
C-up. Bian mengecup kening Malya dan Meeza bergantian. Dia meraih dagu istrinya, mengangkat wajah yang menunduk agar retina coklat tua itu terlihat.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad," lirih Bian kala pandangan mereka bertemu.
Meeza yang sedari tadi senyam senyum melihat kedua orang tuanya saling tatap kini berusaha memeluk mereka. Namun, jarak membentang tak membuat lengan pendeknya cukup merengkuh.
Otak cerdas terlampau tengil itu mempunyai cara tersendiri agar kedua insan ini tak kaku bagaikan patung. Meeza merobohkan diri begitu saja hingga Malya dan Bian panik, berebut menahan tubuhnya agar tak jatuh membentur lantai.
"Za!" seru keduanya, Malya memegang badan sementara Bian meraih kepala Meeza sehingga membuat dahi mereka terantuk.
Meeza malah tertawa renyah melihat kekonyolan kedua orang tuanya. Dia bahkan meminta Bian untuk menc-ium sang Bunda.
"Ki-ss her, Daddy," bisik Meeza.
"Kamu ini, teracuni siapa?" desak Malya menatap tajam, putrinya pasti melihat hal-hal kurang pantas di sana.
"Uncle Andre," kekeh Meeza, akan tetapi keusilannya itu membuat Malya menatap tajam lalu Meeza merangkul leher Bian, takut ibunya akan marah.
Bian hanya mencium gemas pipi bagai tomat. Wajah judes mirip Malya melekat pada gadis ayu jika Meeza hanya diam seperti ini.
"Keluar yuk, Al. Banyak tamu aku," ujar Bian, bangkit seraya menggendong Meeza di lengan kirinya.
Pria itu menggantung jemari kanan, berharap Malya menyambut ajakan. Keinginan Bian terkabul. Tepat saat Malya bangkit dan mensejajarkan diri, Bian mengecup cepat pipi istrinya.
"Mas, ish. Ada dia," lirih Malya, mencubit lengan Bian lalu membuka pintu.
"Cantik banget, sih," bisik Bian saat dia keluar lebih dulu.
Biantara mengenalkan Malya ke beberapa kolega yang belum pernah ditemui sang nyonya Cakra, termasuk pada pasangan Guna. Sebagian mereka telah berbincang sambil menikmati sajian di temani Roby juga Chris.
"Om, ini Malya ... Sayang, beliau Om Mahendra dan Tante Naya," ucap Bian, menurunkan Meeza yang meronta ingin ke Byby lalu mengenalkan keduanya.
Pasangan Guna menyambut baik Malya meski Mahen tak menyalami. Naya paling antusias menunggu momen ini sebab Bian sangat detail menggambarkan istrinya saat berkunjung beberapa bulan lalu ketika mereka melepas kebun bunga.
"Maa sya Allah, ayu nya ... halo Malya, panggil Naya saja. Mas Bian terlalu sopan," ujar wanita keturunan ningrat yang masih sangat ayu di usia hampir separuh abad.
"Hai Tante, Anda juga sangat ayu," balas Malya, mencium uluran tangan Naya.
__ADS_1
Pernikahan ulang dengan syukuran sederhana usai setelah beberapa jam. Bada Asar, Bian mengantar para tamu hingga ke depan lift dan ketika dia kembali sudah tak menemukan istrinya di ruang keluarga. Meeza tertidur di sofa di temani ayah mertua sementara Mardiah, sibuk mengemas banyak lebihan lauk dan kue untuk di bagikan ke Fathia juga satpam di lobby.
"Al?" panggil Bian saat melintas pantry.
"Di kamar kayaknya," ucap Mardiah, masih sibuk membereskan kekacauan dengan maid yang dibawa Bian.
Beatrice meminta pulang ke rumah dengan Chris sebab dia harus bertemu dokter petang ini. Bian pun urung masuk ke kamar, memilih mengantar neneknya hingga ke basement.
Beberapa menit berlalu, sang pengantin pria kembali ke unit Malya. Kondisi hunian sudah lebih rapi dibanding sebelumnya. Staf EO terlihat mengemasi property milik mereka.
Meeza sudah di pindah ke kamar Mardiah, sepertinya sang mertua paham keinginan Bian hari ini.
Tok. Tok. "Al?" panggil Bian, mengetuk pintu.
Mardiah tertawa renyah melihat sikap Bian. Sang menantu lupa akan statusnya kini. "Nak Bian, ngapain begitu? masuk saja lah, itu kan kamar kalian," ujar ibu Malya, masih terkekeh seraya menggelengkan kepala heran.
Bian meringis, menyentuh tengkuk dengan telapak tangannya. Dia lupa, lebih tepat, takut Malya ngambek jika masuk tanpa permisi.
Perlahan, pintu kamar terbuka tapi tak dia jumpai sosok Malya di sana. Bunyi gemericik air shower memancing Bian menuju kamar mandi.
"Al? bajuku dimana, gerah nih," tanya Bian tanpa sadar membuka pintu bathroom.
Pemandangan indah mengemuka di hadapan Biantara. Dia bahkan kini berdiri menyandar di kusen pintu seraya bersedekap dan bersiul menikmati keindahan halalnya.
Malya mengerucutkan bibir, dia menarik handuk dan memilih melanjutkan berganti pakaian meski tatapan liar seseorang membuat bulu kuduknya meremang.
Biantara mendekat, membuka tiga kancing kemejanya dan mulai menggulung lengan baju. Dia memeluk pujaan hati dari belakang, menghidu wangi yang belum pernah dia baui.
"Sabun baru, Sayang? wangi banget," bisik Bian, dengan suara parau. Dia membubuhkan kecupan di bahu Malya yang masih terbuka.
"Mas, ish, lepas, susah pakai bajunya," rengek Malya melihat ke arah cermin.
"Sebentar. Aku kangen kamu," lirih Bian masih di posisi semula.
Malya menyerah. Dia membiarkan Bian seperti itu, hati pun mulai menghangat. Lelakinya kembali. Bunda Meeza perlahan mengusap kepala Bian yang menempeli bahu dengan lembut.
"Sabar. Katanya mau ajak aku keluar? jadi gak?" balas Malya, berbalik badan menghadap suaminya.
__ADS_1
Biantara tak menjawab, dia hanya menatap wajah istrinya yang lembab setelah mandi. Malya sangat seksi, membuat naluri kelelakian sulit di kendalikan.
"Mas," sebut Malya, mulai rikuh di tatap sedemikian rupa. Pipinya terasa panas oleh tatapan nakal sang suami.
"Sekalian bawa paspor, koper kamu sudah siap. Gak usah packing lagi. Kita ke Maldives lalu umroh berdua ya, Sayang. Aku sudah atur semuanya," ucap Bian, masih memandang wajah ayu di hadapan dengan tatapan mendamba.
"Cuti aku sampai Selasa, Mas, gak bisa seenaknya," balas Malya, membelai wajah tampan agar Bian tidak merasa tersinggung.
"Boleh kok. Nanti kamu denger sendiri dari pimpinan kamu itu," sahut Bian mulai mendekati wajah Malya.
"Maksu ... ehhmmppt."
Biantara memperlakukan bunda Meeza dengan sangat lembut. Tercermin bahwa dia menghargai sang wanita. Permulaan buka puasa bagi Bian, dia dapatkan dengan manis. Puas melihat Malya terengah hingga wajahnya merona dan kini tubuh molek itu bersandar pada dada bidang miliknya.
"Kenapa sih? jangan gemesin gini deh, Al. Takut teriakan kamu ganggu istirahat ibu dan ayah nanti," kekeh Bian, memeluk Malya, mengusap lembut bahu yang terbuka.
"Ish, kamu ini. Emangnya mau ngapain!" sungut Malya, mengurai pelukan dan melanjutkan memakai gamis panjangnya.
Bian mengalah, menjauhi Malya sebab memang waktunya belum pas untuk merajut kasih.
"Aku mandi dulu. Kamu pamit ya ke ayah ibu, Zaza udah tahu kok. Gak bakal nyariin nanti," imbuhnya lagi.
Degh.
Degh.
Degh. Malya mematung. Dia rasanya belum kembali memijak bumi setelah aksi intermezo sang suami.
"Sayang. Mau lagi?" goda Bian melihat Malya mematung, memberi kerlingan nakal seraya membuka kemejanya hingga roti sobek itu terlihat.
"Eh! ehm ... eeeu," gumam Malya.
Blush. Malya kikuk. Wajahnya nampak bingung mencari arah keluar kamar mandi hingga Bian tertawa melihat tingkah istrinya itu.
.
.
__ADS_1
..._________________...