
Biantara Cakra menghela nafas panjang. Dia meraih gawai yang dilempar oleh Beatrice. Sang pewaris kemudian memilih bangkit dari sisi brangkar dan menarik kursi agar leluasa bicara dari hati ke hati dengan sang nenek.
Beatrice tak sabar, dia mulai menunjukkan emosi kembali saat Bian masih diam.
"Lekas!" sentak Beatrice, seraya mengepalkan tangan.
Wanita sepuh itu sudah membayangkan hal negatif tentang Malya. Menggoda suaminya masih dalam status istri sang cucu. Jangan-jangan Meeza adalah anak Brandon, pikiran picik Beatrice menguak.
"Bismillah. Jangan di jeda ya, Nek," ucap Bian meminta agar Beatrice mendengarkan seksama.
"Iya, cepat katakan," kata tetua Cakra.
"Wanita yang aku nikahi adalah Malya Syakia. Dia ibu kandung Meeza, bukan simpanan kakek. Beliau tahu tentang Malya mungkin sejak aku menikahinya tapi kakek hanya diam dan menyayangi Malya di saat kita berlaku tak pantas terhadapnya," ujar Bian memulai kisah.
"Semua ini berawal dari kecelakaan itu. Aku mendapat bukti bahwa Maria melakukan perselingkuhan lagi dengan seorang pria di sebuah hotel. Aku penasaran, menyusulnya lalu menyeret dia masuk ke mobil. Emosi membuat kami kecelakaan."
Biantara menjeda kisahnya.
"Aku menabrak sepasang suami istri yang baru saja menikah dua hari. Wajah wanita itu mirip dengan Maria meski busana mereka lain. Saat itu Chris menemukan fakta ini. Lalu menyelidiki tanpa ku tahu."
"Ketika sadar, aku belum mengenali dia hingga masa Iddah Malya berakhir sebab pria yang ku tabrak dengannya meninggal."
"Ada seseorang yang menukar mereka berdua. Aku juga awalnya menduga Malya menipu, hingga memutuskan menikahinya setelah tahu identitas asli dan masa iddahnya berakhir."
Pewaris Cakrawala membeberkan semua kisah dari awal hingga akhir. Dia bahkan menunjukkan semua bukti bahwa Malya dan Maria berbeda. Bukan kembaran sebab usia Malya masih 23 tahun saat dia menikahinya.
"Tetap saja dia menipu!" tukas Beatrice.
"Tidak! aku tahu segalanya sebelum memutuskan menikahi Malya. Aku menyebutkan akad nikah sesuai dengan identitas asli dia bahkan meminta izin pada kedua orangtuanya langsung kala itu."
"Semua dokumen kami sah, tidak ada unsur menipu, Nek. Aku hanya menuduhnya sebagai pengeruk harta tapi Malya tak menggunakan semua fasilitas kartu yang aku berikan padanya. Dia menerima pernikahan sebab di bawah ancaman seseorang. Sementara aku, hanya ingin mengungkap siapa dalang di balik ini semua," beber Bian detail.
"Jadi kalian tahu semua ini dan aku tidak?" tuntut Beatrice.
"Kami sengaja menyembunyikan ini sebab khawatir keselamatan nenek terancam. Orang ini di sekitar kita bahkan sangat dekat," tutur Bian lagi.
Beatrice diam, dia menarik nafas panjang. Tak mengira bahwa wanita yang menemani kehidupan Cakra adalah bukan Maria Sawyer. Antara senang dan tidak, wanita sepuh itu masih setia dalam renung.
"Kakek menyelamatkan Malya saat berpisah denganku. Beliau memberikan hak pada Malya sesuai dengan porsi posisi menantu Cakra. Tidak ada yang menyalahi aturan ini, sebab kakek menyebutnya sebagai hibah. Kita tidak dapat menarik pemberian tersebut atau menggunakan tuntutan terhadap Malya sebagai pengeruk harta," ucap Bian tersenyum. Kakeknya memang cerdas.
__ADS_1
"Istriku memang Malya Syakia sejak awal, bukan Maria. Aku hanya mengikuti permainan orang itu. Nenek boleh merasa lega sebab cucu menantu nenek wanita salihah," pungkas Bian.
"Tetap saja, publik tahu bahwa dia Maria," keluh Beatrice.
"Kita tinggal menunggu waktu kok, pasti akan ada intrik lain yang akan menyerang Cakrawala. Tujuan pelaku semua ini hanya ingin pengakuan, menurutku," jelas Bian sedikit demi sedikit membuka pemikiran Beatrice.
"Siapa, kau tahu?" desak tetua lagi.
"Tentu saja. Dan sudah siap menghadapinya. Nenek ingin tahu? tapi kurasa nanti saja, biar seru," kekeh Bian.
Wanita sepuh yang masih terlihat ayu mendengus. Dia merasa di bodohi.
"Orang kepercayaan nenek, tak lagi patut ada di sisi. Setelah kepulangan nanti, aku akan melakukan pembersihan termasuk dalam tata manajemen Cakrawala," tegas sang CEO.
Beatrice menatap tajam cucunya. Biantara yang dia anggap hanya mengikuti rules standar perusahaan sekarang terlihat lebih tegas setelah dirinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Ternyata selama ini, Beatrice banyak kehilangan masa kebersamaan. Fokusnya membesarkan Cakrawala sebab butuh pengakuan diri dari keluarga Brandon.
"Nyatanya semua ini bermula dariku. Dulu, aku seperti Malya, lalu berhasil dan terobsesi. Tidak boleh ada kesalahan. Ya Tuhan," sesal wanita sepuh di atas pembaringan.
Beatrice memejamkan mata, meminta Bian memasang selang oksigen agar dirinya leluasa menghirup udara tanpa sesak.
"Istirahat Nek. Duduk manis dan lihat dengan tenang. Cucu mu ini bukan lelaki yang dapat dikalahkan dengan mudah, kakek mengajarkan aku untuk tetap tenang agar musuh menganggap bodoh dan remeh," tutur Bian menenangkan sesepuhnya.
"Terima kasih, tidak meninggalkan aku ya, Bian. Meskipun aku selalu memaksakan kehendak. Kejar Malya jika memang kamu ingin kembali," lirih Beatrice.
Biantara tersenyum, dan mengangguk samar seraya menepuk tautan tangan Beatrice.
"Meeza tetap di sini. Penting baginya untuk kuat sejak dini, sampaikan pada ibunya bahwa aku bukan ingin memisahkan dia," pintanya lirih sebelum akhirnya Beatrice memejam.
Hembusan nafas lega, Bian lepaskan. Dia lalu membubuhkan kecupan sayang di dahi wanita pengganti ibunya itu.
"Malya perlahan mengerti, tugasku harus menyelesaikan ini sebelum memintanya kembali. Aku harus menyiapkan rumah yang hangat untuknya. Perjuangan aku, Meeza dan Malya dimulai. Doakan kami ya, Nek," bisik Biantara.
Lelaki berusia tiga puluh tiga tahun itu membuka tirai jendela, mengizinkan banyak udara sejuk London masuk ke bilik mereka. Satu lagi masalah selesai.
...***...
Dua hari jelang pernikahan Andreas.
__ADS_1
Putra sulung Anne tiba kembali di Inggris guna persiapan pernikahannya dengan Maria.
Anne mengajak Andreas mengunjungi Beatrice sebab tetua Cakra itu belum di beri kabar secara langsung.
"Ma, Andreas meminta restu sebab akan menikah dua hari lagi," ujar Anne saat telah di ruangan sang mama.
"Oh, ya? dengan siapa?" tanya Beatrice berpura, sesuai permintaan Bian.
"Mantan menantu mama, Maria," ujarnya lagi. Anne masih menutupi identitas Maria di hadapan Beatrice sesuai permintaan Andreas.
Meeza terkejut, mendengar nama Maria disebut. Tapi dia tahu, nama bundanya adalah Malya, dan Maria sebagai nama panggilan sayang. Meeza mengingat perkataan ibunya kala di greenhouse. Gadis kecil itu mendadak murung.
Valencia ingin memberikan kejutan suatu saat nanti sebagai intrik. Bagaimanapun ibu akan membela anaknya.
"Hmm, sesama saudara kok memperebutkan wanita yang sama. Terserah kalian saja," ucap Beatrice masih kukuh bertahan dengan kepuraan.
"Cinta, Nek," jawab Andreas.
Bian hanya diam, dia fokus menemani Meeza mengaji. Anaknya sangat meniru kebiasaan Malya sehingga mau tak mau, Bian ikut belajar kembali tentang bacaan huruf Hijaiyah. Bahkan Meeza lebih baik darinya untuk urusan mengaji.
"Bian, kau tak ingin memberi selamat padaku?" pancing Andreas. "Sudah bisa move on kan?" ejeknya lagi.
Biantara hanya menanggapi santai. Malya tak sebanding dengan Maria, meski dia baru menyadari hal itu setelah berpisah.
"Semoga kalian bahagia," ucap Bian datar, lalu kembali melanjutkan kegiatan bersama Meeza.
"Daddy, bunda akan menikah dengan uncle? menikah itu selalu bersama kan? bukan dengan Daddy? bunda Zaza diambil uncle?" tanya Meeza, dia mulai menangis seraya menatap Bian.
Degh.
"Zaaa, ssstt, nanti daddy jelaskan," bisik Bian memeluk putrinya.
"Benar, uncle menikah dengan bunda kamu. Jadi, maukan nanti Meeza tinggal dengan kami?" ujar Andreas membuat Meeza kian menangis kencang.
"Jangan libatkan Meeza!" geram Bian menatap sepupunya.
"Apa? gak suka?" tantang Andreas memancing kisruh.
.
__ADS_1
.
..._______________...