
Tiga hari kemudian.
Malya di temani Camai menuju gate keberangkatan. Dia sudah menghubungi Bian bahwa akan terbang malam ini sehingga akan tiba di Inggris keesokan harinya.
Roby mengatakan akan menjaga orang tua Malya di rumah. Asisten Brandon juga menyampaikan bahwa Bian memberikan pengawalan jarak jauh bagi mantan istrinya itu, sehingga Malya tak perlu risau.
Boarding pass telah dia cetak, dan kini tibalah saat memasuki kabin pesawat. Malya di kejutkan oleh flight attendant yang memintanya pindah kabin.
"Nyonya Malya Syakia, mohon maaf kursi Anda bukan di sini. Silakan pindah ke depan," ujar pramugari ayu, di dampingi petugas lainnya.
Beberapa pasang mata penumpang tertuju pada bunda Meeza, dia heran lalu mencocokkan tiket dengan kursi yang baru saja dia tempati.
"Benar kok. Ini kan? conjuntion ticket juga begini," kata Malya menunjukkan tiketnya.
"Di manifest, Nyonya Malya Syakia menempati first class. Mari, saya antar ke kabin Anda. Bagasi Nyonya akan di bawa oleh petugas kami, silakan," ujar pramugari menyilakan Malya bangkit mengikuti mereka.
Bunda Meeza menggelengkan kepala, ulah siapa lagi jika bukan Roby atau Bian. Ingin berkirim pesan tapi announcement telah memberikan peringatan sehingga urung Malya lakukan.
...***...
Amukan Bian pada seseorang menunjukkan hasil. Malya di izinkan mengambil cuti dan menyelesaikan pekerjaannya secara online. Kini dia tengah menantikan pesawat yang membawa istrinya landing.
Suara announcement menggema, menginformasikan bahwa pesawat yang Malya tumpangi telah mendarat selamat.
Bian gusar, dia gelisah. Jantungnya berdegup kencang menantikan bunda Meeza keluar dari sana.
Tak lama, wanita ayu pun nampak dari kejauhan. Bian masih ingin mengamati pesona Malya Syakia, sebelum menghampiri.
"Maa sya Allah. Makin makin makin," gumam daddy Meeza. Dia perlahan mendekat kala Malya membeli minuman hangat di salah satu kedai setelah keluar gate.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Bian seraya menarik kopernya. Keberangkatan dia ke Indonesia masih dua jam lagi.
Malya menoleh ke sumber suara, sedikit terkejut dengan penampilan mantan suaminya kini. Bian terlihat lebih dewasa juga berbeda.
"Wa 'alaikumsalam. Mau juga?" tanya Malya menghilangkan kecanggungan.
Bian menggeleng, memilih duduk di kursi yang kedai sediakan seraya menarik koper mantan istrinya.
Daddy Meeza menopang wajah dengan tangan kiri, melihat Malya melakukan transaksi sebelum dia duduk.
"Capek ya? kamu bawa semua yang aku minta kan?" tanya Bian masih lekat memandang wanita ayu dalam balutan hijab coklat tua.
"Semua di bawa kok," jawab Malya lugas. Dia menundukkan wajah, tak ingin menatap Bian berlama-lama.
__ADS_1
Hening.
Sunyi.
Tiada obrolan di antara mereka. Hanya suara announcement dan hilir mudik calon penumpang.
Malya canggung, dia menengadahkan wajah tapi justru kian membuatnya salah tingkah. Bian masih menatap intens dan saat kedua tatapan mata mereka bertemu, pria tampan itu mengulas senyum menawan.
"Eh," gumam Malya.
"Allah yubarik, Sayang. Cantik banget sih, jadi gak sabar buat ngelamar lagi," ucap Bian untuk wanita di hadapan.
"Allah yubarik fiika. A-aku langsung ke rumah sakit saja ya, gak ada lagi yang ingin di sampaikan bukan?" kata Malya mengaburkan canggung.
Biantara tersenyum, dia tahu Malya salah tingkah. "Untukmu, Sayang," ujar Bian, menyerahkan buket bunga Krisan.
Binar mata Malya terpancar melihat rangkaian bunga di hadapannya. Tanpa sadar, wajahnya berseri kala dia mengulas senyum.
Senyuman manis pemilik iris mata coklat tua, menular pada pria dewasa yang masih lekat memandang.
Tatapan keduanya kembali bertemu, Malya kian merona. "Tundukkan pandangan pada yang bukan mahram," lirih bunda Meeza.
"Aku menundukkan pandangan pada wanita lain tapi tidak padamu. Setelah ini selesai, bolehkah aku meminta waktu berdua bicara denganmu, Al? dan selama kita belum mengungkapkan isi hati, maukah kamu untuk tidak menerima pinangan pria lain?" tanya Bian dengan ekspresi wajah tenang, nada bicaranya lembut di sertai tatapan memuja.
"Dosa loh. Itu privasi aku, Mas gak bisa menolak kapan Allah datangkan cinta jadi jangan berharap. Namun, jika hanya ingin menyampaikan isi hati, silakan asal tidak menyalahi aturan," jawab Malya.
"Alhamdulillah. Kita fokus ini dulu. Sudah siap bantu aku, Al?" tanya Bian lagi.
Malya mengangguk, dia menyiapkan note untuk segala rencana mantan suaminya. Bian tak melepas pandang pada sosok ayu di hadapan. Dia sangat menjaga intonasi suara kala bicara dengan Malya secara intim seperti ini.
"Aku paham. Mas langsung berangkat? sudah waktunya check-in," kata Malya mengingatkan setelah suara announcement bergema.
"Iya, Sayang. Aku percaya padamu, ikut mereka ya," kata Bian menunjuk dua bodyguard wanita di pilar bagian kanan dengan ekor matanya.
"Bye, Mas. Assalamualaikum," kata Malya, mendekap buket bunga dari Bian dan bersiap menarik koper.
"Wa 'alaikumsalam. Peluk gak boleh ya?" goda Bian, di hadiahi tatapan tajam Malya. Keduanya lalu berpisah, giliran bunda Meeza yang menatap Bian lekat hingga pria itu masuk ke gate keberangkatan.
...***...
Beberapa menit meninggalkan Bandara, Malya kini telah tiba di rumah sakit. Ketika pintu kamar itu dia buka, alangkah terkejutnya bunda Meeza melihat Maria dalam penampilan yang hampir sama.
Benar kata Bian. Untung mantan suaminya itu sudah menyiapkan langkah lain, harapan Malya semoga rencana dia dan Bian, tidak terdeteksi musuh.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapa Malya saat memasuki ruangan.
Pandangan Beatrice yang biasanya remeh kini berganti dengan binar kerinduan. Kedua netra wanita sepuh itu nampak berkaca-kaca.
"Selamat datang, kembaranku," sahut Maria, kala melihat Malya pertama kalinya.
Malya tak mengindahkan wanita palsu itu meski sama terkejutnya, dia menyambangi Beatrice di pembaringan. Meraih tangan keriput untuk dikecup.
"Apa kabar, Nyonya besar? merasa lebih baik?" tanya Malya seraya duduk di sisi brangkar.
Beatrice mengangguk, dia merentang tangan sebagai isyarat agar Malya memeluknya. Bunda Meeza sedikit ragu, akan tetapi dia tepis lalu mengabulkan keinginan Beatrice.
"Hati-hati dengan Maria. Jangan terpancing ya, Al," bisik Beatrice kala mereka berpelukan.
Malya mengangguk samar, mengusap bahu tetuanya lembut.
"Aku hampir tak percaya, ternyata kita sangat mirip," kata Maria, dia mengenakan lensa kontak yang sama dengan Malya.
Bunda Meeza masih diam, tak ingin banyak bicara. Dia hanya mendengar wanita itu mengoceh.
"Pantas Bian terkecoh, wajar sih, sebab dia tergila-gila padaku. Maaf jika dia tak memperlakukan kamu dengan baik karena selalu terbayang keintiman kala denganku," sindirnya pada Malya.
Malya hanya tersenyum, masih duduk di sisi brangkar Beatrice. Menggenggam jemari tetua Cakra erat seakan menyiratkan kekuatan bahwa dia tak gentar.
"Kau tak takut padaku?" cecar Maria lagi.
"Kamu bukan Tuhan," jawab Malya lugas.
"Apa Tuhanmu menolong saat kau kehilangan suamimu akibat Biantara? kau juga dipaksa ber-cinta dengan pembunuh suamimu bukan?" Maria memanasi.
Sudah Malya duga, hal ini akan di ungkit untuk memancing emosinya.
"Tentu saja. Tuhanku Maha Baik, mempertemukan aku dengan mas Bian, pria sempurna lagi perkasa untuk menjadi pengganti suamiku. Kau tahu, meski dia mencarimu akan tetapi mas Bian selalu membisikkan namaku di atas peraduan kami, bukan kamu. Jadi apa artinya dirimu bagi suamiku di masa lalu?" cibir Malya, tepat menohok Maria.
"Kau!" Maria bangkit, menunjuk tajam pada Malya.
"Apa? aku tak akan menyerah melawan ular sepertimu!" tandas Malya.
"Lihat saja nanti. Apa kau sanggup melihat semua yang akan terjadi," ucap Maria, melenggang pergi keluar dari sana.
.
.
__ADS_1
..._________________...