
"Dia, seseorang yang mirip bunda. Dulu, wanita tadi adalah sahabat dekat daddy sebelum akhirnya menikah dengan bunda dan lahirlah kamu," jujur Bian. Menyembunyikan identitas Maria hanya mengundang petaka untuk hubungannya dengan Meeza.
Gadis kecil itu nampak mencerna kalimat sang ayah. Matanya mengerjap beberapa kali dan masih menatap lekat pria idola disampingnya.
"Ehm," gumam Meeza.
"Dia ingin dekat dengan Meeza sebab wajahnya mirip bunda. Karena bunda kan jauh dari kita berdua," kata Bian menyederhanakan Kalimat.
"Aku gak mau. Dia bukan bunda tapi mengapa ingin menjadi seperti bunda? mencontek itu tidak baik kan, Daddy?" sahut putri sulung Bian.
Duda anak satu itu tertawa atas kalimat bocah ayu ini. Bian tak mengira respon Meeza demikian terbuka.
"Bukan mencontek. Dia hanya ingin Meeza dapat menebak atau tidak, mana bunda asli dan palsu," kekeh Bian menjelaskan kembali.
"Bisa dong! Bunda tahu, aku gak suka paprika dan onion, tidak doyan cream sup juga coke. Lalu, bunda selalu membaca doa bersamaku, menyuapiku, ah, banyak deh. Kalau aku cerita, nanti Daddy nyontek," balas Meeza mengerucutkan bibirnya.
Tawa Bian kembali mengudara, memenuhi isi kabin mobil mereka. Meeza tak mudah di tipu, kebiasaan Malya melekat kuat dalam kesehariannya. Terlebih mereka sangat intim di pekan terakhir.
Sementara Maria, memesan semua menu yang putrinya tak suka. Wajar, jika Meeza dengan mudah mengenali sosoknya.
"Iya iya, Meeza cerdas. Anak bunda sih ya," ujar Bian mengusap kepala putrinya sayang.
"Hmm, anak bunda dan uncle dan Daddy," sebut Meeza tanpa sadar. Dia merasa sangat nyaman dengan Roby yang di nilai lebih tahu keinginannya dibandingkan Bian.
"Uncle siapa?" tanya Bian curiga.
"Uncle Byby, dia manggil aku Zaza. Jadi aku panggil beliau Byby," tawa lepas Meeza terdengar pertama kalinya oleh Bian.
"Byby? Roby?" selidik Bian lagi.
Meeza mengangguk cepat, lalu dia menceritakan keseruan saat bermain di wahana dengannya.
Hatinya menggeram, Roby bahkan menarik perhatian Meeza demikian mudah. Lelaki itu patut di perhitungkan. Alih-alih alasan menjaga Malya, dia mulai merambah mengambil hati kedua kesayangannya.
"Aku punya Daddy, dan Byby. Love both of you, especially Daddy," kata Meeza, menarik wajah ayahnya lalu membubuhkan banyak kecupan basah di pipi.
"Kamu kayak siapa sih, pinter banget ngerayu. Just uncle, not Byby apalagi gantiin daddy," kata Bian, mencoba mengingatkan Meeza akan posisi Roby.
__ADS_1
"Daddy is you. My Daddy. He is my Byby too," jelas Meeza, semangat.
"What do you mean too?" desak Bian.
Meeza melihat ke dalam iris mata gelap sang ayah. Menerka bahwa pria ini tidak suka dengan sebutan untuk asisten kakeknya itu.
"Just Byby." Senyum manis Meeza kembali mengaburkan emosi Bian yang mulai tersulut.
Obrolan keseruan mereka akhirnya berakhir kala mobil memasuki pelataran Mansion. Tampak di teras, Beatrice telah menunggu kedatangan mereka.
Pasangan ayah dan anak turun dari mobil lalu menghampiri tetua.
"Ikut ke ruang kerja. Kita bicara," ujar Beatrice tak menunggu meski untuk sekedar menyapa.
"Baik, Nek."
Bian dan Meeza mengikuti tetua sembari saling pandang.
Sesampainya di ruang kerja, Beatrice langsung menyampaikan keinginannya. Wanita paruh baya, duduk di kursi kebesaran siap menginterogasi cucu dan cicitnya.
"Kau ingin rujuk dengan Maria?" tanya Beatrice untuk cucunya.
"Kamu tahu siapa wanita yang bernama Malya?" tanya nyonya besar Cakra lagi.
Deg!
Meeza yang masih ada di pangkuan Bian, menengadahkan wajah berharap ayahnya menoleh.
"Tahu ya ternyata," ujar sang nenek lagi.
"Aku tahu, tapi tidak mengenal dengan baik. Akhir-akhir ini justru mataku baru terbuka akan sosok dia sebenarnya. Mengapa nenek tanyakan hal ini?" ucap Bian, penasaran anggapan apa yang akan dilontarkan kali ini.
"Dia selingkuhan kakekmu. Wanita ini membeli saham Cakra, memiliki aset juga sejumlah tabungan uang meski hingga saat ini orangku bilang dia tak pernah menggunakan fasilitas yang Brandon beri. Antar aku padanya," ungkap tetua.
"Oma, Malya itu kan...." Meeza mencoba bicara.
"Itu kan, apa, Meeza?" tanya Beatrice melihat cicitnya seakan paham sesuatu.
__ADS_1
Bian terkejut, apakah Meeza telah mengetahui nama asli ibunya. Dia buru-buru mengalihkan percakapan. "Bagaimana mungkin nenek bisa menuduhnya demikian? dia tak seperti sangkaan nenek. Aku jamin," kata Bian tegas.
"Semua berusaha menutupi dariku ya?" keluh Beatrice. Dia menghela nafas berat.
"Nanti nenek akan tahu kebenarannya. Bila saat itu tiba, aku mohon padamu, Nek. Terima dia apa adanya, jangan usik kehidupannya lagi," pinta duda beranak satu.
Sepuh Cakrawala menyimpulkan, antara Bian dan Brandon pasti telah terjadi kesepakatan tanpa dia ketahui. Rasa sakit di tulang belakang yang kina hari makin parah, membuat Beatrice menangguhkan kekepoan menyelidiki Malya lebih jauh.
"Aku akan ke Inggris bulan depan. Semua persiapan pengobatan, surat jalan, visa, tempat tinggal telah disiapkan oleh Roby. Meeza akan menyusul ke sana dua bulan setelahnya. Di sini bocah itu hanya akan masuk sekolah usia dini. Sedangkan di sana, semuanya lebih tertata," beber Beatrice panjang.
"Enggak. Aku kurang setuju dengan pendapat nenek. Meeza masih terlalu kecil, dia tidak akan dapat berpisah dari ibunya," cegah Bian, sementara Meeza terlihat murung.
"Dia kan telah terbiasa jauh dari Maria. Ada maid, Sari akan ikut. Dia tinggal di asrama, akan pulang setiap jumat. Ini keputusan terbaik bagi Meeza, kau bisa sesekali berkunjung. Lagipula ini hanya sampai aku sembuh dan sehat."
"Meeza mau?" tanya Bian pada putrinya. "Nanti daddy setiap dua pekan akan berkunjung jika kamu libur," ujar Bian menjelaskan.
"Harus mau. Agar tak jadi wanita urakan macam ibunya," sergah Beatrice.
Meeza ingin menghapus anggapan buruk sang buyut tentang Malya. Meski dia akan berat berpisah, tapi demi ibunya, Meeza ingin melakukan lebih.
"Oke Daddy, Meeza sayang bunda. Oma, bunda Meeza baik, jangan lagi berkata buruk tentang bunda. Meeza nurut sama Oma," cicit sang bocah memeluk ayahnya.
Biantara takjub, putrinya bahkan bersedia berkorban demi Malya agar di terima oleh Beatrice. "Meeza janji ketika kembali ke sini. Akan berprilaku baik sebab bunda Meeza sangat baik," imbuh sang bocah. Dia mulai menangis dalam pelukan Bian.
"Nek, kasihanilah Meeza. Jangan pisahkan dengan ibunya," cegah Bian. "Aku akan mengawasi sikap Maria, takkan memberi dampak buruk untuk Meeza," bujuknya lagi.
"Anakmu itu cerdas, Bian. Jangan siakan masa emasnya. Ketika Meeza masuk usia sekolah di sini, mental dia telah siap dan matang sebagai seorang pebisnis," pungkas tetua Cakra.
Beatrice kemudian bangkit, berlalu meninggalkan dua orang yang masih duduk di dalam ruangan.
"Kita sampaikan ke bunda ya," ajak Bian. Meeza hanya mengangguk, dia teramat sedih.
"Bukan salah bunda, kan, Daddy?"
.
.
__ADS_1
..._________________...
......ðŸ˜......