
Kepergian tuan muda Cakra tak luput dari pandangan sang asisten yang masih setia berdiri di teras depan.
Suara Lilis memecah konsentrasi dirinya manakala tetua Beatrice memanggil ke ruang kerja.
"Pak Roby, dipanggil nyonya besar di ruang kerja mendiang tuan Brandon," ujar asisten dan kepala rumah tangga di Mansion Cakra.
"Baik." Roby mengangguk, mengangkat langkah menuju ruangan saksi bisu terbongkarnya identitas Malya.
Setelah di dalam ruangan.
Lilis meninggalkan mereka berdua di sana. Dia menungggu dan menjaga sepuh Cakra dari balik pintu.
"Roby, Brandon menitipkan apa padamu? apakah perusahaan atau lainnya?" tanya Beatrice.
"Untuk urusan perusahaan hanya sebatas melanjutkan hubungan baik sesama kolega dan memantau para pemegang saham. Juga mengaudit beberapa usaha beliau yang auto-pilot," tutur sang asisten.
"Selain perusahaan? apakah ada yang dia titipkan padamu?" tanya wanita sepuh yang duduk membelakanginya.
Brandon tidak mengisyaratkan tentang Beatrice sebab beliau yakin bahwa istrinya bisa menjaga diri terlebih dengan kekuasaan yang mereka bangun.
"Anda harus tetap sehat. Saya di minta memperhatikan asupan nutrisi dan membantu bilamana keluarga Cakra kesulitan di kemudian hari, Nyonya," jawab Roby menutupi kekurangan-kekurangan Brandon.
"Dia amat menyayangi Maria, padahal sebelumnya tidak. Aku curiga mereka terlibat affair. Brandon memang menyukai muslimah apalagi wanita itu mantan binal tentu lebih ahli merayu daripada aku. Tubuh seksi Maria juga masih bisa memenuhi kebutuhan dua pria," lirih tetua Beatrice.
Degh. Roby terhenyak.
Pemikiran kotor darimana, tuan besar malah tak pernah bertatap muka secara langsung. Selalu ada pihak ketiga saat akan berbicara dengan Malya.
"Nyonya, praduga Anda tidak mendasar, maaf. Saya amat tahu keseharian tuan besar. Tidak pernah menyambangi atau menjalin hubungan dengan cucu menantu Anda," sanggah Roby. Mual rasanya mendengar Malya di hina seperti ini.
Mendongakkan wajah saja sangat jarang, berpapasan dengan lawan jenis pun dia akan memilih berbalik arah. Bagaimana bisa menjalin hubungan antar mertua dan menantu.
"Kau juga menyukai wanita itu," tuduh Beatrice masih belum berbalik.
Roby hanya diam. Dia bingung ingin menjawab apa. Malya yang dia suka, di kira Maria dalam benak sang tetua.
"Siapa Malya Syakia? dia memiliki saham lima persen baru-baru ini. Mengapa aku tidak tahu tentang urusan perusahaan akhir-akhir ini, Roby, kamu tidak sedang membangun kekuatan untuk melawan Cakra, kan?" tuduh wanita sepuh, kian tajam menghunus kalimat pada asisten suaminya.
__ADS_1
"Beliau membeli saham sebelum tuan besar mangkat, nyonya. Saya yang mengurus langsung urusan tersebut. Data beliau bersih dan valid."
"Saya di besarkan oleh tuan besar. Kacang lupa pada kulitnya itu tidak berlaku bagi saya, kiranya nyonya dapat menilik kisah lampau bagaimana peranan saya di keluarga Cakra," tegas Roby membela diri.
Tak ada lagi sanggahan dari mulut Beatrice, dia meminta sekretaris pribadinya, Ayana menunjukkan sesuatu.
"Brandon membelikan sebuah apartemen dan mobil juga menaruh banyak uang di sebuah rekening atas nama Malya Syakia. Apakah dia istri siri suamiku?" cecar Beatrice.
Ayana menyodorkan file di atas meja. Brandon sengaja tak menyembunyikan semua data pembelian aset bagi Malya. Agar Beatrice sadar bahwa kedua orang itu berbeda.
Alasan tuan besar menyayangi Malya pun mendasar. Kejadian akhir yang membuat Brandon jatuh sakit adalah sebab Beatrice menuduhnya berselingkuh dengan wanita yang dia duga Maria.
Roby di larang membeberkan identitas Malya sebelum Bian yang membongkarnya sendiri. Cukup beralasan sebab apabila di ungkap oleh Roby, maka tuntutan untuk Malya sebagai perayu, penggoda, penipu untuk mendapatkan harta kian kuat dilayangkan.
Biarlah sementara Malya di tuduh sebagai selingkuhan Brandon. Hal itu akan dipatahkan oleh cucu emasnya nanti.
"Kenapa kau diam, benar begitu?" desak Beatrice lagi.
"Tidak. Tuduhan Anda tidak mendasar. Jika tuan besar affair maka sepatutnya tuan muda tahu, Nyonya," sanggah Roby berusaha menjaga rahasia.
Beatrice membalikkan kursi menghadap asisten suaminya. "Baik. Akan aku tanyakan pada Bian setelah dia kembali," ujarnya lagi seraya bangkit dari takhta kebesaran.
"Juga Maria. Jangan sampai mantan istri Bian membuat ulah memalukan. Jika tertangkap basah, maka Meeza tak akan ku izinkan menemuinya lagi," tandas sang wanita angkuh.
Roby mengangguk seraya menunduk kala sesepuh Cakrawala beranjak meninggalkan ruangan. Sikap dingin Beatrice yang seperti ini lebih mengerikan di banding jika emosinya meluap.
Roby pun kemudian meninggalkan kediaman Cakrawala, kembali menuju unit miliknya.
"Malya memang di titipkan padaku. Mereka orang yang sama, aku tak bisa menebak ekspresi nyonya Beatrice kala mengetahui semua ini. Tuan besar, dugaan anda tepat," gumam Roby kala mulai memasuki jalan raya.
...***...
Keesokan pagi. Bandung.
Biantara Cakra telah tiba di kota ini sejak menjelang subuh. Kini dia tengah bersiap mengunjungi Vila Sawyer untuk bertemu Maria.
Perjalanan satu jam menggunakan mobil sewaan hotel akhirnya berhasil dia tempuh. Bangunan putih menjulang di atas bukit menjadi saksi kegagalan malam panas mereka pertama kali.
__ADS_1
"Hampir saja lepas kendali gara-gara hujan," kekeh Bian mengenang peristiwa kelam nan intim.
Pria dengan outfit casual, celana denim dan kemeja senada, rambut tertata dengan pomade, membuat Bian memesona pagi itu.
"Selamat datang, tuan muda. Nona sudah menunggu di teras samping," kata maid yang menghampiri kala Bian turun dari mobilnya.
Lelaki tegap pun masuk ke hunian melewati banyak ruang hingga tiba di tempat wanitanya menanti.
"Maria?" sebutnya untuk wanita seksi yang masih mengenakan gaun tidur.
Maria menoleh ke arah suara yang dia rindu. "Bian!" sambutnya berlari kecil menyongsong tubuh tegap di ambang pintu.
Grep. Benturan kedua tubuh pun bertemu.
Sejenak Biantara bingung dengan perasaan yang hadir. Dia tak merasakan sensasi apapun.
"Maria. Jangan begini," kata Bian, melerai pelukan.
"Gak mau. Kamu kangen aku kan?" rengeknya masih memeluk erat.
"Aku suami Malya," cicit Bian lagi. Dia tak membalas pelukan Maria. Kedua tangannya menggantung di udara.
"Bukankah sudah cerai?" cecar Maria, dia terkejut atas pengakuan Bian. Andreas mengatakan bahwa Malya meninggalkan pewaris Cakra lebih dari satu bulan yang lalu.
Degh.
"Eh, iya ya. Aku sudah berpisah dengannya," lirih Bian, memilih duduk berseberangan dengan Maria.
"Kamu kenapa sih? banyak berubah, biasanya langsung mesra denganku," kesal Maria Sawyer melihat Bian menahan diri.
"Aku ngerasa gak pantas aja. Kan baru lepas masa duda meski pria tak memiliki Iddah cuma gimana ya, khawatir kena sangsi sosial," jelas Bian sekenanya, tiba-tiba teringat Malya. Dengan istri sah saja dia menjaga jarak.
"Sejak kapan seorang Biantara memikirkan anggapan orang lain? kamu terasa berbeda. Sayang, apa kau kecewa aku kembali?" cecar Maria, sembari menopang kaki, memperlihatkan paha mulus tanpa cela.
"Ehm, aku...."
.
__ADS_1
.
...__________________...