
Sudah tiga bulan, Roby tak lagi mendengar kabar dari Fathia. Mifyaz mengatakan bahwa sepupunya sedang mengurusi radio dakwah yang baru beroperasi semenjak covid.
Idenya dengan Fathan, sang kakak ipar membuat Multazam tetap eksis di kenal luas masyarakat, menjadi oase iman di tengah krisis keyakinan. Selain para pendidiknya yang rata-rata di wajibkan hafal Alquran, juga minimal menguasai dua bahasa asing.
Apa daya, tangan dan raga tak sampai. Roby mulai mencari tahu tentang Fathia secara personal sebab dia tidak berani berkirim pesan meski telah mendapatkan nomernya dari Mifyaz.
...***...
Di hunian lainnya.
Camai membawa rombongan Malya mengikuti sebuah mobil di depan. Mereka akan berkunjung ke kediaman Beatrice yang baru di kawasan Jakarta Selatan.
Gerbang hitam berukir itu membuka perlahan saat iringan mobil memasuki pelataran. Tidak seluas Mansion tapi terkesan sangat asri dan tidak terlalu mencolok bila di bandingkan dengan hunian lain.
"Gak salah nih, tumben biasa saja," ujar sang ayah menilai fasad depan kediaman Biantara.
Malya di giring masuk melalui garasi. Tempat ini saja bisa memuat empat buah mobil. Dia menduga di bagian dalam pasti terdapat area lebih luas.
Benar saja, setelah melewati beberapa bagian garasi yang panjang, Malya melihat bangunan utama lebih megah di bandingkan hunian depan. Rumah bercat putih dan coklat berlantai dua, berdiri kokoh. Halaman luas di tumbuhi pohon buah, taman bunga, gazebo dan entah apalagi, Malya tidak sempat meluaskan pandangan sebab Bian telah menyambut mereka di teras.
"Assalamualaikum, Bu, Yah ... Sayang, maaf ya jauh jalannya. Mobil belum aku pindahin ke belakang," ujar Bian membantu menarik kursi roda mantan mertua kala Camai mendorongnya naik ke atas.
"Wa 'alaikumsalam. Gak apa, olahraga kaki," jawab Mardiah.
"Masuk yuk," ajak Bian. Melihat Malya hanya diam, Bian mensejajarkan langkahnya.
"Cantik banget Nyonya Sya. Sorry ya, Al, ini lebih sempit di banding Mansion, hanya separuhnya," ujar Bian lirih.
"Yang penting bukan ukuran, tapi dengan siapa kamu tinggal. Tapi, Mas, ini?" Malya merasa bahwa ini adalah bagai rumah impiannya.
__ADS_1
"Sesuai selera kamu. Kita bicara dimana? gazebo atau di sana?" tunjuk Bian ke sudut halaman, sebuah bale beratap sidrap, ayunan kursi panjang, di bawahnya terdapat kolam ikan serta di kelilingi bunga.
Malya tak berkedip, sungguh tempat yang menggoda untuk tinggal dan berlama di sana. "Kamu yang rancang semua ini, Mas?" tanya Malya tanpa sadar melangkah ke sana.
"Ehm, demi nyonya Sya," balas Bian, mengikuti langkah Malya.
Keduanya lantas duduk di sana. Bian memilih di ayunan sementara Malya menikmati bale khas pedesaan.
"Al, aku serius ngajak balikan sebab butuh kamu bukan hanya untuk Meeza. Aku belajar dari kisah nabi Ayyub dan Rahmah, bahwa modal terbesar untuk menyatukan dua insan adalah kesetiaan. Mencoba ikhlas hati bagai Ibrahim dan Siti hajar, berharap akan mengantar kita menuju cinta sejati," ujar Bian, melihat ke arah bunga yang bergoyang tertiup angin.
"Aku tidak mungkin bisa seikhlas ini jika bukan karena Allah. Dikuatkan hingga tak menyerah pun atas sebabNya," balas Malya.
"Ehm, benar. Aku banyak belajar darimu. Kau menolak Roby kan, Al. Boleh aku tahu apa alasannya?" tanya Bian lagi.
Malya menilai Biantara memang banyak sekali berubah. Lelaki di hadapan ini kian tenang dan terlihat bersahaja. Membuat tampilan menawan Bian naik seratus persen.
"Iya. Alasannya sebab Meeza akan tetap menjadi anak tiri bagi Roby, tidak bisa bersentuhan fisik leluasa. Jika Zaza baligh nanti, dia sebaiknya harus tinggal jauh dariku dan kembali padamu, Mas. Aku gak mau pisah dengannya lagi. Menjaga Meeza di depan Roby membuatku sangat kesulitan nanti. Akan ada jarak terbentang di antara mereka sementara keduanya dekat sejak Zaza usia dini. Aku gak tega tapi tidak dapat melawan ajaran," tutur Malya panjang.
"Ehm, pilihannya jika aku ingin terus bersama Meeza maka harus menahan diri untuk tidak menikah lagi hingga Meeza dewasa, mandiri, pindah tempat tinggal atau menikah," jawab Malya seraya tersenyum.
Bian mulai cemas, dia tak ingin Malya mengambil keputusan ini. "Nasibku, Al? jangan begini, please, Sayang," mohon Biantara, sekilas melihat istrinya yang menunduk.
"Mas, jangan di jeda ya." Malya menatap Bian, sementara lelaki itu mengangguk antusias.
"Mungkin kita sedang sama berjuang, aku happy sebab kita berjalan bersama untuk satu tujuan dan saling menguatkan. Sebenarnya, tanpa Mas minta pun aku bersedia menemanimu bangkit bahkan sedikitpun tidak takut seandainya kamu tidak memiliki segalanya. Aku tahu, Mas melepaskan banyak aset untuk memenuhi hak Andreas dan Andriana, terima kasih sudah menjadi lelaki hebat," tutur Malya panjang, melirik ke arah Bian seraya tersenyum manis.
"Aku ingin bakti pada ayah, semampuku sebab jika telah menikah nanti, utamaku adalah kamu. Mari berproses sama-sama, gak apa jika jalan kita lebih panjang dari orang lain menuju bahagia. Cukup jadikan aku satu-satunya bagimu, ya, bisakah?" ucap Malya, menoleh ke arah Bian.
Pewaris Cakra terpana, jawaban Malya membuatnya berpikir. "Kau bersedia kembali padaku, Al?" desak Bian.
__ADS_1
Malya mengangguk, tersenyum ke arahnya. "Tapi nanti, jalanku menuju Meeza belum tuntas. Memang tak mudah, tapi asal kita melangitkan doa bersama, in sya Allah terlewati. Bisakah bersabar sedikit lagi?" pinta Malya untuk mantan suaminya.
Biantara menunduk, dia mengangguk cepat tapi tak dapat menengadah wajah.
"Mas, jangan begini. Aku tahu kamu banyak berubah. Jangan membuatku berat dan dzolim terhadapmu nanti," lirih Malya, sedikit tidak tega melihat Bian.
"Aku bahagia, Al. Bukan menyesal atau kesal padamu. Tidak ada balasan yang lebih menyenangkan, selain kabar baik sebab letihnya menunggu. Aku hanya terlalu bahagia, Honey," balas Bian, dengan suara parau menahan isak.
Malya ingin mengusap bahu tegap itu tapi sebisa mungkin dia tahan. Dia tahu, Bian telah lelah jiwa raga mengurus semuanya hingga berujung kepindahan ini.
"Semua ini, tak mengubah perasaan aku ke kamu, Mas. Kata Ibnu Qayyum Al Jauziyah, jalan menuju Allah itu dimana Adam kelelahan, Ibrahim dilempar ke api, Ismail di bentang untuk di sembelih, Yusuf dijual dan di penjara hingga Rosulullah mendapat kefakiran dan gangguan ... apa yang kita alami, belum setara mereka kan? kita akan kuat bukan?" Malya mulai terisak. Egonya menahan untuk mereka kembali bersama dalam waktu dekat.
"Sayang, aku paham. Jangan nangis Al, aku gak bisa hapus itu darimu saat ini. Sayang, Malya, dengar aku ... kamu wanita pertama yang membuatku jatuh cinta setenang ini. So lucky to have you, Baby. Kamu akan jadi satu-satunya sandaranku."
"Semoga aku dan kamu akan menjadi pasangan yang sama-sama takut kehilangan. Sepakat menyamakan tujuan, saling membahagiakan, kita tetaplah dua yang memilih menjadi satu. Aku dan Meeza sabar menunggumu, Sayang," pungkas Bian, kali ini menenangkan Malya.
Malya tak dapat menahan tangisnya. Rasa bahagia dan lega telah berhasil dia lepaskan pagi ini. Hatinya tetaplah mencintai apapun wujud sang suami, tapi kali ini Allah memberikan balasan lebih dari yang Malya minta.
"Love you, Mas," lirih Malya, seraya menyeka bulir bening yang jatuh di pipi.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, anugerah-Mu tiada terkira, ya Robb. Love you, Sayang. Jazakillah kheir, bunda Meeza," balas Bian, tak lepas menatap manik coklat tua.
Meski berjarak, keintiman nan romantis terpancar jelas di antara mereka.
.
.
...__________________...
__ADS_1
...😠ngiri. Selesai, konflik batin keduanya....