
Malya membantu Bian bersiap, dia tak pergi kerja saat ini sebab akan mencari sekolah dengan Meeza dan suaminya menjelang makan siang nanti. Maka nyonya muda Cakra akan mengerjakan semua pekerjaan dari rumah.
"Kamu udah lama praktek LoA, Mas?" tanya Malya yang memiliki kebiasaan sama afirmasi sejak dia kuliah dulu sembari membenarkan letak dasi Bian.
"Semenjak kamu pergi, hidupku berubah, Al. Ke dokter yuk, kamu akhir-akhir ini pucat banget," ajak Bian, curiga Malya mengalami gejala awal kehamilan. Catatan di ponsel menunjukkan bahwa nyonya Cakra seharusnya sedang masuk masa haid.
"Enggak ah. Gak ada keluhan kok, di kantor lagi buka seleksi karyawan baru, semoga ada satu tambahan untuk divisi keuangan," ungkap Malya, dia ingin resign tapi Michael masih menahannya.
"Aamiin. Aku gak maksa kamu resign loh, Al, sekuat kamu aja," tegas Bian, sambil menatap wajah ayu, dia tak ingin menghambat karir Malya.
Bunda Meeza mengangguk, dia hanya tersenyum seraya memandang lekat iris kehitaman yang selalu membuatnya nyaman juga merangkulkan kedua lengan ke leher Bian. "Iya."
Keintiman setiap pagi yang Malya inginkan sejak dulu, kini tercapai. Bian sangat memanjakan dan mengerti tanpa harus bertanya padanya.
Keduanya tak lama menuju meja makan bergabung dengan penghuni lainnya. Bian memahami jika menu makan Malya di bedakan oleh para sepuh, tapi wanitanya tak pernah menolak. Ini mungkin tanda bahwa Malya telah bersedia hamil kembali.
Nyonya muda Cakra lalu mengantar kepala keluarga itu hingga teras, Chris sudah menunggunya di halaman depan. Bian pun berjalan menyusuri sisi garasi bangunan pertama sebagai tempat tinggal para maid.
Mercedez Benz C-Class pun perlahan meninggalkan pelataran hunian mewah keluarga Cakra. Sebuah notifikasi berbunyi di ponsel Bian. Jemarinya merogoh saku dalam pada jas, untuk mengambil dan memeriksa pesan. Namun, tangannya justru meraih sesuatu di sana. Dia menariknya keluar.
Sebuah benda yang pernah dia lihat enam tahun lalu. Sorot matanya berbinar, bibir sensual itu mengulas senyum merekah. Bian lalu meminta Chris berhenti.
"Chris, stop, stop," pinta Bian. Kepalanya menoleh ke belakang. Jarak seratus meter harus dia tempuh dengan berlari.
"Aku turun," ucap Bian tepat saat mobil telah berhenti. Dia membuka pintu dan langsung berlari menuju hunian Cakra di belakang sana.
"Bos!" panggil Chris, dia pun langsung memutar arah di tikungan depan, menyusul tuannya kembali.
Tepat saat akan mendekat ke gerbang. Bian berteriak. "Buka, Mang, bukaaa!"
Penjaga gerbang yang mendengar suara Bian pun tergopoh membuka gerbang tinggi menjulang, memberikan celah bagi sang majikan untuk masuk.
"Den---" sapa satpam, terhuyung menyingkir takut menghalangi laju Biantara yang terlihat tergesa.
__ADS_1
"Aaaaallllll, Sayaaaaang!" teriak Bian berlari ke dalam.
Malya masih menikmati rerumputan basah di taman dekat kolam. Dia sedang membayangkan jika Bian menemukan test pack yang di selipkan dalam saku jasnya.
"Sayaaaaang!" seru Bian lagi, berlari menuju Malya yang tengah berdiri membelakangi.
Bunda Meeza menoleh ke arah sumber suara, dia melihat lelaki itu terengah, memegang benda yang dia maksud. Bian berdiri tak jauh darinya, membungkukkan badan, menggunakan lengan bertumpu pada kedua lutut. Tak lama, lelaki tampan itu menegakkan tubuhnya lagi.
"Ini," ucap Bian masih tersenggal seraya mengacungkan alat periksa kehamilan itu ke udara.
Malya hanya diam di tempatnya, mengangguk samar seraya tersenyum manis.
"Alhamdulillah ... Baby, kau tahu aku sangat happy?" ucap Bian memandangi wanitanya dengan sorot mata berkaca-kaca.
Bunda Meeza begitu trenyuh, dia tak sanggup berkata-kata. Hanya mampu memandang pria nan dia cinta di hadapan. Miliknya seorang.
Biantara berjalan mendekat, dia tak ingin menyakiti wanita yang sudah banyak berkorban untuknya juga calon bayi mereka. Kedua tangan pun merentang, tak sabar merengkuh tubuh Malya dalam pelukan.
Grep.
"Aku resign ya, Mas."
"Sesukamu saja, Sayang. Aku siap siaga untuk kalian, mau kerja boleh, enggak juga tak masalah ... ehm, tapi Al, dia akan lahir setelah aku nganggur, nanti gimana ya?" ucap Bian, masih betah memeluk Malya.
"Nganggur apanya, kantor kamu hanya pindah ke rumah. Meeza dan adik-adiknya bakal tetap bangga dengan daddy mereka, aku pun," balas Malya, mengusap punggung tegap serta mengecup pipi Bian.
Keduanya mengurai pelukan tepat saat Chris menegur sang tuan muda.
"Tuan muda. Maaf, aku telah menunda meeting pagi selama tiga puluh menit," ujar Chris sungkan mengganggu tapi agenda Bian penting hari ini.
"Ke kantor setelah ini. Aku sangat happy, Chris," balas Bian memperlihatkan alat tes kehamilan Malya pada asistennya.
Chrisnandi ikut bahagia melihat hal tersebut, dia membayangkan akan mendapat bonus sebab Bian tengah diliputi kebahagiaan.
__ADS_1
Pasangan Cakra saling merangkul lalu masuk ke hunian, membagikan kabar bahagia pada penghuni lainnya. Ultimatum Mardiah dan Beatrice seketika diterima Malya.
"Gak boleh ke area dapur. Minta apa-apa kudu sama Camai. Jangan sampai kecapekan kalau memang masih mau kerja," tutur Beatrice mewanti cucu menantunya sembari meminta maid untuk memanggil dokter.
"Gak gitu juga kali ah, Nek. Aku biasa saja kok, seperti hamil Meeza," balas Malya menoleh ke arah Bian meminta pembelaan. Tapi Bian malah berpura acuh tak melihat Malya.
Pasangan Cakra akhirnya menyerah akan keinginan kedua sepuh. Malya memilih tidak mendebat mereka berdua, percuma, toh ini demi kebaikannya juga.
Kini, Bian memintanya untuk beristirahat di kamar sembari menunggu waktu siang nanti saat akan mencari sekolah Meeza dan periksa kehamilan.
Tak lama, suasana euforia kembali tenang. Bian pun berangkat ke kantor dengan sang asisten. Dalam benak pewaris Cakra, niatnya menjadi family man akan terlaksana. Dia lantas menghubungi Roby.
"By, kamu empat bulanan. Malya baru aja positif. Niatku bulat sudah, setelah dua bulan ke depan, aku fokus pada keluargaku. Sesekali ke kantor, titip aset pendiri Cakrawala Corp ya meski ada Andreas di sana," ucap Bian, saat panggilannya tersambung.
"Alhamdulillah. Tokcer amat, Bang. Mabruk ya, in sya Allah. Aku sudah menyiapkan kantor baru kita, Bang, sekalian syukuran aja. Juga, satu lagi, SQ Corp telah melakukan pembayaran untuk project pertama kita ... selamat ya, Bang," balas Roby tak kalah mengucap syukur. Keduanya lalu sepakat melanjutkan pembicaraan saat Bian telah tiba di Cakra Corp nanti.
Biantara memejam, ketika hati ikhlas justru berbagai jalan terbuka. Apa yang dia yakini setelah mendekat kembali pada Sang Maha Rahim, sabar dan mempraktekkan LoA ala Al-Quran kian membuat keyakinannya menebal.
Cara kerja dari law of attraction adalah seseorang harus memiliki tujuan yang akan memicu peningkatan kekuatan dalam pikiran. Jadi diri ini akan bertindak dan berusaha keras menggapai cita-cita tadi karena telah meyakini akan tercapai. Tanpa sadar tindakan dan usaha tersebut jika dilakukan secara konsisten bakal membawa pada zona baru dimana keyakinan tadi berada. Yakin tingkat tinggi!
Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk diri sendiri, dan siapapun yang berbuat kejahatan, juga akan menimpa dirinya. Kemudian kepada Tuhan-Mu kamu di kembalikan, demikian LoA menurut surah Al Jatsiyah.
Allah menganjurkan hambanya untuk selalu berpikir yang baik dan berlomba menebarkan kebaikan (fastabiqul khairat). Allah sangat melarang hambanya berbuat kekasaran (sayyiat) dan kerusakan (fasad).
"Alhamdulillahi bini'mati ala tattimussholihat. Sulaiman, terima kasih telah menghibahkan Malya untukku. Jika bukan karena Allah yang meniupkan nafsu pada Andreas, mungkin aku selamanya masih dalam kegelapan. Takkan bertemu Malya."
"Ajaban li amril mukmin, inna amrohu kullahu khoir ... ma ashoba min musibati biidznillah. Al, benar katamu, semua musibah atas izin Allah dan semua urusan orang beriman itu pasti baik, enak gak enak ujungnya baik. Ya Allah," gumam Bian, bermonolog, matanya tak henti meneteskan air mata. Hatinya sangat lapang kini.
.
.
...______________...
__ADS_1
...Alhamdulillah selesai beneran 😂. ...