
Malya menikmati hari pertama dia menghirup udara bebas. Menyapa ramah setiap staff yang dia temui dalam perjalanan menuju kubikelnya.
Meski sering melihat wajah rekan satu divisi dan beberapa tampak telah familiar sebab terpampang pada profile WhatsApp, tetap saja Malya antusias. Terlebih mereka sama sekali belum melihat wajah ayu itu selama ini.
Bunda Meeza masuk ke divisi keuangan, dia mengucap salam lalu berjalan menuju meja di sudut ruang.
"Selamat pagi!" kata Malya saat membuka pintu.
"Pagi!" jawaban beberapa rekan yang acuh.
Dua pasang mata mengikuti langkah sang wanita ayu. Mereka menduga hingga berebut menghampiri Malya yang baru menarik kursi dan duduk di balik meja.
"Mal-ya? kamu Malya, Malya Syakia?" tanya Astrid, wanita berambut panjang dengan mata sipit.
"Bodo sih, udah di bilangin kalau pagi jangan makan buras lima, cukup tiga aja biar otak lu bisa mikir gak kepenuhan. Udah jelas dia duduk di meja kosong milik Malya," balas Sesil, menepuk lengan sahabatnya.
"Lu kali, udah tau gue bodo, di ikutin. Kepo kan," kata Astrid menarik poni Sesil yang hampir menutupi mata.
"Eh, gak boleh berantem. Kalian ini demen amat ribut dimana-mana. Kan bestie," ucap Malya, menopang dagu dengan kedua telapak tangan, melihat ke arah keduanya.
Suara yang akrab terdengar, membuat kedua gadis saling pandang, seruan mereka riuh menyebut namanya.
"Malyaaaa, ahhhhh, Malyaaaa!" seru Astrid dan Sesil, berebut memeluk Malya.
Sorak sorai keduanya mengundang perhatian semua penghuni divisi. Satu per satu, mereka datang ke kubikel Malya dan berkenalan secara langsung.
"Modelan begini sih, mahmud kualitas wahid," celetuk Angga, sang wakil manager divisi keuangan.
"Modelan lu, kualitas ndlosor. Malya gak selevel, mon maap," omel Sesil, berkacak pinggang.
"Playback cap corona, jaga jarak!" usir Astrid pada Angga yang enggan beranjak dari sana.
"Playboy, Neneng! aneh gue, macam buntelan gini masuk keuangan, dilihat dari mana coba keahliannya?" seloroh Angga meninggalkan mereka.
"Gak boleh merundung, itu kekerasan verbal namanya. Kalian, nanti tolong bantu aku ya jika ada kesulitan," ujar Malya, membalas pelukan kedua sahabatnya.
"Kita happy sekali akhirnya kamu bisa masuk ke sini. Kamu kuat banget, Bu Herawati bilang ke kami, alasan tentang ketidakhadiran sebab ehm itu. Anehnya oleh Pak Michael di kasih izin loh," bisik Astrid mengusap punggung Malya.
"Kuat karena Meeza," lirih Malya. Mereka pun sepakat membuat grup chat bertiga.
"Selamat pagi! Selamat datang dan bergabung dengan divisi kami, Malya. Saya harap semua dapat bekerjasama dengan baik ... oh iya, Pak Michael meminta kamu menghadapnya sekarang ke ruangan beliau," Herawati menyapa para anak buahnya dan meminta Malya ke lantai sepuluh.
"Baik, Bu," jawab Malya bergegas bangkit.
__ADS_1
Lima menit kemudian. Ruangan Michael.
Tok. Tok.
"Masuk." Suara maskulin terdengar.
Bunda Meeza mendorong pintunya pelan. "Selamat pagi, Pak. Saya Malya," sapa Malya saat telah masuk.
"Hai Malya, selamat datang," sapa Michael ramah.
Mantan menantu Cakrawala mendapat banyak wejangan dari pria tampan di balik kursi yang tak lepas memandang dirinya. Malya hanya menunduk, sesekali mengangguk dan tersenyum hingga tak lama kemudian sang CEO melepasnya kembali.
Awal hari yang menyenangkan hingga senyum tak surut dari wajah cantik bagai kembang nan tengah mekar.
Waktu bergulir cepat, tanpa terasa telah tiba di penghujung hari. Malya bersiap pulang, membawa satu tugas yang belum selesai dia kerjakan.
"Al, duluan ya," kata duo gadis melambai kala motornya melintas di depan Malya yang tengah menunggu driver ojol.
"Dadah, hati-hati ya," balas Malya memberikan kecupan jauh.
"Mau pulang bareng?" tanya Angga.
"Aku sedang nunggu jemputan," jawab Malya lugas. Dia paham maksud ajakan rekan kerjanya.
"Eh, Bos. Aku duluan ya, Al," kata Angga menyingkir, sang pimpinan bukanlah lawan sepadan pikirnya.
Tersisa mereka berdua berdiri bersisian. Malya bergeser sedikit agar tak terlalu dekat sebab banyak pasang mata wanita menatap tak suka padanya.
"Malya, kita pulang bareng?" tawar Michael terang-terangan.
Belum sempat Malya menjawab, suara klakson mobil mengalihkan perhatian bunda Meeza.
Roby memarkirkan mobilnya tepat di depan Malya, dia pun turun lalu membukakan pintu kiri untuk sang Nyonya. Meski tanpa suara, pesona sang asisten tak kalah klimis dengan pimpinan Malya.
Tiada pilihan, driver ojolnya tak kunjung didapat sementara hari mulai gelap. Daripada pulang dengan orang asing, mending bersama Roby, pikir Malya.
"Saya duluan, Pak," ujar Malya masuk ke dalam mobil asisten Brandon.
Michael hanya bisa mengangguk samar, merelakan incarannya pergi.
"Sejak lamaran kamu masuk, entah kenapa aku tergugah untuk mengerti kamu, Malya. Ternyata, sosoknya memang setenang dan sekalem itu," gumam sang pimpinan. Tak lama, dia pun meninggalkan kantor.
Dalam sebuah kabin mobil.
__ADS_1
Kecanggungan melanda Malya. Ini tidak benar, pikirnya. Dia lalu mencari alasan agar dapat keluar dari mobil Roby. Berada sangat dekat dengan pria di samping membuat dia rikuh.
"Ehm, Pak Roby, bisa tolong--" pinta Malya pelan takut membuat dia tersinggung.
"Di depan ada Indoapril, kita akan singgah. Saya telah meminta driver ojol wanita, motor dan mobil, yang dapat mengantar Anda kemanapun untuk menunggu di sana. Termasuk antar jemput saat bekerja, Nyonya," ungkap Roby tak melihat ke arah Malya.
"Eh, sudah ada? cepat sekali," cicit Malya tak menduga Roby sangat peka.
"Anda adalah prioritas saya," ujarnya seraya membelokkan mobil ke arah tujuan. Keduanya turun dari sana, Roby lantas memberikan instruksi pada dua orang gadis di depannya.
"Beliau, Nyonya Malya. Kalian harus standby dan wajib mengantar beliau kemanapun tanpa kecuali. Silakan saling save nomor kontak," titah Roby.
"Halo, aku Malya," sapanya pada kedua gadis.
"Hai Bu Malya, saya Mery, dan saya Camai ojol car," balas keduanya.
"Aku hanya butuh salah satunya, Pak Roby," kilah Malya tak enak hati.
"Tergantung kebutuhan Anda saja, Nyonya. Ini sumber daya untuk keselamatan Anda," tegasnya tak ingin di bantah. Dia lalu meminta Camai mengantar Malya pulang sebab Roby masih harus kembali ke kantor.
"Hati-hati," kata Malya saat asisten itu pergi.
"Anda juga," balasnya membungkukkan badan lalu masuk ke dalam mobilnya.
Malya menghela nafas. Inginnya mandiri tapi Roby malah memanjakannya. Dia menduga apakah ucapan pagi tadi di nilai Roby sebagai permintaan.
"Mulai sekarang kudu hati-hati kalau bicara dengan Roby," gumam Malya saat telah di dalam mobil dengan Camai.
...***...
Sementara di kediaman Cakrawala.
Bian menatap kalender sejak dia tiba di ruang kerja. Dia benar-benar telah menyandang status duda sebab Malya menolak rujuk dengannya.
Pekan depan, dirinya akan bertemu dengan Malya sebab Meeza meminta Bian yang mengantar.
"Kamu pasti sudah bisa keluar rumah ya, Al. Telah bebas," gumam Bian, mengusap foto Meeza dan dirinya di atas meja.
"Meeza, Maria meminta kamu juga bertemu dengannya. Aku gak tahu apa yang akan terjadi nanti," lirihnya, menyandarkan tubuh pada kursi kebesaran.
.
.
__ADS_1
...___________________...