
Malya mengecupi semua bagian tubuh mungil yang dapat di jangkaunya. Tangan keriput nan kurus, masih tersisa kulit ari pun tak luput dari pandangan. Hisapan kuat di dadanya kian melunturkan ketegaran diri.
Putri Haji Syakur masih setia dengan lelehan rasa bahagia dari ujung netra. Dia telah menjadi ibu meski anaknya kelak hanya dapat merasakan kasih dari separuh jiwa.
"Nyonya, siapa nama putri cantik ini?" tanya suster saat akan memasang gelang pengenal.
Malya bingung, dia belum meminta persetujuan Bian atau Beatrice. Namun, sejak mengandung sang buah hati, dia kerap memandang bulan. Terkesima meski sinarnya didapat dari resapan sonar akan tetapi tak surut langkah untuk tetap muncul meski hadir hanya sepenggal waktu.
"Meeza, Meeza sandya," jawab Malya seraya tersenyum.
"Ada artinya kah, Nyonya, terdengar sangat special dan istimewa," lanjut suster sambil menuliskan nama putrinya.
"Cahaya seperempat bulan. Agar putriku tak terlalu bersinar hingga membuat kebebasan terenggut darinya, dan semoga teduh cahaya bulan di masa itu, menjadikan Meeza gadis yang tegar, tenang, tetap mempunyai arti bagi sekitar ... aamiin, ya Meeza, ibu sayang kamu," ucapnya seraya mengusap kepala putrinya lembut.
Rambut lebat, hidung kecil nan mancung, kulit kemerahan dengan bibir tipis merona. Membuat siapapun jatuh hati pada bayi mungil nan baru menapak dunia.
"Ini sih Barbie hidup, bulu matanya lebat dan lentik, seperti Mama ya. Kamu cantik banget sih, Sayang," kata dokter dan suster saat keduanya telah rapi.
"Nyonya Cakra, akan kami reservasi dulu di sini selama dua jam sebelum pindah ke kamar perawatan ya. Luka Anda tidak terlalu banyak, semoga lekas pulih," pungkas dokter sebelum dia meninggalkan Malya.
Meeza lalu di periksa oleh dokter anak, di pasang gelang lalu di bawa ke ruang isolasi bayi sementara waktu.
Dalam ruang sunyi bangsal rumah sakit, pikiran Malya menerawang. Ketakutannya hanya satu, jika identitas diri terbongkar oleh Beatrice.
Sementara di luar ruangan.
Brandon menyambut Meeza yang di dorong suster dalam inkubator menuju ruang isolasi bayi.
"Cicit ku kenapa?" tanya sang sepuh Cakrawala.
"Gak apa-apa, Tuan. Meeza sehat, ini akan di observasi ke ruang bayi dulu. Nyonya Cakra akan kami pindahkan ke ruang perawatan dua jam mendatang," jawab suster, mulai mendorong lagi brangkar Meeza.
"Siapa namanya?" tanya Beatrice antusias.
"Meeza sandya, kata nyonya tadi," sahut salah satu suster yang baru tiba menyusul rekannya.
"Permisi," pamit para tenaga medis meninggalkan keluarga pasien.
"Robby, siapkan satu suster khusus menjaga Meeza di sana," pinta Brandon pada Asprinya.
"Baik, Tuan besar," jawab pemuda itu melenggang pergi melaksanakan keinginan sang majikan.
"Kenapa namanya begitu? bukan pakai awalan B, sesuai inisial ayahnya," protes Beatrice kecewa.
"Meeza, artinya bulan. Sama kan, Bulan di awali huruf B. Lagian cucu manjamu itu tidak peduli. Kemana dia, di kala anak istrinya bertaruh nyawa malah menghilang. Suami macam apa itu! aku yang membenci Maria saja, masih punya hati!!" Brandon meluapkan amarah pada Beatrice.
__ADS_1
"Beda lah, Meeza itu M, inisial nama Maria. Bulan kan artinya. Aku sudah meminta Bian ke sini, kalaupun dia enggan ya mau gimana lagi, ada aku yang selama ini menjaga Maria," kilah sang sepuh wanita.
Brandon lalu mengintip Malya dari celah gorden yang tersingkap. Cicit mantunya ada di brangkar ujung, hanya tampak kaki dibawah selimut tebal.
"Al, terima kasih atas perjuangannya ya. Aku janji, akan menjaga Meeza mu dengan baik. Taklukkan Bian, jangan menyerah," gumam Brandon di balik kaca.
Beatrice sibuk mengubungi para kolega, para petinggi perusahaan untuk membuat perayaan atas kelahiran cicit emasnya yang bernama Meeza.
...***...
Dua pekan setelahnya.
Euforia hadirnya Meeza tak serta merta membawa Malya dalam bahagia. Dia keberatan bilamana putri kecil ini terekspos media. Ketakutannya akan terjadi, hidup Meeza khawatir akan terkekang sepertinya.
Protes pada Beatrice pun percuma. Malam itu, saat Meeza telah tidur di dalam kamarnya. Malya mengetuk kamar Bian, berharap lelaki itu berkenan menemui.
Semenjak kepulangan dari rumah sakit, keduanya tak sekalipun bertatap muka. Beatrice tak mengizinkan Malya keluar kamar, dia harus fokus menyusui Meeza.
Tok. Tok.
"Siapa?" tanya suara berat dari dalam. Namun, Malya tak menjawab.
"Siapa sih! ... kamu? mau apa!" tanya pria angkuh, kasar seperti biasa. Saat pintu telah terbuka.
"Bisa minta tolong tidak? agar Meeza jangan terlalu di ekspose," pinta Malya, menundukkan wajah. Pandangannya hanya menatap sandal rumah lelaki itu.
Brak! pintu kamar kembali di banting kasar.
"Astaghfirullah. Benar, aku masih saja bodoh," lirih Malya, tersenyum getir.
Wanita yang masih dalam masa pemulihan itu kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Merasa kian tak dapat melakukan sesuatu di sini. Jika meminta pertolongan Brandon, tentulah Beatrice akan curiga bila dirinya bukan Maria.
Konon, Brandon dan Maria menjadi musuh sebab dia menentang Bian berhubungan dengan gadis itu setelah aksi panas Maria di pergoki langsung olehnya.
Apa daya, Malya hanya dapat berpasrah diri. Keadaan ini berlanjut hingga pekan-pekan mendatang.
Suatu pagi.
Saat Malya akan menuju lantai dasar guna mencuci botol bekas susu, dia mendengar percakapan dari kamar Bian sebab pintu yang tak tertutup rapat.
"Kau menemukannya? dimana?" tanya sang suami dalam percakapan telepon.
"Jangan sampai hanya seseorang yang mirip lagi. Kali ini kamu harus memastikan betul bahwa itu adalah wanita yang aku cari," tegasnya lagi.
Malya menduga, apakah Maria asli telah di temukan? jika iya, dia harus segera melakukan upaya kabur dengan membawa Meeza serta.
__ADS_1
Sesaat kemudian.
"Minggir! kamu nguping ya!" sentak Bian, mendorong Malya agar menyingkir.
"Awh!" keluh Malya saat punggungnya membentur handle tangga.
Bian terhenti, dia lalu kembali menaiki tangga menuju tempat di mana Malya masih berdiri. Seketika tubuh ibu menyusui ini mundur, Malya takut di sentuh olehnya lagi.
"Heh, jika aku temukan Maria. Siap-siap hengkang dari sini," ancam Bian saat tubuhnya telah dekat dengan Malya.
"Itu adalah hari yang ku nanti, Tuan," cicit Malya, sungkan menegakkan kepala.
Bau parfum Citrus lime menusuk hidung, sedikit membuat Malya kembali teringat setiap moment panas nan terpaksa. Dia setengah mati menghalau ngilu yang timbul di hati.
"Baguslah. Tinggal ku susun rencana agar kamu dan anakmu seakan hilang di telan bumi. Bagusnya pakai skenario apa? supaya Nenek tak lagi menduga dan mencarimu?" bisiknya lagi, kian tajam mengintimidasi.
"Terserah."
"Maaf, anganmu untuk panjat sosial harus terhenti di sini, Malya," lirih Bian, menepuk pipi istrinya yang kian tirus, sebelum dia berbalik badan dan melanjutkan langkah menuruni tangga.
Malya seketika lemas, tubuhnya bersandar dan luruh perlahan di atas tangga. Jantung berdebar membayangkan saat itu terjadi.
Sementara di kabin mobil.
Biantara membuka ponselnya. Dia ingin meminta izin pada sang kakek akan pergi dalam waktu lumayan lama. Saat akan mengetik pesan, dia melihat foto seorang bayi mungil di dalam chat antara dia dan Brandon.
"Meeza Sandya."
Pewaris Cakra tertegun sesaat. Foto itu baru dia lihat dan terunduh otomatis. Betapa wajah Meeza sangat mirip dirinya.
"Bos, foto nona cilik ada di papan reklame berjalan, cantik sekali," kata Chris kala mobil mewah itu berhenti di persimpangan lampu lalu lintas.
Bian mendongakkan kepala, menyamakan dengan foto dalam gawainya.
"Kamu memang putriku? tapi aku tak menginginkannya sebab bukan buah cintaku dengan Maria."
Otak memerintahkan hati untuk berkata demikian namun jiwa seakan enggan mengingkari.
"Bian, putrimu cantik. Penggalan wajah Malya juga ada di sana."
.
.
...__________________...
__ADS_1