BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 26. MENEMUI MASA LALU


__ADS_3

Biantara Cakra menemani Meeza kala akan melepas putrinya dengan Roby, si asisten pribadi Brandon. Pria muda pendiam itu masih di pekerjakan oleh Beatrice sebab kinerjanya yang rapi juga kesetiaan diri kuat terpatri.


"Bye Bulan, hati-hati," pesan sang ayah kala memberi kecupan di pipi Meeza.


"Bye daddy, aku akan bertemu bunda. Ayo, uncle By, kita ke bunda," rengek Meeza menarik jemari pria disampingnya.


"Sebentar ya, Sayang. Daddy punya sesuatu untuk bunda," jawab sang asisten pada nona kecil yang telah memeluk salah satu kakinya.


Mereka berdua pun, berdiri menjauh dari Meeza.


"Sampaikan salam ku untuk Maria. Dia harus menjaga diri sebab aku tak ingin reputasi menantu Cakra tercoreng gegara sikap yang tidak hati-hati," tegas Bian menyiratkan sesuatu.


"Jangan kuatir, tuan muda. Beliau sangat tahu bagaimana cara memuliakan dirinya. Tanpa aturan dari kita pun, nyonya sangat menjaga perilaku," balas sang asisten Brandon.


Biantara merasa tak suka, ternyata kakeknya menitipkan Malya pada sang kepercayaan. Terbersit dalam hati Bian apakah Roby telah mengetahui identitas asli Malya. Namun, jika di tilik dari riwayat kinerja pemuda itu di sisi Brandon, tampak mustahil jika mereka tak peka akan semua ini.


"Kau sudah tahu ya, siapa dia?" tanya Bian memastikan.


"Tuan besar amat menyayangi nyonya. Tentu mendiang tetua Anda tak mungkin menaruh suka dan kasih pada orang yang salah. Saya permisi, nyonya muda telah menunggu," ucap Roby membungkukkan badan, berbalik menuju nona kecil.


"Come on, my Baby. Kita ketemu bunda," ajak Roby pada Meeza, dia menggendong balita cantik itu dan membubuhkan kecupan di pipinya.


Bian kian tak suka melihat cara Roby memperlakukan Meeza, dia cemburu.


"Roby, dia putriku," seru Biantara kala pria dengan setelan formal masuk ke dalam mobilku.


"Dan dia juga bagai putriku," gumam Roby seraya menekan pedal gas perlahan meninggalkan halaman mansion.


Beberapa menit setelahnya. Keduanya tiba di Greenland paradise.


Meeza kian antusias kala Roby menekan angka pada panel kunci apartemen Malya. "Silakan, Sayang. Selamat bersenang-senang dengan bunda. Ki-ss uncle please," kata Roby, menyilakan Meeza masuk dan membungkuk meminta imbalan.


"Thanks uncle," balas Meeza, mengecup pipi Roby dan tersenyum manis.


Dia tahu, Malya telah menunggu di balik pintu. Roby sengaja tak masuk dan memilih menunggu di unitnya sembari mengerjakan bisnis sampingan yang dia rintis.


Meeza menarik koper kecil masuk ke dalam hunian. Netra bulat itu melihat sekilas ke sekeliling, suasana sunyi seketika berubah riuh kala gadis kecil menemukan sosok bundanya telah berjongkok setara, merentang tangan bersiap menyambut.

__ADS_1


Mata Meeza mulai berkaca-kaca, dia kesulitan membuka sepatu sehingga tangisnya pecah.


"Bundaaaaaaaaaa!" seru Meeza membuat Malya bergegas menghampiri.


"Ya ampun, Sayang. Sabar," ucap Malya memeluk sang putri sejenak dan membantu melepas ikatan sepatunya.


Grep.


"Aku kangen bunda. Kangen bunda," tangis Meeza di ceruk leher ibunya. Kedua lengan pun melingkar hingga ke belakang hijab.


Malya hanya mendekap erat, tak menimpali, dia pun sibuk mengatur derai air mata bahkan nada suara yang enggan keluar.


Beberapa menit di lewati dengan tangisan Meeza sebagai pengiring. Usapan lembut keduanya di punggung masing-masing kian menambah trenyuh.


"Meeza bawa apa?" tanya Malya mengurai pelukan. Menyeka bulir bening yang membasahi wajah mungil.


Gadis kecil itu masih enggan. Dia tetap menggelayut dalam pelukan Malya. "Itu, lukisan aku untuk bunda," lirihnya.


"Ini cucu nenek?" suara Mardiah, beliau datang ke ruang tengah dengan mendorong kursi roda Haji Syakur.


"Ayo, kenalan dengan nenek dan kakek Meeza yang lain. Beliau orang tua bunda," ajak Malya menghampiri kedua sepuh.


Meeza memberi salam seperti biasa kala bertemu orang asing. Malya tak ingin anaknya kurang adab dalam menghormati orang tua sehingga mengajarkan Meeza cara salim yang baik.


"Sayang, cium tangan itu sambil menempelkan punggung tangan beliau hingga menyenyuh hidung dan dahi. Lalu Meeza raih, balik dan cium telapak tangannya juga. Itu tanda memuliakan orang tua dan Allah suka dengan anak yang demikian," tutur Malya mencontohkan pada telapak tangannya.


Meeza berbinar, mengangguk cepat lalu mengulangi apa yang Malya tunjukkan. " Aku anak bunda, kan?" girangnya setelah berhasil mengamalkan ajaran ibunya.


"Cantik sekali. Mirip papa Bian ya, Al," kata Mardiah, seketika lengannya ditepuk Haji Syakur.


"Wong anaknya kok, ya pasti mirip. Saking pengen di akui ya, Meeza," kekeh Malya mengajak putrinya membuka kotak hadiah.


"Daddy miss you, Bunda," kata Meeza membuat Malya terdiam sesaat. Hatinya mengapa masih berdebar kala sang putri menyebut namanya.


Binar mata gadis cilik terpancar kala melihat boneka baru pengganti Minnie yang hilang. Malya lalu mengajak putrinya duduk di balkon menikmati bunga.


Keseruan ibu dan anak berlangsung heboh hingga Malya mengajak Meeza ke kamarnya, memeluk erat dan menghidu wangi bocah ayu.

__ADS_1


...***...


Biantara menyiapkan keberangkatan menuju Bandung, tempat dimana Maria tinggal. Wanita itu menghubungi pimpinan Cakrawala beberapa waktu lalu, menanyakan apakah benar bahwa dia telah menikah dengan seseorang yang mirip dengannya.


Siang ini, Biantara berusaha memastikan bahwa pengirim pesan beberapa hari lalu adalah benar kekasih yang hilang.


"Halo, Maria?" suara Bian, meragu.


"Iya, ini aku. Bian, kenapa kau tak mencariku? malah menikahi dia?" tangis Maria pecah membuat lelaki di ujung sana gelisah.


"Aku mencarimu kemana-mana tapi selalu nihil. Kamu bersembunyi dimana, Maria?" sahut Bian tak ingin di salahkan.


"Los angeles. Aku kehilangan sebagian memori tapi bayang wajahmu selalu melintas hingga dokter menyimpulkan bahwa aku harus kembali untuk memicu agar kenangan lama itu utuh lagi," ujar Maria dengan nada sendu.


"Aku akan ke sana. Siapa yang menolongmu kala itu, Maria?" desak Bian, penasaran sosok dibalik menghilangnya sang tunangan.


"Kita bicarakan saat bertemu nanti. Aku di vila keluarga Sawyer," imbuhnya sebelum panggilan itu berakhir.


Biantara merenung, apa yang akan dilakukan olehnya jika Maria ingin kembali ke sisi. Apakah mengubahnya menjadi Malya, dengan meminta wanita seksi itu berhijab ataukah membuka tabir pada Beatrice tentang semua ini.


Sementara di Bandung.


Pasangan Valencia saling diam. Andreas terkecoh, dia mengira ingatan Maria tidak kembali secepat ini. Wanita yang telah sepenuhnya pulih itu berhasil membongkar kebohongan bahwa pangeran Valencia tidak menikahinya, menggunakan bantuan orang terdekat.


Suka tak suka, dia pun menawarkan sesuatu pada Maria agar rencananya tetap berjalan.


"Bawa aku lebih dekat ke Beatrice. Jadikan aku mimpi buruk bagi wanita tua itu," tegas Andreas sebelum pergi.


"Bian milikku. Jangan kau sakiti dia," tegas Maria.


"Ck, ambil saja lelaki plin plan itu untukmu. Aku justru penasaran dengan sosok Malya. Apa dia kembaranmu?" selidik Andreas menatap tajam manik mata coklat terang di hadapannya.


.


.


..._________________...

__ADS_1


__ADS_2