguh penasaran," ujar Bian menyatakan keinginan.


"Bos, bukannya Anda berjanji tak akan mencari mantan tunangan yang telah pergi?" tukas Chris mengingatkan sang pimpinan.


"Tapi aku sungguh penasaran, Chris. Mengapa dia melakukan ini padaku," kilah Bian menegaskan maksud.


"Bagaimana dengan nona Malya? apa Anda akan menyingkirkan beliau? akte lahir Meeza telah selesai aku urus, memakai nama ibu kandungnya sesuai yang tercantum pada buku nikah," sambung sang asisten.


"Hem, thanks," balas Bian menanggapi seperlunya. Teringat kala melafalkan ijab qobul, dia meminta situasi senyap hingga Beatrice tak tahu siapa nama wanita yang cucunya nikahi.


Pewaris Cakra kini menimbang. Jika Maria di temukan, dan Beatrice tak mencurigai bahwa keduanya berbeda, maka semua akan aman. Dia hanya harus membuat kisah drama agar keberadaan Malya dan Meeza tak terendus sepuh Cakrawala.


Namun, bilamana Beatrice mengenali keduanya maka dapat di pastikan Malya akan menghadapi tuntutan pidana sebab memakai identitas seseorang untuk kepentingan pribadi. Suka atau tidak, hukum hanya akan meladeni pembelaan jika tersangka mempunyai bukti. Dan menurut penuturan Malya, dia tak mengenal siapa sosok di balik ini semua, tentu akan membuat wanita itu menjadi terdakwa.


"Bos, bagaimana?" tanya Chris seraya fokus pada kondisi jalanan.


"Siapkan saja dulu. Tentang Malya, akan aku pikirkan nanti," ujar sang pimpinan Cakra generasi ketiga.


Perjalanan pun dilanjutkan tanpa ada lagi percakapan di antara kedua pria. Hingga hari berganti gelap, Bian masih berada di kantornya.


Sosok tampan nan maskulin itu memilih tak kembali ke Mansion sebab esok pagi dia akan langsung bertolak menuju Eropa. Berbagai persiapan hingga rencana konspirasi mengeluarkan Malya dari Mansion telah dia susun.


Bahkan kondisi orang tua wanita itu pun tak luput dari perhatian Bian. Kini angannya menerawang menjelajahi batas logika normal. Dia melihat Bagan yang dibuat kala membongkar identitas istri di atas kertasnya itu.


"Orang ini hadir di pernikahan, dan sangat tahu tentang keluargaku. Kemungkinan besar, dalang penukaran antara Maria dan Malya adalah sosok terdekat. Tapi siapa?" Bian mengetuk pulpen yang dia pegang beberapa kali di atas meja.


Kursi kebesaran pun dia putar menghadap jendela. Melepas jauh pancaran netra melawan gelap angkasa. Hanya seberkas sinar yang memendar di atas sana . Tanpa sadar bibirnya mengucap nama seseorang.


"Meeza."


Gawai pipih pun dia raih kembali, ingin rasa hati melihat kembali wajah cantik yang tertidur damai di sana. "Bulan," sebut Bian lagi, menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


Dia lalu merubah wallpaper chat nya menggunakan foto princess Cakrawala.


"Semakin dilihat mengapa jadi kian lucu dan menggemaskan," gumamnya lagi, masih belum menyadari sepenuhnya apa yang dia katakan dan perbuat.


Segelap apapun lembah kalbu seseorang, akan Tuhan luluhkan kala dia memandang hasil nutfah yang telah tertiup ruh menjadi segumpal darah daging yang disebut buah hati.


Kilasan memori itu kembali Bian teruskan, memilah peristiwa satu per satu yang Malya lalui. Hingga di sebuah moment, dia mengingat kala kedatangan sepupu dari pihak Beatrice.


"Malya sesaat melihat ke arah dia, lama dan tajam seakan mengenali sesuatu tetapi ragu. Ck, bahkan dia tak pernah memandangku dengan tatapan demikian, padahal matanya cantik," keluh Bian tanpa sengaja memuji.


"Apa dia?" imbuhnya lagi.


Bian lalu mencoba menuangkan hasil kecurigaan itu pada bagan di atas meja. Dia menghubungi Chris untuk memeriksa hasil coretan miliknya, setelah kepergian esok pagi.


...***...


Di belahan dunia lain.


Seorang pria dengan telaten menyeka butir keringat dari setiap bagian tubuh wanita cantik yang masih setia memejam.


Begitu besar rasa cinta yang dimiliki olehnya hingga bersedia membeli sebuah kehidupan fana bagi sang gadis.


Dokter terbaik telah dipekerjakan hampir sepanjang hari demi memantau laju perkembangan belahan jiwa. Dia sangat yakin bahwa suatu saat, netra cantik itu akan kembali terbuka.


"Hanya aku, yang akan kau pandang kala matamu membuka lagi. Kita akan pergi ke semua tempat nan kau mau. Khayalan kita dulu, kau masih ingat kan, Maria?" sebut sang pria.


"Jangan lagi melihatnya. Dia telah mempunyai mainan baru, bahkan kini memiliki buah hati. Ck, pria idamanmu nyata menyerah pada nafsu," cibirnya untuk seorang Biantara.


"Lekas sehat, Sayang. Kita rajut lagi asamu, merakit bahagia bersama. Kamu mau kan?" ucap sang pria tampan, dalam balutan jas abu tua.


Sungguh hadirnya Malya dalam penggalan kisah cinta yang terenggut seakan menjadi suntikan semangat bahwa Tuhan pun memihak diri.


"Jangan salahkan aku. Siapa suruh kau muncul kala itu. Mungkin inilah jawaban atas banyak doa, bahwa segala sesuatu yang indah akan datang pada waktunya," senyum sang pewaris perusahaan tambang mengemuka, menghias wajah tampan sundul langit turunan ningrat bangsa Eropa.

__ADS_1


Tok. Tok.


"Selamat malam, Duke Andreas. Pemeriksaan untuk Nona Maria Antoinette akan kami lanjutkan," izin salah seorang dokter.


"Silakan."


Pria matang dengan perawakan tegap dan berwibawa, menyingkir dari kursi samping brangkar kekasih hati.


"Bukan Sawyer lagi, tapi Antoinette. Kamu bagai Ratu, Maria. Persis princess Austria keturunan Maria Theresa dalam kisah sejarah Perancis Raja Louis ke enam belas. Cantik, glamour, cerdas, tapi bodoh memilih cinta," gumam sang Duke.


Hampir dua puluh menit, team dokter melakukan pemeriksaan lanjutan dan semua itu tak luput dari pengamatan pria dengan mata elang yang berdiri di sudut ruang.


Gerombolan tenaga medis pun tak lama undur diri setelah mengambil sampel yang mereka butuhkan.


"Kamu akan dapat berjalan kembali, Sayang. Namun, paling penting adalah harus tetap semangat bangkit dan fokus untuk bahagia. Bian akan merasakan bagaimana artinya di singkirkan," tatapnya nanar pada tetesan infus yang mengaliri nadi sang pujaan.


Kisah kelam klan Cakrawala kala kedua putra Beatrice menanti buah hati, kembali menusuk nurani seorang Andreas Valen.


Bukan salahnya apabila sang ayah adalah keturunan bangsawan Eropa yang menyamar menjadi ekspatriat biasa hingga membuat ibunda tercinta, Anne Citrawala jatuh hati pada seorang Duke Antoni Valencia.


Mereka menikah tanpa sepengetahuan Beatrice hingga lahirlah dirinya. Kepulangan sang ibunda membuat pendiri Cakrawala itu murka sebab sang putri menyalahi aturan keyakinan ajaran mereka.


Penetapan ahli waris secara sah pun akhirnya di kukuhkan pada Brian, si aktor utama keluarga Cakra.


"Masa lalu. Kau salah jika mengartikan apa yang ku lakukan ini semata perkara harta. Ayahku mempunyai segala apa nan tak kau miliki, Bian," senyum kembali terlukis di wajah sang pewaris takhta Valencia.


"Selamat malam, Sayang. Sampai jumpa esok hari," ujar Andreas bangkit dari duduknya.


Kala pintu kamar Maria baru saja menutup. Gerakan kecil tercipta dari tangan terkulai di atas brangkar.


Deet. Deet.


.

__ADS_1


.


..._________________________...


__ADS_2