BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 84. MELEPASKAN


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Pagi hingga siang hari ini rencananya akan Bian gunakan untuk farewel. Memberikan sambutan, ucapan terima kasih pada jajaran top manajemen serta para karyawan atas segala perjuangan membesarkan Cakrawala.


Sedikit sedih terselip di hati kala melihat kursi kebesaran juga ruangan yang menjadi segala saksi bisu Biantara memulai debut belasan tahun silam.


Malya yang melihat Chris juga Roby tengah mengemasi barang Bian, merasakan kegundahan suaminya.


"Mas!" lirih Malya, mengusap lembut lengan Bian, seraya menggelayut manja.


"Ehm. Besok aku sudah gak di sini lagi, Sayang," balas Bian, melihat ke sekeliling. Menyentuh name tag dirinya di atas meja.


"Menyesal melepaskan ini, Mas?" tanya Malya, menoleh ke arah suaminya. Dia bahkan menyandarkan kedua telapak tangan di bahu Bian.


Lelaki tampan dengan penampilan super rapi itu menoleh. Mengusap kepala Malya dan membubuhkan kecupan kecil di dahi.


"Enggak. Aku ingin jadi suami dan ayah full time buat kalian, seperti kakek Brandon. Sesekali mengontrol bisnis tapi mengajak kamu dan anak-anak. Aku cuma mau itu, nyiapin bekal untuk pulang supaya kamu tetap jadi bidadariku di surga nanti," balas Bian, dengan sorot mata teduh. Dia menoleh ke arah Malya, lalu mengalungkan lengan ke pinggang agar dapat merengkuh wanitanya dalam pelukan.


"Ehm, maaf, Bapak Ibu, permisi. Jangan mesra-mesraan di sini. Kasihan ada jomblo," ucap Roby seraya berlalu membawa kotak besar di depan tubuhnya.


"Maksud, lo?" sahut Chris, melempar gumpalan kertas hingga mengenai punggung Roby.


Pasangan Cakra pun terkekeh renyah. Keduanya lalu menuju ruang meeting manajemen di lantai atas.


Ucapan terima kasih serta perpisahan meluncur lancar dari mulut Bian. Kental terasa atmosfer sendu di dalam ruangan. Direksi terkesan dengan pembawaan sang pimpinan yang manly dan sabar dalam mengelola semua aset mereka.


Sambutan pada Andreas pun Bian ucapkan manakala sang sepupu mulai bertugas hari ini. Keduanya lalu saling memeluk di iringi sorak penghuni meeting.


Maria hadir di sana, tapi Malya enggan menyapa. Dia masih punya sangkutan pada wanita itu.


"Malya!" sapa sang nyonya Valencia. Tersenyum ramah menghampiri ibu hamil yang berdiri di sisi pintu keluar.


"Ehm. Selamat ya, semoga amanah dalam mendampingi Andreas. Mimpimu tercapai ingin mendapatkan pria mapan dan kaya." Malya sekilas melirik Maria, memberikan senyuman simpul.

__ADS_1


Maria terkekeh. "Alhamdulillah. Kita jadi sepupu ipar bukan?" ujar menantu Valencia.


"Benar. Oh iya, tuntutan di Inggris dua tahun lalu, masih di proses, kan?" ucap Malya mengingat peristiwa Maria yang melukai dirinya.


Glek.


Maria memucat. Dia lupa, bukankah Bian pernah mengatakan akan menangguhkan itu sebab peristiwa dirinya hampir keguguran di tahun tersebut.


"Tenang saja. Aku sudah mencabut laporannya. Gak mau merusak hati yang sudah Mas Bian isi dengan cinta. Dia sosok lelaki sangat sempurna untukku," pungkas Malya, seraya merentang tangan menyambut suaminya.


Biantara tak menghiraukan Maria apalagi menyapanya. Hubungan kekeluargaan hanya sebab Andreas dan dia menghargai itu karena Malya yang meminta.


Pasangan Cakra lantas meninggalkan ruangan. Menuju kantin karyawan dimana sebagian dari mereka telah menunggu.


Kemunculan sang pimpinan, membuat suara riuh bak supporter bola. Sorak sorai bergema, hingga hati Malya berdebar dan meneteskan air mata haru. Suaminya di cintai para pekerja hingga dia mundur pun, diiringi tangis mereka.


"Terima kasih banyak untuk kalian semua. Kekuatanku, semangatku juga sumber bahagiaku. Terus berjuang membesarkan Cakrawala ya, aku hanya tidak nampak di hadapan tapi masih membersamai kalian semua, barokallaaahh fii kunna," pungkas Biantara, dengan suara parau menahan sedih disertai tatapan sayu menyapu wajah para karyawan terakhir kali. Bian lalu menarik Malya berdiri di sisinya.


Malya paham, dia membutuhkan sandaran menghadapi motor penggerak perusahaan. Segala mimpi Bian tercetus karena mereka. Meluluhkan Malya pun berkat bantuan nilai kepuasan dari pekerja atas perubahan kepribadian Bian.


Beberapa menit menembus jalanan, pasangan Cakra tiba di kebun penghasil berbagai bunga indah yang memasok seluruh perusahaan Cakrawala, SQ Corp, Quennaya dan perusahaan kolega yang Brandon pegang. Berkat Shan, Bian berhasil masuk ke usaha milik keluarga Qavi, Pawon Ratu yang biasa di daulat menghandle acara penting kenegaraan.


Bian mengajak sang nyonya, menikmati teduh dan asrinya greenhouse hingga merencanakan menginap di sana.


"Kalau malam serem gak, Mas?" kata Malya melihat sekitar hanya di penuhi bunga.


"Di depan kan kantor, Al. Ada yang jaga. Bagian belakang itu kebun sayur Om Mahendra, makanya dia ngebet beli lahan ini dulu agar nyambung. Di sana apalagi, rame kalau malam, banyak pekerja packing ... punya kita, di tengah, post kontrol itu yang jaga dua orang. Ujung juga sama. Jadi aman, kan terang juga," beber Bian menjelaskan seraya menunjuk pos-pos dimaksud.


Menghabiskan hari dengan orang terkasih membuat Bian sedikit lupa akan perpisahan sejak pagi tadi. Mereka berbagi keintiman, berbicaralah banyak hal untuk masa depan.


"Zaza gak usah asrama, pulang Jumat siang atau fullday setiap hari. Aku ingin mendampingi saat dia baligh nanti."


"Gimana baiknya kalian saja, aku ingin kamu dan Bulan menjalani dengan hati ringan. Semoga adek juga perempuan ya, Al," sahut Bian, mengusap bagian tubuh Malya yang mulai terlihat membuncit. Keduanya tengah berbaring di ranjang ayunan dalam greenhouse.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Menjaga anak perempuan itu kata Rosulullah kan bagai kedua jari, dalam hadis Tirmidzi disebutkan siapa saja yang mengasuh dua anak perempuan, niscaya aku dan dia akan masuk surga seperti dua jari ini. Kalau tiga, jika aku bersabar dan memenuhi segala kebutuhannya, maka kalian akan jadi tameng pada hari kiamat," ucap Biantara, menoleh ke arah istrinya dengan senyum cerah.


Malya terkekeh, satu belum lahir sudah minta lagi.


"Jaman sekarang itu sulit menjaga amanah, Mas. Aku sih, inginnya di mudahkan dalam menghadapi mereka nanti," jawab Malya, melempar pandang ke atap greenhouse yang transparan sehingga terlihat pemandangan langit luas.


"Aku egois ya, Al," sambung Bian. Cita-cita dan isi otaknya hanya Malya Malya dan Malya.


"Enggak. Kan itu keinginan baik. Mas, aku selalu berdoa semoga kamu di pertemukan lagi denganku nanti ya. Allah memberi kita jalan seperti ini pasti ada maksud dan aku berharap kamu yang jadi pasangan terbaik aku," imbuh Malya, matanya mulai berkaca-kaca.


Entah suasana hati Bian saja yang melow atau sebab kata-kata Malya. Lelaki itu memeluk ibu hamil dan menumpahkan gelisahnya di sana.


"Hattal Jannah ya, Al. Hattal Jannah," bisik Bian parau, membuat Malya meneteskan air matanya lagi.


"In sya Allah. Aku akan cari Mas Bian di surgaNya Allah. Mas juga, ya. Jangan lupa ingat aku bila tak menemukanku di surga. Cari aku di neraka dan bilang sama Allah bahwa kita selalu beribadah sama-sama," Malya tersedu, tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi. Dia terlalu bahagia.


Kehidupan damai menyertai pasangan Cakrawala hingga Malya mulai resign kala kandungan mencapai bulan ke tujuh, Beatrice berangsur pulih bahkan Haji Syakur pun telah dapat berjalan lagi.


Keluarga Anne kerap menyambangi kediaman Biantara, mereka mendekatkan diri dan menjalin silaturahmi lagi.


Bian fokus pada keluarga kecilnya, menjadi ayah idola dan suami siaga bagi kedua wanitanya.


Sang asisten pun kini mengikuti jejak Bian, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Terlebih statusnya baru berubah menjadi ayah saat bayi perempuan mereka lahir dengan selamat.


.


.


...____________________...


...TAMAT....

__ADS_1


...Ada yang belum selesai?...


__ADS_2