BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 81. SISTEM KEBUT PEPET


__ADS_3

Kekesalan karena tindakan Bian yang di duga ikut campur dengan Michael, kini luntur sudah. Malya mendekap raga lelakinya erat, dia tak ingin lagi kehilangan Biantara Cakra.


"Jalan yuk. Nanti terlambat, takut macet, Sayang," bisik Bian, meski mata masih memejam menikmati keintiman seraya membelai lembut kepala Malya yang tertutup hijab.


Malya mendongakkan wajah, netra coklat tua bertemu dengan manik mata gelap setenang malam yang juga tengah menatapnya. "Love you, Mas," lirih bunda Meeza, membubuhkan sekilas kecupan di bibir sang suami.


Tak ingin membuang kesempatan, Bian menahan tengkuk Malya agar dapat memperdalam aksi romantis yang dipicu bunda Meeza.


Tatapan cinta terpancar oleh sorot mata kedua insan yang berbinar. Cahaya kebahagiaan itu kini milik mereka, berharap sinarnya mampu menerangi temaram jalan di kemudian hari, manakala mendung menyergap angkasa dimana hunian impian itu memijak bumi.


Senyum menawan keduanya menghantar laju langkah baru kala bahtera lama kembali berlayar. Pasangan Cakra meninggalkan tanah air sejenak, guna menikmati keintiman dengan rasa syukur sekaligus tadabur alam, mengagumi ciptaan yang Kuasa.


Dalam penerbangan menuju barat daya India, Maldives atau Maladewa.


Malya bersandar manja di lengan kekar Bian kala melihat brosur perjalanan wisata mereka. Keduanya berbaring di kabin first class, bergelung dalam selimut yang sama.


"April high season berarti ya, Mas. Rame dong," ucap Malya masih membaca deretan kata di atas kertas mengkilap.


"He em. Tapi kita sewa resort dekat laguna, Sayang. Sekitar pulau maafushi yang lebih private. Ke sana pake jet ski sekitar dua puluh menit," ujar Bian. Jemarinya merasakan betapa lembut kulit wajah Malya. Dia lalu beringsut memeluk bunda Meeza sebab kantuk mulai datang.


"Bobok yuk, kita sampai jelang fajar nanti. Lihat sunrise, saat perjalanan menuju resort," imbuh daddy Meeza mulai memejamkan mata.


Lengan kanannya melingkar di atas perut Malya sementara wajah tampan sang suami, menyentuh ceruk leher juga pipinya. Malya mulai meletakkan brosur perjalanan wisata mereka, menyamankan posisi dan menyusul Bian.


Sembilan jam berada di udara, dalam dekapan raga tegap nan menghantar kenyamanan, membuat Malya sangat puas menikmati waktu istirahatnya.


Bian telah terjaga lebih dulu, sehingga mempunyai kesempatan menatap puas wajah ayu yang selama ini luput dari perhatian netranya. Bibir sensual itu mengulas senyum, berkali membubuhkan kecupan di dahi meski sedikit tertutup oleh hijab.


"Sayang, siap-siap bangun, yuk. Flight attendant udah mulai keliling ... Al," bisik Bian, membelai lembut lengan tak tertutup selimut. Dia menggosoknya naik turun perlahan agar Malya merasa hangat.


"Al, pules banget. Gak apa deh, puasin bobok di sini sebab di sana kamu gak bakalan bisa tidur," kekeh Bian. Kali ini mendaratkan banyak kecupan di bibir bunda Meeza.


Wanita ayu terganggu, dia menggeliat bertepatan saat petugas meminta mereka bersiap duduk tegak kembali.


"Jam berapa, Mas?" tanya Malya sembari mengucek mata saat Bian membantunya bangkit.


"Jam tiga," sahut lelakinya. Bian lalu sibuk memakaikan Malya sepatu hingga membetulkan hijab bunda Meeza. Tak lama, pesawat mulai landing perlahan menyentuh bumi Male, ibukota Maladewa.


Pasangan Cakra dimanjakan oleh pemandangan saat menuju resort mereka. Angin dingin menyapa membuat Bian memeluk istrinya erat, kuatir Malya akan merasa kedinginan sebab ini perjalanan pertama wanita itu ke daerah seperti ini.

__ADS_1


Bian membawa semua perlengkapan mereka dibantu petugas penginapan saat telah menyentuh salah satu bungalow di atas laut. Malya takjub, ketika melihat bagian tengah ruangan yang berlantai kaca sehingga semua hewan laut bisa dia lihat tanpa susah payah snorkeling.


Daddy Meeza, menarik tubuh Malya menuju sisi belakang unit mereka, menikmati semburat jingga fajar yang mulai menyingsing.


"Maa sya Allah, Mas." Malya takjub atas panorama yang dia saksikan. Keajaiban Tuhan terasa sangat dekat dan nyata.


"Maa sya Allah, pemandangan mataku lebih indah," bisik Bian. Tangannya mulai bergerilya dari balik hijab.


Lelaki yang sudah berusaha menahan gelora sejak di dalam bathroom apartemen, serasa puas menjelajah kemolekan dalam dekapan, meski Malya meminta dia bersabar sebab tengah menikmati sunrise.


"Gak bisa lagi," bisik Biantara, dengan tatapan mendamba.


"Subuh dulu. Kamu sudah setting waktu salat kan?" tanya Malya berbalik setengah badan menghadap Bian.


Pewaris Cakrawala hanya mengangguk, dia mengurai pelukan lalu menarik lengan Malya agar mengikutinya untuk subuh berjamaah.


"Sunah dua rokaat, Mas. Dan tunggulah sebentar, aku mandi dulu," sahut Malya saat mereka telah bangkit berdiri untuk menunaikan ibadah sunah.


"Hem." Bian menjawab seperlunya, dia berusaha sabar.


Mungkin hanya unit milik pasangan Cakra yang seakan tak berpenghuni sebab wisatawan lain mulai menikmati sajian keindahan alam Maladewa pagi itu.


Bungalow satu ini kian panas sebab aktivitas yang terjadi di dalamnya. Berkali Malya meminta jeda tapi apa daya sang pria kian mendominasi hingga membuat tubuh molek itu semakin lunglai.


Isi koper tak sempat Malya jamah hingga tiga hari kemudian, dia hanya bolak balik menggunakan bathrobe. Bunda Meeza teringat pesan Fathia dan kini mulai menyesali telah mengikuti anjuran keluarga Kusuma.


"Pijat ya, Al. Biar badanmu enakan," bisik Bian, menikmati kelembutan bahu serta punggung Malya yang terbuka.


"Enggak ah. Mau tidur aja. Pijat pun percuma, aku babak belur lagi nanti," oceh Malya, dengan suara parau menahan kantuk. Seluruh bagian tubuhnya nyeri dan ngilu akibat ulah sang suami.


Biantara tertawa renyah. "Kamu terlalu anu, sih," sahut Bian, masih gemas terhadapnya.


Siang ini dia akan melepaskan Malya sejenak. Membiarkan wanitanya tidur pulas setelah sistem kebut pepet bagai bus malam, selama tiga hari.


Daddy Meeza membongkar koper mereka, dia berganti baju lalu keluar dari pintu belakang menuruni tangga untuk snorkeling sejenak sekaligus melemaskan syaraf.


...***...


Indonesia.

__ADS_1


Beatrice meminta dokter agar menyiapkan suplemen dan nutrisi tambahan bagi cucu menantu idaman agar Malya lekas mengandung kembali.


Mardiah, yang telah pindah ke hunian Biantara Cakra mengangguk antusias dengan rencana Beatrice. Bahkan keduanya sepakat akan menjejali Malya nutrisi penambah stamina ketika telah pulang nanti.


Meeza yang asik bermain dengan sang kakek pun terkekeh geli kala melihat kedua neneknya cekikan tak jelas.


Keluarga Cakra dan Haji Syakur yang tengah bercengkrama di ruang keluarga, tiba-tiba dikejutkan oleh suara Andreas dan Maria, datang dengan membawa putra mereka.


"Hai, Nek," sapa Andreas menghampiri Beatrice di susul Maria.


Beatrice hanya menanggapi seperlunya sehingga Mardiah mengambil alih obrolan.


"Bian sudah setuju bukan? kapan dilakukan?" ujar Andreas setelah obrolan basa-basinya.


Beatrice menghela nafas. "Masa jabatan dia kan tiga bulan lagi. Sabarlah agar reputasimu tak hancur di depan dewan direksi. Bian akan menepati janji," tegas sang pendiri Cakrawala.


"Hem. Oke. Aku hanya akan sesekali mengunjungi Cakrawala Corp. Semua ku kendalikan dari England sebab Maria lebih nyaman di sana," imbuh Andreas mengutarakan maksud. Tatapannya memendar seakan memindai sesuatu.


"Terserah kau saja. Paling penting jaga asset kami," imbuh Beatrice. Mardiah yang kurang mengerti memilih mundur dengan alasan memanggil maid agar menyiapkan sajian bagi tamu mereka.


"Jangan ganggu Bian lagi. Kalian kan sudah bahagia. Dia mengalah untukmu. Seperti Briandana yang selalu menepi demi Anne. Kami tidak menentang jika ibumu ada di jalur semestinya. Antonio padahal telah berjanji akan mengikuti Anne, bukan sebaliknya. Kami merasa di tipu. Tapi, lupakan saja, itu masa lalu," ungkap Beatrice akan kejadian sesungguhnya.


Andreas sejatinya tahu hal ini dari penghuni terlama Mansion, Lilis yang merupakan orang kepercayaan Beatrice. Terlambat, luka itu berkerak setelah puluhan tahun tak terjamah penjelasan.


Maria hanya diam, mendekap erat putranya yang kini berusia lima bulan. Berharap Beatrice menerima kehadiran cicitnya.


"Siapa namanya?" tanya Beatrice pada Maria, tatapannya tak lagi sangar seperti dulu.


"Alexey Valent."


Maria menyerahkan Alexey ke pangkuan Beatrice saat kedua lengan renta itu merentang menyambut cicitnya.


"Tambahkan nama Cakra di bagian tengah. Dia cicit ku juga," imbuh Beatrice, seraya mencium pipi bayi lelaki dalam pangkuan.


"Baik, Nek," jawab Andreas tersenyum samar sembari mengusap lutut Maria yang duduk disampingnya bertumpu kaki.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


...Andreas dan Beatrice part 2 done...


__ADS_2