BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 31. BIAN GALON


__ADS_3

Hingga esok pagi, Bian baru membuka ponselnya. Banyak pesan juga panggilan dari Maria yang dia abaikan. Siang nanti pewaris Cakra akan pulang ke Jakarta, tak lagi bernafsu untuk menemui wanita nan dia cari setengah mati.


Namun, dia merasa harus menenangkan Maria, Bian menghubungi wanita seksi itu.


"Halo, Maria. Maaf, aku sakit semalam sehingga tidak mengaktifkan ponsel. Bisakah pagi ini kita bertemu di resto hotel tempatku menginap?" tanya Bian dengan nada datar.


Suara manja seketika menusuk gendang telinga Bian. Kekesalan Maria yang menunggu sepanjang malam menjadi sarapan Biantara pagi ini.


"Kamu tega, aku nunggu di sana sampai akhirnya malas pulang dan menginap di sini, hotel tempatmu juga," ujar sang wanita ayu di seberang.


"Maaf. Ayo kita sarapan ke bawah," ajak Bian lagi dan menutup panggilan sebelum Maria menjawab.


Sepuluh menit berikutnya, kedua insan yang pernah saling mencinta bahkan mendamba, masih terlibat dengan pikiran masing-masing. Bian sangat lapar sebab sejak semalam tiada makanan masuk ke lambungnya.


"Bian!" sebut Maria, mulai dongkol sebab lelakinya asik sendiri.


"Aku lapar banget. Kita bicara setelah ini," ujar Bian tak melihat ke arah lawan jenisnya.


Kekesalan Maria kian memuncak manakala cucu Beatrice justru asik mengobrol dengan Chris mengenai masalah perusahaan.


"Denganku enggan bicara tapi kalau sama asisten malah panjang menuturkan kata. Kamu gimana sih?" decak Maria, membanting alat makan hingga bunyi berdenting.


Beberapa pasang mata melihat ke arah sang wanita. Tatapan remeh dilayangkan untuk pemilik wajah ayu.


"Bian!" panggilnya dengan nada sedikit meninggi.


Pewaris Cakra, mengakhiri percakapan dengan Chris dan mulai meladeni Maria.


"Apa keputusanmu?" tanya Bian langsung.


"Harus pakai hijab? dan berpura menjadi Malya, gitu? bukankah kamu bilang kalau Meeza itu cerdas dan akan mengenali aku dengan mudah?" cecar Maria, tak ingin menyerah dengan mudah.


"Meeza akan mengenalimu tapi nenek Beatrice mungkin tidak, beliau membutuhkan waktu. Kau ingin mencobanya?" tantang Bian.


Maria mengangguk cepat. Dia penasaran dengan anak kecil yang di bilang cerdas itu.


"Maria, beri aku waktu, oke? rasanya ada sesuatu yang salah," ujar Bian sembari meletakkan sendoknya di sisi pinggan.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" selidik Maria.


"Aku gagal mengenali perasaanku. Beri aku waktu, oke? jika kau ingin mencoba masuk ke dalam lingkup Meeza, silakan berkunjung ke Mansion manakala nenek tidak ada di sana. Aku akan menemanimu," kata Bian lagi.


Hatinya meragu, bayang Malya masih membekas sementara mata tetap melihat Maria sebagai wanita yang dia cinta meski separuh kalbu seakan enggan mengakui rasa.


Obrolan antara mereka akhirnya selesai, meski Maria terlihat tidak senang akan tetapi Bian bersikukuh terhadap keputusan semula.


"Aku pulang. Ku harap, kamu perlahan berubah lebih baik, Meeza terbiasa melihat ibunya menutup aurat. Jika akhirnya nanti identitasmu terbongkar, Meeza tak akan menentang secara frontal," kata Bian sebelum bangkit pergi.


Maria Sawyer kian terlihat dongkol dengan keputusan Bian. Tapi dia akan mencoba mendekati keluarga Cakrawala melalui Meeza.


Siang itu cucu emas Beatrice meninggalkan Bandung lebih cepat dari jadwal yang dia prediksi untuk kembali pulang.


Tujuan duda beranak satu langsung menuju tempat di mana Malya tinggal, meski Roby tak memberi tahu alamat jelas mantan istrinya.


Sesampainya di Greenland paradise, Bian menelan kecewa.


Biantara bahkan terkejut kala mendapati mantan mertuanya ada di unit tersebut. Pantas saja ketika Chris di tugaskan untuk memantau sang mertua, asisten itu mengatakan kehilangan jejak.


"Loh, Ayah Ibu di sini?" tanya Bian heran ketika Mardiah membuka pintu, terlihat Haji Syakur di ruang tengah.


Ayah kandung Meeza mengikuti arahan mantan mertua meski hatinya kini gelisah. Dia khawatir di salahkan dalam hal ini.


Malya tak menggubris keinginan dirinya meski berkali Mardiah mengetuk pintu kamar. Haji Syakur lalu meminta Bian duduk di ruang tamu apartemen Malya.


"Maksud kedatangan Nak Bian ke sini mau bahas apa?" tanya sang ayah.


"Aku hanya ingin melihat kondisi Malya," jawab Bian lugas.


Haji Syakur tersenyum. Mungkin dia hendak mengatakan rindu tapi gagal mengenali diri.


"Malya baik, Alhamdulillah. Dia tidak menemui siapapun kecuali mahram," jelas sang ayah lagi.


Biantara hanya menunduk. Paham tabiat mantan istrinya. Niatan menemui Malya sebenarnya pun abu-abu. Dia hanya ingin melihat wajah itu saja.


"Baik ayah, aku pulang saja kalau begitu. Salamku untuknya dan ini kesukaan Malya, semoga dia hanya membenci aku bukan pemberianku," kata Bian lagi, meninggalkan banyak benda di sofa.

__ADS_1


Mardiah, duduk disebelah Bian pun penasaran apa yang di bawa sang menantu untuk putrinya.


Senyum terlukis di wajah senja, bahwa Bian ternyata memahami kesukaan sang anak. "Nak Bian, tahu kesukaan Malya?"


"Meski diam dan cuek terhadap dia, aku tahu semua kebiasaan istriku, Bu. Maaf jika memang sikapku tidak menunjukkan juga mencerminkan tugas dan tanggung jawab sebagai suami. Aku terlalu tenggelam dalam masa lalu, Yah. Ingin memperbaiki ini semua tapi agaknya sulit," tutur Bian menunduk.


Haji Syakur mengerti, kisruh rumah tangga mereka sejak Malya menceritakan garis besar dirinya menghilang dan menjadi nyonya muda Cakra.


"Berusahalah dengan gigih. Kertas yang teremat tak akan kembali mulus tanpa jejak kusut. Tetap akan meninggalkan bekas. Semua dibuktikan melalui tindakan, jangan lupa merayu Tuhan agar langkah Nak Bian mudah. Namun, seandainya suatu saat Alya menolak kembali, ayah harap Nak Bian berlapang dada," pesan pria sepuh yang sudah lebih baik dalam pelafalan kata.


Biantara mengangguk samar. Harapannya tipis mengingat segala perlakuan kasar. Dia pun pamit beranjak dari sana.


Saat akan turun menggunakan lift, dia bertemu dengan Roby.


"Tuan muda, sedang apa di sini?" tanya sang asisten.


"Kamu tahu tujuanku bukan. Roby, jangan menggenggam Malya terlalu erat, takut kau tanpa sadar melukainya," tegas sang CEO.


"Sesuatu yang bebas mempunyai hak memilih siapa nan dia senangi, tuan muda. Anda bukan salah satu tipe pria, jika telah membuang lalu memungutnya kembali bukan?" balas Roby.


"Kau berani padaku?" geram Bian, mendapat signal bahwa usaha mendekati Malya akan di halangi Roby.


"Jika saya benar dan pantas, maka akan bertahan, Tuan," sahut kepercayaan Brandon.


Bian tak lagi membalas pemuda itu, dia memilih masuk ke dalam lift lalu meninggalkan gedung menuju suatu tempat.


"Halo, Buddy, aku ke kantormu sekarang ya. Gak ganggu kan?" tanya Bian kala telah tiba di basement hendak menuju mobilnya.


"Tidak. Mana mungkin kedatangan sepupuku menjadi hal mengganggu? kemarilah," ujar seorang pria di seberang.


"Oke. Aku ke sana sekarang, thanks," balas pimpinan Cakrawala.


Toyota FT86 meluncur cepat, membaur dengan padat jalanan Jakarta. Mengabiskan waktu bersama kendaraan serupa menaklukkan kemacetan.


.


.

__ADS_1


..._______________...


__ADS_2