BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 42. KEPUTUSAN MUTLAK


__ADS_3

Setelah makan malam, Malya menitipkan buku catatan milik Roby ke ibunya. Lalu dia kembali masuk ke kamar.


Dering ponsel bercasing merah bunyi berkali-kali, membuat Malya bergegas menggeser tombol hijau ke arah atas. Menduga ada hal penting yang akan di sampaikan Bian.


"Assalamualaikum, Al, kamu sibuk gak? aku ke rumah ya," ujar Bian di seberang.


"Wa 'alaikumsalam. Sudah malam. Ada apa? Meeza sakit?" tanya Malya sekaligus mencegahnya datang.


"Bukan Meeza tapi nenek. Beliau kemungkinan akan terbang lusa dengan aku dan Roby. Kondisinya tak lagi memungkinkan bertahan di Indonesia. Harus segera mendapat perawatan sesuai diagnosa dan itu ada di rumah sakit England. Meeza akan ikut," ungkap Bian.


Malya memejam, dia menarik nafas berat. Hantaman keras di terimanya lagi. Kini, ibu satu anak merasa kesulitan meski hanya menelan saliva.


"Halo, Al," panggil Bian sebab tak ada respon dari seberang.


"Haruskah secepat ini? bisakah kau memberiku kesempatan untuk bersama Meeza sesaat lagi, please mas, please," kata Malya mulai di serang isak.


Kini, giliran Bian yang terdiam. Dia menimbang sesuatu. "Oke, malam ini Meeza diantar ke rumah ya, kamu punya waktu Jumat dan Sabtu, sebab Minggu siang dia harus pergi," beber Bian.


"Kalian memang berniat melakukan ini padaku. Berapa lama Meeza di sana?" tanya Malya sekuat tenaga menahan tangis.


"Satu sampai dua tahun. Dia akan kembali ke Indonesia saat akan masuk ke sekolah dasar internasional," ungkap Bian.


Bagai di hunus pedang, tepat menancap di dada Malya. Sakit, meski tak berdarah. Dia tahu tak memiliki kuasa apa-apa. Tangis bunda Meeza pun lolos.


"Dengan siapa dia di sana? anak sekecil Meeza, kamu tega, Mas," sergah Malya.


"Dengan Sari, juga satu nanny di sana. Aku akan mengunjungi Meeza sesering mungkin, Al. Ayo kita pergi bersama," ajak Bian untuk wanita yang pernah menjadi istrinya.


Malya menghapus air mata di wajah. "Aku bisa, aku bisa pergi sendiri, Meeza akan bangga ibunya dapat menjejakkan kaki di sana dengan jerih payah sendiri," teguh Malya lagi.


"Terserah kamu. Aku sudah menawarkan opsi. Aku tahu ini terlalu dini, tapi begitulah cara nenek mendidik keturunan Cakra," beber Bian lagi.


Malya tak lagi menanggapi, dia tertekan. Namun, setidaknya Bian mengizinkan Meeza dengannya dua hari ini.

__ADS_1


Panggilan pun berakhir saat pintu kamar di ketuk oleh Mardiah.


"Al, kata Roby terima kasih. Meeza mau ke sini? tadi ibu gak sengaja dengar Roby membicarakan cucuku," kata sang bunda.


Malya membuka pintu kamar. Lalu menuju ruang tengah, wajahnya sembab membuat Haji Syakur khawatir.


"Kenapa lagi?" tanya sang ayah.


"Kondisi kesehatan nenek Beatrice memburuk, dia akan ke Inggris melakukan pengobatan tapi sembari membawa Meeza untuk sekolah usia dini di sana," ujar Malya seraya meneteskan air mata.


Kedua orang tua wanita ayu hanya menarik nafas panjang. Sudah mereka duga hal ini cepat atau lambat akan terjadi.


"Ikhlaskan, Meeza akan dapat pengajaran yang baik di sana. Bukankah cucuku sangat cerdas? dia sudah di siapkan sejak bisa bicara kan?" tegas sang ayah, menenangkan Malya.


Malya mengangguk. Jika anak batita di usianya banyak bermain. Maka cara permainan untuk Meeza berbeda. Semuanya memakai ilmu dan tehnik logika, mengasah kepekaan bahkan kerap dilakukan tanya jawab setelah membaca modul belajar.


"Tapi dia masih kecil," cicit Malya lagi. Mardiah lalu duduk di samping putrinya, menepuk bahu Malya pelan.


Suasana sedih mendominasi beberapa saat di dalam hunian Malya hingga suara bel berbunyi mengalihkan perhatian ibu satu anak ini.


"Meeza!" serunya, saat Roby datang bersama Bian menggendong Meeza.


"Tidurkan di kamarku saja," kata Malya pada Roby. Dia membantu membukakan pintu, melihat dari luar kamar kala pria itu merebahkan Putrinya.


"Sabar, jangan panik. Aku ada solusi," bisik Roby saat melintas di hadapan Malya.


Wanita ayu tak menghiraukan ucapan pria itu. Setelah Roby pergi, dia lalu masuk ke kamar dan menaiki ranjang. Memeluk kesayangannya yang tertidur pulas.


Biantara Cakra menjelaskan kondisi sebenarnya pada orang tua Malya. Keduanya memaklumi keputusan ini dan berharap semua dapat berjalan baik hingga mereka kembali ke tanah air.


Pikiran dan hati Malya berkecamuk hingga dia abai sekitar. Wanita ayu meraih gawai di atas meja, lalu mengirimkan pesan pada Herawati bahwa dia meminta izin satu hari.


"Kita akan di rumah dari pagi sampai malam menghabiskan waktu bersama. Oke, Sayang," bisik Malya mengecup pipi gembil anaknya.

__ADS_1


Tepat pukul sebelas malam, pintu kamarnya di ketuk seseorang. Bian ingin pamit sekaligus mengatakan pada Malya bahwa Meeza tak perlu membawa apapun dari sini karena telah disiapkan oleh Sari di Mansion.


Malya tidak menanggapi, dia sibuk mencatat banyak hal yang akan dia beri untuk Meeza nanti.


"Kamu harus ingat bunda ya, Zaza. Harus ingat bunda," gumam Malya, menulis dengan tangan gemetar. Air matanya pun kembali luruh tanpa di minta.


Ting. Notif ponsel masuk.


["Tuan muda akan menemani Zaza di sana dalam kurun waktu tiga bulan hingga Zaza mandiri dan dapat di tinggal. Banyak anak seusia Zaza di sana, jadi jangan khawatir dia akan kesepian. Tentu banyak teman dari berbagai negara akan menjadi modal awal Meeza. Doakan ya, ini mungkin terbaik bagi kalian berdua."]


"Aku tahu, By. Aku paham itu, tapi hati seorang ibu mana yang sanggup melewati ini tanpa berlinang air mata. Apakah sebab keputusanku berpisah dari Bian membuat nenek Beatrice seakan di coreng muka? dan menjauhkan aku sejauh-jauhnya dari Meeza?" lirih Malya melihat ke arah wajah polos Meeza yang tertidur.


Malya menekuk lututnya, dia tak bisa mengekspresikan apapun selain menangis. Dia pikir, bahagia akan segera di jelang, nyatanya jalan begitu berliku.


"Enggak ya Robb, aku gak menuntut mengapa Engkau timpakan ini padaku. Aku hanya meminta, kuatkan aku, mudahkan melewati garis takdir yang tertoreh dengan ikhlas," lirih Malya memanjatkan doa dalam pilu.


...***...


Anne ikut panik kala Bian mengabarkan padanya bahwa Beatrice dilarikan ke rumah sakit sebab keluhan parah mendera raga rapuh wanita itu, petang tadi.


Wanita cantik berusia lebih dari separuh abad berkali meminta Lilis dan Chris melaporkan kondisi terkini ibunya.


Sementara Andreas, sibuk melakukan panggilan dan meminta agar Maria segera terbang ke Inggris malam itu juga. Wanita itu akan memulai pedekate dengan Meeza di sini.


"Bagus kan? tak payah menghindar dari Beatrice. Keduanya akan tinggal terpisah. Nenek di sini dan Meeza di asrama, kesempatan bagimu lebih besar," terang sang pimpinan Valent Group.


"Oke, aku akan terbang ke sana sekarang, wait for me ya, Honey," ucap Maria kian berani meneguhkan perasaan meski awalnya dia enggan. Uang dapat merubah segalanya itu, benar.


.


.


...____________...

__ADS_1


__ADS_2