
Pasangan Cakra sudah ada di Bandara sepagi itu di antar Chris. Sang sisten mengatakan bahwa Bian harus langsung mengklarifikasi perihal skandal ini pada Dewan direksi.
Chris juga telah mempersiapkan konferensi pers akibat desakan publik terutama kepercayaan internal perusahaan.
Biantara mengangguk, Malya duduk di kabin khusus sebab lengannya masih mengenakan gips agar dia dapat beristirahat dengan nyaman.
"Jadi gimana?" tanya Malya saat dia telah di kabinnya.
"Mau gak mau kamu harus ikut, Al. Jika memungkinkan, aku ijab ulang di depan ayah dulu agar leluasa membawamu kemana-mana," kata Bian, mencoba peruntungan. Gurat wajahnya mengharap Malya mengabulkan.
Putri Haji Syakur hanya tersenyum, selalu memanfaatkan peluang menjadi ciri khas pria yang duduk disampingnya ini.
"Gak gitu juga kali. Kan pergi juga sendiri, di sini banyak orang. Di rumah sakit pun ada Sari dan maid meskipun kamu ikut tinggal di dalamnya. Ya memang salah, gak sepantasnya begitu. Tapi aku tidak di bolehkan pindah kamar agar tetua tak merasa kesepian," tutur Malya.
"Katanya mau nunggu dan sabar. Jika tergesa akibat memanfaatkan suatu peristiwa itu bukan menunggu namanya, tapi nafsu," sambungnya lagi.
"Ck, susahnya dibujuk. Dosaku banyak banget sama kamu ya," keluh Bian bangkit sebab petugas memintanya kembali.
Malya tak menanggapi, dia hanya tersenyum simpul mendengar ocehan Bian yang kian akrab di telinganya.
"Titip istriku, kabarkan padaku apabila dia tidak nyaman atau menginginkan sesuatu," pinta Biantara pada flight attendant.
Mereka pun berpisah tempat duduk dan kabin. Belasan jam mengudara membuat Biantara memanfaatkan waktu berkoordinasi dengan Roby tepat saat co-pilot mengatakan ketinggian telah aman untuk menggunakan WiFi.
"By, bagaimana?" tanya Bian ingin mengetahui perkembangan di kantor.
"Under control, tuan muda. Aku sudah menyiapkan dokumen yang Chris tinggal di meja Anda untuk konferensi pers. Sekaligus meminta ibu Sulaiman hadir. Maria juga telah aku amankan, terkait pelaporan Anda. Andreas masih mencari keberadaan beliau," tutur Roby panjang.
Dua hari lalu, Biantara sigap meminta Roby agar anak buah Brandon mengawasi Bandara. Dugaannya tepat, setelah aksi mengancam Maria, wanita itu kabur. Saat akan di gelandang, Maria justru bertemu dengan ibu Sulaiman hingga menahan mereka untuk menangkapnya dan berujung berita ini mencuat.
"Anak buah Chris akan menjemput Anda di Bandara. Siap tempur, tuan muda?" tanya Roby memastikan agar Bian tak hilang fokus saat baru landing nanti.
"Sure!" jawab Bian tegas.
"Semua bukti yang Anda kirimkan by email sudah aku periksa dan laporan mengenai kejahatan Maria di sana, telah masuk. Setelah konferensi selesai, wanita itu akan langsung di periksa petugas, tuan muda," sahut Roby melanjutkan laporan.
"Oke, Alhamdulillah. Thanks, By," ujar Bian menutup panggilan.
Untung dia memiliki dua orang kepercayaan yang solid sehingga menjadi kepanjangan tangan baginya mengurus banyak hal.
...***...
Andreas terkejut kala mengetahui lokasi dimana Maria kini. Kantor Cakrawala, bahkan tersangka penyebar skandal pun telah mereka amankan.
"Sh-iittt!" teriak Andreas, memukul salah satu anak buahnya.
__ADS_1
"Ngapain aja kerja kalian!" murka Andre. Wajahnya merah padam, rahang pun mengetat hingga giginya menggerutuk.
Dia lengah kali ini, membuat Bian selangkah lebih maju didepannya. Andreas pun bergegas menuju lokasi.
Tepat pukul sembilan malam, waktu Jakarta.
Pasangan Cakra tiba di tanah air. Malya langsung masuk ke mobil ambulan sebab tensinya turun akibat kelelahan. Bian memaksa ingin menemani akan tetapi langkah sang pimpinan di tahan Candra, salah satu sekretarisnya.
"Bos, Nyonya dengan Camai, Anda ikut denganku, silakan," kata Candra mengarahkan Bian ke mobil.
Iringan kendaraan melaju cepat menuju Cakrawala Corp. Beberapa jam berlalu membuat para pewarta tak sabar menunggu kedatangan pimpinan retail kenamaan itu.
Saat arakan mobil memasuki halaman kantor, terlihat keramaian mengerumun di sana. Bian mengantisipasi agar Malya tak terluka. Mereka mengambil jalur samping yang aman dari kerumunan.
Roby sudah siap di depan podium saat Bian dan Malya tiba di pintu samping ballroom lantai dasar Cakrawala, tempat dilangsungkannya acara. Setelah mengemukakan tata tertib bahwa Cakrawala tidak menerima pertanyaan wartawan, sang asisten menyilakan sang CEO untuk hadir.
"Selamat malam semuanya. Semoga kalian dalam kondisi sehat setelah menunggu kami seharian ini."
"Langsung saja, aku akan mengklarifikasi mengenai tuduhan yang dilayangkan beliau," ucap Biantara, menunjuk ke arah ibu Sulaiman.
Lelaki itu menjelaskan segalanya secara singkat. "Aku menikahi Malya Syakia, sejak awal mengenalnya. Slide disamping adalah bukti aku meminta restu orang tua Malya. Saat ijab pun menyebutkan namanya. Perkara undangan mencetak nama Maria, itu hanya human eror. Pernikahan kami dilangsungkan sesuai kaidah ketentuan status Malya, setelah dia bebas," tutur Bian panjang.
"Tidak ada unsur pemalsuan data di sini. Bahkan tetua pun mengetahui siapa istriku yang sesungguhnya. Mengenai hal tersebut, kami juga telah memberikan klarifikasi pada keluarga Sulaiman akan tetapi tuduhan tak mendasar terus di hantam untuk Malya."
Pewaris Cakrawala lalu meminta Camai mendorong kursi roda Malya untuk mendekat dan mensejajarkan diri dengan Maria, agar ibu Sulaiman dapat membedakan.
"Serupa tapi tak sama. Beliau Malya dan ini Maria, istri tuan muda Valencia," terang Roby.
"Gak, gak mungkin. Mana ada begini? salah satunya pasti operasi!" seru ibu Sulaiman masih enggan mengakui kala melihat kenyataan dua sosok bagai pinang di belah dua.
Para hadirin ricuh, riuh berpendapat. Sekilas sangat mirip tapi apabila di perhatikan lebih jauh, akan terlihat perbedaan mencolok selain penampilan keduanya.
Konferensi pers selesai. Saatnya menggelandang Maria menuju lantai atas sementara ibu Sulaiman di urus oleh Candra untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya.
Dewan direksi kesal sebab telah menunggu terlalu lama. Namun, setelah rombongan Bian datang, mereka sukses dibuat terkejut oleh apa yang hadir di depan mata.
"Ini?" tanya banyak suara.
"Bukan kembar, hanya mirip tapi tak sama. Malya dan Maria," ujar Biantara, saat berdiri beriringan dengan kedua wanita.
"Bagi kalian yang menanyakan keberadaan Nyonya Sya, saat rapat direksi sebab menyatakan dukungannya padaku. Kini beliau telah hadir bersama kita, dia istriku, Malya Syakia."
Malya membungkukkan badan sebisanya sebagai tanda perkenalan.
Para sesepuh, pemilik saham tak kalah heboh setelah mengetahui sosok nyonya Sya, ditambah keterangan pers sesaat tadi.
__ADS_1
"Malya di London menemani putri kami saat rapat kemarin. Mengantisipasi hal kurang baik yang diduga akan terjadi," ucap Bian.
"Semua telah aku buka ke publik, tiada penipuan atau pelanggaran etika bukan? kiranya kasus ini selesai. Terima kasih atas kesediaan waktu untuk menungguku," pungkas Bian menundukkan badan sebagai tanda hormat.
"Gak bisa begitu. Beatrice baru mengetahui siapa Malya setelah di London. Dalam hal ini, tetua pun tak mengetahui konspirasi Biantara. Dengan maksud apa kau menyembunyikan identitas sesungguhnya pada publik?" cecar Andreas tiba-tiba ikut masuk ke ruangan.
"Untuk keselamatan istri dan putriku atas ancaman seseorang. Well, Andreas, apakah kau siap menerima apa yang akan aku beri?" beber Bian, menantang balik sepupunya.
"Coba saja!" tantang Andreas.
"Jangan, please Bian. Ku mohon," pinta Maria, dia tak ingin Andreas melampiaskan kemarahan padanya nanti.
Pimpinan Cakrawala tak menggubris permintaan Maria. Tatapan sinis dia layangkan pada sang mantan kekasih.
"Roby!" seru Bian meminta asisten Brandon menayangkan slide.
Suara bisikan penghuni ruangan, memecah keheningan yang sedari tadi mendominasi. "Ya Tuhan!" gumaman mereka.
"Mereka di tukar? skandal apa ini? dan dia melukai Nyonya Malya?" suara kisruh para direksi.
Maria gelisah, dia mere-mas tautan jari seraya menggelengkan kepala acak, ingin kabur akan tetapi lengannya di cekal erat oleh security.
Malya menatap takjub pada sosok yang berdiri di sampingnya. Genggaman tangan Bian di handle kursi roda menandakan dia menahan amarah atas apa yang dilakukan Maria juga sang sepupu.
"Clear kan? perkara darimana semua ini bermula, tapi aku mencintai Malya, bukan Maria sehingga melanjutkan pernikahan kami. Ini bukan aib keluarga Cakra tapi kebenaran dan aku tak gentar menyatakan itu," tegas Bian, menggebrak meja.
"Andreas, atas dasar apa kau menukar keduanya? untuk yang terakhir, Maria melukai istriku dan melakukan percobaan penculikan terhadap Meeza, kau ingin menjelaskan di sini atau kantor polisi?" cecar Bian.
Andreas menggeram, dia hanya menatap tajam sang sepupu. Meski didesak oleh direksi, mereka akhirnya bungkam di bawah ancaman anak buah Valencia.
"Maria, ayo!" seru Andreas meminta Maria pergi dari sana.
Biantara hanya diam, dia tak ingin jatuh banyak korban. Ini adalah urusan pribadi Cakrawala. Namun, tak disangka, salah seorang security menahan lengan Maria, hingga Andreas mengokang senjata.
"Lepas!" sentak CEO Valent lagi.
Tiba-tiba. Suara wanita datang seraya berlari.
"Jangan, stop. Jangan!"
.
.
...________________...
__ADS_1