
"Ya," jawab Malya dengan suara parau.
"Silakan Nyonya," kata Roby, membuka pintu kiri mobil, dan mengambil tas milik Malya yang tergeletak di tanah.
"A-ku pulang. Jangan lupa jadwal dengan Meeza," sahut Malya seraya duduk di sana.
"Maaf, hati-hati." Roby perlahan menyerahkan tas Malya lalu menutup pintunya pelan.
"Oke," balas Bian hanya bisa melihat perlakuan manis Roby untuk mantan istrinya.
"Maaf. Saya duluan, Tuan. Terima kasih," ucap asisten Brandon. Tak lama Kia Carnival mentereng itu meninggalkan pelataran kediaman Sulaiman.
Bian menyusul kepergian mereka, meski masih ingin mengumpat untuk keluarga mantan suami Malya.
"Jalan, Chris," titah sang pewaris Cakra.
"Roby dan tetua telah mengetahui identitas nyonya sejak lama, Tuan. Tetapi beliau bungkam dan baru menampakan taring saat ini. Sepertinya Roby di tugaskan untuk mengawal nyonya muda," ujar Chris melihat sikap rekan kerjanya.
"Iya. Roby mendapat mandat menjaga relasi kakek juga sebagian aset beliau. Aku gak bisa menjauhkan dia dari Malya sebab itu amanah. Nenek Beatrice pun belum berniat meminta Roby tak muncul di perusahaan," ungkap Bian akan status asisten Brandon.
"Roby sangat dibutuhkan sebab dia tangan kanan Brandon sejak belia mengabdi. Bisnis tetua Cakrawala dipegang apik olehnya," sambung Chris.
Bian menekan pangkal alisnya, terbayang sikap Roby terhadap Malya. Hubungannya dengan wanita itu hanya sebatas Meeza. Malya sama sekali acuh padanya kini.
Sementara di kabin mobil lainnya.
Malya menyandarkan kepalanya ke kaca pintu, menatap getir jalanan yang padat lalu lalang kendaraan.
Roby menyodorkan tisu kering dan basah untuk wanita ayu di sampingnya. Tanpa suara, hanya tindakan nyata.
Malya menerima, dan menyeka bulir bening di wajah yang enggan surut. Beberapa detik berikutnya, Roby kembali menyerahkan satu botol air mineral pada wanita yang masih terisak samar.
"Nyonya, silakan ... Ayah, Bu, di belakang aku, ada air mineral, tisu juga permen. Ambil saja ya, maaf tanganku tak dapat menjangkau," ujar Roby sekilas menoleh dan menunjuk dengan tangan kiri ke balik joknya.
"Makasih, Nak Roby." Mardiah mengambil apa yang dia butuhkan. Mereka masih shock atas kejadian tadi.
Dari ekor mata, asisten Brandon memperhatikan wanita di samping. Sedu sedan yang tertinggal masih nampak di sana. Dia mencengkeram stir mobil kuat, merasa tak dapat memberikan ketenangan bagi Malya.
Gerbang Greenland paradise terlihat, mobil mewah milik asisten Brandon memasuki basement.
Tiada percakapannya di antara mereka, bahkan saat Roby membantu Haji Syakur duduk kembali di kursi roda, Malya acuh, melangkah gontai menuju lift.
"Kasihan Malya. Hatinya pasti hancur, dia mencintai Sulaiman dan pupus sebab nak Bian. Sekarang harus menerima makian dari mantan mertuanya," ucap Haji Syakur, iba melihat nasib putrinya.
__ADS_1
Roby melihat perubahan sikap Malya hari ini. Titik lemahnya adalah masa lalu dan rasa bersalah. Dia tak menanggapi ucapan Haji Syakur, hanya tersenyum samar sebagai tanda simpati.
Mardiah menggamit lengan Malya, keduanya lalu saling menempelkan kepala kala di dalam lift, seakan sama membutuhkan kekuatan.
"Al, langsung istirahat, jangan mengerjakan apapun," titah Mardiah saat mereka telah di ambang pintu unit dan hanya diangguki putrinya.
"Makasih ya Nak Roby. Silakan istirahat, maaf jika tadi badannya ikut sakit kena pukulan," ucap Haji Syakur sekilas melihat dia menghalau pukulan ibu Sulaiman.
"Gak apa, Yah. Selamat istirahat," ucap sang asisten, berlalu ke sebelah apartemen Malya.
Menjelang tengah malam.
Malya tidak dapat memejam, cacian itu sangat berdengung di telinga. Dia gelisah, memilih bangkit dan berjalan ke balkon.
"Meeza. Andai tahu sejarah bunda bertemu daddy, apakah akan ikut membenci keluarga Cakra? jangan ya Nak ... semua manusia pernah berbuat salah. Lapangkan hati Meeza ya jika menemukan kebenaran," tutur Malya melepas sesak ke udara.
"Mas Iman, kamu tahu kan kisah sebenarnya. Aku gak berkhianat, menjalani bahtera dengan Bian hanya karena terikat kewajiban sebagai istri. Kamu paham kan? lantas apakah kamu akan mengadukan aku pada Allah?" tangisnya pecah.
"Aku takut, takut ketika di alam barzah nanti kau dan keluargamu menuntutku," isak Malya kian jelas.
"Kau bilang, jika rindu hanya harus mengirimkan Al Fatihah. Apakah doaku sampai padamu? ridhokah engkau padaku?"
Malya melepaskan sesaknya di udara. "Aaarghh! ... semua yang terjadi atas izinmu kan ya Allah. Tapi mengapa sangat sakit?" Malya luruh, tubuhnya bergetar sebab isakan.
Wanita ayu tidak tahu, jika di balik tembok hunian, seorang pria tengah mengepulkan asap, mendengar semua kesesakannya.
Pria tampan ini tak dapat memejamkan mata sebab terbayang wajah sendu Malya. Tak dia kira, jika kesesakan wanita itu hari ini, didengar dengan jelas saat tengah malam.
"Jangan lagi, terlihat tegar di mata pria lain. Cukup aku yang menjadi tempat lemahmu, ya, Al," lirih Roby menyandarkan tubuhnya ke dinding di mana isakan Malya terdengar samar.
...***...
Akhir pekan.
Malya antusias pagi ini sebab dia akan bertemu Meeza. Kesedihan dua hari lalu berusaha di tepis demi kebahagiaan buah hati.
Tok. Tok.
"Al, Roby sudah siap di bawah katanya," ujar Mardiah, mengetuk pintu kamar.
"Aku pergi dengan Camai kok, kenapa dia ikut sih?" balas Malya seraya membuka panel biliknya.
"Entah." Mardiah mengendikkan bahu tak mengerti.
__ADS_1
"Jaga sikap. Kalian sama single," pesan Haji Syakur, saat Malya meminta salim padanya.
Malya mengangguk lalu keluar hunian dan menuju lobby dimana Camai menunggu. Tak dia jumpai Roby di sana membuat Malya bergegas pergi.
Restauran fast food kesukaan Meeza.
Baru saja Malya mendorong pintu kaca masuk ke resto, suara riang anak kecil memanggilnya.
"Bundaaaaaaa!" seru Meeza berlari ke arah Malya.
Wanita ayu dalam balutan gamis coklat polos dengan pashmina panjang, merentang tangan menyambut buah hatinya.
"Bulaaaaannn, bunda kangen," balas Malya, menciumi wajah tembam Meeza.
"Al, duduklah dulu," ujar Biantara menghampiri lalu meminta Malya duduk di meja yang telah dia pesan.
Lelaki keturunan Cakrawala itu tak lantas bicara, dia sibuk mengamati perubahan Malya lebih jelas di banding dua hari lalu.
Kulit wajah mantan istri terlihat lebih bersih, tubuhnya berisi juga binar bahagia terpancar dari kedua iris coklat tua. Senyuman manis Malya kala menanggapi ocehan Meeza membuat Bian terpesona.
"Cantik sekali," gumamnya lirih.
"Mau bicara apa? jangan sampai menyita waktuku dengan Meeza," ucap Malya tak melihat ke arah Bian.
"Maria, ingin bertemu Meeza. Kau mengizinkan?" tanya Bian masih menatap lekat wanita di hadapannya.
Malya hanya menunduk, sembari menyuapi putrinya dengan kentang goreng yang telah mereka pesan sebelum Malya tiba.
"Apa pendapatku penting? Anda tahu mana baik dan buruk, penilaian keluarga Cakra selalu sempurna, jadi apalah arti kalimat dariku jika ujungnya menguap begitu saja," balas Malya sinis.
"Al, dia anak kita," balas Bian lembut.
Malya mendongakkan wajah. "Tanyakan pada Meeza, dia juga berhak mengemukakan pendapat," pungkas Malya.
"Sayang, sudah selesai? kita pergi main yuk," ajak Malya pada putrinya. Dia merasa Bian menahan waktu mereka berdua.
"Oke bunda, asiikk ... Daddy, Meeza pergi dulu ya," ucap Meeza, mengecup pipi ayahnya.
Keduanya terlihat riang menuju sebuah mobil, bahkan Bian tak melepas pandang pada Malya terlebih saat wanita itu tertawa renyah, wajahnya bersinar terpapar sinar mentari.
"Oh my goss, sejak kapan dia berubah jadi sangat cantik," lirihnya meraup wajah kasar lalu pergi dari sana.
.
__ADS_1
.
..._____________...