
"Jika aku menolak?" balas Malya masih dari balik tabir.
"Coba saja, aku sudah tahu siapa kamu. Undangan telah tersebar, jika kau ingin membuat skandal dengan Cakrawala harusnya pikirkan sejak awal. Kalau kamu siap menjadi tersangka otak penipuan identitas, ayo, aku tunggu aksi heroikmu itu," jawab Biantara Cakra angkuh seraya berkacak pinggang.
"Ini bukan inginku! tidakkah kau cerdas menilai suatu peristiwa?" tuntut Malya masih menunduk.
"Oh ya? oke, kau bisa katakan pada pengacaramu untuk membicarakan ini. Ada bukti yang kau punya? sayangnya semua spekulasi menyorot kau sebagai pelakon, biasanya pemain dikendalikan seorang sutradara atau bahkan dirinya sendiri," cibir Bian menyudutkan Malya lagi.
"Aku tidak tahu apa-apa. Ketika sadar malah sudah ada di rumah sakit, bahkan tidak sempat melihat suamiku untuk terakhir kali" seru Malya menahan isak.
"Suamimu yang baru ada di depanmu, Sayang. Bukankah aku lebih tampan dan mapan? sesuai seleramu kan?" kekeh Bian, dia melenggang pergi meninggalkan Malya.
Wanita yang masih memegang tabir itu lalu menurunkan kedua tangan yang dia angkat tinggi. Lemas, sesak dan sakit. Malya kembali menangisi nasibnya.
Rara seketika datang, bertanya tentang apa yang dibicarakan dengan Bian tadi. Namun, Malya hanya menggeleng pelan. Bicara pada Rara sama saja bunuh diri.
"Aku harus menikah dengannya? lalu ayah bagaimana? beliau waliku," isak Malya, dia memegang dadanya yang sesak.
"Saya akan melaporkan tentang ini. Beliau akan membantu Anda, Nona," tegas Rara lalu dia bangkit entah kemana.
Karena sang calon pengantin tak jua kunjung hadir, Biantara meminta designer menyambangi kamarnya untuk bertemu Malya.
Dua jam berlalu, semua di lalui Malya dalam diam. Dia tak bernafsu memilih jenis gaun, pesannya hanya agar busana tersebut dibuat longgar dengan hijab panjang melewati pinggang.
Terdengar deru mesin mobil keluar dari halaman, menandakan lelaki itu telah meninggalkan rumah Maria. Tak lama, Sari masuk ke dalam kamar sang Nona dengan membawa sesuatu.
"Nona, ponsel ini diberikan oleh tuan Biantara untuk Anda. Pesannya satu, jangan sampai Rara melihat Anda memiliki ini," bisik Sari.
Malya hanya menanggapi dengan lirikan mata kala benda canggih itu diletakkan disampingnya. Setelah maid kepercayaan Maria pergi, dia membuka laci dan menyimpan ponsel tadi ke dalam laci meja nakas, berniat akan membukanya saat malam tiba nanti.
...***...
Tiada yang dapat dilakukan selain pasrah. Dua pekan dalam ketenangan digunakan Malya untuk beberapa kali menyelinap kabur. Bagai malam ini, dia mengendap saat semua penghuni tertidur, akan tetapi usahanya kembali sia-sia.
Saat wanita ayu itu berhasil keluar dari halaman depan. Dua orang asing tak dikenal menghadangnya. Meminta dia agar masuk ke hunian atau akan celaka.
__ADS_1
"Jika Anda cerdas, lebih baik kembali sebab apabila menolak, kami bersedia membawa pergi Anda ke suatu tempat agar kita dapat bersenang-senang, bagaimana?" kata salah satu pria yang mengenakan jaket hitam seraya menunjuk ke sebuah mobil yang berisi beberapa lelaki.
"Tuan muda mengatakan jika Anda tak kooperatif, maka kami boleh bersenang-senang dengan Anda," imbuh lelaki satu lagi menegaskan kalimat sang rekan.
Glek. Nyali Malya menciut, seandainya dia lari pasti akan tertangkap dan hal mengerikan mungkin akan terjadi.
Tiada pilihan, Malya berbalik badan kembali ke dalam. Saat dia baru membuka pintu depan, Rara telah menunggunya.
"Nona. Video rekaman ayah Anda," ujar Rara sambil menguap.
Malya menyambar gawai dari tangan Rara lalu berlari ke kamar, berniat memutar rekaman itu di sana. Tampak di layar kini, wajah senja sang ayah yang berlinang air mata.
Suara ibu terdengar bahagia meski dia tahu mengandung sesak tertahan kala mengucapkan barisan kata yang seakan telah tersusun rapi.
"Malya, kami bersyukur kamu masih hidup meski harus dalam pengasingan atau persembunyian. Jangan kuatir, ayah dan ibu hidup dengan layak di sini."
"Jika kamu ingin menikah kembali, maka ayah mengatakan memberikan restu akan tetapi tidak dapat hadir dan menjadi wali nikah sebab kondisinya tak memungkinkan." Suara ibu Malya mulai berat, parau dan terjeda, untuk menetralisir intonasi nada bicara.
"Semua dokumen sudah ayah tanda tangani, juga surat pernyataan melimpahkan perwalian pada wali hakim."
"Mal-yaaa, ibu gak menyalahkanmu, Nak. Kami gak ngerti apa yang terjadi. Ibu doa--"
"I-ibuuuu!" Malya kembali menangis. Teringat kedua orang tua, juga mertua yang pasti akan semakin salah paham.
"Mas!" Sebutnya untuk Sulaiman.
Sudah tidak dapat lagi mundur, bukan hanya dia, orang tua pun kini dalam ancaman. Pilihan terbaik adalah bertahan dengan Biantara sembari mencari celah bantuan hukum, masuk bui atau mati tapi tidak dengan jalan bunuh diri.
Wanita ayu menekuk lutut, mencurahkan segala rindu, sakit juga ketidakberdayaan di sana sebelum dia menggelar mihrab untuk mengadu oada Rabb-Nya.
...***...
Awal Juni, hari yang tak diinginkan oleh Malya pun tiba. Dia kini tengah menunggu status baru tersemat. Wanita ayu dalam balutan hijab itu duduk menunduk di sisi ranjang kamar hotel tempat berlangsungnya akad nikah.
Sari menangis haru akhirnya sang nona mudanya mendapatkan kepastian status hubungan yang selama ini dia tunggu.
__ADS_1
"Selamat ya Nona Maria sudah sah menjadi Nyonya muda Cakra," ujar Sari.
Tak lama kemudian, petugas catatan sipil mengetuk pintu kamar. Mereka masuk dibarengi dengan sang pengantin pria. Malya bergeming, tetap menganggap Bian tiada di sana.
Setelah semua dokumen selesai dan semua orang keluar dari sana, Biantara mengeluarkan ponselnya.
"Gunanya ponsel itu untuk saling komunikasi. Kenapa tak kau aktifkan handphone yang ku beri?" tanya Bian, dengan nada lembut.
Malya diam, air matanya menetes manakala dia teringat saat Sulaiman pertama kali melihatnya setelah akad. Mereka malu-malu dan saling menyambut dengan doa. Berbeda dengan keadaan saat ini.
"Ini. Lihatlah," Bian menyodorkan gawainya ke hadapan Malya.
Terpampang jelas, wajah ayah dan ibunya tersenyum bahagia meski lelehan air mata tercetak di sana.
"A-aayah, I-iibu," sebut Malya memanggil kedua orang tuanya.
"Sudah sah ya? tadi ayah lihat prosesinya dan ditanya petugas apakah tetap di wakilkan atau menikahkan sendiri. Nak Bian ke sini, meminta izin menikahimu sebagai bentuk tanggung jawab sebab telah membuatmu luka parah dan Sulaiman meninggal. Malya, ayah belum dapat bicara tapi kami berdoa untuk kalian," ujar ibu sembari melambaikan tangan dan memberikan isyarat ciuman jauh.
"Terima kasih, Bu," balas Bian yang kini duduk disebelah Malya.
"Ibu, Ibuuuu," seru Malya ketika panggilan streaming itu berakhir.
"Mereka memberikan restu. Tapi aku penasaran, siapa yang menekan kedua orang tuamu. Dulu sangat susah ditemui tetapi mengapa kemarin begitu mudah. Heh, Malya! katakan, siapa yang menyuruh kalian!" sentak Bian lagi.
Malya terhenyak. Sesaat pria ini terlihat lembut, dan seketika berubah menjadi kasar kembali.
"Aku sudah bilang, gak tahu!" seru Malya tak kalah lantang.
"Penipu!" tuduh Biantara.
"Kau, pembunuh suamiku!" ujar Malya, menatap tajam pria disampingnya.
"Aaaahhhhhh, lepaaasss!"
.
__ADS_1
.
...__________________...