BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 41. RAHASIA DI BUKU CATATAN


__ADS_3

"Tapi sepertinya Meeza cerdas. Dia seakan mengamatinya dalam diam," kata Maria dengan wajah terheran.


"Kau kan berkamuflase menjadi bagai ibunya, sesuaikan antara busana yang kamu pakai dengan perilaku tersebut. Masa untuk hal ini saja, aku harus memberikan arahan, Maria?" tegas Andreas, pada wanita yang di gadang akan menjadi istrinya itu.


"Bagaimana dengan Bian?" tanya wanita di seberang.


"Dia hanya akses agar dekat dengan Meeza. Jangan abaikan Chris, lelaki itu lebih peka di bandingkan Bian," sahut Andreas.


Pembicaraan antar dua orang dengan tujuan berbeda, berakhir Bila Andreas hanya butuh pengakuan, lain hal dengan Maria. Dia hanya ingin hidup mewah sepanjang hayat. Cintanya pada Bian perlahan memudar kala mendapati bahwa sosok Andreas lebih mampu memanjakannya tanpa bayangan tetua.


Maria bahkan telah bertemu Anne, dan wanita kaya itu sangat berbeda dengan ibunya. Anne justru menghadiahi Maria limpahan sayang selama masa pemulihan, membuatnya makin berbesar hati akan menetap menjadi bagian Valencia.


Bila kedua orang getol memupuk rencana agar sempurna, lain hal dengan Malya. Pekerjaan kian menumpuk, membuat dia kesulitan memilah waktu meski sekedar menjawab pesan chat di ponselnya.


Kedua sahabat Malya, Astrid dan Sesil yang melihat Malya berkutat sejak dia tiba hingga melewatkan jam istirahat, menegur pelan ibu satu anak itu.


"Al, Byby siapa? kamu dapat kiriman makanan dari dia nih," kata Astrid seraya menenteng goodie bag saat dari lantai dasar.


Malya baru saja selesai melipat sajadahnya kala wanita dengan mata sipit itu menghampiri kubikel.


"Byby? oh, iya, simpan di situ saja," pinta Malya kembali merapikan hijabnya.


"Di sini ditulis, tolong suapi dia, jika Al menolak berhenti sejenak dari semua pekerjaannya," ujar Astrid membacakan pesan di dalam tas kertas berisi makanan itu.


"Pacar, Al?" selidik Sesil sambil merapikan poni yang berantakan.


"Modelan Malya kok pacaran, anti, dia kan type langsung lamar dan nikah, makan belom sih lo," cebik Astrid menyenggol lengan Sesil yang asik ngaca.


"Yee, kan gue nanya, mana tahu Malya kesambet jadi lupa ama aturan," tawa Sesil menggema.


"Dih, o--" balas Astrid tapi di jeda oleh Malya


"Sudah, kebiasaan ribut melulu. Heran deh, kalian ini satu kost, pulang bareng tapi selalu berantem hal kecil," kekeh Malya meraih makan siang yang Roby antar.

__ADS_1


Malya membuka paper bag di atas meja lalu mengeluarkan isinya. Salad, jus, chicken katsu juga vitamin c, tak lupa, masker wajah.


"Eh, ini laki atau perempuan? kok ngerti banget kayaknya kesukaan wanita. Calon suami ya, Al?" cecar Astrid lagi.


"Bukan. Kalian mau? kita makan sama-sama," ajak Malya menawarkan menu makan siang pada kedua sahabatnya.


Malya sengaja tak menjelaskan siapa sosok Roby. Bisa jadi bahan ghibah kedua gadis itu sekaligus membongkar identitas dirinya di masa lalu sebagai mantan istri seorang pimpinan retail ternama.


"Enggak ah, makasih. Kita udah makan di bawah tadi. Ini manis banget sih, fix laki," tebak Astrid lagi melihat dari tulisan tangan, pilihan menu, juga caring.


Malya hanya tersenyum menanggapi ocehan kedua sahabatnya. Menu pilihan Roby tak pernah gagal mengisi lambung sekaligus menutrisi.


["Syukron, makan siangnya."] Malya membalas pesan sang asisten yang sudah menggantung sejak dua jam lalu.


["Afwan. Cuaca mendung, baiknya segera notif Camai untuk menjemput saat pulang nanti."]


["Ya kheir. Sudah. Syukron."]


Malya meletakkan kembali gawainya di atas meja, lalu melanjutkan meminum vitamin dan memakai masker wajah dengan aroma apel segar.


Kedua wanita pun tersenyum melihat tingkah gadis dengan penampilan culun ini. Sesil adalah hiburan di tempat kerja.


"Kan gak boleh ghibah. Jadi ngomongin pelan langsung di telinga Malya aja," jawabnya polos mengundang tawa kembali.


Sepanjang hari, terlewati dengan peluh nan perlahan mengering, hingga senja datang menyapa.


Malya sudah tiba di rumah tepat kala hujan lebat mengguyur Jakarta sore itu. Dia melihat Roby baru tiba akan tetapi tengah bicara dengan seseorang di lobby. Malya mengabaikan dan berlalu menuju lift.


Dia bergegas masuk ke kamar manakala saat di tempat kerja, jemarinya menemukan hal sensitif kala membuka lembaran buku catatan sang asisten.


Malya penasaran dengan coretan di sana. Dia hanya sekilas melihat tadi, khawatir Sesil memergoki dan merebutnya, dia tak rela.


"Al, tadi Roby ke sini sebelum pergi kerja. Katanya apa kamu sudah selesai pinjam buku dia?" tanya Mardiah saat Malya baru saja masuk.

__ADS_1


"Oh, bentar lagi kelar kok, mau di salin dulu, belum selesai," kilah Malya.


Wanita ayu masuk ke kamar, membersihkan diri dan rebahan sejenak sebelum azan Maghrib menggema. Dia lalu membuka halaman yang membuatnya penasaran di buku milik Roby.


"Oh, jurnal kerja. Dan ... what!" Malya membola, wajahnya merona bagai kepiting rebus.


Tulisan tangan Roby sangat rapi sehingga mudah dibaca siapapun. Di beberapa halaman, dia bagai di kulit oleh pria itu.


"Ya Allah. Aku malu, masa dia tahu sampai dalam begini sih, mana semua pas pula," cicit Malya melihat deretan tulisan tentangnya di sana.


Pantas saja, dia sangat paham sebab memang sudah mengantongi data diri Malya hingga ke hal sensitif.


"Mas Bian aja belum tentu tahu. Lah, dia siapa, Zazaaaaaaaa, Byby kamu nakal," seru Malya membungkam mulutnya dengan bantal agar tak terdengar penghuni lain.


Malya melanjutkan ke halaman selanjutnya, kosong, kosong, kosong. Ternyata Roby menulis secara acak di sana. Dia menemukan lagi hal tentangnya.


"Ya Robb, pantesan semua yang ada di sini sesuai seleraku. Obat, skincare semuanya detail. Kakek yang menyuruh kamu atau ini murni kekepoan kamu, Byby?" selidik Malya memandang langit-langit kamar.


"Jangan terlalu dekat, By, aku takut. Meeza juga belum tentu menerima. Kamu pria normal, jangan sampai ada hati yang terluka karena aku," gumam Malya, memejamkan mata. Mengulas segala hal baik yang Roby lakukan untuknya.


"Enggak, Al. Dia hanya menjalankan amanah saja. Jangan terbuai apalagi hanyut, musim hujan rawan banjir," kekeh Malya menutup buku catatan Roby setelah dia mengambil capture untuk rencana kerja yang telah tersusun.


Sementara di hunian satunya.


Roby gelisah sejak pagi tadi. Malya membawa buku catatan yang di dalamnya ada data diri wanita itu kala diminta Brandon mencari tahu.


"Selamatkan wajahku ya Robb, jangan sampai dia baca, aku gak sanggup kalau Al menuduhku mesum atau bahkan menjauhiku," kata Roby cemas.


"Eh, mungkin ada bagusnya juga sih. Kalau ketahuan ayah, siapa tahu langsung di suruh ngelamar sebab mesumin anaknya," tawa asisten Brandon mengemuka.


"Halu Rob, halu mulu kerjaan lu, ah. Mana mungkin Malya mau sama kamu, mantan suaminya trilyuner. Lah, kamu punya apaan? tapi nanti gimana ya, kalau ketemu dia," ucap Roby uring-uringan di kamar.


.

__ADS_1


.


..._______________...


__ADS_2