
"Hmm, aku bukan tak senang kau kembali. Justru mencarimu kemana-mana ya ingin kamu ada di sisiku lah," kilah Bian, menatap manik mata Maria.
"Matanya mirip, tapi milik Malya lebih gelap. Struktur wajah hampir sama, hanya saja Malya kian ayu dengan hijab dan terlihat seksi ketika melepasnya ... eh."
Maria mendekat, berusaha duduk di pangkuan Bian seperti biasa yang dia lakukan dulu. Namun, entah mengapa kali ini Bian menolak secara terang-terangan.
Biantara bangkit saat Maria akan duduk di pangkuannya. "Sorry, Maria, jangan begini, ganti bajumu dulu," kata Bian menahan dengan isyarat tangan menolak.
"Kamu kenapa sih? sok alim banget sekarang ya?" kesal Maria.
Wanita seksi menghentakkan langkah masuk ke dalam kamarnya mengikuti keinginan Biantara.
Tak berapa lama, Maria telah kembali dengan mengenakan hot pants dan kaos ketat lalu duduk di hadapan Bian lagi.
"Kamu gak nanya, aku kenapa?" pancing sang wanita.
"Aku nunggu kamu cerita," jawab Bian, melihat ke bagian wajah Maria, ada luka yang sama seperti Malya.
Maria menghela nafas panjang. Pandangannya mulai menerawang jauh, sekilas dia melihat lawan bicaranya. "Setelah kejadian itu aku gak sadarkan diri hampir enam bulan lamanya. Luka parah di kepala juga kaki membuat kesulitan berjalan."
"Saat siuman, aku lupa sebagian ingatan terutama yang terakhir. Hanya saja, banyak kilasan ingatan tentang kamu hilir mudik sepanjang hari sampai aku tak bisa tidur dan tensiku tinggi," ungkap Maria.
"Akhirnya dokter memberikan stimulasi pemicu ingatan secara kontinyu selama hampir satu tahun lebih. Kaki juga bagian tubuh yang cedera pun berangsur pulih meski aku harus menggunakan kursi roda dan baru melepasnya enam bulan lalu," lanjut Maria.
"Siapa yang menolongmu? dan mengapa wanita itu ada di mobilku?" ujar Bian penasaran.
"Dia tak pernah menampakkan diri. Aku gak tahu motif apa yang dia mainkan. Terakhir kali hanya suara saja. Seorang pria, mengatakan bahwa dia mencintaiku dan berharap aku menjadi miliknya," jawab Maria lagi, sedikit mendramatisir meski sesungguhnya dia sangat tahu siapa sosok nan di maksud.
"Sungguh aneh. Jika dia mencintaimu mengapa melepaskan kamu sekarang? keluarga Malya pun di ancam dan aku sempat kesulitan mendekati mereka," cecar Bian sedikit ragu atas pernyataan Maria.
"Karena dia gak bisa memiliki hatiku, Bian. Aku berkali memohon agar dia melepaskan aku dan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu," tegas Maria, dengan sorot mata berkaca-kaca.
Apa yang di sampaikan Maria sedikit menggugah hati Bian. Dia juga merasakan hal sama kala dengan Malya, wanita itu memiliki raga tapi tidak hatinya. Dan kini, persis, dirinya pun melepaskan Malya untuk bebas.
__ADS_1
Jika seseorang mencintai dengan tulus maka dia pasti merelakan pujaan hati dengan orang lain. Tapi, dia melepaskan Malya tanpa ada rasa apapun.
"Aku masih penasaran, kenapa kalian begitu mirip dan hadir di saat bersamaan? Maria, apakah kau punya saudara kembar? ... kau betul-betul tidak tahu sosok Malya?" desak Bian, masih sangat ingin tahu fakta tentang ini.
"Enggak sama sekali. Dan kisah kembaran pun gak ada, bahkan paman Matthew tak tahu kisah sebenarnya yang terjadi bukan?" duga Maria, sebab satu-satunya keluarga Sawyer telah apatis terhadap gadis satu ini.
"Iya. Beliau tidak tahu," balas Bian.
Entah mengapa, setelah mendengar kisah panjang Maria, Bian tak lagi bernafsu ingin tahu. Ingatannya justru tertuju pada Malya. Betapa dia menuduh wanita itu sebagai dalang komplotan penipu. Nyatanya hanya korban.
"Berarti mungkin orang yang menolongmu adalah sosok sama, menukar posisi kalian di saat kebetulan," simpul Bian. Dia merebahkan badannya di punggung sofa.
Maria hanya mengangguk samar. Andreas memang dalang di balik semua ini.
"Malya."
Biantara mendadak pusing, dia pamit ke hotel tempatnya menginap sebab semalam belum dapat beristirahat dengan benar. Maria mencegah kepergian sang duda dan meminta untuk tinggal dengannya di Vila Sawyer.
"Maaf, aku gak bisa, Maria. Entah, aku merasa tak enak badan saat ini. Kita bicarakan lagi nanti ya," ujar Bian, bangkit berdiri meninggalkan Vila
Degh.
"Malya berhijab. Putriku tidak tahu kejadian sebenarnya. Jika kau ingin jadi istriku, maka pilihanmu seperti itu," sahut Bian, menoleh sekilas ke arah Maria.
"Mana mungkin! aku gak mau. Bian, aku punya cara tersendiri untuk mengambil hati putrimu. Tak payah menjadi Malya," ujarnya percaya diri.
"Meeza anak yang cerdas, tentu dia akan mengenali siapa kamu dengan mudah. Jangan membuat anakku bingung, Maria, berkorbanlah sedikit kali ini untukku," pungkas Bian melanjutkan langkah.
Maria mendengus kesal. Dia tak mengira bahwa sosok Biantara telah banyak berubah. "Bian! Bian!" seru sang wanita mengejar Biantara saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Apalagi?" keluh Bian malas.
"Kamu tega sama aku, berpura dengan menggunakan topeng Malya?" rengek Maria menahan lengan pria di hadapan.
__ADS_1
"Hanya untuk penampilan luar. Publik pun tahu bahwa istriku berhijab. Aku gak maksa kamu," ucap cucu emas Cakrawala.
Bian menepis halus cekalan tangan Maria di lengannya, lalu dia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Vila Sawyer.
Sepanjang perjalanan, wajah murung Malya, mata sembab, isakan halus juga palingan muka kala dia meminta haknya mendadak berputar di otak.
Hatinya berdesir mengingat semua perlakuan buruk pada ibu kandung Meeza itu. Malya bahkan tak pernah memandang wajahnya, dia selalu menunduk. Wanita itu juga sangat jarang bicara jika bukan sesuatu hal penting.
Bian meraih ponsel dalam saku, dia melakukan panggilan pada mantan istrinya itu.
"Nihil. Kamu gak pernah balas pesan, juga panggilan. Padahal dulu ketika aku pergi lama, nenek sering memberikan ponsel padamu dan selalu menulis pesan panjang. Malya, kamu sehat kan?" gumam Bian.
Pikirannya berkecamuk oleh bayangan mantan istri yang dia perlakuan semena-mena. Hadir sebersit gundah menemani perjalanan sang duda.
Kala tiba di hotel, pewaris Cakrawala meminta pada frontline agar dia tak di ganggu siapapun.
Setelah membersihkan diri, tubuhnya kian menggigil hebat. Bian meraih obat pribadi yang dia siapkan jika bepergian lalu menarik selimut dan meringkuk di bawahnya.
"Al, Malya," lirih suara ayah Meeza memanggil mantan istri.
Malya yang mengurus jika dia sakit, tanpa banyak bicara bahkan hadirnya seakan samar akan tetapi raga tak dapat menampik perlakuan lembut wanitanya.
"Al, Al, sakit sekali," keluh Bian, sangat lemah.
Alam bawah sadar mengakui bahwa jiwa cucu emas Beatrice merindukan sosok wanita yang dulu setia di sisi akan tetapi terabaikan nyata.
Keluhan mereda kala lelaki kesakitan seakan mendapat sentuhan lembut dari wanita yang dia panggil.
Ting. Bunyi notif ponsel Bian.
"Meeza sudah kembali sesuai jam yang ditentukan. Dia patuh padamu. Jangan abaikan keberadaannya."
.
__ADS_1
.
..._________________...