
Malya menutup pintu apartemen kencang, lalu menyandarkan diri di sana. Sang ayah melihat putrinya malah diam mematung pun terheran.
"Al, kenapa? habis liat hantu?" kekeh Haji Syakur, membuat Malya terkejut.
"Eh, ehm, Yah ... aku barusan tadi ngobrol dengan Roby di bawah," ujar Malya sembari melepas sepatunya.
"Lalu?" tanya sang ayah lagi, saat bunda Meeza mendekat lalu salim dan duduk di samping kursi roda beliau.
"Aku menolaknya. Kan Ayah bilang padaku agar mengutarakan alasan langsung. Yah, aku salah, kah?" ucap Malya menunduk.
"Jika hatimu tidak merasakan apapun terhadapnya, maka keputusanmu benar, Al. Roby pria saleh, in sya Allah dia akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kesalehannya. Sana, istirahat," balas Haji Syakur, membelai kepala putrinya lembut.
Malya bangkit, melangkah masuk ke dalam kamar. Saat meletakkan tas, dia melihat dua buah undangan di atas meja.
"Syukuran kelahiran putra Sheraz Qadri. Siapa dia? eh, ini satu lagi apa, kepada yang terhormat Nyonya Sya. Pengajian dan siraman, Alfred Riedl. Oh, iya, owner kantor pengacara aku yang mengurus semua dokumen legalitas," ucap Malya bermonolog membaca dua undangan.
Baru saja meletakkan dua benda tadi, ponsel Malya berbunyi.
"Assalamualaikum."
"Wa 'alaikumsalam, Al, kamu sudah terima undangan dari Chris? aku mau minta tolong boleh?" suara Bian di ujung sana.
"Apa, Mas? di sini ada dua invitation, satunya dari kantor pengacara aku dan yang warna hijau tua emas ini entah siapa," jelas Malya menyebut sesuatu yang Bian maksud
"Nah, yang hijau emas itu milikku. Aku kan sudah di Inggris saat acara beliau di gelar. Tolong wakilkan ya, Sheraz adalah seseorang yang sangat berarti di circle aku saat ini," kata Bian menjelaskan keinginannya.
"Loh, aku gak kenal siapapun di sana. Nanti kudu gimana kan gak ngerti juga," elak Malya sedikit enggan.
"Please ya, Al. Aku sudah bilang bahwa akan di wakilkan istriku. Sajani adalah pemilik Raj Bun's. Pastry yang biasa kamu makan itu, loh. Pasangan Qadri juga pribadi yang ramah," kekeh Bian.
"Dih, Mas, kebiasaan! aku bukan istrimu lagi ... eh, punya beliau? tapi lihat nanti ya, kalau jadwal aku gak padat," kilah Malya seraya melepaskan hijab dan duduk di sisi ranjang.
"Ck, kamu itu tetap bakal jadi istriku lah ... alasannya gak logis, masa weekend kerja. Sayang, please. Nanti Roby menemani sebab dia pun mengenal baik beliau," terang Bian lagi.
"Kalaupun iya, aku pergi dengan Camai, bukan sama dia," tegas Malya. Dia akan canggung menghadapi asisten Brandon itu untuk sementara waktu.
"Iya, aku percaya. Thanks, Al. Jangan lupa, semua di pakai ya," ujar Bian menutup panggilan.
"Apa lagi? semua dipakai?" gumam Malya, bangkit, meninggalkan ponsel di atas ranjang lalu membersihkan diri.
Beberapa menit selanjutnya. Menjelang salat Maghrib, pintu kamar Malya di ketuk Mardiah.
"Al, ada paket buat kamu," kata sang ibu dari balik pintu.
"Masuk, Bu." Malya tengah mengeringkan rambutnya.
"Kiriman dari Nak Bian. Katanya untuk acara kamu pekan depan. Kumplit banget ya, dari atas sampai bawah plus aksesoris juga isi dompet," kekeh Mardiah membawa banyak goodie bag ke dalam kamar Malya.
Bunda Meeza membelalakan matanya. Dia penasaran saat sang ibu meletakkan tumpukan barang di lantai. Malya lalu membuka satu per satu tas belanja dengan ikon merk ternama.
"Astaghfirullah. Hijab, pin, parfum, gamis, kaos kaki, inner pant dan ciput, jam tangan, clutch, sepatu, juga uang cash? bahkan underware, yang benar saja," sebut Malya atas pemberian Bian.
Mardiah tertawa renyah, mantan menantunya mulai berani memanjakan Malya secara terang-terangan. Semua barang ini bagai seserahan.
Sejak saat itu, Bian tak lagi menghubungi mantan istrinya. Hingga menjelang jam keberangkatan, daddy Meeza, baru menelepon Malya kembali.
"Sudah siap, Al? membangun kolega untuk kita?" tanya Bian mengisyaratkan sesuatu pada Malya.
"Kolega untuk kita, maksudnya? ... ehm, ini mau jalan," jawab Malya seraya membuka pintu.
"Ya Allah, cantiknya anak ibu. Kamu kayak nyonya muda yang di tipi, Al. Aduh, elegan sekali," kata Mardiah, suaranya nyaring hingga masuk ke ponsel Malya.
Bian mendengar ucapan ibu mertuanya, dia pun mengulas senyum. Membayangkan betapa ayunya Malya saat ini.
__ADS_1
"Foto dong, Al," bisik Bian di telepon tapi tak Malya gubris.
"Assalamualaikum, nanti terlambat," balas Malya menutup panggilan sepihak.
Bunda Meeza mengabaikan pujian ibunya, dia bergegas keluar unit apartemen ketika Mardiah akan meraih ponsel untuk mengabadikan momen.
Saat baru melangkah beberapa meter, Malya tahu Roby ada di belakangnya. Dia pun menepi agar pria itu dapat berjalan sejajar menuju lift.
Tak ada sapaan atau obrolan dari keduanya. Roby terlihat banyak menunduk kali ini. Mereka lalu berpisah di basement dan sepakat bertemu di sana.
"Ya salam, cantik sekali."
Satu jam kemudian.
Malya menunggu Roby berjalan di depannya, agar tidak salah langkah sebab ini adalah pengalaman perdana dia menghadiri acara penting. Dia mengikuti Roby dalam diam sembari mengamati sekitar. Banyak kolega bisnis, terlihat dari pakaian juga bahasa tubuh para tamu.
"Selamat siang, Tuan Raz, Nyonya Jani," sapa Roby pada sohibul bait.
"Siang, Mas Roby. Bang Bian masih di England ya," balas Sheraz menjabat tangan Roby sementara Jani hanya tersenyum menangkupkan tangan di depan dada.
"Iya, tapi di wakilkan istri beliau, Nyonya Sya, silakan," sahut Roby, menggeser posisi berdiri lalu menyilakan Malya.
"Selamat siang, Tuan Sheraz, Nyonya Sajani. Saya Syakia," sapa Malya sedikit membungkukkan badan, untuk mengenalkan diri.
"Alhamdulillah, bisa ketemu nyonya Cakra yang katanya di rahasiakan dari publik. Salam kenal, saya Raz dan istriku Nares eh Sajani," sahut Sheraz menyambut tamu kehormatannya.
Malya hanya tersenyum menanggapi ucapan Sheraz, dia pun bergeser, lalu beramah tamah dengan Sajani.
"Kembar ya? Alhamdulillah, waladun sholih, Robbi habli minassalihin." Malya ingin mendekat ke ranjang bayi, memberikan bingkisan juga meminta izin mendoakan.
"Alhamdulillah, silakan, aku minta doa yang banyak dari kalian," ujar Jani menarik lengan Malya agar lebih dekat ke box bayi putranya.
Sajani baru dua kali bertemu Bian, tak mengira bahwa istri pria matang itu adalah wanita dengan penampilan sangat sempurna, kalem dan tenang juga terlihat salihah.
"Allahummaj 'al awladana awladan sholihiin haafizhiina lil qur'ani wa sunnati fuqoha fid diin mubarokan hayatuhum fid dun-ya wal akhirah. U'idzukuma bi kalimatillahit tamati min kulli syaithanin wa hammatin wa min kulli 'aynin lammah, aamiin."
"Allaahummam-la' quluuba aulaadinaa nuuron wa hik-matan wa ahlihim liqobuuli ni'matin wa ashlih-hum wa ashlih bihimul ummah," ucap Roby, menutup rangkaian doa bagi putra Sheraz Qadri.
Sajani dan Sheraz mengamini doa kedua kolega pentingnya itu. Malya pun kemudian menuju tempat duduk yang telah di siapkan tuan rumah. Rangkaian acara berlanjut hingga dua jam ke depan.
Saat Malya akan pamit, Sheraz memanggil Mifyaz untuk mengabadikan moment tersebut. Dia meminta Malya untuk berfoto dengan mereka, misi Sheraz adalah mengirimkan foto sang nyonya Sya pada Bian.
"Mari, silakan," ajak seorang wanita dengan suara lembut. Bahkan Roby menoleh padanya.
Namun, langkah Malya di jeda oleh seorang pemuda tampan yang membawa kamera canggih.
"Mbak, tolong pegang dulu. Habis ini kita ulas tentang makanan rekan bunda ya, dan manggil bang Shan buat wawancara. Nanti upload ke blog Mbak malam ini, semoga kunjungan naik tajam," terang Mifyaz pada Fathia.
"Mbak gak punya banyak waktu di Jakarta, Yaz," balas Fathia, mengisyaratkan agar Mifyaz bekerja lebih gesit, dan di angguki pemuda itu.
"Maaf terjeda, mari," ajak Fathia pada Malya agar menuju sisi Sajani.
Mifyaz menekuni fotografi sebab dia mempunyai misi membesarkan Queennaya. Kerjasama ibunya menggaet catering Pawon Ratu milik Dilara, mendapat respon baik dari publik setelah menu makanan mereka diulas apik oleh Fathia dalam berbagai bahasa. Sehingga ranah bisnis Queennaya kian meluas.
Hasil foto tangan Mifyaz bagai jepretan fotografer kenamaan luar negeri. Sehingga Sheraz menyewa jasanya untuk acara ini dan kepentingan konten Raj Bun's. Dia juga membutuhkan Fathia untuk menterjemahkan obrolan dengan kolega barunya dari Jerman.
Malya pun sangat nyaman dengan keramahan Jani dan Fathia. Mereka berbincang sejenak sebelum nyonya Cakra pamit.
"Mbak Fathia, buka les private bahasa asing gak? putriku tahun depan kembali ke indo. Ingin mengajaknya mengenal Anda, semoga Meeza juga bisa menguasai banyak bahasa," ucap Malya untuk Fathia, dia kagum pada gadis muda satu ini.
"Beliau blogger juga, terkenal banget ini. Ulasannya selalu mantep," imbuh Sajani.
"Maa sya Allah. Masih belajar, aku sesekali mengajar di Arza Tahfid Boarding school Bekasi, milik paman ... awalnya cuma iseng sama Mifyaz bikin web dan ngeblog eh keterusan, anak itu keren di IT, turunan bapaknya jadi ya harus di manfaatkan," ujar Fathia, tersenyum ramah.
__ADS_1
Roby yang setia mendampingi Malya, sesekali mendengarkan obrolan mereka. Kini, para wanita duduk sementara Fathia melanjutkan pekerjaannya.
Roby penasaran dengan hasil jepretan Mifyaz. Dia pun mendekati pemuda itu dan meminta di perlihatkan satu foto.
Mifyaz menyambut hangat, menyerahkan perangkat canggih itu pada Roby sementara dia merekam Fathia dengan kamera lainnya. Bahasa yang dia gunakan, suara lembut, pandai menekan kata membuat telinga Roby seakan di manjakan oleh Fathia.
Pria tampan asisten Brandon sesekali melirik sang gadis. Dia lalu mengembalikan kamera Mifyaz saat Malya memanggilnya untuk pulang.
"Aku duluan ya, By," kata Malya pada sang asisten.
"Hati-hati," balas Roby. Dia masih ingin tinggal dan mengobrol dengan Mifyaz.
Setelah acara berakhir, Sheraz memanggil Roby dan Mifyaz mendekat.
"Yaz, nanti bantu fotoin kebun supplier bunganya Raj Bun's ya. Milik nyonya Sya tadi, Bang Bian minta beberapa foto cantik ala kamu untuk di pasang di web mereka. Save kontak Roby saja dulu sementara Bang Bian belum kembali," kata Sheraz lagi pada keduanya.
"Oke, kapan waktunya nanti atur aja ya, Om. Aku masih sekolah soalnya," senyum Mifyaz mengembang.
Sajani lalu mengajak Fathia bergabung, sebab dia belum meminta izin pada Sheraz bahwa akan meminta room tour mumpung Fathia di Jakarta.
"Room tour?" tanya Sheraz.
"Bagus untuk menaikkan kepercayaan dan prestige Raj Bun's, juga sedang trend," jelas Fathia lagi.
Sheraz mengangguk. Apapun akan dilakukan untuk istri ayunya itu, dia mengizinkan Sajani.
"Kalau dia ke Jakarta pokoknya harus di manfaatkan," kekeh Jani.
"Memang tinggal dimana, Mbak Fathia?" tanya Roby memberanikan diri.
"Al Multazam, Semarang," kata Sheraz menjawab pertanyaan Roby sebab Fathia hanya diam.
"Maa sya Allah. Ustaz Muhammad Abqory? maaf, Anda guru di sana?" cecar Roby lagi.
Mifyaz tersenyum, bahkan menyenggol lengan Fathia. "Mbak aku ini, cucu beliau. Om kenal dengan Njid?" tanya Mifyaz. (kakek)
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad ... aku pernah mondok di sana, dari kelas lima esde hingga lulus esempe," jawab Roby tak mengira bertemu cucu guru mulia.
"Dunia sempit ... dunia sempit," kekeh Sheraz lagi.
"Jadi kalian saudara ya?" tanya Roby lagi makin penasaran.
"Iya. Sepupu. Kita kalau perlu apa-apa ya larinya ke saudara dulu, makanya semua terkoneksi. Ketemu Om Raz juga sebab Bang Shan," kekeh Mifyaz.
"Mas Roby bakalan kaget, Kusuma itu koneksinya dimana-mana. Semua lini bisnis, pasti ada aja yang kenal mereka ini, luar biasa pokoknya," imbuh Sheraz lagi.
"Aku gak sangka aja, bertemu cucu guru mulia di sini. Beliau sehat kan? aku sudah lama gak sowan, tapi jika haul pondok, in sya Allah menyempatkan hadir," terang Roby pada Fathia.
"Alhamdulillah Njid sehat meski sudah uzur sebab usia. Dalam waktu dekat ada syukuran pernikahan massal di sana. Abuya juga open house untuk para alumni selama tiga hari, datanglah jika sempat. Ehm, semuanya, aku pamit sebab akan ke Tazkiya ... Yaz, mbak duluan ya, sambung lagi malam nanti," pungkas Fathia, di angguki Mifyaz juga pasangan Qadri.
Roby pun mengangguk. "In sya Allah. Nanti aku kontak Mifyaz," jawab Roby.
Wanita ayu lalu undur diri dari sana, melangkah menuju mobil sebab Farhana sudah menunggunya.
Menjelang malam, Roby mengobrol dengan Mifyaz. Mereka akan bertemu dua hari ke depan.
Jika Roby sibuk mengatur agenda untuk bisnis mereka. Lain hal dengan Bian. Pria itu sedang mengagumi seseorang akibat mendapat banyak kiriman foto Malya dari Haji Syakur juga Sheraz.
"Maa sya Allah, kamu Malya kan? Meeza, bunda kamu makin begini, daddy kian cemas. Namun, sabarku harus menunggu tiga bulan lagi. Al, kamu janji padaku kan?" gumam Biantara.
.
.
__ADS_1
...____________________...
...Trabas, 1800+ kata jadi satu 😌...