
Setelah berada di kabin bisnis class, Roby berusaha menenangkan Meeza yang masih enggan duduk sendiri. Terpaksa, dia menggendong bocah kecil itu lalu duduk dan memasang seat belt kala pesawat akan lepas landas.
Bian melihat betapa Roby sabar terhadap Meeza, bahkan putrinya cenderung lebih dekat dengan sang asisten di banding dirinya. Pewaris Cakra pun mawas diri.
"Maaf ya, Al, Meeza. Aku tidak dapat berbuat banyak bagi kalian. Otakku di penuhi oleh nenek dan ingin total berbakti terhadapnya. Beliau ibu dan tetuaku. Kau tak tahu bukan, jika aku tak diinginkan oleh ibu kandung sendiri," batin Bian.
Lelaki itu memejamkan mata, meloloskan satu titik cairan di ujung netra. Betapa dia mendengar dari mulut sang bunda bahwa kehadirannya di dunia karena terpaksa, tak disukai bahkan diinginkan.
Bian kecil diabaikan oleh ibunya hingga wanita itu menutup mata karena sakit. Cinta bertepuk sebelah tangan milik Briandana akhirnya membawa sang ayah menyusul pujaan hati tepat kala Bian menginjak usia sepuluh tahun.
Melihat Meeza, dia bagai dihadapkan pada cermin. Tapi sebab mengingat tumbuh tanpa kasih amatlah sengsara, Bian luluh saat melihat bayi mungil itu lahir ke dunia.
"Daddy sayang Meeza. Tapi sadar telah banyak melakukan kesalahan yang tak termaafkan pada bunda. Jikalau suatu saat nanti, bunda memilih pria lain, daddy ikhlas asal dia juga sayang padamu," ucap Biantara dalam hati.
Suara Meeza mengaburkan lamunan masa silam milik Biantara. Dia memperhatikan dari samping, rengekan putrinya pada Roby.
"Byby, bunda," rengek Meeza, masih mendekap erat uncle kesayangan.
"Doakan dong, kan Zaza punya banyak stok doa buat bunda. Cara membujuk Allah agar permohonan kita cepat terkabul itu harus apa?" tanya Roby sambil membelai rambut Meeza yang tergerai.
"Harus ikhlas, gak boleh maksa Allah, kata bunda. Ikut cara Allah aja meski lama," jawab Meeza kala isaknya kembali muncul.
Roby tertawa renyah atas kalimat akhir Meeza. Gadis cilik ini bagai spons yang cepat menyerap ilmu.
"Pinter banget sih. Perisai perlindungan dan senjata orang mukmin adalah doa. Jadi, Zaza bisa setiap waktu memanjatkan doa untuk orang tersayang ... saat?" pancing Roby lagi.
"Saat ingat bunda, Daddy, Byby, oma, sebab di waktu itu Allah sedang memberikan Rahmat khusus sehingga doa kita lebih didengar," tutur bocah kecil itu, panjang, sesuai ucapan Malya padanya.
"Maa sya Allah. Anak bunda ya, cerdas. Nah, Byby punya sesuatu buat Zaza, agar bisa mengucurkan banyak harapan terbaik bagi orang tersayang," ucap Roby, menyeka lelehan air mata dari wajah ayunya.
"Apa, Byby? Zaza punya banyak benda couple kemarin di belikan bunda, ini, ini, juga lainnya di tas itu," tunjuk Meeza pada kalung, jam tangan juga koper di kabin mereka.
"Allah itu bukan lama mengabulkan doa, Sayang. Tapi Allah seneng banget, dengerin doa-doa Zaza sehingga menunda untuk di kabulkan. Allah masih pengen Zaza terus mengirimkan banyak kasih sayang untuk bunda dan Daddy dari jauh. Jangan lagi bilang lama ya, tapi?" jeda Roby, ingin agar Meeza memperhatikan.
__ADS_1
"Di tunda, Byby?" jawab gadis polos dengan wajah menengadah melihat Roby.
Asisten Brandon bagai melihat mata Malya di iris milik Meeza, dia terhanyut hingga tanpa sadar membubuhkan banyak kecupan di dahi putri majikannya.
"Betul, di tunda. Sebab setiap doa itu, pasti Allah kabulkan di saat yang tepat, cepat atau lambat. Nah, ini, suka gak?" jelas Roby membelai pipi gembil Meeza seraya meraih benda dari saku jasnya.
Binar mata gadis cilik bersinar, uncle Byby sangat tahu warna kesukaannya. Dia antusias meminta ingin segera memakai hadiah tersebut.
"Gelang ini, sama kayak punya bunda. Warna kesukaan Zaza hampir sama kayak bunda kan? teracota cocok dengan coklat," tutur Roby seraya memakaikan gelang di tangan kiri Meeza yang sudah berhias jam tangan.
Biantara melihat interaksi keduanya tanpa berniat menjeda. Dia sedang memperhatikan bagaimana cara Roby mengambil hati Meeza. Ternyata, asisten pribadi kakeknya itu memiliki kepribadian persis dengan Malya sehingga membuat mereka mudah untuk berada dalam satu frekuensi yang sama.
"Daddy, cantik gak?" tanya Meeza pad ayahnya, menunjukkan benda di tangan kiri.
"Cantik, bilang makasih, Sayang," jawab Bian, menopang dagu melihat putrinya kembali ceria.
"Syukron, Byby," ucap Meeza, mengecup pipi uncle kesayangan sembari meminta turun dari pangkuan Roby.
Meeza lalu turun dari pangkuan sang asisten, merangsek naik ke pelukan ayahnya. "Daddy, bobok," pinta sang putri mahkota.
"Sini, bobok sama daddy."
Bian merentang tangan menyambut putrinya, dia pun meraih selimut untuk membuat Meeza hangat.
Pria pewaris Cakra, membelai balita mungil dalam pelukan, ikut memejamkan mata, berusaha melepaskan semua masalah. Dia hanya ingin Meeza tak melupakan kasih sayang yang dia curahkan untuknya.
...***...
Jika Bian dengan gamblang mendapatkan kasih sayang Meeza untuknya, lain hal dengan Malya.
Wanita cantik itu meringkuk di atas pembaringan sejak dia tiba. Air matanya tak surut dari wajah ayu. Dia masih merasa berat berpisah dengan buah hatinya.
"Salahku yang tak sabar. Tapi aku belum sanggup untuk kembali ke sisi Bian, ya Allah. Aku berusaha menegaskan hatiku akan tetapi rasanya masih sama, kosong," gumam Malya, mengenali perasaannya.
__ADS_1
Isakan yang perlahan menghalus pada akhirnya membawa Malya masuk ke dalam mimpi. Dia tertidur setelah meluapkan emosinya.
Mardiah lalu membuka pintu kamar putri satu-satunya yang tersisa di keluarga. Dia merasa iba melihat Malya di situasi demikian.
"Cinta itu memang sulit di terka sebab bukan kuasa kita. Ibu tahu, sebab pernah hilang rasa dengan ayahmu, tapi Allah selalu memberi pilihan, Al. Jangan lagi jatuh ke dalam lubang yang sama apabila kamu tak yakin dapat keluar dari sana, untuk selamat," ucap Mardiah, membelai pucuk kepala Malya lembut.
Wanita paruh baya meletakkan benda titipan dari Roby di atas meja nakas, bersebelahan dengan dua ponsel miliknya.
"Dua pria, beda strata dan kepribadian. Satu, tahu bagaimana cara membuat wanita bahagia dengan hal sederhana sedangkan lainnya, masih fokus dengan keluarga. Tiada yang tercela, Bian anak saleh, ibu paham posisinya."
"Berikan yang terbaik untuk putriku satu-satunya. Bahagianya adalah nyawa kami, ya Robb, aamiin," lirih Mardiah, melihat Malya lalu keluar dari sana.
Menjelang asar, Malya terbangun. Dia mengusap wajah kasar, melihat ke arah jam dinding, lalu beringsut meraih gawai dari atas meja nakas.
"Apa ini?" gumam Malya meraih amplop dari sana.
"Sebagai pengingat untukmu, Zaza memiliki satu buah yang sama juga," ucap Malya membaca tulisan Roby dari dalam amplop.
Malya memakai gelang pemberian Roby berjajar dengan jam tangan couple mereka. Dia lalu meraih ponsel pemberian Bian, membuka pesan di sana.
"Meeza tidur. Kamu jangan lupa jaga kondisi, aku akan mengabarkan semua detail kegiatan Meeza. Jangan lupa vitaminnya di minum ya. Selimut terakhir yang Meeza pakai ada di tas yang aku titipkan pada ibu. Sehat selalu ya, Al, Meeza dan aku menunggumu," lirih Malya membaca pesan mantan suaminya.
Malya memejam, menghembus nafas ke udara. "Makasih mas, makasih kamu telah peka tanpa diminta. Sesungguhnya aku lebih senang menerima kabar Zaza darimu dibanding dari yang lainnya," ujar Malya, kembali meletakkan ponsel di atas meja.
"Hatiku. Jaga hatiku ya Robb."
.
.
..._________________...
...Persimpangan jalan. Vote, kubu Bian atau Byby sebelum mommy ketok palu 😅....
__ADS_1