BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 73. WEJANGAN


__ADS_3

Malya menjumpai Meeza, ibu muda ini menceritakan tentang Roby yang akan menikah dalam waktu dekat.


"Uncle Byby nanti gak sayang Zaza lagi? onty nya baik tidak? bukan seperti onty Bunda itu tuh," ucap Meeza menganalogikan sosok Maria, yang mirip ibunya.


"Baik, onty nya cantik juga salihah. Zaza, ini perjumpaan akhir dengan bunda ya? enam bulan ke depan, Zaza lulus kan? bunda juga harus kerja lebih giat biar bisa jemput Zaza lagi," kata Malya, menatap lekat putrinya yang kian tumbuh tinggi.


Meeza masih diam, mulutnya penuh mengunyah makanan hasil buatan sang mama. "Enak. Ehm, Zaza mau sama Bunda. Minta uang daddy gak boleh ya sama oma? jadi Bunda harus kerja?" sahut sang bocah.


"Bukan gak boleh. Tapi ini keinginan bunda. Agar Meeza bangga sama bunda, kalau temen-temen Zaza tanya, kamu bisa katakan bahwa bunda seperti daddy. Bunda hanya gak mau, kelak jika kau dewasa dan seseorang memberitahu kisah kami yang sebenarnya. Zaza akan membenci."


"Bunda ingin, bagaimanapun orang jahat menceritakan latar belakang bunda dan daddy, Zaza tetap punya alasan membela kami. Bahwa bunda, bukan benalu, ibu Zaza wanita mandiri dan kuat bertahan demi Zaza, oke? ngerti gak?" tanya Malya, melihat gadis cilik itu berhenti mengunyah, menahan kedipan mata bahkan nafasnya terhembus lembut, sebagai tanda bahwa Meeza memperhatikan.


"Ngerti. Bunda hebat untuk Zaza. Jangan tinggal menjauh lagi ketika aku pulang, Bunda," cicit Meeza lalu menaruh makanannya dan menunduk dalam.


Malya trenyuh, gadisnya bisa mencerna peristiwa. Dia mungkin tidak mengerti istilah cerai dan rujuk tapi keinginannya jelas. Meeza meminta kedua orangtuanya kembali bersatu.


Bunda Meeza, memeluk putrinya. Mencium tengkuk yang dia rindukan serta membubuhkan banyak kecupan di pipi dan pucuk kepalanya.


"In sya Allah. Jaga diri ya, anak bunda yang salihah. Kamu sekecil ini terpisah dari kami. Tapi bunda tahu, ini demi kebaikan Zaza. Maafkan bunda ya, memang semua salah bunda yang meminta pisah dari daddy," lirih Malya, menyeka bulir beningnya turun.


"Bukan salah Bunda. Bukan salah Bunda," tangis Meeza pecah. Dia menilai orang tuanya sangat menjaga sikap sehingga berpikir bahwa ini bukan kesalahan keduanya.


Pasangan ibu dan anak itu menyalurkan rasa. Meeza menjadi dewasa sebelum waktunya akibat banyak kisah terjadi di depan mata dan memaksa otak kecil itu betumbuh lalu mencerna lebih ekstra dari anak sebaya.


Dua hari kemudian, Malya pulang seiring masa kunjungan berakhir. Dia sekuat tenaga menabung untuk berada di Inggris selama satu pekan. Bian tak menawarkan tiket dan lainnya bukan karena tidak peduli melainkan memberi kesempatan bagi Malya unjuk diri di hadapan Meeza.


Kini Malya dan Camai tengah membelah angkasa menuju tanah air.


"Syukron ya, Mas. Kamu gak nanya, bahkan mencampuri urusanku ke sini. Aku bangga, dapat menjumpai putriku bahkan mengajak Camai dengan hasil keringat sendiri," gumam Malya, tersenyum samar melihat foto mantan suaminya yang kini menjadi wallpaper ponsel. Dia perlahan menutup mata setelah berkirim kabar pada Bian.


...***...


Setelah Malya kembali. Roby meminta bantuan padanya untuk memesankan hantaran.


"By, bukannya sudah selesai? Jadi ini mau ke Semarang buat seserahan sekalian walimah kan ya?" tanya Malya dari dalam kamar, saat Roby mampir ke unitnya setelah Maghrib.


"Iya. Kan waktu aku call kamu, dua hari kemudian aku ngasih tanda ikatan tuh buat Fathia. Nah, dua pekan lagi, keluarganya minta langsung akad nikah, kalau resepsi bisa nyusul. Tapi aku mau sekalian tuntas jadi seserahan, akad dan resepsi," ujar Roby menjelaskan maksud.


"Mas Bian kan sudah bilang semua pakai yang di sana saja semua. Kata Mas Bian, kamu oke oke aja," sahut Malya lagi, melongokkan kepala di ambang pintu kamar.

__ADS_1


"Memang Bang Bian yang ngatur semua. Ibu cuma mastiin. Beliau bilang ke aku kalau lagi sibuk banget. Please tanyakan, aku gak berani ganggu. Mendadak bodoh, Al. Gak bisa mikir, akhirnya semua dana ku limpahkan ke Bang Bian," keluh Roby duduk dengan Mardiah.


"Jangan dengerin Malya dan Bian, sudah siap semua kok, kamu tinggal berangkat. Isi hantaran juga sesuai dengan selera Fathia. Cantik dan bagus-bagus pokoknya," kata Mardiah menenangkan Roby.


"Bener, Bu?" tanya Roby, dengan muka kusut dan lelah.


"Iya, nak Bian dua hari kemarin di sini sampai malam, diskusi dengan Malya dan memastikan sekaligus membayar lunas semua agar pekan depan sudah tenang," sambung Mardiah.


Malya memasang wajah datar. "Harusnya kamu nanya Mas Bian, bukan aku. Pulang sana," balas Malya, lalu menutup pintu kamarnya.


Seketika wajah asisten Brandon cerah. Urusan ribet bin pusing berakhir sudah. Dia pun berterima kasih pada keluarga Malya lalu pulang menuju unit di sebelah. Tak ada yang paham selera Fathia kecuali Malya sebab wanitanya unik, untuk itulah dia meminta bantuan padanya.


Akhir pekan yang di tunggu akhirnya tiba. Bian sudah di Semarang dengan keluarga Roby dua hari sebelum hari H.


Akad nikah akan dilangsungkan bada Maghrib di Multazam. Roby cemas sebab Malya belum juga tiba sebab EO menunggunya.


"Sabar. Malya bentar lagi landing, aku jemput dia dulu," ujar Bian bersiap keluar dengan driver hotel, setelah sarapan.


"Bang, buruan ya. Kesian itu barang-barang aku. Kan GR juga untuk malam nanti," ujar Roby gelisah.


"Panikan gitu sih. Mana Roby Al Ashfaq yang itu, mana mana mana? ampun senewen kek lagi pe em es," balas Bian berlalu.


"Kan cuma Malya yang ngerti Fathia, Bang, ish!"


Bada Maghrib, iringan mobil siap. Malya keluar kamar terakhir sebab bros pemberian Bian terjatuh saat akan di sematkan. Nyonya Syakia menarik banyak pasang mata saat melewati lobby, terutama calon manten dan mantan suaminya.


"Bini gue. Lihat sana! udah mau kawin juga, masih lirik punya orang," ujar Bian menolehkan wajah Roby.


"Bukan gitu. Penampilan dia kok berubah-ubah ya kek power rangers," kekeh Roby masuk ke mobil utama.


Bian lalu membuka pintu samping kiri agar Malya segera masuk. "Maa sya Allah. Sayang belum halal ya, Al. Mana berjarak lagi, nasibku," bisik Bian saat wanitanya mendekat.


Malya hanya melirik sekilas, tak berniat memberikan senyum sehingga kian membuat aura nyonya Sya, menawan.


Iringan pun melaju, menuju lokasi akad nikah di pesantren Al Multazam.


Malya lebih dulu turun dengan EO yang Bian sewa, lalu memberi arahan rombongan saat memasuki pelataran tenda.


Dia bergabung dengan rombongan akan tetapi tidak ikut duduk sebab Malya lebih suka memperhatikan semua agar tetap sempurna.

__ADS_1


Lantunan ayat suci, maulid juga shalawat menyertai pembukaan acara sebelum akad, hingga tiba waktunya inti malam ini.


Abyan memilih menikahkan putrinya sendiri tanpa melimpahkan pada wali nikah. Langkah selanjutnya yaitu pembacaan ijab qabul antar wali nasab pada calon mempelai.


"Bismillahirrahmanirrahim...." lirih keduanya saat kedua jemari saling bertaut.


"Ya Raden Roby Al Ashfaq bin Ahmad Rijal Ashfaq, uzawwijuka ‘ala ma amara Allahu bihi min imsakun bi ma’rufin aw tasrihun bi Ihsan.”


"Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Raden Roro Fathia Jameela bintu Raden Mas Abyan Jamil Zaidi bil mahri alfu rial, haalan," suara Abyan, menikahkan putrinya.


(seribu real sekitar 3.9 juta)


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, haalan." Roby mantap menjawab dengan satu kali nafas.


"Alhamdulillah. Saaah!" suara hadirin.


Malya menunduk, teringat perbedaan akad nikah antara Sulaiman dan Bian. Dia lalu memilih duduk di samping pria sepuh yang sedari tadi menatapnya, di bagian ujung tenda.


"Permisi, aku izin duduk di sini sebentar," kat Malya lembut, tersenyum ke arah sepuh.


"Nduk, kalau cinta, jangan di pendam. Dulu aku banyak melakukan kesalahan, tapi sadar ternyata cinta itu bisa jadi penyakit rindu, lalu ketika gak bisa mengendalikan jadi penyakit fisik, zina," lirih Danarhadi.


"Sana, temui dia, bilang kalau kamu rindu dan sayang," ujarnya lagi.


Malya tersenyum ke arah sesepuh yang belakangan dia tahu bahwa beliau adalah buyut Fathia. Terlihat banyak ajudan, tamu kehormatan yang memanggil dengan sebutan Raden Arya Tumenggung.


"Nggih, in sya Allah setelah Roby bahagia, kami akan kembali, matur suwun nggih, Den Arya Tumenggung," sambut Malya mencium tangan beliau.


"Bian ya, suamimu yang itu kan. Persis cucuku, Raden Panji Mahendra, melindungi Naya ibunya Maira dan Mifyaz dalam diam tapi usahanya jelas," sebut Danarhadi lagi.


"Anda tahu?" Malya terkejut.


"Tahu, umur senja, mata boleh samar tapi telinga enggak. Maa Panji Mahendra kemarin cerita padaku kalau bagai melihat dejavu dirinya. Cucu mantuku ngasih tunjuk foto Bian. Apapun dia di masa lalu, beri kesempatan baginya untuk berubah dan menunjukkan kasih sayang. Bahagia habis ini ya, Nduk," sambung Danarhadi.


Nyess. Malya bagai di siram air es. Dingin menembus hatinya.


Bunda Meeza mengangguk. Lalu keduanya akrab mengobrol sementara yang lain mengantar Roby menemui Fathia di ruangan sebelah.


.

__ADS_1


.


..._________________...


__ADS_2