
Kondisi kritis berlangsung beberapa menit ke depan. Malya berusaha tenang meski hati melukiskan sebaliknya.
Tanpa mereka duga, kabar duka itu pun datang menghampiri keluarga Cakra. Beatrice histeris sementara Bian meminta tenaga medis melakukan upaya lanjutan.
"Akan aku bayar! berikan kakekku perawatan terbaik. Apapun itu," serunya lantang hingga membuat tenaga medis mati kutu.
"Tidak bisa, Tuan muda. Tubuh beliau sudah lama menolak untuk mendapatkan berbagai metode pengobatan," jelas sang dokter.
Dengan berat hati, team medis yang dibentuk oleh Beatrice memutuskan bahwa pendiri klan Cakrawala telah mangkat sore hari itu.
Semua sibuk seketika, terutama Roby dan Chris sebab menghandle para pemegang saham agar tetap tenang setelah tetua berpulang ke pangkuan ilahi.
"Tidak ada yang kakek tunggu kan? baiknya segera di kebumikan, untuk kebaikan mayyit dan itu bagian dari sunah," kata Malya ke Bian sebelum dia pergi.
Merasa kehadirannya tak penting, Malya membawa Meeza menjauh dari hiruk pikuk. Mereka memilih ke rumah duka sebab Brandon akan di semayamkan sesaat di sana setelah di salatkan.
"Aku dan Meeza menunggu di rumah duka," lirih sang istri.
"Anne Citrawala. Adik papa sedang menuju ke sini," ujarnya tak menatap Malya.
Wanita dalam balutan gamis longgar hanya mengangguk samar seraya terus menjauh. Dia berjalan serasa tak menapak bumi, orang baik itu telah Allah panggil pulang. Sari menyusul dan menyongsong sang nona, menghindar dari kerumunan awak media.
Hari berat bagi semua penghuni Mansion Cakra manakala jasad telah menyentuh tanah. Bian terlihat terpukul atas kepergian sang pendiri kerajaan bisnis retail keluarga mereka. Meeza pun merasakan bahwa kepergian kakek kesayangan akan berdampak bagi kehadiran ibunya.
Putri Haji Syakur tak lagi memedulikan urusan di Mansion utama, dia hanya fokus dengan Meeza, waktunya tersisa beberapa hari mendatang.
Setiap detik bagai berlian yang harus dijejali dengan beragam ilmu nan di punya. Malya getol mengejar ketinggalan Meeza tentang ibadah.
Mengajarkan gerakan salat dengan tepat dan benar, mengenalkan berbagai jenis air nan layak untuk bersuci juga lainnya. Gadis cilik itu sangat antusias mendengarkan setiap kata dari mulut bundanya.
"Bunda pinter banget sih," puji Meeza suatu malam. Malya hanya tersenyum, mengusap kepala putrinya sayang. Besok dia tak dapat lagi melihat bocah ayu itu sedekat ini.
"Belum pintar. Makanya bunda wajib belajar lagi. Ke pesantren, agar jadi wanita salihah," ujarnya, seraya merapikan tumpukan baju dan menata dalam koper.
Meeza melihat apa yang dilakukan sang bunda. Dia kembali murung. Anak seusianya telah memiliki perasaan yang kompleks akibat gaya didik selama ini. Meeza menjadi lebih peka terhadap sekitar.
"Meeza bisa call Bunda, tidak?" tanya gadis cilik yang duduk di atas ayunan.
Malya diam, bingung hendak menjawab apa. Namun, dia tak tega melihat wajah polos nan berharap.
"Minta ke daddy atau Oma ya. Bilang kalau Meeza kangen bunda," lirih Malya, sekilas melihat ke arah sang putri lalu menyibukkan diri lagi.
__ADS_1
Tiada suara manja Meeza malam ini, dia sangat manis hingga membuat Malya kian berat melepasnya.
Keesokan pagi.
Biantara mengunjungi greenhouse diam-diam, membuat Malya yang tak siap menerima tamu pun kelimpungan mencari hijab. Walhasil, Bian melihat rambut basah istrinya yang tergerai begitu saja.
"Ma-af." Bian spontan berbalik badan, menghormati Malya untuk pertama kalinya.
Wanita ayu pun lantas meraih hijab yang telah dia siapkan dari atas tempat tidur ayunan dimana Meeza masih terlelap.
"Aku boleh masuk?" tanya Bian lembut setelah Malya membuka penyekat ruangan.
"Silakan," jawab bunda Meeza lirih seraya duduk menjauh.
Tak sekalipun dia memandang wajah suaminya bila tidak membutuhkan untuk bertatap muka. Meminimalisir kebencian yang kian membumbung.
"I-ini akta cerai kita. Sekarang kamu bebas, Malya." Bian menyodorkan satu buah amplop cokelat besar di atas meja.
Semilir angin yang masuk melalui celah vitrace greenhouse bagai hembusan udara di pegunungan. Sejuk, di rasakan oleh Malya.
Jemari lentik itu meraih lembaran kertas di sana, membacanya perlahan. Ada sekelumit rasa hadir terutama saat memandang Meeza yang masih terlelap.
"Malya, lihat aku." Biantara tak pernah mendapat tatapan penuh kasih dari wanita di depannya. Dia kali ini ingin melihat manik mata coklat itu untuk terakhir kali.
Menantu Cakrawala masih bergeming. Dia sibuk menghalau matanya yang mulai mengembun. Perpisahan ini atas kemauannya, maka dia harus menjaga hubungan baik dengan Bian agar diizinkan bertemu Meeza.
Perlahan, wajah ayu itu terangkat. Kedua sorot mata mereka bersirobok sesaat. Senyum manis terlukis di wajah tampan sang pewaris. Namun, berbeda dengan yang di tampakkan oleh Malya. Netra coklat itu setia tertabir genangan, menatap nanar sang mantan suami.
"Kau lega?"
Hanya suara Bian yang terdengar tanpa berniat Malya timpali. Untuk apa, pikirnya. Merasa mantan istrinya enggan membangun interaksi, Bian bangkit menghampiri Meeza.
"Bulan, bangun. Diajak bunda ke wahana bermain," bisik sang ayah.
Gadis kecil itu pun menggeliat, wajah bangun tidur Meeza membius pewaris retail itu hingga dia berinisiatif ikut menyiapkan sang putri untuk pergi.
"Have fun ya, kalian." Bian melambaikan tangan pada keduanya, kala mereka telah siap.
"Bye Dadd!" seru Meeza ceria seperti biasanya.
Setelah kepergian dua wanita dalam hidupnya selama tiga tahun ini, Bian melihat sekitar. Greenhouse yang dibangun oleh Brandon nyata memberikan damai bagi Malya yang tak dia tahu. Koper besar telah siap di sudut ruang. Lengkap dengan aneka foto yang sudah tercetak di atasnya, bahkan boneka kesayangan Meeza pun telah Malya pisahkan.
__ADS_1
"Apakah kamu happy, berpisah denganku, Malya?" gumam Bian. Dia menghela nafas, memejam seraya menghirup wangi wanitanya yang tertinggal.
Mentari Lingsir begitu cepat. Tibalah waktu terberat bagi seorang ibu. Bian menemani mereka meski berjarak, dia melihat lebih dekat betapa Malya sangat telaten mengurusi semua keperluan sang bidadari ciliknya.
"Bunda bakal kangen Meeza, jangan nakal dengan Oma dan Daddy ya," bisik Malya kala gadis kecil itu mulai memasuki zona alpha.
Malya membawa baju terakhir yang Meeza gunakan. Dia akan mengenang wangi balitanya meski aroma itu tak akan kekal, setidaknya dapat menjadi penguat di fase ini.
Cucu menantu Beatrice bangkit setelah memastikan Meeza terlelap di sana.
"Bu-bunda pergi ya, Mee-zaa, maafkan bunda. maaf," lirihnya menahan isak. Dia ciumi semua bagian wajah putri cilik. Di dekapnya erat tubuh lelap untuk terakhir kali.
"A-aku pergi. Titip Meeza," kata Malya, sambil menarik koper juga mendekap boneka kesayangan Meeza.
Bian menunduk, tak kuasa menatap wajah wanita yang hanya dia jadikan partner melepas hajat semata. Kali ini hatinya pun ikut pedih, entah mengapa.
"Hati-hati," ucap Bian, lirih dengan suara berat yang khas.
Malya berjalan gontai, menyeret koper menjauh menuju gerbang Mansion. Dia tak tahu kemana arah tujuan, meski Bian memberikan uang cash dalam amplop akta cerai sebagai haknya menjalani Iddah.
Butir bening menghiasi jejak sang nyonya muda meninggalkan harta satu-satunya di sana. "Meeza, maafkan bunda."
Tak ada pertanyaan dari para pegawai. Mereka tahu nyonya mudanya akan pergi. Hanya penghormatan akhir dapat dilakukan oleh maid yang menyayangi Malya.
"Nyonya, jaga diri Anda. Kami telah memesankan taxi. Silakan," ujar maid. Sari berlari menghampiri sang nona, dia meminta ikut akan tetapi ditolak Malya.
"Jaga Meeza untukku. Ingatkan dia tentang aku," isak Malya, memeluk asisten yang menjadi karibnya selama ini.
"Janji ya Nona, kembali ke sini lagi," kata Sari tak kalah perih, sementara nyonya muda Cakra hanya tersenyum getir dengan wajah sembab.
"Selamat tinggal. Sampai jumpa lagi," tutur Malya saat akan menaiki taxi.
Kendaraan roda empat itu perlahan meninggalkan Mansion. Samar terdengar teriakan suara Meeza akan tetapi Malya tepis. Dia sibuk dengan perihnya sendiri.
"Bundaaaaaaaaaaa ... Daddy, kejar bunda. Bundaaaaaa!" teriak Meeza histeris hingga Bian kesulitan mengendalikan gadisnya yang memberontak.
.
.
..._____________________...
__ADS_1