
Setelah panggilan berakhir, Malya mencoba bangun. Tidurnya terganggu oleh dokter yang Bian panggil padahal dia tak merasa sakit parah.
Di kamarnya kini muncul barang baru, rak berisi semua snack sehat olahan gandum, oat dan buah kering. Tak lupa susu, coklat, permen mint rasa buah, minuman pereda nyeri saat datang bulan bahkan pembalut, tersedia di dekat meja nakas.
"Tumben amat mas Bian siapkan ginian, ibu bilang, di kulkas penuh jus dan sirup buah home made organik. Kesambet apa dia?" gumam Malya beringsut menurunkan kakinya.
"Itu, makanan dari Roby numpuk pula. Pada kenapa sih dua orang itu. Roby sih udah biasa nganter ginian, lah sekarang mas Bian ikutan, ekstrem pula," imbuh bunda Meeza perlahan menuju bathroom.
Setelah salat, Malya kian lemas. Pandangan kembali berkunang hingga dia ragu untuk bangkit.
"Aaalll, ada kiriman salad buah dari orang rumah, mau di makan sekarang? kata Bian, kamu suka bikin waktu di sana" ujar Mardiah beberapa saat kemudian, mengetuk pintu kmaar putrinya.
"Mau, mau, iya, Bu," jawab Malya lemah, masih bersandar di bawah ranjang.
Mardiah sedikit terkejut mendapati Malya pucat masih menggunakan mukena, duduk di lantai bersandar di kaki ranjang. "Al, ya Allah. Maag kamu kumat ini kayaknya," seru Mardiah khawatir.
"Bu, jangan terlalu capek. Jantung ibu, nanti kalau sesak berabe," cegah Malya kala Mardiah hendak membantunya bangkit.
"Enggak. Udah jarang sesak dan nyeri, obat dari nak Bian itu paten kayaknya. Pemulihan Ayah juga berkembang pesat, mantan suami kamu diam-diam sangat peduli," sahut Mardiah membuka rahasia Bian.
"Dia melakukan itu?" tanya Malya heran, sebab yang dia tahu, Roby yang kerap membantu mereka.
"Iya, sejak masih di Bogor. Pas tahu ibu sakit, dan sekarang lebih intens. Kamu pikir, semua kebutuhan kita siapa yang siapkan? ibu gak belanja, Al. Sisa uang darimu setiap bulan ada sama ayah, semua ini di sokong Bian. Awalnya kami menolak, tapi dia bilang, kamu ibunya Meeza. Dia gak mau bunda Meeza terlalu lelah," beber Mardiah.
"Kok ibu khianati aku sih. Aku kerja buat kita, gak mau ngemis," sewot Malya, merasa kedua orang tuanya di suap mantan.
"Gak berkhianat. Listrik, air, keamanan, biaya pemeliharaan apart juga iuran lainnya tetep bayar pake uang kamu. Bian melengkapi yang luput dari perhatian kami," ungkap sang bunda lagi.
Malya mendengus kesal, hidupnya ternyata tak lepas dari bayang mantan. Di tambah Roby, sang asisten Brandon yang kadang sama memaksa.
"Ayo makan dulu," kata Mardiah lagi, menyuapi putrinya.
__ADS_1
"Enak, Bu. Mas Bian nyuruh siapa ya di sana buatin ginian. Aku gak bagi resep ke siapapun sih," sambung Malya, merasakan nikmat segar buah dalam mulut.
"Gak tahu. Oh, iya, Al. Bian bilang mau rujuk sama kamu, pikirkan ya. Gak usah kasih jawaban sekarang, berproses saja. Satu lagi, jangan beri harapan pada Roby," pesan Mardiah beberapa saat sebelum semua salad telah berpindah ke lambung Malya.
Putri Haji Syakur mengangguk, dia juga masih enggan memulai lembar hidup baru dengan pria. Fokusnya ingin membuat Meeza bangga dulu.
...***...
Roby terusik kala Bian memanggil Malya dengan sebutan sayang. Bahkan dia tertawa lepas setelah melihat kondisi wanita incarannya.
Asisten Brandon mendengus kesal sebab dia tak punya kesempatan untuk berkirim kabar. Bian gencar menjejali Malya dengan segala aktivitas Meeza. Bahkan Roby merasa kini Malya jarang membalas pesannya.
Meeza mulai besok akan masuk percobaan ke asrama. Hari ini dia sangat lengket dengan sang ayah.
"Daddy, aku gak bisa dikunjungi hingga enam bulan?" keluhnya seraya menekuk wajah cemberut.
"Iya, tapi daddy boleh lihat kamu. Selain daddy, dilarang," ujar Bian di sisi ranjang Beatrice.
"Byby gak boleh jenguk ya?" celotehnya lagi.
"Byby boleh jenguk setelah enam bulan. Itupun harus membawa surat dari daddy," sambungnya lagi.
"Uncle Roby udah sibuk ngurusin oma. Jangan bikin dia tambah repot," kata Beatrice menyambung obrolan.
"Oma lekas sehat ya, biar Meeza bisa cepat pulang ketemu bunda," sahut putri sulung Bian.
"Iya. Kamu masuk karantina enam bulan. Dan akan kembali menjalani hal sama saat akan pulang. Dua tahun Meeza, ingat itu," pesan Beatrice.
Bian menegur Beatrice. Biarlah Meeza menjadi urusan dirinya. Dia telah mengajukan izin pada kepala asrama agar setiap bulan Meeza dapat di kunjungi leluasa. Jawaban kepala sekolah masih belum mutlak akan tetapi dia akan terus mendesak agar diloloskan.
"Nek, fokus sehat saja, Meeza biarlah menjadi tanggung jawab aku. Pergi pulang Jakarta Inggris memang lelah, tapi demi putriku, aku rela berbuat lebih. Aku sudah mengikuti keinginan nenek, jadi izinkan aku mengurus sisanya. Meeza akan tetap mengikuti keinginan nenek tapi dengan caraku," tegas Bian, mengusap kepala Meeza.
__ADS_1
Gadis kecil itu tersenyum cerah, lalu membubuhkan kecupan di pipi daddynya. Sementara Roby, menyematkan seulas senyum, Bian mulai berani setelah Beatrice dalam kondisi demikian. Sungguh, langkah pengambilalihan secara tepat. Dia tidak menentang tetua tetapi mendapat apa yang jadi tujuannya.
"Solusi cerdas Biantara Cakra memakai cara sangat halus hingga kadang lawan tanpa sadar telah dikalahkan," batin Roby.
"Tuan muda Andreas, jangan sampai kekalahan kedua membuatmu harus mengakui telak, kekuasaan Biantara. Dia tenang di permukaan," ucap asisten Brandon dalam hati.
Tibalah waktu Beatrice didorong suster menuju ruang operasi. Anne terlihat mendampingi hingga wanita sepuh itu memegang erat tangannya.
"Anne, maafkan mama ya. Maaf, sudah membuatmu jauh dariku. Maaf untuk Andreas, sudah aku abaikan selama ini. Anne, Anne, mau kan maafin mama," cicit Beatrice susah payah bicara sebab tertutup masker oksigen.
Putri bungsu Beatrice mengangguk, wajahnya berderai air mata mengantar sang ibu ke ruangan pertaruhan hidup dan mati.
"Sudah aku maafkan sejak lama, Ma. Jangan pikirkan itu lagi, lekas sehat ya," balas sang anak.
Tatapan sendu Beatrice menjadi tanda perpisahan mereka. Keluarga Cakra hanya dapat mengantar hingga ambang pintu. Ibu kandung Andreas itu menangis mengingat semua perlakuan Beatrice padanya di masa silam.
"Maafkan nenek ya, Tante. Jika menyimpan luka berbuah permata maka akan aku pertahankan. Aku bahkan harus berjibaku dengan rasa pedih yang sama seperti Tante," ucap Bian, mengajak Anne duduk di luar ruang OK.
"Segala yang kita genggam terlalu kuat ternyata tidak baik, meskipun itu adalah hal manfaat. Contohnya ponsel, dia berguna tapi ketika menempel lekat di tangan, akan sulit bagi kita melakukan sesuatu dengan leluasa. Menyusahkan, sama seperti amarah."
"Meluapkannya adalah hal bagus agar kita tidak depresi tapi menjadi petaka saat berubah dendam. Bukankah semua aura positif akan memantulkan hal baik, sedangkan amarah berlebihan, menahun dan berkerak akan membuat citra diri rusak?" pungkas Bian, sama tengah berusaha melepas semua ketidakadilan sebab ulah Beatrice.
Anne mengangguk. Biantara tak ubahnya Briandana, penurut meski mendapat perlakuan kurang baik dari keluarga.
"Kamu sudah berhasil keluar dari lubang itu, ya, Bian. Tante, belum sepenuhnya, terlebih Andreas," cicitnya masih disela isak.
"Akan ada masanya sendiri, Tan, dan aku menemukan diriku yang baru setelah berpisah darinya," lirih Bian, mencium Meeza lalu mendekapnya erat.
.
.
__ADS_1
..._______________...
...Beatrice satu, done....