BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 75. AMUKAN MALYA


__ADS_3

"Please lah, hajat besar ku itu," pinta Bian, memohon pada sang sahabat.


"Ah, nasib gue emang. Ngarep dapat pendapat saat ngasih tau calon cem-ceman malah dia mantan elu. Asal lu tau, gue udah join Kopi Sianida," jawab sang sahabat, mendengus kesal pada Bian. Dia menyesal memberitahu profil Malya pada Bian kala itu.


"Apaan Sianida, mau mokat, lu?" sahut Bian, sambil menyeruput kopi dingin yang dia pesan.


"Gak gaul, pantesan cepat duda," gelaknya. "Komunitas pria siap nikahin janda, tuh, kopi sianida," imbuhnya lagi.


Keduanya terbahak di sudut meja resto, Bian melempar sang sahabat dengan tisu makan yang ada di sana.


"Gelo! lolosin ya, tapi jangan sampai dia tahu," pinta Bian.


"Gak bisa, Bi. Aku butuh Malya, pinter banget ternyata, publik speaking dia cakep, disiplin meski jutek," kekehnya.


Bian hanya tersenyum, melipat kedua tangan di depan dada. Malya memang pendiam, jarang tersenyum meski padanya saat status mereka sebagai suami istri. Namun, cucu Beatrice ini banyak melihat perubahan sikap Malya yang ditujukan hanya untuknya. Wanita itu sangat manis, juga perhatian dan Bian yakin, dia melakukan semua, khusus bagi daddy Meeza seorang.


"Dia manis hanya untukku, asal kau tahu," ujar Bian menegaskan karakter Malya.


"Nah itu, elu menang ... dia sedang di ajukan untuk promosi tahun depan gantikan Angga sebagai wakil Herawati sebab Angga di pindah ke cabang lain. Please jangan ambil Malya dulu sampai gue nemuin pengganti kek dia, meskipun kalian sudah menikah. Oke?" pinta sang sahabat.


Keduanya mempunyai keinginan terhadap Malya. Prediksi Roby ternyata akurat, langkah bunda Meeza mengikuti pola kinerja perusahaan berdampak terhadap kenaikan jabatan hampir dua tahun ini.


"Loloskan dulu cuti baginya. Gue tidak akan meminta Malya keluar kerja, Mik. Sampai dia yang mengatakan sendiri hal itu. Ini adalah mimpi dia dan gue akan mendukung secara penuh. Sebab yakin, bunda Meeza tahu mana prioritas dan bukan," jujur Bian. Dia paham bagaimana rasa berada di puncak ketika telah mencapai segala angan, dan ingin menyaksikan Malya seperti itu.


"Asset lu banyak hilang kan kemarin? Malya gimana?"


"Dia bukan wanita matre sih, meski rumah sisa satu sementara ini dan aset banyak hilang tapi gue masih mampu menghidupi keluarga dengan standar hidup sekarang, walaupun ongkang kaki selama dua turunan. Ada bisnis baru, in sya Allah bisa gantiin yang hilang sebab gue punya Malya," ujar Bian, sumringah.


Pangsa pasar usaha bio ethanol masih sangat terbuka luas, terutama di luar negeri. Untuk itulah Bian terus memperluas lahan tanam jagung sebagai sumber bahan produksi utama. Dia banyak menghabiskan aset dalam usaha ini. Beberapa apartemen, tiga mobil sport kesayangan, saham, rumah mewah, semua di jual demi bisnis masa depan.


Niatan menjadi family man yang utuh ada di tengah keluarga mutlak menjadi tujuan hidupnya kini. Terlebih dia mencontoh sosok Mahendra yang melakukan hal sama. Bian melihat pria panutan itu sangat mencintai keluarganya hingga mendapat balasan banyak cinta nan sama dari mereka bahkan sekitar dan para pekerja.


"Iya juga sih. Beruntung ya. Cariin gue modelan gitu lah. Yang bersedia diam di rumah, hamil, lahiran, hamil, lahiran. Gue pengen punya anak banyak," jawabnya lagi.


"Kawin sama kucing aja sono," sengit Bian. " Eh, Mik, tapi bener katamu. Gue jadi kepikiran begitu," ujarnya lagi.

__ADS_1


Obrolan absurd campur aduk antara dua sahabat menelurkan kesepakatan. Malya akan mendapat cuti akan tetapi dia tidak dapat terbang ke Inggris untuk menjemput Meeza.


Bian menimbang, hingga akhirnya setuju. Dia akan membuat kejutan bagi Malya tentang ini. Keduanya lalu berpisah tepat saat azan Maghrib menggema.


...***...


Dua hari menjelang kepulangan Meeza.


Malya mengamuk di kantor, dia menggebrak meja saat internal meeting di divisi keuangan. Angga sebagai wakil manager saat ini tak dapat menjawab cecaran pertanyaan Malya.


"Apa kau tidak punya sumber daya lain selain aku? Sesil dan yang lainnya! kau anggap apa mereka, hah!" sentak Malya pada Angga. Dia baru saja di bebankan banyak tugas.


"Kan itu dari atas, Al. Bukan aku," cicit Angga menjelaskan duduk perkara.


"Kau kan wakil kami. Harus dapat menakar kemampuan staf. Gunanya kamu duduk di sana apa jadinya?" sergah Malya, keluar ruangan.


Sasarannya kini Herawati, akan tetapi wanita itu tak ada di ruangan. Kini Malya menuju kantor HRD, pengajuan cutinya di batalkan tanpa alasan jelas.


Malya menahan diri di sana, hingga amarahnya memuncak dan terus berjuang demi cuti untuk menuju Meeza, dia menemui Michael di lantai atas.


Lelaki itu tak ingin menemuinya membuat Malya putus asa. Bayangan wajah kecewa Meeza menghantui benak sepanjang hari. Moodnya berantakan, bahkan Bian menerima kekesalan Malya kala mengabarkan dia akan ke Inggris sore nanti.


"Aku gak bisa jemput Zaza! Aku benci!" seru Malya di rooftop, dia berdiri lalu jongkok sebab kesal dan menahan isak. Dadanya sesak.


Tuut. Tuut.


"Al, aku jalan ya."


"Aku gak bisa ikut. Maaf!" isak Malya. "Aku bayangin wajah Meeza kecewa padaku! AKU KUDU GIMANA LAGI!" racau Malya, putus asa.


Bian tak tega, tapi ini demi kepentingan mereka pekan depan.


"Sabar. Zaza akan ngerti, kamu bisa jemput di Bandara kan," balas Bian, tak mendapat balasan lagi hingga akhirnya dia mengakhiri panggilan sebab announcement meminta passenger lekas boarding.


Hingga malam hari, Malya tak dapat memejam, dia mogok makan, bicara bahkan mengabaikan panggilan Bian sampai hari berganti lusa.

__ADS_1


Hari H, Meeza pulang.


Malya sudah mengatur alarm jam tangan tepat pukul sembilan malam. Dia sangat berharap jalanan akan ramah padanya sebab ini long weekend. Malya memilih tak pulang ke rumah, dia berniat langsung menuju Bandara kala pulang kantor nanti.


Malang menyertai bunda Meeza. Sesil sakit sehingga pekerjaan penting hari itu dilanjutkan olehnya. Malya berjibaku dengan tumpukan file hingga Maghrib menjelang. Dia baru selesai.


Wanita itu bergegas menuju toilet, mengganti pakaiannya lalu menunaikan salat di mushola karyawan. Saat dia mencapai basement, kabar buruk menghadang.


"Non, macet parah hingga lingkar luar. Kalau tol ke Bandara sih mayan lancar. Gimana ini?" tanya Camai.


"Naik ojol aja gimana?" tanya Malya.


"Dari sini sih bisa, tapi muter buat masuk Bandara dan jalur non tol, sama, macet," sambung Camai lagi.


Malya menimbang, dia memutuskan tetap dengan Camai dan akan mengambil anternatif saat setengah jalan.


"Jalan, Mai. Ya Allah, mudahkanlah perjuangan aku menemui Meeza, jangan buat dia merasa di kecewakan oleh bundanya," gumam Malya membuka pintu mobil dan ikut berjibaku menembus macet.


Jam delapan malam, Malya baru menempuh jarak separuhnya. Tidak akan kekejar jika terus seperti ini. Namun, beberapa menit ke depan situasi jalanan mulai sedikit lancar sehingga dia urung berganti moda transportasi.


Kecelakaan tunggal menjadi penyebab kemacetan parah malam itu. Malya menyentuh pelataran Bandara pukul sembilan lebih sepuluh menit. Dia berlari kecil menuju gate kedatangan luar negeri.


"Ah, ponselku habis daya. Please, Mas angkat, dimana kalian," gumam Malya saat menelpon Bian.


"Halo, Al. Kami di dekat fast food, mau keluar," jawab Bian.


"Di sebelah mana? aku di de--"


Malya kesal, panggilannya terputus, baterai ponsel tersisa 5%, dia melakukan panggilan ulang tapi ponselnya selalu mati.


Malya menyusuri setiap resto di Bandara. Dia sekilas melihat anak gadis mirip Meeza tapi tak yakin sebab dia berhijab.


"Zaaaaa, maafin bunda ya," ujarnya tak patah arang dengan tangan gemetar memegang ponsel, dan bola mata yang sudah berkaca-kaca.


.

__ADS_1


.


..._____________...


__ADS_2