
"Jangan, Kakak Bian, jangan!" seru Andriana, adik bungsu Andreas mencegah agar tak terjadi perseteruan lebih pelik.
Anak perempuan Anne yang tinggal di Indonesia, terengah muncul di gedung Cakrawala sebab permintaan sang ibu agar meminta Bian tak mencelakai menantunya.
"Ria, ngapain!" seru sang kakak.
"Aku di suruh mami ... Kak Bian, please, lepaskan Maria, dia sedang hamil," ujar Andriana. Dia bahkan berlutut di depan Malya.
"Ria!" Andreas murka. Menarik adiknya hingga dia jatuh terjengkang.
"Alhamdulillah," lirih Malya, mengucap syukur.
"Apa!" reaksi Bian justru terkejut, akan tetapi, wajah yang tengah menegang kini kembali rileks. Dia kian membiarkan mereka menjauh.
Wanita muda tak surut langkah melindungi Andreas dan kakak iparnya. Dia akan mewakili keluarga Valencia meminta maaf agar kisruh internal tak lagi memanjang.
"Kak Bian. Demi aku, mohon maafkan keluargaku," pinta Andriana, dia terus berteriak memanggil Biantara.
Kedekatan mereka berdua tidak pernah di ketahui oleh para tetua. Andriana diam-diam mendukung Bian sebab menilai sepupunya itu memang pantas memegang Cakrawala.
"Andre, jangan kasar pada Ria!" ucap Bian, saat melihat mereka pergi, terutama ketika Ria terus di tarik oleh Andre.
"Bukan urusanmu!" ujar Andreas.
Tiba-tiba.
"Argh!" pekik Maria. Darah segar mengucur di kaki jenjang nan mulus. Maria merasa pandangannya berkunang-kunang, dia pun mulai terhuyung.
"Kak!" panggil Andriana, takut Maria jatuh membentur lantai.
"Maria!" sebut Andreas, dia menahan tubuh wanitanya agar tak jatuh.
Malya berseru bahwa Maria terluka dan meminta Andre bergegas membawanya ke rumah sakit.
Wajah Andreas mendadak panik, dia meminta anak buahnya memapah Andriana sementara dirinya menggendong Maria.
"Kak Maria," gumam Andriana, mempunyai firasat buruk tentang iparnya itu.
Bian mendorong kursi roda Malya ke ambang pintu ruangan meeting. Dia berteriak meminta security memanggil ambulance. Situasi amat kacau, dewan direksi riuh menggeruduk di belakang Malya sementara Bian berlari menekan tombol pada panel lift khusus miliknya, agar Andreas yang berlari membopong Maria dapat segera masuk.
__ADS_1
"Jangan panik, Dre. Semoga gak kenapa-kenapa," ucap Bian saat Andreas masuk.
"Ria, temani mereka ya," pinta Bian untuk sepupunya yang masuk ke lift khusus karyawan di ujung koridor.
"Iya, Kak. Terima kasih," balas Andriana seiring pintu kotak besi yang menutup, dia turun ke lantai dasar dengan dua bodyguard Andre.
Wajah wanita yang pernah Bian cinta kini memucat, Maria pingsan setelah keluhan sakit mengemuka. Pintu lift private pun menutup, Bian lalu kembali ke posisi Malya.
"Apa yang kalian inginkan telah terwujud bukan? malam kian larut, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat. Selamat malam," tutur Bian, menutup agenda malam itu.
Roby lalu mendampingi para dewan menuju lift dan mengantar mereka hingga lobby.
"Camai, antar aku ke rumah sakit," pinta Malya saat gadis itu mendorongnya menuju lift.
"Enggak. Antar Malya pulang. Sudah larut malam dan kau belum istirahat setelah belasan jam terbang," ujar Biantara, melarang Malya menyusul Maria.
"Tapi...."
"Gak ada tapi, ayo pulang. Aku temani hingga unit, serah terima ke ayah bahwa kamu selamat sampai rumah meski ada itu," imbuh Bian menunjuk luka Malya dengan wajah sendu.
Tak ada bantahan. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke hunian masing-masing.
"Ayah maklum, naluri seorang ibu pasti begitu, melindungi buah hatinya. Bukan salah Nak Bian, terima kasih, tanggung jawab terhadap Malya, ayah ambil alih kembali," pungkas Haji Syakur, menjawab kecemasan Biantara.
"Aku pamit, terima kasih, Ayah. Sampai jumpa lagi," balas sang mantan menantu. Bian keluar hunian, setelah menatap daun pintu kamar Malya yang tertutup rapat.
Bian merasa akan kesulitan menjalin komunitas kembali sebab Malya tentulah tak ingin di usik kebebasannya. Terlebih, mereka tiada hubungan apapun.
...***...
Satu pekan setelahnya.
Kondisi Maria dinyatakan berangsur membaik meski dia harus bedrest total selama dua bulan ke depan.
Andreas yang awalnya enggan menerima kehadiran hasil bercocok tanam dengan Maria, perlahan melunak manakala melihat wanita yang dia cintai, mengerang sakit kala pemeriksaan.
"Bayinya masih bertahan," ucap dokter kala itu.
Kalimat sakti tenaga medis yang mampu membuat Andreas tertegun, gumpalan darah itu bahkan bersedia berjuang hidup.
__ADS_1
Jika Andreas masih berperang dengan perasaannya sebagai seorang calon ayah. Lain hal yang dialami pewaris Cakra. Bian sibuk mengosongkan isi Mansion dan pindah ke hunian yang baru tanpa sepengetahuan Malya.
Fokus Biantara kali ini adalah bangkit dari awal. Menata bisnis yang dikerjakan dengan Roby bahkan mencari buyer baru untuk sesuatu nan dia siapkan jika Malya kembali padanya.
Perluasan ladang jagung, pembelian lahan juga menyediakan segala alat penunjang agar semua petani jagung bersedia bekerjasama dengannya, menjadi pekerjaan yang menguras kerja otak keturunan Cakra. Peluang memproduksi bio ethanol amat luas, dan Bian berjuang agar dapat menembus pasar.
Jika bukan sebab Roby yang mengajukan pinjaman pribadi padanya, mungkin Bian tak terpikir akan mengalihkan asetnya untuk mengembangkan usaha ini. Kerjasama antar atasan dan bawahan pun telah terkontrak apik selama enam bulan terakhir.
"Aku bertaruh besar di sini. Titip sebentar hingga tugas di Cakrawala Corp, selesai. Aku hanya ingin fokus pada salah satunya," kata Bian saat Roby mengajaknya bicara.
"Hasilnya sudah terlihat, Tuan muda. Andaikan bukan menjadi passive income, Anda masih bisa hidup sangat layak. Dan semua ini demi?" tanya Roby, merasakan Bian sangat berbeda beberapa bulan ke belakang.
"Kamu tahu lah, siapa orangnya. Aku ingin punya banyak anak-anak sehingga harus bertanggung jawab hingga mereka mandiri. Ini modal menuju ke sana," jawab Bian lugas. Dia tahu peluang rujuk masih belum jelas.
Roby mengangguk. Dia pun sama, berjuang membesarkan usaha pembuatan gula batu dengan Rosi, sebagai modal jika seseorang menerima cintanya kelak.
...*...
Setelah perbincangan di luar pekerjaan, sang asisten Brandon mengirimkan pesan untuk seseorang tepat saat jam makan siang agar wanita itu segera membalasnya.
["Bisakah kita bicara? kapan kau bersedia?"] tulis Roby.
["Pulang kerja, tempat ramai tapi enak untuk ngobrol. Silakan tentukan dimana, aku ikut."] Balas Malya.
["Baik. Cafe D'cost di bawah apart sebelah kanan lobby barisan ke empat. Aku tunggu di sana tepat jam pulang kantor."]
["Oke. Thanks."] Malya meletakkan kembali gawainya. Dia melanjutkan menikmati santap siang kiriman Bian, sedangkan asisten Brandon masih setia dengan memberikan kudapan sehat bagi Malya.
Lukanya sudah cukup kering, dia mulai berlatih menggerakkan jemari perlahan meski masih menggunakan gips.
"Di cintai dua orang pria romantis. Kamu pilih mana, Al?" tanya Sesil.
"Entah. Ini baru mau dengar versi salah satunya. Menurutmu, lebih baik pilih siapa? CLBK atau bagaimana?" tanya Malya, menjeda suapan, menatap Sesil dengan pandangan serius.
"Ehm, kalau aku...," suara Sesil, menimbang rasa.
.
.
__ADS_1
...______________________...