BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 71. MUSYAWARAH


__ADS_3

"Tuan muda, maaf, dipanggil nyonya besar," ujar salah satu maid yang menghampiri mereka.


Keduanya lantas meninggalkan gazebo di sudut halaman luas, berjalan beriringan menuju hunian utama.


"Jangan selingkuh ya, Al," ujar Bian memperlambat langkahnya.


"Mas kali, di kantor kan bening semua. Klien, staf belum lainnya," balas Malya. Dia bahkan enggan berinteraksi dengan pria lain selain Roby atau atasannya.


"Hatiku sudah sesak dengan kamu dan Meeza. Oh, iya, Al. Meeza akan di larang bertemu kita saat enam bulan terakhir masa karantina sebelum masuk pendidikan lanjutan. Jika ingin tetap di sana, aku akan urus dokumen tambahan," imbuh Bian.


Malya berhenti, dia menoleh ke arah Biantara. "Please, Mas, jangan jauh-jauh. Aku kangen balitaku. Di sini saja. Enam bulan? akan jadi seperti apa Zaza ku nanti. Apa tidak mengapa? itu terlalu lama," rengek Malya menatap tajam lelaki menjulang di sampingnya.


"Dih, gemesin ya, pengen ngusekin rambut kamu jadinya, Al," kekeh Bian, sementara Malya menundukkan kepalanya, sadar telah memancing reaksi bagi sang suami.


"Aku bisa komunikasi dengan gurunya, tapi gak bisa vcall. Kata mereka, agar saat pelepasan nanti, kangennya membuncah. Dulu, aku juga begitu. Memang didikan mental disiplin ketat, itu berguna dan membekas hingga dewasa. Meeza itu cerdas macam kamu, di tangan kirinya nanti dia bakal besarkan usaha yang kita rintis, Sayang. Dunia bisnis itu kejam, tapi putriku akan menjadi tangguh menghadapi itu semua," ungkap Bian, memandang wajah teduh yang menunduk.


"Tapi aku ingin dia sekolah di sini saja. Apakah boleh?" cicit Malya tak berani mengangkat kepala.


Bian tersenyum. "Boleh. Kita cari sekolah bagus buat Zaza nanti. Masuk yuk, kamu harus menata sebagian ruangan yang masih kosong. Ah, iya, Al, mau resepsi lagi gak?" tanya Biantara beruntun.


"Bisnis kita, apa sih, kamu rintis usaha apaan, Mas? ruangan? resepsi? banyak amat pertanyaannya," ucap Malya penasaran.


Biantara hanya sekilas tersenyum, tak menghiraukan perkataan Malya. Dia melanjutkan langkah masuk ke hunian.


Ketika Beatrice melihat mantan cucu menantunya, dia langsung meminta di bacakan doa agar tetap sehat dan di beri kesempatan beribadah lebih lama sebelum menutup usia. Malya, mengecup jemari juga dahi sang sepuh seraya melantunkan doa.


"Aamiin ... Al, bantu Bian menata ruangan kamar Meeza, master bedroom kalian, juga lainnya. Kamu mau resepsi ulang?" kata Beatrice menggenggam tangan Malya.


"Gak usah. Bukannya perceraian kami di rahasiakan ya, Nek? jika iya, ya tetaplah seperti itu saja, jadi tidak perlu aneh-aneh lagi," balas Malya.


"Aku bilang juga apa, Malya gak mau gituan. Naiklah ke lantai dua, Al, ada maid di sana. Kamar Meeza dan ruangan lain masih polos," sambung Bian, dia memilih duduk dengan Haji Syakur dan membuka papan catur.

__ADS_1


Malya mengikuti perintah Beatrice dan Bian, menapaki tangga futuristik seraya melihat sekeliling. Bian menyiapkan ini untuknya dan Meeza, sungguh hati ibu satu anak ini melambung tinggi. Dia pun kemudian berkonsultasi dan meminta gambaran pada design interior yang ternyata sedang ada di sana.


...***...


Semarang.


Abyan telah menginterogasi Fathia, dia kini membuat obrolan via zoom dengan Abah dan kedua adiknya.


"Bah, cucu Abah ini mengindikasikan bahwa aku harus nadzor pria bernama Roby Al Ashfaq. Mas Panji kayaknya tahu itu, sudah senyum-senyum daritadi," ujar Abyan menampilkan foto Roby di layar.


"Abah sih, gimana Tia aja. Yang jalani kan mereka selama tidak keluar koridor," sambung Abah.


"Aku tahu dia. Anak baik dan Shan sudah memberikan gambaran jelas tentang sosok Roby. Fathia bahkan meminta pendapat mereka saat di Cibubur beberapa bulan lalu," beber Mahendra.


"Jika Roby sesuai dengan kriteria Kak Abyan ya aku sih, setuju aja. Fathia itu visioner, jika mengandalkan santri yang mukim di sana, aku rasa akan berat bagi pria, insecure nanti. Kandidat para putra yai kan kata Kakak, kurang memenuhi keinginan Fathia. Menunggu lulusan Kairo atau Yaman yang se visi dengan anak itu ya sulit juga. Paling betul, memang biar dia memilih sendiri sih," sambung Amir, memperjelas pendapat.


Abyan dan Qonita terlihat mengangguki pendapat mereka. Pimpinan pondok Multazam itu kini meminta Mahendra membeberkan semua profil Roby.


"Seperti yang Shan bilang. Semua terlampir dalam gambar. Mifyaz bahkan melacak kediaman orang tua Roby. Ini rumah masa kecilnya, unit yang pria itu tinggali, aset, hoby bahkan dia kini aktif kembali memegang sebagian pekerjaan Beatrice menggantikan Brandon Cakra, pimpinan Roby," ungkap Mahen memberikan banyak slide.


"Dih, Kak, jangan menyimpulkan dulu kenapa sih. Kakak nih gak pernah berubah. Coba tanya Mas Panji, itu asli atau bukan," sergah Amir. Abyan selalu saja kaku, dia teringat akan kasusnya dulu yang pernah ditampar sang kakak.


Mahen tertawa. "Itu kerjaan Mifyaz. Editan, Kak. Kata Mifyaz, Roby sangat sopan sebab dia menghargai Fathia, juga karena njid," imbuh Mahendra lagi.


"Abah setuju. Fathia memang harus memilih sendiri sebab selera dia lain dari biasanya. Pria cerdas tapi memiliki background pendidikan macam Roby yang bisa masuk ke dalam keluargamu itu jarang. Baiknya segera jika anak itu menaruh suka," pesan Abah untuk putra sulungnya.


Amir dan Mahendra mengangguk setuju. Abyan lalu meminta bantuan adik iparnya untuk mengatur pertemuan antar dua keluarga sebab Abyan akan ke Jakarta dalam waktu dekat.


"Aku akan pastikan ke Fathia lebih dulu," kata Qonita.


"Oke, Mbak. Aku nanti hubungi Biantara sebab mengenal Roby melalui dirinya. Meski kita tahu dimana kediaman Roby, spy juga kadangkala harus berpura-pura," kekeh Mahen diikuti lainnya.

__ADS_1


Jika para tetua sibuk rembukan mengenai sosok Roby. Lain hal dengan Fathia. Gadis itu tak keluar kamar sejak Abyan menegurnya berfoto dengan seorang pria.


Fathia menjelaskan bahwa itu editan, akan tetapi ayahnya malah mendapat foto dirinya yang lain entah dari siapa.


Ingin memaki Roby dan Mifyaz sebab tak menepati janji, tapi Qonita melarangnya. Fathia meluapkan kesal dengan mogok bicara.


Tok. Tok.


"Tia, umma boleh masuk, Nduk?" suara lembut Qonita dari balik pintu.


"Ehm, fadhol, Umma," balasnya asal, masih berbaring tengkurap di atas ranjang.


"Nduk, kamu bener condong ke Roby? kalau iya, buya mau ke Jakarta dan ketemu dengan perantaranya dulu. Bagaimana?" ucap Qonita langsung tanpa basa basi.


"Aku kesal. Buya gak dengerin aku dulu. Juga padanya, kenapa fotoku tersebar padahal sudah ku wanti," gumam Fathia, bicara tak jelas sebab tertutup oleh bantal.


"Nanti buya sekalian tanyakan padanya, jangan menghubungi Roby duluan. Inget pesen umma. Jadi gimana ini? om Mahen menunggu loh, sebab beliau yang kenal dengan dia," tuntut Qonita sebab Fathia tak memberikan jawaban.


"Aku nunggu Sam tapi sepertinya dia enggan di tunggu. Roby sopan dan terlihat smart, dia juga gak kalah tampan dengan Sam," kekeh Fathia, mendapat tepukan Qonita di bahunya.


"Ada calon lain?" cecar sang ibu.


"Ada, suami Ashley," kata Fathia seraya tertawa.


"Innalilahi. Emang dasar ya, seleranya begitu. Bukan santri tulen macam kakakmu. Adiknya Fathan juga bisa beberapa macam bahasa sepertimu. Gak naksir?" goda Qonita.


"Fatih? enggak. Terlalu lembek, Roby itu paket kumplit, Umma. Tapi, aku takut dia nolak," lirih Fathia, kembali membenamkan kepalanya ke atas bantal.


Qonita hanya menggeleng pelan melihat sikap putri bungsunya yang seperti ini. "Okelah, Roby Al Ashfaq," pungkas nyai Multazam, bangkit berdiri meninggalkan kamar sang putri bungsu.


.

__ADS_1


.


..._____________________...


__ADS_2