
Malya mendekap erat Meeza dan tak lama keduanya hanyut dalam buaian bunga tidur.
Keesokan pagi, sebelum subuh.
Ibu satu anak ini, memandang lekat wajah polos putri satu-satunya. Menciumi pipi gembil bertubi hingga Meeza menggeliat dan terbangun.
Gadis cilik terkejut kala mendapati Malya berada disampingnya memeluk erat. "Bundaa," sebut Meeza dengan suara khas anak kecil baru bangun tidur, membalas pelukan ibunya.
"Shobahul kheir, Sayang. Kalau di asrama, nanti gak boleh manja," bisik Malya mengusap punggung Meeza lembut.
"Shobahan nuur. Iya. Bunda gak apa kan? Zaza jauh sebentar?" balas bocah ayu.
Seharusnya Malya yang berkata demikian, bukan Meeza. Namun, anak itu seakan tahu bahwa ini adalah cara agar dia dapat mengambil hati Beatrice, sehingga bertemu dengan Malya di kemudian hari menjadi lebih leluasa.
"Kudunya bunda yang tanya begitu. Kamu gak apa sekolah jauh?" sahut Malya.
"Gak apa, kan Zaza anak pintar, kata Byby nanti Zaza punya banyak teman orang bule," kekehnya masih membalas pelukan ibunya.
"Benar. Kamu sangat cerdas. Di sana ada Mbak Sari kan ya? daddy nemenin sampai Zaza bisa mandiri selama tiga bulan. Nanti, kangen bunda ke Meeza bakalan menumpuk banyak dong, Sayang, sebab bunda gak bisa selalu kunjungi Zaza di sana, tak apa?" tegas Malya lagi.
"Tak apa. Kalau aku pulang kan nanti boleh bobok dengan bunda. Daddy bilang, akan ke Zaza sebulan dua kali. Bunda, nanti kita akan ketemu lagi kan ya?" tanya Meeza menengadahkan wajah menghadap Malya.
Sorot mata sendu anak gadisnya tak bisa terelakkan lagi. Meeza bahkan mengkuatirkan hal yang sama.
Malya tak kuasa menatap binar mata yang memancarkan pengharapan. Dia tak ingin membual juga tiada dapat mengatakan hal nan dia tidak ketahui. Semua kendali ada pada Beatrice, bahkan Bian pun membela keinginan tetuanya.
Keduanya lalu larut dalam suasana tenang nan syahdu di temani sayup suara tahrim marbot dari kejauhan.
Setelah subuh, pasangan ibu dan anak melakukan banyak rutinitas pagi seperti biasa. Apa yang menjadi kebiasaan Malya kini melekat dalam keseharian Meeza. Bocah berusia tiga setengah tahun itu terlihat mandiri.
Kehadiran Meeza di tengah hunian membuat Mardiah semangat membuat cemilan ini dan itu. Mengajak Meeza berkutat di dapur bertiga, bercanda juga lainnya.
"Aku mau masak cah kangkung dan ikan asin, nenek. Juga es melon serut buatan bunda, ehm, satu lagi, jelly melon pakai vla susu, bunda ayo bikin," rengek Meeza meminta menu kesukaannya dan Malya.
"Za, nanti di Inggris gak ada ikan asin loh. Kalau kangen masakan bunda, bagaimana?" tanya Mardiah.
__ADS_1
"Aku tahu cara memasaknya. Nanti, minta Mbak Sari saja yang buatkan, atau kalau bunda ke sana. Kita buat sama-sama," tutur Meeza lagi.
"Pinternya cucu nenek. Meeza kenapa suka masakan kampung? kan Oma pasti masak enak-enak," pancing Mardiah ingin tahu.
"Karena masakan bunda enak. Kalau yang Oma bikin bisa beli di resto, punya bunda kan gak ada di resto," tawanya mengudara membuat semua penghuni ikut menertawakan kalimat polos Meeza.
"Bener, selera kampung lebih nikmat. Nanti kalau Zaza liburan. Kita botram ya, makan dialas daun pisang, pakai nasi liwet, ikan asin juga lainnya. Mau?" tawar Haji Syakur ikut menghampiri area dapur.
"Besok bikin aja, Kek. Kan Meeza masih di sini. Kata daddy, Zaza nginep dengan bunda sampai kapan ya? bunda, bundaaaaa?" celoteh gadis polos itu, dia mencari Malya yang tiba-tiba menghilang.
"Bunda ke kamar ganti hijab panjang. Mau ajak Zaza ke bawah kayaknya," sahut Mardiah.
Tak lama, Malya muncul dan mengajaknya keluar apartemen menuju fresh market di lantai dasar.
"Belanja yuk, buat botram dan kita beli semua keperluan kamu," ajak Malya.
Gadis kecil itu girang bukan kepalang, dia menyambut antusias ajakan ibunya, lalu kedua wanita beda usia itu keluar hunian.
Saat berjalan di koridor, mereka berpapasan dengan Roby yang masih mengenakan setelan semalam. Wajah pria itu terlihat kusut tanda dia lelah belum tidur.
"Bybyyyyyyy!" seru Meeza tak kalah girang seakan bertemu soulmatenya.
Meeza merentang tangan agar uncle Byby nya menggendong. "Mau kemana salihah?" tanya pria yang masih terlihat tampan meski penampilannya kusut.
"Belanja sama bunda ke bawah. Byby capek ya? Oma rewel?" balas Meeza seraya membelai pipi paman ganteng.
"Bukan capek tapi lelah, setelah mandi nanti segar kembali. Zaza duluan ya ke bawah, nanti Byby nyusul. Oma sedikit rewel semalam tapi pagi ini sedang bobok," jelas Roby untuk gadis dalam gendongan.
"Meeza, turun yuk, nenek nungguin bahan makanannya loh. Uncle Byby sedang lelah," ajak Malya agar putrinya lepas dari gendongan sang asisten.
Bocah ayu mengangguk, dia membubuhkan kecupan di pipi uncle Byby kesayangannya lalu turun.
"Bye Byby, byeeeeee," serunya riang melambaikan tangan pada Roby.
"Bye Zaza, byeeeee," balas Roby tak kalah gaya dengan Meeza. "Anakmu gemesin, Al, kayak emaknya," gumam Roby berbalik badan masuk ke unitnya.
__ADS_1
Dalam beberapa menit ke depan.
Roby mencari pasangan ibu dan anak ke fresh market. Setelah menyusuri banyak lorong bahan makanan, dia menemukan sosok yang di cari.
"Mau masak apa?" tanya Roby, berdiri di samping Malya saat memilih ikan segar.
"Ikan nila bakar, urap, ikan asin, lalap, sambal, sayur asem, tahu tempe," kekeh Malya menyebutkan semua menu.
"Oh, liwetan ya. Biar aku pilihkan ikan nila yang segar," kata asisten, dia telah melihat banyak belanjaan dalam keranjang.
Roby membayar semua belanjaan kali ini, meski Malya menolak hingga keduanya berdebat di depan kasir. Meeza hanya tertawa melihat kedua orang dewasa berebut hal remeh, pikirnya.
Setelah debat alot, akhirnya Roby mengalah. Dia membiarkan nyonya mudanya itu melakukan payment. Mereka pun lalu naik ke hunian.
Dua jam waktu yang dibutuhkan untuk semua menu tersaji. Daun pisang menghampar meski tanpa tulang daun. Mereka pun makan siang lesehan. Meeza sangat antusias terlebih semua adalah Malya yang memasak. Dia bahkan ikut memperhatikan kala ibunya melakukan semua proses itu dari bahan mentah hingga matang.
"Enak kan masakan bunda? Byby nambah banyak," tawa Meeza membuat suasana riuh.
"Zaza juga," sahut Roby, enggan diklaim sebagai tukang pembersihan menu.
"Bunda, Zaza akan ingat semua ini, hari ini, pokoknya Zaza sayang bunda," kata Meeza, dia memeluk Malya begitu saja, mengecup pipi wanita yang terkejut dengan sikap manis itu.
"Iya, Sayang. Bunda akan ingat ini sebagai kenangan manis kita, ya," balas Malya, mengecup pucuk kepala Meeza.
Sisa satu hari lagi, kebersamaan mereka. Roby melihat Meeza menegarkan ibunya sementara Malya masih terlihat sendu jika bocah itu berlaku manis.
Roby pulang setelah Malya dan Meeza masuk ke kamar, mereka memilih tidur siang dan akan kembali jalan-jalan saat sore nanti.
Diam-diam, sang asisten mempersiapkan sesuatu untuk keduanya. Sebuah benda yang dapat menjadi pengobat rindu.
"Tanpa sadar, kalian berdua menjadi bagian dari hidupku. Al, teguh ya. Aku akan cari cara agar kamu dapat menjalin komunikasi dengan Meeza," gumam pria tampan, sebelum memejam setelah menyelesaikan satu misi.
.
.
__ADS_1
..._________________...