
Biantara menepati ucapannya, dia amat total menjaga Beatrice, menemani tetua sambil mengasuh Meeza sekaligus kerja.
Asisten Meeza hanya membantu jika putrinya akan makan, mandi atau hal yang tak dapat Bian lakukan sebab Malya berpesan padanya agar tidak menyentuh atau melihat bagian-bagian tubuh aurat putrinya. Meski Meeza masih kecil dan anak kandung, Malya tegas akan hal ini.
Satu pekan berlalu, Roby akan kembali ke Indonesia, membantu Bian menjaga perusahaan bersmaa Chris. Sementara dia fokus mengurus Beatrice juga Meeza.
"By, tolong on track. Aku bergantung pada kalian berdua selama di sini. Meeting internal telah dijadwalkan oleh Rika sedangkan menemui beberapa klien dapat aku tangguhkan. Sisanya, bagianmu," titah Bian saat akan melepas Roby pulang.
"Baik, Tuan muda. Noted, saya pamit," kata Roby seraya merapikan semua barang miliknya.
"Byby, kapan Zaza bisa ketemu Byby lagi? ini buat Byby dari Zaza," ujar bocah kecil yang baru bangun dari tidurnya.
Roby mendekat ke ekstra bed yang digunakan Bian dan Meeza, duduk di sisinya.
"Makasih Zaza Sayang. Byby ke sini kalau Daddy gak bisa nemuin Zaza. Ingat pesan bunda ya, salihah. Byby pulang dulu," kata Roby menerima gambar dirinya dan Meeza dari tangan bocah mungil.
Gadis cilik yang masih terlihat mengantuk itu mengangguk pelan. Roby lantas mencium pipi gembil putri tunggal Biantara, menduselkan dirinya hingga Meeza tertawa renyah.
"Bye Zaza," ucapnya lagi, mengecup punggung tangan Meeza.
"Bye Byby, Zaza sayang Byby," balas Meeza saat Roby bangkit. Lelaki itu lalu membuka tirai pembatas antara ruang tamu dengan brangkar Beatrice.
"Nyonya, saya pamit pulang dulu. Nanti akan kembali tiga bulan kemudian bergantian dengan tuan muda. Semoga Anda lekas pulih," ujar sang asisten Brandon.
Beatrice mengangguk lemah, dia bahkan menjulurkan tangannya meminta Roby menyambut.
"Terima kasih banyak. Kamu diambil Brandon sejak masih SMA dan menemani suamiku hingga dia menutup usia. Titip keluarga Cakra ya, Roby. Kamu bagai putraku yang hilang. Bawa aku pada wanita simpanan Brandon bila sudah di Indonesia kembali," pinta sang tetua.
Roby menyambut uluran tangan Beatrice yang lemah menggantung di udara. Suaranya sangat lirih sehingga membuat Roby iba.
Sosok angkuh itu kini luntur, berganti dengan pemandangan syahdu. Manusia akan menemui titik lemah sebagai mahluk, dan mungkin inilah awal mula perubahan Beatrice.
"Nona Malya bukan wanita simpanan, Nyonya. Anda akan tahu kebenarannya segera. Mohon jangan banyak memikirkan hal tidak penting, Anda sudah bagai keluarga keduaku. Banyak jasa tuan besar untuk sosok Roby. Saya pamit," kata Roby mengecup punggung tangan wanita renta di atas pembaringan.
Beatrice melepas kepergian asisten yang dia lihat secara intim beberapa hari ini. Lelaki muda pilihan Brandon ternyata sosok hangat pada cucu dan cicitnya.
Banyak hal yang Beatrice dapat semenjak dia sakit, menyadari kesalahan pada Anne hingga mulai mendengarkan Bian.
Pintu kamar perawatan VIP pun menutup rapat kembali setelah Roby keluar ruangan. Meeza pun kembali tertidur setelah Bian memeluknya.
"Bi, mungkin waktuku tak lama lagi. Aku ingin ketemu dengan Maria," ujar Beatrice tiba-tiba setelah kepergian Roby.
__ADS_1
"Jangan berpikir aneh-aneh, Nek. Pasti sembuh dan sehat lagi kok. Maria akan menikah dengan Andreas pekan depan, Nek. Ingin hadir ke sana atau mengundang mereka ke sini?" tawar Bian, seraya berusaha menghubungi Malya.
"Apa?" ucapnya terkejut.
Biantara menuju ke sisi brangkar Beatrice, tepat saat panggilan video call ya tersambung.
"Assalamualaikum, Sayang. Eh, kenapa tampilannya langit-langit kamar?" protes Bian kala layar gawai tak menangkap wajah Malya.
"Wa 'alaikumsalam. Sayang, Sayang. Basi! ada apa? Zaza rewel?" balas Malya ketus seperti biasa jika bukan Meeza yang mengawali.
Bian terkekeh, merasa kian akrab dengan suara kesal Malya yang tak pernah dia dengar dulu.
"Galak amat. Nenek mau bicara denganmu, aku janji gak akan lihat. Kamu masih belum fit ya? makan dong Al, nanti maag kambuh parah, aku gak ada di sana, repot," ujar Bian lagi mencoba merayu.
"Gak ngaruh, ada atau tidak. Namanya mantan, gak penting," ketus Malya. "Nenek? yakin mau bicara denganku? kamu gak lagi ngelantur kan, Mas?" kata Malya, masih bergelung di bawah selimut sebab dia belum fit benar.
"Enggak, serius. Aku alihkan ke beliau, ya. Al, Malya?" panggil Bian berkali.
Bruk. Glatrak.
"MALYA! Kamu kenapa? AL!" seru Bian, panik sebab mendengar suara bedebum di sertai ponsel yang jatuh sehingga tak nampak apapun di layar.
"Al, Malya? siapa dia, wanita simpanan kakekmu? kan aku mau bicara dengan Maria," lirih Beatrice, menatap tajam pada cucunya.
"Al!" sebut Bian tak putus.
"Ehm, maaf Mas. Aku jatuh kesrimpet selimut. Bentar aku cuci muka dulu," suara Malya terdengar serak, menahan tawa.
Hening.
"Al, kamu gak apa? Al, Malya, please jawab dulu," desak Bian tak sabar.
"Ehm. Gak apa, bentar ya, lima menit. Aku gak mau beliau melihat si cucu mantu pemalas bin benalunya kian berantakan. Bisa makan siang pake menu tausiah nanti. Indonesia makin panas," sindir Malya. Tak mengira jika Bian meloudspeaker panggilan.
Biantara tertawa renyah, dia melirik ke arah Beatrice yang mengerucutkan bibirnya mendapat sindiran Malya.
Di London, cuaca pagi itu tidak terlalu ekstrim, sebab sudah mulai masuk musim gugur, Beatrice bahkan ingin melihat daun maple warna warni berguguran jika dia telah lebih baik.
Lima menit kemudian.
"Bismillah, silakan, Mas, aku sudah pakai baju besi," kekeh Malya lirih.
__ADS_1
Bian tak surut tersenyum, merasa mendapat jackpot pagi ini sebab ocehan konyol Malya. Jika di depan Meeza dia akan sangat lembut maka sebaliknya apabila hanya Bian yang mencoba melakukan panggilan. Tak jarang, ketika saluran baru tersambung, Malya akan memutus hubungan via udara itu tiba-tiba, jika dia merasa Bian hanya mengutarakan hal tak penting.
"Nek, silakan bicara pada Malya Syakia, istriku," ujar Bian sembari membalik ponselnya ke arah tetua.
"Mantan, Mas, mantan," tegas Malya bersikukuh di seberang sana.
"Malya? a-apa?" lirih Beatrice, wajahnya terlihat shock.
Saat layar telah menampilkan wajah sesepuh Cakrawala, Malya kembali ke mode kalem.
"Assalamualaikum, Nyonya besar. Apa kabar," kata Malya di seberang.
Beatrice hanya menatap lekat wajah wanita di layar gawai. Seakan tengah memperhatikan sesuatu.
"Kamu siapa?" tanya Beatrice ingin mendengar kebenaran.
"Aku ibu kandung Meeza, mantan istri cucu Anda," jawab Malya lugas.
"Bian memanggilmu Malya. Apa itu namamu?" desak Beatrice lagi.
Malya terdiam sesaat, dia bingung menjawab apa meski daritadi mendengar Bian memanggilnya memakai nama asli.
"Benar. Ternyata itu namamu. Jadi kamu, Malya? apa tujuan kamu masuk ke keluarga Cakra, untuk menipu kami dan mendapatkan harta. Kamu tidak dapat menarik perhatian Bian lantas menyasar suamiku, dan menjadi simpanannya. Pantas Bian menceraikanmu dulu," cecar Beatrice.
"Aku tidak menipu Anda juga bukan simpanan tetua Cakra," ujar Malya balik menatap tajam Beatrice. Wanita ini bukan siapa-siapanya lagi, Malya kini akan melawan bilamana Beatrice masih menindasnya.
"Bukti sudah jelas!" tegas Beatrice meski suaranya lirih.
"Tanyakan pada Mas Bian, silakan. Aku rasa, ini bukan waktuku untuk menjelaskan, selamat siang, assalamualaikum." Malya memutus panggilan. Biarkan Bian yang menjabarkan duduk perkaranya.
"Heh! gak sopan!" seru Beatrice. Dia lalu melempar ponsel Bian ke sembarang arah.
"Nek!" sebut Bian lirih. Dia telah siap membuka tabir sebab dia memiliki setumpuk rencana.
"Jelaskan!" tuntut Beatrice pada cucunya.
.
.
..._________________...
__ADS_1
Uncle Byby