
Malya memutari ruang tunggu hingga dua kali, tak lupa memasuki setiap mini resto di sana. Nafasnya mulai terengah, pandangan mata pun terus memindai sekeliling. Tak jua dia temukan suami dan putrinya.
Malya berdiri sejenak, membungkukkan badannya. Netra coklat gelap itu memejam, menghalau peluh yang mulai turun dari dahi.
Bunda Meeza kemudian membeli air mineral, sekaligus meminta sambungan charge sejenak untuk mengisi daya ponselnya.
Saat layar pipih mulai menyala, Malya mencoba kembali menghubungi Bian. Dia mulai merengek.
"M-maass!" lirih Malya, masih mengatur nafas.
"Ya, Al. Kamu dimana sih, Sayang. Kita cariin kamu muter-muter dan sekarang sudah di parkiran," ujar Bian, suaranya samar sebab di sisipi bunyi pesawat terbang take off.
Malya memejam. Dia harus segera berlari ke lokasi dimana Bian menunggunya. "Tunggu aku, please, tunggu," pinta Malya, segera menuju basement.
Menggunakan tenaga tersisa, Malya menuju lokasi yang Bian share. Air matanya tanpa sadar menetes, dada pun ikut berdegup kencang membayangkan betapa Meeza kesal terhadapnya.
"Meeza maafin bunda, maaf ya," gumam Malya sepanjang jarak yang dia kikis.
Hatinya mencelos, saat melihat mobil Mercedez Benz melintas menjauh saat dia baru mencapai pintu kaca pembatas ruangan Bandara dan parkiran.
"MEEZAAAAAA!" seru Malya, terengah.
"Za-Zaaaaa!" panggilnya lagi, dia jatuh menekuk lutut. Lelah mendera raga tapi tak jua hasil.
Malya mengerti jika Bian tak menunggunya sebab Meeza pasti kelelahan dan jetlag sehingga khawatir sakit dengan perubahan suhu ekstrem antara Eropa dan Jakarta.
"Maaf. Maaf." Malya menjatuhkan air matanya di sana. Tak peduli tatapan aneh dari sesama pengunjung malam itu.
"Bunda gak salahin kamu, Nak. Bunda paham, selamat datang kembali di Indonesia ya, Sayangku," gumam Malya masih menunduk dalam, netranya dia pejamkan agar menghambat laju bulir bening yang terus merangsek turun.
Beberapa detik kemudian, perlahan Malya menyeka air matanya, menengadahkan kepala. Dia lalu bangkit, menuju sudut ruang parkir guna membasuh wajah yang sembab oleh air mata juga keringat, dengan sisa air mineral.
Putri Haji Syakur menenangkan diri, menata hembusan nafas sambil bersandar di dinding. Setelah merasa tenang, dia mulai melangkah gontai.
Kala baru melangkah beberapa meter hendak kembali menuju tempat dimana Camai menunggu, ekor mata Malya menangkap sesosok gadis bagai putrinya. Malya menoleh, tepat ke samping kanan di seberang tempat dia berdiri.
Netranya membola, retina coklat tua itu kembali samar sebab genangan yang menumpuk di pelupuk mata. Sosok yang dia cari, berdiri di sisi mobil, memberikan senyuman manis.
Tubuh Malya seakan terkunci, dia masih setia berdiri mematung di tempatnya meski telah mengenali seseorang yang dia cari dan rindu.
__ADS_1
Langkah pun perlahan terangkat, Malya menarik kakinya menuju pujaan hati. "Meeza!" sebut sang bunda.
"Bun-daaa!" balas Meeza, menunggu ibunya menghampiri. Bian mengatakan bahwa Meeza harus menghargai Malya sebab sang ibu selalu berjuang menuju padanya.
"Sayang," panggil Malya lagi, kian melangkah cepat ke arah Meeza. Kedua lengannya sudah terbuka untuk menyambut buah hati nan dia rindui.
Gadis kecil itu tak sabar, dia menyongsong sang bunda lalu mendekapnya erat.
Grep.
"Bundaa, Bundaaaa," panggil Meeza, menangis memeluk ibunya.
"Zaza, allahumma sholli ala sayyidina Muhammad. Bunda kangen," balas Malya, tersedu mendekap putrinya.
Tangisan Meeza menjadi obat segala lelah hari ini. Malya terus menciumi wangi yang dia inginkan. Tak lama, pelukan itu terurai. Kedua wanita beda jaman, saling menyeka air mata dari wajah ayu.
"Sudah belum?" tegur Bian, menghampiri keduanya.
Malya menatap sengit pada sang mantan suami, dia merasa Bian menjahilinya. "Meeza ikut dengan aku," ketus Malya langsung menggendong putrinya.
"Suka gitu deh. Kamu nginep di rumah," tawar Bian sedikit menggoda.
"Za, Bunda nuduh daddy, gimana tuh?" pBian memancing keributan.
"Bunda dan daddy kapan tinggal bersama?" tanya Meeza tak memedulikan pertengkaran orang tuanya.
Malya hanya diam tak menanggapi. Sementara Bian tersenyum penuh arti. "Lusa daddy melamar, Bunda. Ya, Sayang, di terima kan?" goda Bian lagi, seraya menarik Meeza agar pulang bersamanya.
"Mas! lepasin, Zaza denganku," kata Malya mengabaikan pertanyaan Bian. Dia lalu melangkah menjauh menuju parkiran depan dimana Camai menunggu.
"Bunda, daddy bagaimana?" tanya Meeza lagi.
"Pulang ke rumah daddy dong. Zaza dengan bunda dulu, oke?" ajak Malya masih mendekapnya.
"Oke."
Tak lama, keduanya tiba di mobil. Sepanjang perjalanan, Meeza terus berceloteh tentang keseharian selama enam bulan terakhir. Bahkan saat Andreas datang menjenguk pun Meeza mengatakan padanya. Meski mereka tak sempat bertemu sebab ketatnya aturan.
"Zaza, kenapa pakai hijab? bunda boleh tahu alasannya?" tanya Malya, terkejut melihat tampilan anyar sang putri.
__ADS_1
"Ingin seperti Bunda. Juga ingat dengan kisah yang diceritakan tentang apa tuh, ehm, mu-ma-yyiz, betul itu kan, Bunda?" balas Meeza mengingat pelajaran fiqih dasar dari Malya.
Bunda Meeza tersenyum, dia menghitung usia putrinya tersebut. "Benar, nanti kita bahas ya, terutama bab haid, tanda baligh juga cara bersuci, niat mandi dan salat," sambung Malya.
Ibu satu anak ini menilai, Meeza harus sudah paham hal dasar terutama yang berkaitan dengan masalah wanita. Keduanya asik mengobrol hingga tanpa terasa mereka tiba di apartemen.
"Byby!" seru Meeza menyerbu, langsung memeluk kala melihat Roby menyambutnya di depan pintu lift lantai unit mereka.
"Zaza! Alhamdulillah salihah Byby pulang. Maaf ya gak ikut jemput sebab jagain onty Fa yang sedang dilarang dokter gak boleh pergi kemana-mana," ujar Roby mendekap sejenak dan menerima uluran salim Meeza.
"Kenapa, sakit?" tanya sang bocah.
"Enggak. Onty sedang menjaga adek bayi yang masih di dalam perut. Nanti Zaza juga bentar lagi punya dari Bunda," kata Roby menuntun anak itu menuju unit mereka.
"Ehm, iya Bun?" Meeza menoleh ke arah ibunya.
"By! jangan aneh-aneh ngajarinnya." Malya membuka panel pintu unit.
"Zaza boleh ketemu onty?" tanya Meeza penasaran akan sosok pasangan uncle Byby nya.
"Besok lagi, onty sudah bobok. Lagipula Zaza capek kan?" balas Roby mengelus kepala Meeza.
"Oke. Zaza masuk, bye Byby," balas Meeza, girang melambaikan tangan pada Roby.
"Bye, Salihah," sahut asisten Brandon tak kalah riang.
"Cucu nenek!" suara Mardiah terdengar, menyambut Meeza saat gadis cilik itu masuk.
"Fathia masih mual parah dan ngeflek, By?" sambung Malya, masih berdiri di ambang pintu.
"Sisa mual aja palingan, udah gak ada fleknya. Bandel sih, dia stres. Bilangin deh Al, omongan ibu gak mempan," pinta Roby kemudian.
"Ehm, nanti besok sekalian antar Meeza ketemu Fathia deh. Udah dua bulan aja ternyata. Itu akibat kamu yang terlalu kali tuh," gelak Malya sembari menutup pintu unitnya.
"Yeeeeee, Al!"
.
.
__ADS_1
...__________________...