
Ting. Notif pesan terkirim muncul di pop up ponsel pria tampan.
"Assalamualaikum, Nyonya. Ini nomer saya, mohon di simpan. Besok pagi, ada petugas dari toko florist yang akan membuat balkon ruang tengah agar terlihat lebih asri. Jangan keluar kamar sebab semua pegawai adalah pria dan saya pun ada di sana." Isi pesan Roby.
Ingin membuat kejutan bagi Malya akan tetapi Roby ingat jika wanita cantik itu tengah menjalani masa iddah dan dia berjanji akan menjaga kedudukannya di masa ini.
Merasa khawatir Malya akan menampakkan diri atau menolak, maka mau tak mau dia memilih menyampaikan niatan. Tiada balasan dari si majikan wanita membuat Roby merasa aneh.
"Dekat dengan dia beberapa bulan ini semenjak tuan besar sakit, kian membuat kamu semakin terlihat berbeda, Al. Apalah aku, tak akan pernah terlihat di matamu bukan? aku tahu, kalian sebenarnya saling mencintai akan tetapi tertutup ego. Apakah aku harus masuk ke dalamnya sehingga mereka sadar akan rasa hati?" gumam Roby, tersenyum melihat satu foto Malya saat mengaji di sisi brangkar Brandon yang dia ambil secara candid.
"Maaf, tuan muda Bian. Aku mengagumi mantan istri Anda. Namun, dia sangat tinggi ... Al, cukupkah bila hanya bermodal ar-rahman untuk menjadi syarat bagiku agar dapat lebih dekat?"
Pria bernama asli Roby al ashfaq ini memandang gambar wanita cantik yang dia bingkai dan di simpan dalam laci meja nakas.
"Ya Allah bolehkah jika aku berharap dia menjadi milikku. Al, apa iya mau ya? aku cuma asisten yang sedang merintis bisnis pembuatan gula batu, juga tengah menyiapkan lahan agar kebutuhan jagung dan hasil turunannya bisa memenuhi pasar dunia," Roby bermonolog sembari rebahan.
"Dia kan mantan nyonya muda Cakra yang berkelimpahan. Hartanya saat ini saja dua kali lipat dari milikku. Eh, ngehalu. Mana mungkin lah," tepis Roby, bangkit dari posisinya kini dan bersiap menunaikan dua rakaat sunah.
Lelaki saleh dalam balutan busana modern diam-diam mengagumi majikan wanitanya. Banyak doa yang dia minta untuk wanita itu, dan dirinya. Semoga Tuhan berkenan.
...***...
Kamar sebelah unit.
Malya melihat notif pesan yang masuk ke ponselnya. Dia tersenyum membaca barisan kalimat di sana.
"Iya, terima kasih ya, Pak Roby. Maaf, aku belum bisa membalas pesan Anda. Aku ingin membatasi diri agar Allah berkenan mengasihi ku," ujar Malya bicara pada benda pipih dalam genggaman.
"Dia pria baik ya Robb. Berikan pendamping salihah untuknya. Lelaki muda nan pendiam tapi begitu memperhatikan semua hal kecil. Makasih ya, kamu menyiapkan semua kebutuhanku dengan baik," imbuhnya mengusap gawai sebelum meletakkan kembali.
Pekerjaan sebagai freelancer dilakoni dengan baik meski kerap ditemukan kesalahan atas laporan miliknya, tapi Malya belajar dengan cepat.
__ADS_1
Ting. Kembali notif pesan masuk.
"Malya, jika memungkinkan saat zoom nanti, kamu buka kamera ya. Sebagai farewel." Daniel menulis pesan, diteruskan oleh Martha.
Tuut. Ponsel Malya berdering. Sebuah nama muncul di layar handphone yang tergeletak di atas ranjang.
"Assalamualaikum," sapa Malya ramah pada sekretaris pimpinan teamnya.
"Wa 'alaikumsalam. Mbak Malya, pak Daniel penasaran dengan Anda. Aku sudah jelaskan tapi tetap minta begitu, gimana?" tanya suara wanita di ujung sana.
"Maaf aku gak bisa. Jika perilaku ku membuat beliau tersinggung hingga menahan salaryku ya gak apa. Aku ikhlas, sebab menjaga diri di masa ini sudah jadi niatanku sejak awal," jawab Malya lugas, dia pasrah.
Ajaran tak melarang jika dalam kondisi terjepit seorang janda keluar kala menjalani masa Iddah apabila tiada penopang hidup baginya. Namun, Malya masih memiliki sumber daya hingga menjadikan keluar rumah di waktu sekarang bukan prioritas.
Obrolan antara bawahan dan atasan itu kemudian berakhir tanpa kesepakatan apapun.
...***...
Satu bulan berlalu.
Wanita ayu pun masih berkutat dengan pekerjaan baru, menopang laptop di atas pangkuan. Dia kini menjadi junior staff bagian audit di perusahaan fast food kesukaan Meeza.
"Kerja di sini sesungguhnya lelah tapi bunda inget dengan makanan kesukaan Meeza. Tahu gak, kenapa ambil pekerjaan ini? sebab bunda selalu dapat jatah makan siang yang bisa dikirim untuk kamu ... bukan gak mampu beli, tapi bunda hanya ingin kita berbagi menu yang sama. Tak semua orang bisa menikmati lauk kesukaan setiap hari, Sayang," gumam Malya mericek menu untuknya satu pekan ke depan.
"Lusa kita ketemu kan ya? kata daddy. Semoga gak molor lagi, bunda udah kangen banget dan banyak siapkan rencana untuk kita menghabiskan waktu," kata Malya sembari menikmati teh manis, juga risoles yang Roby kirimkan.
"Lama-lama dia tahu semua kesukaan dan kebiasaan aku," kekeh wanita dalam balutan homy dress.
Malya melihat pinggan, cangkir di apartemen ini telah berganti warna menjadi coklat, warna kesukaan sesuai iris matanya. Interior pun perlahan di ganti tanpa dia tahu. Bahkan ayah ibunya heran, Roby amat memperhatikan kenyamanan Malya di rumah.
Pria itu tak menampakkan diri tapi sangat terasa dekat. Bilamana dia berada di rumah Malya, Roby akan mengirim pesan agar bunda Meeza tak keluar kamar.
__ADS_1
"Kamu menjadi penjaga betulan ya," imbuh Malya, mengusap cawan yang dia cecap.
Kala menjelang istirahat. Sebuah pesan kembali masuk ke ponsel bercasing biru.
"Nyonya, esok Meeza akan saya bawa ke rumah ini. Silakan menghabiskan waktu dengan nona kecil hingga menjelang Maghrib."
"Tuan muda rencananya bertolak ke sebuah kota. Anda sudah tahu? bahwa nona Maria yang asli telah kembali? mungkin beliau ingin menemuinya. Semoga tetua Beatrice tidak melayangkan tuntutan sebab tuan muda menikahi Anda sebagai Malya bukan Maria. Dan ini tidak dapat di jadikan sebuah tuduhan penipuan."
Malya membaca barisan kalimat panjang hingga di ujung dia menemukan sesuatu yang menggelitik hatinya.
"Jangan kuatir, ada aku, Al."
"Hmm, Pak Roby, mulai berani panggil nama ya. Gak masalah sih, cuma jadi kelihatan aneh. Kalau aku ketemu kamu nanti, mesti panggil apa jika Anda sudah tidak bersikap formal," kekeh Malya meletakkan gawai di atas meja nakas lalu memejamkan mata.
Saat yang ditunggu pun tiba.
Sejak subuh, gadis kecil tak sabar untuk bertemu sang ibu. Dia sangat antusias, membawa banyak barang juga semua cerita yang telah dia siapkan sejak lama.
"Meeza, di sana harus jaga sikap. Jangan sembrono, ingat ya waktumu hanya sampai petang. Kembalilah tanpa drama. Jika kau mogok, maka selamanya Oma gak akan mengizinkan kalian bertemu lagi," tegas tetua Beatrice mewanti cicitnya.
Bian hanya mengusap kepala putrinya yang sangat ceria pagi ini. "Have fun sama bunda ya, Sayang, daddy titip salam," ujar tuan muda Cakra.
"Oke Daddy, Oma. Meeza ingat!" jawabnya antusias.
Ada setitik keinginan untuk menemui mantan wanitanya tapi Roby mengatakan bahwa Malya tak akan bersedia bertemu hingga masa penantian itu usai.
Cucu emas Cakrawala mengingat momen kala dia akan menikahinya dulu. Benar, saat itupun Malya sekuat tenaga menghindar bertatap muka.
"Malya, bagaimana kabarmu? pesanku tak pernah kamu balas," keluh Bian lirih, menatap layar gawai. Dia merindukan sesuatu di sana.
.
__ADS_1
.
..._________________...