
Kesibukan pagi tak beda jauh dari biasanya. Meeza melepas kepergian ayahnya, memberikan kecupan di kedua pipi Bian saat pria tegap itu mensejajarkan diri dengan si gadis cilik.
"Bulan, beri daddy ki-ss," ujar Biantara, lebih dulu memberikan kecupan di pipi gembil Meeza.
"Muach mmuuah, bye Daddy. Meeza love you so much," balas sang gadis cilik.
"Daddy pun. Jangan nakal ya, ikuti kata Oma dan Bunda," pesannya sebelum pergi.
Putri kecilnya mengangguk antusias dengan mata bulat mengerjap, membuat Bian kian gemas.
Senyum samar Malya tercipta kala melihat interaksi keduanya setiap pagi. Moment manis satu-satunya yang dapat dia miliki.
"Daaaaaaahh, Daddy," suara melengking Meeza mengiringi mobil pewaris Cakra meninggalkan Mansion.
"Masuk yuk, Meeza kan mau belajar lagi setelah ini," ajak Malya seraya menggenggam jemari mungil gadisnya.
"Bunda temankan," balas sang anak, meminta gendong padanya dengan merentangkan kedua lengan ke atas.
"Bunda temani, bukan temankan. Sudah besar masih minta gendong," sahut Malya, dia mengikuti keinginan anak semata wayang. Mumpung tidak ada Beatrice yang melarang.
Biantara masih melihat dari kaca spion interaksi Malya dan Meeza. Dia kian takjub akan perkembangan pesat putrinya.
Ingatan cucu Beatrice ini mundur beberapa waktu ke belakang. Dia mengingat moment pertama yang membuatnya lambat laun menyayangi anak itu.
Suatu siang Meeza sedang belajar jalan dan menghampiri dirinya di ruang keluarga. Tangan mungil itu menyentuh telapak kaki lalu duduk di atasnya seraya berkali memanggil.
"Dadd Dadd!"
Awalnya Bian risih, ingin meninggalkan Meeza di sana akan tetapi tak ada pengasuh yang menemani. Hanya ada Malya berdiam diri melihat anaknya mengusik dan dia malas bicara pada wanita itu.
Lambat laun, Meeza berdiri, berusaha naik ke pangkuan susah payah. Jatuh, menangis, lalu mencoba lagi hingga akhirnya gadis kecil itu berhasil duduk di tumpuan dua paha Bian.
Tatapan mata beradu, iris coklat cantik itu membius sang pewaris, senyum Meeza bagai milik ibunya yang jarang nampak.
"Dadddd!" tiba-tiba pipi Bian di tepuk dan Meeza tertawa.
Kelucuan ini membawa lelaki angkuh kemudian perlahan luluh dan mulai menyayangi sang Bulan.
__ADS_1
...***...
Cakrawala Corp.
Setelah meeting siang ini, Bian masuk ke kantor sang nenek bermaksud membicarakan niatan Malya yang menghendaki perpisahan di antara mereka.
"Bagaimana?" tanya sang cucu saat duduk di sofa single.
"Asal jangan bawa Meeza. Biarkan saja, mungkin dia menemukan ingatan lamanya dan mulai mencari alasan untuk kembali binal," tukas Beatrice tajam.
"Dia selama ini tidak menggunakan kartu yang aku berikan, Nek. Bahkan Maria tidak pernah membeli pakaian atau mendekati segala kemewahan seperti dulu," sahut Bian. Dia merasa perlu membela Malya untuk urusan ini.
"Aku tetap akan memenuhi nafkah masa Iddah juga lainnya sampai Maria mandiri. Aku gak mau dia menjadi sorotan setelah kita bercerai nanti," pungkas Bian.
Wanita sepuh yang masih aktif mengurusi internal perusahaan, menggantikan sementara sang suami pun mengangguk setuju atas opsi yang Bian utarakan.
"Segera urus semuanya agar tak berlarut," sambung pendiri Cakrawala.
Atas persetujuan Beatrice, semua prosedur untuk ke pengadilan agama segera dia siapkan. Chris seketika terpana atas keputusan sang pimpinan. Dia mencegah, akan tetapi tekad Bian telah utuh.
Pendiri perusahaan retail kenamaan, memanggil Malya ke kamarnya. Di sana telah duduk Biantara menopang kaki seraya memainkan tab.
"Maria, kau yakin ingin berpisah dari Bian?" tanya Beatrice pada cucu menantunya.
Tak ada jawaban dari Malya, hanya wajah yang menunduk seraya mengangguk. Sejenak dia gamang.
"Baik, kalau maumu begitu. Selama proses pengajuan ke majelis, kamu aku izinkan untuk lebih dekat dengan Meeza selama satu pekan ini," ujar wanita sepuh, masih memandang lekat sosok wanita yang berdiri di hadapannya.
"Jangan mengganti nomer ponsel. Meeza akan tetap di izinkan bertemu denganmu tapi menyesuaikan dengan jadwal kunjungan kalian. Hanya Meeza yang boleh menghubungi kamu, bukan sebaliknya," sambung sang nenek.
Malya menengadahkan kepala, dia tak setuju dengan persyaratan terakhir. Dia ibunya dan berhak menemui sang anak kapan saja.
"Apa! gak terima? kau kan yang meninggalkannya, bukan aku," kata Bian menangkap gelagat sang istri.
"Aku ibunya!" tegas Malya.
"Apa yang kau punya? apakah Meeza akan mendapatkan pendidikan selayak di sini? kau bisa menjamin bahwa cucuku tak meniru kelakuan bar-bar ibunya?" serang Beatrice lagi .
__ADS_1
"Aku memang tidak berkelimpahan harta bagai kalian tapi Meeza akan tetap mendapatkan yang terbaik. Aku berusaha keras untuk itu," teguh Malya membela diri berharap kesempatan diberi.
Beatrice menggeleng seraya tersenyum remeh. Dia tetap tidak meloloskan permintaan Malya. Tiada lagi pembahasan lanjutan tentang itu. Keputusan mereka final meski Malya bersikukuh memohon kelonggaran.
Setelah keluar dari kamar Beatrice, Malya kembali ke ruangan tempatnya dengan Meeza. Netra bulat putri Haji Syakur tertuju pada sosok gadis cilik yang telah terlelap.
Malya berjalan pelan menghampiri dan duduk di sisi ranjang. "Maafkan bunda ya, Meeza. Gak bisa bawa kamu serta. Bunda tahu, bersama Daddy, semua impianmu akan tercapai. Jangan lupakan Bunda, ya, Sayang!" ucap Malya menahan getir.
Tangan mungil itu di raih dan kecupnya. Wajah lucu nan polos kala tertidur pun tak luput dari ciuman disertai air mata.
"Bunda sayang Meeza. Maaf, maaf," bisiknya lagi.
"Kita akan jumpa lagi, suatu saat nanti. Bunda ingin selamatkan kakek nenek Meeza dulu. Mereka belum tahu rupa cucunya. Aku tak lagi mendapat kabar tentang beliau selain dari Chris. Meeza, semoga kamu mengerti alasan Bunda," imbuh Malya, tak lagi dapat membendung laju lelehan lava bening yang kian menganak sungai.
"Kita akan banyak mengukir moment manis selama satu pekan ini. Bunda harap, semua yang akan dilakukan, membekas dalam ingatan Meeza. Jangan lupa ngaji dan salat ya, Nak," lirih Malya.
Malam panjang yang pasti akan menemui ujung, akan Malya manfaatkan sebaiknya. Demi sang putri agar kelak dia bangga bila menemukan fakta bahwa ibunya bukanlah Maria Sawyer.
...***...
Kabar pengajuan perpisahan Malya pada Bian sampai ke telingan Brandon. Lelaki renta itu memerintahkan Roby untuk mengerjakan sesuatu. Dia tahu, waktunya telah kian sedikit bertahan di dunia.
"Aku titipkan Malya padamu. Jaga dia, mengabdilah padanya setelah aku pergi," pesan Brandon.
Pendiri Cakra itu banyak menulis barisan kata untuk sang cucu menantu. Berharap rasa sayang dan cintanya untuk Malya dapat wanita itu rasakan meski dia kerap bungkam.
"Anda akan sehat kembali, Tuan besar," kata Roby saat menerima banyak titipan amanah. Brandon hanya tersenyum, dia telah lelah.
Semangatnya kembali membara kala melihat Malya sekuat tenaga bertahan di sisi Bian sang cucu. Terlebih menjaga dan merawat Meeza di tengah himpitan. Dia kini memahami alasan dan mendukung langkah Malya untuk berpisah dengan Biantara.
"Boleh mundur, tapi lekas bangkit. Tunjukkan bahwa Meeza punya ibu hebat sepertimu, Malya!" batin Brandon.
.
.
...______________...
__ADS_1