BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 47. BANGKIT


__ADS_3

Pagi ini Andreas menuju kantornya, dia memanggil team lawyer untuk mengajukan permohonan merger salah satu cabang retail milik Cakrawala, yang secara cost di nilai kurang menguntungkan bagi penguasa retail itu.


Valent grup merambahi dunia entertainment, dan akan mengubah style salah satu gedung yang dia sasar. Andreas juga mengajukan perombakan management bilamana merger di terima.


Melalui cara ini, apabila traffic consumer atau customer naik signifikan, dia akan mengajukan diri untuk merger cabang lainnya dan sedikit demi sedikit membeli saham Cakrawala hingga dirinya masuk dalam jajaran pemegang saham yang hadir saat RUPS (rapat umum pemegang saham).


RUPS menjadi tolak ukur Andreas mengendalikan kekuasaan Bian dari dalam, mempengaruhi dewan direksi juga investor lain agar mendukung upayanya.


Bukan tidak mungkin, jika semua lancar, dia akan mengajukan diri menjadi kandidat saat pemilihan CEO ketika pergantian masa jabatan nanti.


"Bagaimana, sudah siap?" tanya Andreas pada team, untuk kelengkapan berkas.


"Sudah siap semua, tuan muda," ujar salah satu lawyer.


"Dokumen yang menyatakan bahwa Anda adalah putra nyonya Anne sekaligus cucu pendiri Cakrawala, juga telah kami siapkan," kata pengacara satu lagi.


"Cakrawala adalah perusahaan keluarga, selain Bian, aku adalah kandidat terkuat yang dimiliki nenek. Direksi harusnya bisa mempertimbangkan hal ini," ucapnya lagi.


CEO Valent grup mengangguk puas, dia akan mulai menyaksikan kehancuran Cakrawala dari dalam, terlebih Beatrice sedang kolaps, akan sangat mudah mempengaruhi para investor untuk memilih pimpinan baru sebab Bian lalai.


"Ketika aku berhasil membeli saham mereka, gabungkan dengan milik mami, sehingga aku memiliki kewenangan yang sama dengan Bian," ujar Andreas lagi, melihat ke arah pria yang berdiri di samping mejanya.


"Baik, Tuan muda," sahut Arnold.


"Wanita itu bagaimana?" tanya Andreas pada Arnold, asisten pribadinya.


"Pagi ini dia belum masuk kerja. Sakit. Akan tetapi saya sudah mengetahui jadwal keseharian nona Malya," jawab sang asisten menunjukkan banyak draft serta foto terbaru mantan istri Biantara.


"Mirip sekali dengan Maria, tapi dia semakin ayu. Bian, bodoh sekali," cibir sang sepupu Biantara.


Andreas lalu mengatur bisnis lainnya, kemudian akan mengunjungi Matthew Sawyer untuk membicarakan pernikahannya dengan Maria. Semoga lelaki tua itu masih mengingat dirinya dengan baik.


Satu jam ke depan.


Putra sulung Anne, memasuki pelataran Mansion Sawyer setelah menunggu hampir dua jam untuk mendapatkan izin kunjungan.


Lelaki perlente itu turun dari mobil mewahnya, memasuki voyer dan menunggu tuan rumah menemui.


"Selamat siang, Paman," sapa Andreas saat Matthew tiba.


"Siang, silakan Tuan muda," ujar pria paruh baya itu.


"Anda masih ingat padaku?" tanya Andreas langsung kala Matthew telah duduk di hadapan.


"Ehm, ingatanku mulai memudar, apakah Anda seseorang di masa lalu yang sangat dekat dengan keluarga kami, Tuan muda?" terka Matthew melihat gaya bicara Andreas.


"Paman juga ternyata lupa padaku. Aku Andreas, calon menantu keluarga Sawyer yang gagal terwujud," ungkap sang pria.

__ADS_1


Matthew terkejut, bukankah Andreas terlibat tindak pidana kala itu dan dijatuhi hukuman belasan tahun, mengapa kini menjelma bak pangeran berkuda putih.


"Ah, ya, maaf aku melupakan Anda, tuan muda Cakra. So, langsung saja, ada keinginan apa dengan keluarga kami," tanya Matthew tak ingin berurusan lama dengan pria ini.


"Aku memakai nama Valencia ... akan menikah dengan Maria, pekan depan, ku harap Anda merestui kami. Hadirlah di katedral St Louis England, pukul delapan pagi," ujar Andreas memberikan undangan eksklusif.


Matthew terhenyak, bukankah kemenakannya telah menikah dengan Biantara beberapa tahun lalu, dan tak terdengar berita perceraian. Mengapa kini Maria akan menikah lagi dengan orang yang berbeda.


"Beberapa tahun lalu Maria sudah menikah dengan Bian. Ehm, tapi jangan salah duga, aku memberikan restu pada kalian. Tidak perlu menjelaskan duduk perkara sebenarnya, aku tidak ingin di anggap sebagai orang kolot yang rewel apalagi menentang keinginan keponakan sendiri," elak Matthew. Sesungguhnya dia tak peduli dengan Maria semenjak skandal yang di beberkan Brandon.


Matthew susah payah bertahan di bisnis keluarga Sawyer akibat insiden itu. Jika saja dia tak sigap mencari dana bantuan, mungkin perusahaan keluarga Maria sudah gulung tikar. Untuk itulah, Maria tak pernah lagi dilibatkan dalam urusan bisnis. Dia hanya menikmati hasil saja.


"Baiklah, terima kasih atas restu Anda, Paman. Kalau begitu, aku pamit undur diri," ujar Andreas bangkit dari duduknya dan melangkah keluar hunian.


Selepas kepergian tuan muda Valencia, Matthew meminta asistennya berjaga tentang aset juga menyiapkan statement penyangkalan apabila Maria membawa skandal baru akibat peristiwa ini.


...***...


Malya demam akibat terlalu stres memikirkan Meeza. Dia sakit hingga tak masuk kerja hari ini. Biantara mengetahui kabar tentang mantan istrinya dari Mardiah, membuat hatinya cemas.


"Bu, Al gimana? nenek baru puasa hari ini sebab malam nanti tindakan," tanya sang mantan menantu.


"Masih tiduran, barusan minum suplemen dari Nak Bian. Dia masih berat sama Meeza. Semoga operasi nyonya Beatrice lancar ya, Nak. Jaga kesehatan di sana, jangan mikiri Malya terus, ada ibu dan ayah yang jagain di sini," goda Mardiah seraya meloudspeaker panggilan. Dia tahu, Bian masih menyimpan suka pada putrinya.


"Aku kirim video Meeza juga nenek ke ponsel Alya. Doain semua lancar. Bu, aku izin mau bujuk Alya lagi boleh? aku ingin rujuk dengannya," ungkap Bian pada akhirnya.


Mardiah dan Haji Syakur tersenyum mendengar penuturan mantan menantunya, dugaan Bian hanya terjebak oleh siklus bakti membuat dia tak leluasa pun terkuak.


"Iya aku paham. Salahku sejak awal. Ayah, kira-kira menerima aku lagi gak ya, Bu?" tanya Bian ragu.


"Ayah itu gimana kalian, Nak Bian. Ayah akan jaga Malya jika memang kamu punya niatan serius," sambung Haji Syakur menjawab keraguan Biantara.


Senyum terlukis di wajah cucu Beatrice, ketakutannya tak di terima kembali pun pupus. Dia lalu pamit undur diri memutus panggilan sebab ada kunjungan dokter.


...***...


Menjelang sore, England.


Biantara memeriksa banyak berkas, menandatangani semua dokumen keperluan neneknya.


Laptop pun menyala di atas meja sofa, dengan Roby yang sibuk menjalin komunikasi. Meeza selalu ada dalam dekapan Bian meskipun sambil membawa mainan.


"By, pertahankan kolega kakek. Dia sudah bergerak, aku butuh bantuanmu di situ. Ketika kamu kembali nanti, segera lakukan beberapa poin penting yang aku minta," ujar Bian mengingatkan asisten Brandon.


"Baik, Tuan muda. Aku paham," jawabnya setuju dengan rencana Bian.


Tuut. Tuut. Suara ponsel berbunyi sebab Meeza melakukan video call.

__ADS_1


"Bundaaaaa," seru bocah ayu girang.


"Zaza, lagi apa, Sayang. Kok ganggu daddy?" suara lemah Malya terdengar.


"Al, sudah mendingan? aku tadi panggilkan dokter dari bawah, sudah datang belum? jangan lupa makan snack sehat atau paling gak, diminum jusnya," pesan Bian meski tak terlihat wajah.


"Ehm, sudah. Makasih, Mas. Zaza gangguin kamu? Roby mana? biasanya main sama dia," ujar Malya masih dengan nada serak.


"Ada di depan aku, lagi kerja. Meeza ya begini saban hari, gak di sini, di rumah, kantor, aku sudah terbiasa," jelasnya sembari mengetik di atas keyboard menggunakan satu tangan sebab lengan lainnya menahan Meeza agar tak jatuh.


"Za, jangan nakal sama Daddy," pesan Malya melihat wajah bulat Meeza yang juga menatapnya.


"Bunda, Bunda sakit karena kangen Daddy, ya," celetuk bocah polos itu. "Daddy, masih kerja ... Daddy say hai buat Bunda," ujar sang anak, berseri.


"Hai Bunda, miss you, Sayang," jawab Bian, tersenyum manis, melihat sekilas ke arah layar ponsel yang Meeza arahkan padanya.


Blush. Malya terkejut, dia buru-buru menutup layar ponselnya.


"Zaaa! jangan nakal. Sudah ya, bunda mau salat, Zaza dan Daddy jangan lupa salat juga," pesan Malya sebelum menutup panggilan.


Tiba-tiba ponsel di tangan Meeza di ambil oleh Bian.


"Istirahat dulu sampai pulih. Jangan forsir diri sendiri, aku tahu perjuanganmu. Nanti ku telepon lagi," ucap Bian.


"Ehm, aku izin sakit empat hari ke depan. Gak boleh sering call, mantan itu bukan mahram," sahut Malya menolak.


"Gak ada mantan, kamu tetap istriku," ucap Bian, menopang dagu melihat wajah Malya yang tidur dengan posisi miring. Kedua manik mata mereka bertemu beberapa detik.


Tiba-tiba.


"Astaghfirullah, innalilahi. Maaasss!" pekik Malya, segera menutup layar gawai begitu menyadari dia tak memakai hijab. Rambutnya menutupi sebagian wajah ayu.


Terdengar tawa Bian di ujung sana, bahkan Meeza pun ikut riang.


"Kamu baru sadar, Sayang. Cuma aku yang lihat kok, masih sama cantik seperti dulu, eh lebih deng. Maaf ya, aku juga gak sadar malah menikmati. Salat yuk, semoga doa kita melangit di saat yang sama, bye bunda," ucap Bian lembut, menutup panggilan.


"Maaf ya Roby, aku harus menegaskan posisiku. Jika kau ingin maju menarik perhatian Malya, mari kita sama berjuang."


Bian mengecupi pipi Meeza gemas, meluapkan bahagianya dapat melihat wajah ayu Malya yang jarang dia nikmati kala masih bersama.


.


.


...___________________...


...Ada yang panas tapi bukan kompor 😌...

__ADS_1


Biantara & Malya



__ADS_2