BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 19. MANGKAT


__ADS_3

"Astaghfirullah. Meeza kan tidak tahu siapa namaku, kenapa juga tadi menyebutkan Malya. Innalilahi...." ucap Malya panik.


Kala Dewi Malam menggantikan tugas Mentari nan perkasa. Apa yang Malya kuatirkan terjadi. Bocah cerdas itu mengingat percakapan siang tadi. Meeza bertanya padanya kala dia melihat rangkaian indah bunga di dalam vas.


"Bunda, kenapa nenek memanggil dengan nama Maria bukan Malya?" tanya Meeza polos.


Degh.


Malya tercenung. Jawaban logis apa yang dapat di cerna dengan mudah untuk anak seusianya. Masih saling menatap, Malya mencoba mengutarakan pengalihan.


"Malya adalah nama rahasia, tidak boleh disebutkan sembarangan sebab di sematkan oleh ayah bunda, kakek Meeza yang lain. Dan Maria, itu panggilan kesayangan nenek juga daddy ... bunda adalah kesayangan keluarga ini, maka mereka menyebut dengan Maria," jelas Malya perlahan-lahan agar Meeza mengerti.


"Oh, begitu. Pantas nenek suka marah ke bunda. Kata nenek itu artinya sayang," balas sang bocah polos dengan senyum mengembang.


Malya hanya tersenyum. Ini adalah kesempatan baginya memberikan alasan mengapa dia akan pergi. "Sebab nenek sayang, bunda akan pergi sejenak untuk menimba ilmu agar cerdas bagai Meeza. Nanti kalau bunda sudah pintar, pasti akan kembali. Meeza gak apa kan sementara dengan Daddy dan nenek?" ucap Malya getir, menahan sekuat tenaga agar suaranya tak parau.


Wajah cantik dengan mata seperti milik Malya, menatap lekat ibunya. Dia tak ingin ditinggal oleh sang mama.


Meeza menangis, bukan tangisan meraung layaknya anak kecil. Putri Bian itu hanya meneteskan air matanya, seraya tak melepas pandang dari wajah ayu sang bunda.


"Mee-zaa, jangan buat bunda berat melangkah. Bunda janji, akan kembali," cicit Malya, menunduk.


Bocah tiga tahun pun mengerti bahwa kesedihan kerap menggelayut di raga wanita yang melahirkannya ke dunia. Hanya saja, Meeza belum dapat mengutarakan dengan baik apa nan terlukis pada perasaannya.


"Bunda pergi kemana? aku gak boleh ikut kah?" tanya sang bocah.


Malya menggeleng samar. "Meeza dengan daddy ya. Jadilah gadis cerdas, mandiri dan kuat. Jangan lupakan salat dan ngaji ya. Kan Meeza sudah mau iqro dua," pesan sang bunda, hatinya mulai banyak retakan parah.


Cicit emas Cakrawala ini mengangguk. Dia tak lagi bernafsu menghabiskan makanan yang tersaji. Meeza turun dari bangku taman, lalu mendekap sang bunda.


Putri Haji Syakur menahan laju sesak sebisanya. Dekapan hangat sang putri akan dia rindukan nanti. Malya berjanji tak akan lagi menangis di depan Meeza selama mereka di greenhouse.


Partisi penyekat pun ditarik, tirai diturunkan lalu Malya mengunci pintu pembatas itu dan memilih bercengkrama dengan Meeza di atas tempat tidur berayun.

__ADS_1


Kedua wanita tak tahu, jika interaksi pilu mereka di tangkap sepasang mata dari kejauhan. Biantara merasakan sesak yang mendera Malya akan tetapi dia juga menyadari bahwa hatinya susah membuka untuk wanita yang menjadi ibu dari anaknya.


...***...


Belahan bumi lainnya.


Kabar bahwa Bian masih terus mencari Maria meski tak segencar dulu tetap intens diterima oleh Duke Andreas.


Tahun ini, perkembangan Maria sangat pesat. Wanita ayu sudah dapat berjalan meski masih tertatih dan perlahan. Ingatan belum seutuhnya kembali. Kesempatan bagi Andreas untuk mencekoki hal buruk tentang Bian.


"Dia yang menyebabkanmu begini. Jika kau ingin membalas dendam, akan aku bantu. Tapi kau sekarang adalah istriku, Maria," kata Andreas suatu siang.


Wanita keturunan Sawyer ini hanya menatap ke arah pria yang duduk disampingnya. Dia sama sekali tak dapat mengingat jati diri apalagi peristiwa nan lalu. Memori kini hanya berisi tentang Andreas, sang suami.


"Apakah Biantara mencintaiku?" tanya Maria, duduk memandang kakinya di tumpuan kursi roda.


"Cinta buta, tapi dia mengkhianatimu dengan menikahi wanita yang mirip hingga mempunyai buah hati. Kini posisi disamping Bian kosong. Jika kau ingin kembali, silakan. Akan aku berikan informasi tentang Meeza," tawar Duke Andreas.


"Mengapa kau baik padaku? apa kau tak kuatir jika aku mengingatnya dan jatuh cinta kembali?" tanya wanita ayu.


"Silakan pergi. Hingga aku memiliki alasan menghancurkan kalian berdua. Aku memang gila. Malya mengajukan gugatan cerai, tak ada lagi yang bisa menahanmu."


Hanya cinta, yang mendasari Andreas melakukan semua ini. Obsesi memiliki Maria jiwa raga nyatanya tak tergapai meski kebersamaan mereka sudah tiga tahun. Dia menjaga sang wanita sepenuh hati akan tetapi bayangan Bian enggan hengkang.


Sakit hati kian membumbung. Beatrice tak pernah melihat sosoknya sebagai cucu padahal mengalir darah Cakra yang sama dalam nadi.


Kehadiran seorang Andreas diakui manakala dia berhasil membawa perusahaan sang ayah kembali berkibar. Namun, tetap saja, dia mengenal Andreas sebagai orang lain.


"Aku hanya bersenang-senang dengan Bian. Mempermainkan hatinya ternyata menyenangkan," kekeh Andreas.


Maria menoleh ke arah pria tampan di sisinya. Pesona Andreas tak terbantahkan, terlebih mereka pernah berbagi kehangatan di suatu malam.


"Lekas sembuh, Sayang. Kita kini memiliki motif yang sama, membuat Biantara galau, dan menciptakan skandal baru hingga Beatrice bahwa menyadari sikapnya keliru," kata Andreas, meraih tangan Maria dan mengecupnya lama.

__ADS_1


Maria tersenyum manis mendapat perlakuan bak ratu oleh Andreas. Sesuatu yang dia suka. Kini hatinya perlahan condong pada si pria, dia pun mengangguki ucapan sang Duke Valencia.


...***...


Dua hari kemudian.


Malya meminta izin pada Beatrice untuk menjenguk Brandon di rumah sakit. Dia tak pernah keluar dari Mansion semenjak tiga tahun lalu.


Wanita sepuh itu mengizinkan Malya dan Meeza pergi meski dengan pengawalan ketat atas permintaan Bian.


Kabar menantu emas Cakrawala yang tak pernah muncul di ruang publik menarik perhatian para pewarta yang ada di rumah sakit untuk mendekat.


Istri di atas kertas Bian cemas kala pencari berita mulai merangsek, Malya lalu menggendong putrinya dan meminta Meeza menundukkan wajah meski mereka memakai masker.


"Opaaaaa," seru Meeza saat telah tiba di kamar perawatan, melihat sang kakek yang kian lemah di atas brangkar.


"Maria, Bulan," sebutnya sumringah.


Ketiganya saling melepas rindu hingga ketika Malya akan kembali pulang, lengan cucu menantu pun di tahannya.


"Jangan takut. Maju pantang mundur, bangun dirimu lagi, Malya. Tuhan akan menjaga Meeza dan tetap memelihara ingatan manis tentang ibunya." Brandon menatap lekat seraya mencekal erat tangan Malya.


"Iya Kek. Akan aku ingat pesan Anda selalu. Lekas sehat lagi ya. Aku mendoakan, Anda orang baik," sahut Malya merasa bahwa pandangan Brandon mulai meredup.


Tak lama, bunyi mesin medis menderu. Roby panik memanggil dokter. Sementara Malya mencoba mengajak terus bicara agar kesadaran Brandon tetap terjaga.


"Kek, jangan tinggalin Alya. Kek, kakek. Al butuh kakek. Kuatlah, bangkit bersamaku atau kita pergi berdua saja," isak Malya di sisi brangkar.


Dokter meminta ruangan steril sehingga penjenguk pasien keluarga Cakra pun menyingkir. Kabar ini mengejutkan Beatrice juga Bian. Keduanya tergopoh tiba kala Malya dan Meeza telah duduk di kursi luar ruangan seraya fokus berdoa.


"Brandon, bangun! jangan pergi!" seru Beatrice kalap, berkali menggedor pintu kamar perawatan yang tertutup.


.

__ADS_1


.


...__________________...


__ADS_2